Tri memasang pemberitahuan singkat bahwa lapaknya tutup pagi itu. Ia mengirimkannya kepada beberapa pelanggan yang biasa memesan sebelum kuliah, lalu meletakkan ponsel ke tas. Ada rasa tidak enak membayangkan orang mencari pancake dan menemukan gerobak kosong. Namun Nini sudah menunggu sejak selesai mandi, dan kali ini Tri tidak ingin menukar rencana kontrol dengan tambahan pemasukan sehari.
Aki memeriksa rem kursi roda pinjaman Engkong sebelum membantu Nini duduk. Tri mengangkat tas kecil berisi berkas dan perlengkapan ganti. Untuk perjalanan mereka memakai kendaraan pesanan yang sudah ditunggu di ujung gang, bukan memaksa tiga orang berikut kursi roda naik motor.
'Pelan, Ki,' kata Nini ketika hendak berpindah.
'Aki belum mengangkat, Nini sudah mengomel.'
'Biar ingat dari awal.'
Tri menahan tawa sambil membantu dari sisi lain. Mereka membutuhkan waktu lebih lama daripada yang dibayangkannya. Setelah Nini duduk nyaman di kendaraan, Aki melipat kursi roda dengan hati-hati, sementara Tri memastikan tidak ada barang tertinggal di depan rumah.
Di tempat pemeriksaan, antrean sudah terbentuk. Tri mengambil nomor lalu mencari ruang yang tidak menghalangi jalan orang. Aki membawa minum, Nini memegang tas kecil di pangkuannya. Ketika Tri hendak berdiri mengecek panggilan, neneknya menarik ujung lengan jaket.
'Duduk dulu. Kamu mondar-mandir bikin Nini capek melihatnya.'
'Takut nomornya lewat.'
'Telinga Aki dua,' sahut kakeknya.
Tri menurut. Di sampingnya ada keluarga lain yang juga membawa orangtua. Mereka saling memberi ruang ketika seorang petugas lewat mendorong kursi. Tidak ada seorang pun yang bisa membuat antrean bergerak lebih cepat hanya dengan menatap pintu. Tri akhirnya membuka map, memastikan urutan kertas agar tidak menghabiskan waktu saat dipanggil.
Sebelum nomor mereka dipanggil, Nini meminta ke toilet. Tri mengajak Aki bergantian menjaga tas dan membantu mendorong kursi menuju tempat yang ditunjukkan petugas. Pintu yang sempit membuatnya harus memutar roda perlahan. Nini tampak kesal ketika tasnya hendak diambil, jadi Tri membiarkannya tetap memegang barang kecil itu. Sesudah selesai, mereka kembali dengan napas agak tersengal, tetapi nomornya belum lewat. Aki menyodorkan air tanpa bertanya mengapa lama. Tri duduk dan menyelipkan rambut pendek yang menempel di dahinya ke belakang telinga. Urusan kecil pun sekarang membutuhkan kerja bertiga, dan ia baru mengerti mengapa Nini kadang marah sebelum mereka sempat berbuat apa-apa.
Ketika giliran mereka tiba, Nini mulai menjelaskan sendiri. Sesekali ia berhenti mencari kata, lalu Aki membantu menyebut kapan kesulitan berdiri paling terasa. Tri menyerahkan catatan singkat mereka dan berkas pemeriksaan sebelumnya. Ia bertanya tentang hal yang memang terjadi di rumah: bagaimana membantu berpindah tempat dan apa yang perlu diperhatikan jika keadaan Nini berubah.
Arahan yang diberikan ia dengarkan sampai selesai. Saat ada bagian yang belum dipahami, Tri mengulang dengan bahasanya sendiri, meminta diluruskan kalau keliru. Aki ikut memperhatikan cara membantu Nini bergerak. Mereka juga membicarakan kunjungan latihan gerak yang perlu dijadwalkan, bukan memaksa Nini berlatih keras sendiri. Mereka tidak mendapat janji bahwa beberapa latihan akan membuat semuanya kembali seperti dulu. Perawatan dan pemantauan masih harus diteruskan.
