Tri mengambil lima durian pesanannya pagi-pagi sebelum membuka lapak. Kiriman yang dipastikan Memet sudah datang sejak sore sebelumnya, jadi kali ini ia tidak pulang dengan keluhan bahwa semua buah habis diborong. Engkong bahkan menyuruhnya memperhatikan nama di papan pesanan.
'Ada nama saya, Kong. Jangan sampai malah dibawa Mas Lucky.'
'Kalau lu terus berdiri di sini, yang keburu habis pelanggan pancake lu.'
Tri lekas membayar dan berangkat. Di pujasera ia menyiapkan adonan biasa, kemudian membuat beberapa porsi contoh durian yang akan dibawa menjelang siang. Bagian untuk dicicipi Lucky tidak diambil dari uang pembeli yang sudah memesan. Ia menyisihkannya sejak menghitung bahan.
Adam datang setelah kelas pagi, tepat ketika Tri membersihkan cetakan. Kuliahnya berikutnya baru siang. Pemuda itu memperhatikan dua wadah yang diletakkan terpisah dan bertanya mana bagian miliknya.
'Yang bayar duluan dapat duluan.'
'Persahabatan bertahun-tahun kalah sama sepuluh ribu.'
'Justru sahabat harus memberi contoh baik.'
Ia menunjuk porsi vanila, membuat Adam menyerah mengeluarkan uang sambil mengomel. Tri tak menahan tawa. Sesudah pelanggan terakhir dilayani, ia menyerahkan lapak sebentar kepada Mang Ucup dan menyeberang lewat tempat yang aman menuju kafe. Motor tidak perlu dipindah untuk kunjungan singkat ini.
Lucky menunggunya di meja dekat jendela lantai bawah. Tri menyerahkan contoh yang baru dibuat dan memberitahu isinya sebelum pria itu mencicipi. Ia tak langsung bertanya enak atau tidak. Muka pelanggan kadang lebih jujur sebelum merasa ditunggu jawabannya.
'Duriannya terasa,' kata Lucky setelah menelan. 'Ini yang biasa kamu jual?'
'Rasa dan adonannya sama. Untuk acara Mas, kemasannya perlu lebih rapi daripada bungkusan lapak. Kalau mau tiga buah satu kotak, saya bisa buatkan.'
Lucky mencoba potongan kedua, lalu memastikan jumlah tamu dan jam acara di ponselnya. Mereka memilih seratus kotak isi tiga pancake, seluruh pesanan rasa durian. Kotak harus tiba sebelum acara mulai pukul sepuluh pagi, dua hari lagi. Tri mengulang rincian itu sambil menulis supaya tidak keliru setelah pulang.
'Harganya dua belas ribu per kotak, Mas. Total satu juta dua ratus ribu.'
'Termasuk antar?'
'Iya, untuk ke sini. Tapi saya minta uang muka separuh buat membeli bahan. Sisanya sesudah barang diterima.'
Lucky tidak menawar dengan alasan ia akan memberi banyak pesanan lagi. Ia memeriksa jumlah dan jam, lalu mengirim enam ratus ribu setelah Tri memberikan rekeningnya. Gadis itu menunggu pemberitahuan masuk, baru menandai pesanannya jadi. Ia tersenyum lebar, kemudian buru-buru merapikan wajah ketika Lucky memperhatikannya.
'Senang?'
'Lumayan, Mas. Cetakan saya akhirnya dapat jadwal kerja yang jelas.'
Sebelum berpisah, Tri menanyakan tempat penerimaan dan siapa yang harus dicari bila Lucky sedang sibuk. Ia juga menjelaskan pancake dibuat pagi pengantaran, bukan sejak malam ini untuk dibiarkan menunggu acara. Lucky menyanggupi menyiapkan tempat penerimaan di kafe. Sisa enam ratus ribu akan dibayar setelah jumlah diperiksa.
Tri kembali ke pujasera dengan langkah lebih cepat, bukan melayang-layang. Masih ada hitungan yang harus dibereskan. Sesudah mengucapkan terima kasih kepada Mang Ucup, ia membuka buku dan mencocokkan harga yang tadi ditanyakan kepada penjual bahan.
