Kelompok terakhir masuk kotak setelah panasnya turun. Adam memasang tutup, Tri merapikan bagian yang belum mengunci, lalu mereka memindahkannya ke meja bersama tumpukan lain. Tidak ada adonan baru yang harus dimasak. Di atas kompor, cetakan sudah diletakkan untuk didinginkan dan dicuci kemudian.
Tri membagi kotak menjadi sepuluh kelompok. Adam membaca jumlahnya sementara ia memberi tanda kecil pada daftar. Mereka mengecek isi kelompok yang tadi sempat salah hitung, memastikan sudah diperbaiki. Sesudah sepuluh kelompok lengkap, barulah daftar seratus kotak ditandai selesai.
'Kalau sekarang kamu bilang ada yang seratus satu, saya suruh hitung dari awal,' kata Tri.
'Aku lebih memilih diam.'
Empat wadah tambahan tidak ditumpuk bersama pesanan. Sebagian cadangan sudah dipakai mengganti pancake yang kurang rapi, sisanya untuk rumah. Dua porsi vanila diberi tanda berbeda. Tri menandai satu untuk Adam, yang boleh dibawa setelah pekerjaan selesai; satu lagi ditaruh terpisah dari isian durian agar tidak tertukar oleh Aki.
Nini meminta melihat kotak yang sudah jadi. Aki membantu mendorong kursinya sebentar ke ruang depan, berhenti di tempat yang cukup lapang. Tri menunjukkan satu contoh tanpa membongkar semua tumpukan. Neneknya mengangguk, lalu menanyakan apakah Lucky akan memakan seratus kotak sendirian.
'Kalau habis sendiri, saya suruh beli cetakan juga, Ni.'
'Jangan kurang ajar sama pembeli,' tegur Nini, meskipun bibirnya ikut tersenyum.
Adam menahan tawa. Aki mengajak Nini kembali sebelum ruang depan dipakai memuat barang. Tri mengambil kesempatan itu untuk mengganti kaus yang sejak dinihari terkena bau dapur. Ia hanya mencuci muka, menyisir rambut pendek, lalu kembali dengan pakaian bersih yang tetap membuatnya mudah mengangkat kotak. Bukan acara peragaan busana, katanya dalam hati, meski ia tahu siapa yang akan ditemui.
Di dapur, Adam sedang mengelap kompor pinjaman setelah cukup dingin. Mang Ucup akan mulai bersiap di pujasera, jadi alat itu perlu kembali sebelum mereka berangkat. Tri meminta bantuan Aki menjaga rumah beberapa menit, kemudian Adam membawa kompor ke motor dan mengantarkannya lebih dulu. Cetakan serta wadah Tri sendiri tetap di rumah untuk dicuci selepas pengiriman.
Saat menunggu, Tri meletakkan kotak ke dalam wadah angkut yang alasnya rata. Label menghadap ke atas, bagian yang mudah tertekan tidak ditumpuk sembarangan. Ia sengaja tidak menjepit uang atau kertas pesanan di antara makanan. Daftar jumlah disimpan pada kantong tas yang mudah dibuka ketika sampai.
Ponselnya berbunyi. Bram memberi kabar sedang masuk gang. Tri keluar dan menunjuk tempat berhenti yang tidak menutup pintu tetangga. Avanza yang biasa dikendarai lelaki itu diparkir perlahan. Bram turun, memandangi wadah angkut, lalu menatap Tri seolah menilai apakah ia sedang memindahkan satu toko.
'Neng, ini sarapan atau persediaan seminggu?'
'Sarapan orang banyak, Bang. Kalau buat Abang sendiri, saya bikin ukuran bak mandi.'
Bram tertawa keras sampai Aki mengintip dari pintu. Tri menempelkan telunjuk ke bibir, memberi tahu Nini baru kembali beristirahat. Lelaki besar itu langsung mengecilkan suaranya dengan cara yang justru membuat Aki ikut tersenyum.
