Adam mengetuk pintu ketika Tri sedang memecahkan telur pertama. Pukul empat kurang sedikit, rambut pemuda itu masih basah dan matanya belum sepenuhnya terbuka. Di tangannya ada kantong berisi sarapan yang dititipkan Engkong.
'Ternyata bukan cuma saya yang bisa bangun,' kata Tri.
'Tadi Engkong mengetuk kamar seperti mau menagih utang. Susah kalau tidak bangun.'
Ia mencuci tangan, lalu membantu membawa buah yang baru diturunkan Memet ke tempat yang disiapkan. Tri memeriksa daging durian setelah buah dibelah, menyisihkan bagian yang tidak akan dipakai. Memet tidak lama tinggal karena harus melanjutkan pekerjaan pasar. Ia menolak ajakan duduk, menerima air minum, lalu pergi dengan kantong kulit yang sekalian dibawanya ke luar.
Tri mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke adonan. Bahan yang telah ditakar semalam membuat pekerjaannya lebih cepat. Ia tidak perlu membuka kantong tepung sambil memegang telur. Adam menyiapkan wadah dan lap bersih sesuai penjelasannya, lalu berdiri di bagian kemasan seperti peserta ujian menunggu soal dibagikan.
'Jangan tegang begitu, Dam. Yang menilai bukan dosen.'
'Justru lebih galak.'
Tri mengangkat pengaduk. Adam buru-buru tersenyum dan merapikan kotak terdekat. Kompor pertama dinyalakan, disusul yang kedua setelah tempatnya diperiksa. Dalam beberapa menit, aroma adonan mulai mengisi dapur. Bunyi kecil ketika pancake dilepaskan dari cetakan menandai pekerjaan benar-benar dimulai.
Tri tidak menaruh hasil yang masih terlalu panas langsung di wadah tertutup. Ia memberi ruang di nampan untuk menurunkan panasnya sebentar, lalu Adam mengatur jumlah tiga buah per kotak. Empat porsi tambahan dikerjakan terpisah dan ditandai jelas, agar tidak ikut terhitung sebagai pesanan Lucky.
Putaran dari kompor pinjaman matang lebih cepat daripada cetakan satunya. Tri hampir mengangkat keduanya bersamaan, lalu menyadari perbedaannya dari warna tepi. Ia mengecilkan satu api dan mengubah urutan bekerja, tidak terus memakai hitungan yang sama hanya karena bentuk kompornya mirip. Pancake yang terlalu gelap dipisahkan untuk dimakan sendiri bila masih layak, bukan dimasukkan ke kotak pembeli. Adam memindahkan wadah itu ke ujung meja agar tidak keliru diambil ketika mereka makin lelah. Setelah dua putaran berikutnya, warna kedua hasil cetakan mulai seragam. Tri mengembuskan napas yang sejak tadi ditahannya.
Pada putaran awal, Tri masih bisa bercakap ringan. Setelah kedua cetakan terus bergantian, kalimatnya memendek. Adam belajar mengenali kapan harus bertanya dan kapan cukup menggeser nampan ke tempat yang ditunjuk. Ketika satu tutup kotak tersangkut, ia membuka kembali sudutnya pelan-pelan, bukan menekan pancake di dalam supaya muat.
'Nah, begitu. Yang dimakan kue, bukan tutupnya,' kata Tri.
'Aku sudah lulus bagian lipatan?'
'Masih masa percobaan.'
Menjelang subuh, Aki keluar dari kamar. Nini perlu dibantu berpindah posisi. Tri hendak langsung mematikan salah satu kompor, tetapi kakeknya berkata ia bisa menangani lebih dulu dan akan memanggil jika kurang tenaga. Tri menunggu sejenak, mendengar suara keduanya, baru melanjutkan putaran adonan berikutnya.
