Kotak pertama tampak cantik sampai Tri menaruh tiga pancake contoh di dalamnya. Tutupnya terangkat sedikit. Ia menekan bagian samping, tetapi lipatan kertas justru melawan dan membuat satu sisi menggelembung.
'Kalau begitu terus, nanti kuenya bisa ikut naik pangkat,' kata Mang Ucup.
Tri menatap sampel yang baru diterima dari penjual kemasan. 'Di gambar muat banyak. Di tangan saya malah sempit.'
'Gambar juga bikin mi semangkuk kelihatan cukup buat sekeluarga.'
Ia tak bisa membantah. Sesudah pesanan biasa siang itu selesai, Tri berangkat kembali ke toko kemasan membawa sampel dan ukuran pancake yang sebenarnya. Kotak seratus buah belum dibawa, untung ia meminta melihat satu contoh lebih dulu. Penjual mengeluarkan pilihan yang sedikit lebih lebar, dengan harga yang masih masuk batas belanjanya.
Tri mencoba menutupnya sekali lagi, kali ini tanpa menekan makanan. Setelah yakin, barulah ia membeli jumlah yang dibutuhkan. Ia tak ingin mendapati masalah yang sama ketika besok dinihari kompor sudah menyala dan tangan Adam belepotan adonan. Sebelum pulang, ia mengambil cetakan tambahan dari tempat penyewaan peralatan yang sudah dihubungi. Biayanya dua puluh ribu untuk sekali pakai, masuk hitungan bersama gas sepuluh ribu. Bentuknya serupa dengan cetakan yang biasa dipakai, tetapi Tri tetap memeriksa kebersihan dan gagangnya sebelum menerima. Cetakan itu harus dikembalikan sesudah pengantaran selesai.
Menjelang sore, kantong belanja memenuhi ruang depan kontrakan. Bahan kering dipisahkan dari bahan lain, kemasan diletakkan di tempat yang tak mungkin terkena air. Sebagian keperluan sudah ada dari putaran dagangan; ia menulis yang dipakai untuk pesanan agar besok tidak mengira semuanya masih tersedia untuk lapak biasa.
Aki memindahkan kursi supaya jalan menuju kamar tetap lebar. Tri hampir menaruh kotak kosong di depannya, lalu mengangkatnya lagi ketika melihat roda kursi Nini akan tersangkut.
'Maaf, Ki. Serasa mau pindahan.'
'Pindahan biasanya barangnya keluar. Ini semuanya masuk.'
'Besok keluar lagi, insyaallah.'
Nini memanggil dari kamar, menanyakan apakah ada yang bisa dibantu. Tri menyodorkan beberapa label kosong dan meminta pendapat tentang tulisannya. Neneknya menatap lama, kemudian menyatakan hurufnya miring. Aki tertawa, sementara Tri buru-buru mengambil pena yang lebih tebal.
'Kalau Nini jadi guru, muridnya pasti sering disuruh mengulang.'
'Daripada orang baca Pancake Tri jadi Pancake Teri.'
Tri tertawa sampai harus berhenti menulis. Ia mengganti contoh yang kurang jelas, lalu melanjutkan sendiri di meja. Nini cukup melihat beberapa label, tidak diberi pekerjaan panjang hanya agar merasa berguna. Setelah neneknya lelah, Aki membantu menurunkan sandaran dan mengajaknya beristirahat.
Di luar, suara motor berhenti. Adam datang membawa kompor pinjaman Mang Ucup serta memastikan selangnya lengkap. Mereka tidak menyalakannya di ruang depan. Tri menunjukkan sudut kerja dekat dapur yang sudah dikosongkan, dengan jalan keluar tetap bisa dilewati.
Adam mencoba menaruh dua cetakan berdampingan sebelum menggeleng. Gagangnya saling bersinggungan. Kalau dipaksakan, tangan yang satu mengangkat pancake, tangan lain mungkin menyenggol panci. Mereka mengubah letaknya, tidak persis sejajar, agar Tri bisa bergerak bergantian tanpa berputar jauh.
'Kamu bagian bungkus, bukan membalik,' kata Tri.
'Aku pernah membantu.'
'Pernah. Saya juga ingat hasilnya.'