Satu motor hendak keluar dari halaman tetangga, tepat di belakang kendaraan Bram. Mereka menghentikan pemuatan sebentar. Bram memajukan mobil secukupnya agar ada ruang lewat, sementara Tri menahan pintu yang terbuka supaya tak mengenai pengendara. Sesudah jalan kembali kosong, mereka baru meneruskan. Tri berterima kasih kepada tetangganya yang mau menunggu beberapa saat; ia tak ingin seratus kotak pesanan menjadi alasan menguasai seluruh gang. Letak wadah paling belakang diubah agar pintu bisa menutup tanpa mendorong susunannya. Bram memeriksa sekali dari sisi lain, baru memberi isyarat aman untuk melanjutkan.
Adam tiba setelah mengembalikan kompor. Waktu masih sebelum pukul sembilan. Ia dan Bram mengatur wadah di bagian belakang mobil, memastikan posisinya tidak mudah bergeser. Tri memperhatikan dari samping sambil menghitung wadah angkut yang sudah dimuat.
'Lewat mana, Bang? Yang dekat pujasera kadang sedang ramai,' tanya Adam.
Bram menyebut jalan yang akan dipakai. Ia sudah tahu lokasi kafe, tinggal memastikan pintu masuk yang diminta Lucky. Tri menunjukkan pesan petunjuk dari kafe, lalu mengabari bahwa mereka akan berangkat. Balasan datang beberapa saat kemudian: barang akan diterima di bagian samping sebelum dibawa ke tempat acara.
Ketika pintu belakang ditutup, Tri baru menyadari telapak tangannya pegal. Bram mengulurkan satu wadah yang tadi tertinggal dekat kaki kursi. Jantungnya sempat melonjak sebelum melihat tanda V besar pada tutup.
'Itu punya dia, Bang,' katanya, menunjuk Adam. 'Bukan pesanan. Kalau hilang, dia lebih ribut daripada pembeli seratus kotak.'
'Saya amankan di depan saja,' jawab Adam cepat.
Tri memberikan upah bantu yang sudah disepakati, lima puluh ribu, sebelum mereka naik. Adam sempat hendak menolak karena merasa hanya membantu sahabat, tetapi ia mengingatkan bahwa bantuan produksi sejak subuh pun pekerjaan. Pemuda itu akhirnya menerima dan menyimpannya terpisah dari uang milik Tri.
Ongkos Bram seratus ribu juga diserahkan sesuai kesepakatan. Dengan begitu uang pelunasan yang nanti diterima tidak perlu mendadak dibagi-bagi di depan pegawai kafe. Bram memasukkan uang, lalu mengingatkan mereka bahwa jalan tak akan menjadi lebih sepi hanya karena semua masih berdiri mengobrol.
Tri masuk sebentar menemui Nini dan Aki. Ia memberi tahu kira-kira akan kembali sebelum siang, menyerahkan ponsel yang biasa dipakai Aki ke tempat yang mudah dijangkau, dan memastikan air minum sudah tersedia. Aki mengangguk, menyuruhnya pergi sebelum pancake berubah menjadi jajan sore.
Ia menutup pintu rumah, bukan menguncinya dari luar karena Aki masih di dalam. Tas diselempangkan, kunci rumah disimpan aman, lalu ia duduk di baris tengah di dekat wadah yang perlu diawasi. Adam duduk di depan bersama Bram, porsi vanilanya dipangku seperti barang pecah belah.
Mobil bergerak sesudah Bram memeriksa jalan. Tri menoleh sekali ke arah kontrakan, melihat Aki mengangkat tangan. Setelah itu pandangannya beralih ke depan. Seratus kotak, dua kompor, dan beberapa tangan sudah bekerja. Kini ia tinggal membawa hasilnya sampai kepada orang yang benar, pada jam yang dijanjikan.