Mereka berhenti bergantian untuk keperluan masing-masing. Adam mengawasi kompor yang sudah dikecilkan ketika Tri masuk sebentar membantu Aki membetulkan bantal. Ia tidak mencoba mengangkat cetakan baru saat belum yakin. Tri kembali sebelum pancake yang terakhir matang, lalu menaruh air minum di dekat tempat kerja agar tidak lupa meneguk.
Pada kotak keempat puluh, Adam menemukan satu kelompok berisi dua buah. Ia sudah hendak menutupnya ketika bentuk ruang kosong terlihat. Tangannya berhenti. Kotak itu dipisahkan dari tumpukan yang selesai dan diperbaiki sebelum ia melanjutkan hitungan.
'Tadi aku terlalu cepat,' katanya.
'Makanya kalau menghitung jangan sekalian mengarang jawaban buat dosen.'
'Aku sedang mengarang alasan supaya diizinkan tidur lagi.'
Tri tertawa singkat. Ia memintanya menghitung satu kelompok kecil sampai selesai, baru memindahkan ke tumpukan berikut. Pengalaman mengerjakan pesanan besar untuk hajatan tetangga dulu membuat Tri tahu kesalahan sering bermula dari rasa terlalu yakin pada hitungan di kepala. Kali ini ada bantuan; ia ingin memakainya dengan benar, bukan malah membentak orang karena cara kerjanya belum terbiasa.
Menjelang pagi, suara gang mulai ramai. Ada pedagang lewat dan motor yang dipanaskan. Tri menoleh ke jam, lalu membandingkan adonan tersisa dengan jumlah yang belum dikerjakan. Mereka tidak perlu mempercepat api sampai bagian bawah pancake hangus. Sisa waktu masih cukup bila putaran berikut berjalan seperti sebelumnya.
Adam menawarkan sarapan yang dibawanya. Tri mengambil beberapa suap saat satu nampan menunggu cukup dingin, bukan makan sambil mengaduk adonan. Pemuda itu menutup wadah makanan kembali agar tidak bercampur dengan alat produksi. Ia sendiri makan bergantian setelah mencuci tangan.
'Enak?' tanya Tri.
'Aku terlalu lapar untuk menjadi juri.'
'Bagus. Nanti jangan jadi juri pancake saya juga.'
Wajah Adam berubah ketika Tri menggeser satu porsi cadangan durian terlalu dekat dengannya. Ia lekas memindahkan wadah bertanda V ke tempat yang aman. Tri cuma menggeleng, kemudian melanjutkan putaran terakhir. Tidak semua orang harus menyukai bahan yang sama hanya karena sedang jatuh musim.
Pukul delapan kurang, adonan untuk pesanan habis sesuai perkiraan. Ada satu pancake yang bentuknya kurang rapi dan diganti memakai bagian cadangan, bukan diam-diam diselipkan karena jumlahnya banyak. Sisa cadangan durian tetap terpisah dari dua porsi vanila. Tri mematikan kompor setelah cetakan terakhir diangkat.
Adam baru hendak mengangkat kedua tangan merayakan ketika Tri menunjuk nampan terakhir.
'Jangan ditutup dulu. Tunggu sebentar seperti tadi.'
'Aku cuma mau meregangkan badan, bukan pensiun.'
Ia mundur beberapa langkah dan meluruskan punggung. Tri ikut menggerakkan bahunya yang mulai kaku. Dari pintu kamar, Aki melihat meja panjang yang dipenuhi kotak dan bersiul pelan. Nini sudah sarapan sedikit, katanya, dan sekarang ingin tahu apakah suara adukan sejak subuh itu benar-benar menghasilkan makanan.
'Nanti saya tunjukkan, Ki. Ini tinggal kelompok terakhir.'
Tri mengelap tepi meja yang terkena percikan, lalu menarik kursi untuk duduk beberapa menit sambil menunggu panas turun. Seratus kotak itu belum meninggalkan rumah, jadi pekerjaan belum selesai. Namun bagian yang paling ia khawatirkan sudah terlewati: dua tempat yang membutuhkan dirinya pagi ini ternyata bisa berjalan tanpa ia harus berlari panik di antara keduanya.