Adam menunduk melihat deretan angka. 'Lumayan besar, Teh.'
'Yang masuk besar. Yang tinggal belum tentu.'
Ia menghitung bahan untuk pesanan dan empat porsi cadangan: tujuh ratus dua puluh ribu. Kemasan seratus ribu, gas serta sewa satu cetakan tambahan tiga puluh ribu. Untuk kendaraan lokal pengantar, ia menanyakan kesediaan Bram lewat telepon; lelaki itu menyebut seratus ribu untuk mengantar ke kafe dan membawa Tri pulang, dengan waktu jemput pukul sembilan. Jumlah kotak tidak akan aman ditumpuk di motor bersama penumpang.
'Bram bisa. Mobil yang biasa dia bawa juga bisa dipakai pagi itu,' kata Tri setelah menutup panggilan. 'Tinggal orang bantu bungkus. Kamu bisa, Dam? Bayar lima puluh ribu untuk pagi itu.'
Adam memeriksa jadwalnya, tidak langsung mengangguk. Kelas pukul setengah sebelas masih bisa dikejar asal pengantaran tak molor. Ia setuju datang sebelum produksi dimulai dan membantu sampai barang diterima, lalu langsung ke kampus.
'Kalau telat, aku tinggal di kafe, ya.'
'Kalau telat, saya malah yang mengusir kamu ke kampus. Nanti dosen nagih saya.'
Setelah ongkos bantuan dimasukkan, total pengeluaran menjadi satu juta. Sisa dua ratus ribu bukan uang yang jatuh begitu saja; di situlah hasil kerja Tri selama menyiapkan dan memasak. Ia masih harus mengambil modal sementara empat ratus ribu dari putaran dagangan karena uang muka belum menutup seluruh belanja. Pelunasan nanti mengembalikannya bersama sisa hasil usaha.
Tri sempat berhenti pada sisa dua ratus ribu itu. Dengan jumlah barang sebanyak ini, hasilnya tidak sebesar yang dibayangkan orang ketika mendengar seratus kotak. Adam menyarankan menaikkan harga sekarang juga, tetapi ia menggeleng. Harga sudah diterima dan uang muka sudah masuk. Untuk pesanan berikut ia bisa menilai lagi setelah tahu berapa lama pekerjaan sebenarnya. Hari ini ia masih bersedia menerima hasil tersebut, dengan membeli bahan sesuai daftar, bukan menambah isi supaya terlihat murah hati.
Sebelum memastikan semuanya, ia menelepon Aki. Kakeknya setuju menyiapkan sarapan Nini dan menemaninya pada pagi pengantaran. Tri memberitahu bahwa dapur akan ramai sejak pukul empat. Aki meminta jalan menuju kamar jangan ditutup kotak. Permintaan kecil itu segera ia tulis di tepi halaman; pesanan tidak boleh membuat penghuni rumah sendiri tak bisa lewat.
Adam menunjuk empat porsi tambahan. 'Kalau aku disuruh mencicipi semua yang durian, mending upahnya tidak usah.'
'Dua durian buat cadangan, dua vanila buat yang mulutnya banyak protes. Tenang.'
Mang Ucup ikut mendekat setelah pembelinya pergi. Ia menawarkan kompor cadangan yang tidak dipakai dinihari. Tri senang, sebab dua cetakan bisa mempercepat kerja tanpa harus membeli alat baru. Mereka sepakat kompor dikembalikan setelah produksi dan dibersihkan, sebelum lapak mi ayam mulai sibuk.
Saat buku ditutup, Tri baru membiarkan dirinya tersenyum puas. Ia pernah bekerja lebih banyak sendirian, jadi seratus kotak tidak membuatnya gentar. Yang ia perlukan sekarang bukan tepuk tangan untuk keberanian, melainkan bahan tepat, dua kompor yang menyala, dan orang-orang yang hadir pada waktu yang dijanjikan.