Belum sempat pekerjaan dilanjutkan, Aki memanggil dari kamar. Air minum Nini tumpah mengenai ujung alas tidurnya ketika gelas hendak dipindahkan. Tri dan Adam berhenti menata tempat kerja. Tri membantu mengganti bagian yang basah, sedangkan Adam mengambilkan air baru dan kain yang ditunjukkan Aki. Tidak ada yang terluka, tetapi wajah Nini terlihat kesal kepada tangannya sendiri.
Tri tidak menertawakannya. Ia memindahkan letak gelas agar lebih dekat ke sisi yang mudah dijangkau, lalu menanyakan apakah sekarang nyaman. Nini mengangguk tanpa banyak bicara. Ketika kembali ke dapur, Tri sadar menyelesaikan pesanan bukan berarti bisa berpura-pura rumah ini berubah menjadi ruang produksi saja. Ia menaruh satu lap tambahan di tempat Aki biasa meraih, sebelum mengajak Adam melanjutkan.
Setelah kembali ke meja, Adam mencoba melipat tiga kotak. Yang pertama miring, yang kedua lebih baik. Tri membiarkannya menyelesaikan kotak ketiga sebelum menunjukkan cara mengunci sudut. Mengomel memang lebih cepat, tetapi besok ia membutuhkan tangan yang bisa bekerja, bukan orang yang takut menyentuh kemasan. Kotak yang salah lipat tidak dibuang. Tri membukanya kembali untuk dijadikan contoh, lalu memberi tanda di bagian yang sering tertukar. Adam meletakkan contoh itu di dekat tangannya agar besok bisa melihat tanpa terus memanggil nama Tri ketika dua cetakan sedang panas.
Mereka menghitung tumpukan kotak menurut kelompok kecil, kemudian memisahkan empat wadah tambahan. Dua ditandai untuk pancake durian cadangan, dua untuk vanila. Adam menulis huruf V besar di bagian terakhir, membuat Tri menuduhnya sedang mengurus warisan.
'Kalau salah kotak, aku bisa kecewa seharian.'
'Besok bantu sambil kecewa juga tetap harus rapi.'
Setelah tempat kerja siap, Adam menelepon Engkong untuk memastikan durian pesanan akan dibawa Memet sebelum subuh. Buah untuk produksi kali ini disiapkan terpisah dari jatah pembeli lain. Tri ingin membukanya dekat waktu memasak, tidak mengeluarkan daging buah lalu membiarkannya semalaman di dapur yang panas. Harga dan jumlah kebutuhan sudah ia periksa ketika membeli bahan.
Bram juga mengirim kabar bahwa ia akan tiba pukul sembilan. Tri membalas dengan patokan gang dan tempat kendaraan bisa berhenti tanpa menutup jalan. Ia menyiapkan uang angkut terpisah, tak mau merogoh kotak penjualan ketika barang sudah harus berangkat.
Petang turun ketika Adam selesai melipat bagian terakhir. Ia hendak terus membantu menakar tepung, tetapi Tri menyuruhnya pulang mandi dan makan. Pukul empat pagi tidak bisa ditunggu dengan mengobrol sampai tengah malam. Adam memasang pengingat di ponsel sambil menatapnya curiga.
'Teteh juga tidur, kan? Jangan aku datang, ternyata semuanya sudah selesai sendiri.'
'Kalau kamu datang jam sepuluh, mungkin begitu.'
'Jam empat. Aku ingat.'
Sesudah ia pergi, Tri menyiapkan makan malam sederhana. Aki berjanji menangani kebutuhan Nini ketika produksi dimulai, dan akan memanggil bila sungguh perlu bantuan. Tidak semua pekerjaan harus direbut Tri sampai orang lain hanya menonton.
Ia mencuci tangan, makan, lalu memeriksa sekali lagi tepung yang sudah ditakar dan kotak yang tersusun. Lampu ruang depan dimatikan setelah jalan menuju kamar dipastikan kosong. Tri merebahkan tubuh dengan kaki pegal, tetapi kali ini rasa lelah mempunyai urutan. Besok ia tinggal mulai bekerja, bukan mencari-cari apa yang terlupa ketika jam pengantaran sudah mengejarnya.