Keluar dari ruangan, Nini tampak lelah. Tri menunda keinginannya mencari makan sampai neneknya duduk kembali dengan nyaman. Aki mengambil air, sementara ia menyelesaikan urusan pembayaran dan mengambil barang yang diperlukan. Uang yang sejak malam sudah dipisahkan membuatnya tak perlu membongkar seluruh hasil dagang di depan loket.
Setelah urusan selesai, mereka makan secukupnya di tempat yang mudah dicapai sebelum memesan kendaraan pulang. Tri memilih makanan sederhana, tidak memancing perdebatan baru soal brownies yang masih ada di rumah. Nini justru menanyakan apakah ia rugi karena tidak berjualan.
'Kalau rugi, Nini harus membeli seratus pancake besok,' jawabnya.
'Nanti Nini tawar.'
'Makanya saya tidak mau dagang sama keluarga.'
Aki tertawa kecil. Namun ketika Nini menoleh ke arah jalan, ia menyentuh lengan Tri dan berterima kasih. Tri cepat menggeleng, pura-pura sibuk menutup botol minum. Ucapan seperti itu lebih mudah membuat tenggorokannya sempit daripada semua kalimat keras Mak Asih.
Mereka sampai di kontrakan menjelang siang. Sesudah Nini beristirahat, Tri menaruh berkas kembali dalam map dan membereskan tas. Ia menyisihkan catatan untuk kunjungan berikutnya di tempat yang sama. Aki mengingatkan agar ia sendiri berbaring sebentar, tetapi sebelum sempat menjawab ponselnya bergetar.
Lucky mengirim pesan menanyakan kapan contoh pancake bisa dicoba. Tri keluar ke ruang depan agar suaranya tidak mengganggu Nini, lalu menelepon karena beberapa pertanyaan lebih mudah dijawab langsung.
'Besok saya bisa bawakan, Mas. Hari ini saya baru mengantar Nini kontrol.'
'Tidak apa-apa. Bagaimana kabarnya?'
'Masih harus dijaga, tapi tadi sudah diperiksa. Sekarang sedang istirahat.'
Lucky menunggu sampai Tri selesai bicara sebelum menjelaskan maksudnya. Ada acara di kafenya tiga hari lagi, dimulai pukul sepuluh pagi. Ia sedang mempertimbangkan makanan tambahan untuk tamu dan teringat pancake durian yang diceritakan Tri.
'Kira-kira seratus kotak. Bisa kita bicarakan setelah saya coba besok?'
Tri terdiam, bukan karena belum pernah menangani pesanan besar. Ia pernah menyelesaikan banyak kue untuk hajatan tetangga sendirian dan masih ingat betapa pegal tangannya. Yang berbeda sekarang ialah Nini di kamar sebelah, bahan yang harus dipastikan, dan waktu kerja yang tak bisa seluruhnya ia ambil sendiri.
'Bisa dibicarakan, Mas. Tapi saya belum bilang sanggup sebelum tahu isi setiap kotak, jam harus tiba, dan harga bahannya.'
'Tentu. Besok kita hitung bersama setelah mencoba.'
Tri menyepakati waktu menjelang makan siang, setelah dagangan paginya selesai. Ketika panggilan berakhir, ia mengambil buku kecil dan menulis tiga hal: contoh, buah, pengantar. Bukan seratus janji yang harus ia tanggung malam itu juga.
Aki muncul membawa bantal dari kamar. 'Telepon siapa sampai berdiri terus?'
'Calon pembeli. Mungkin ada pesanan seratus kotak.'
'Mungkin,' ulang Aki, menekankan kata itu sambil menyodorkan bantal. 'Berarti belum harus dikerjakan sekarang.'
Tri menerima bantal dan tertawa pelan. Ia berbaring di ruang depan, masih mengenakan kaus longgar yang dipakai sejak pagi. Untuk sekali ini, ia akan membiarkan cetakan tetap dingin sampai besok. Pesanan besar boleh mengetuk pintu, tetapi tubuhnya tidak harus langsung melompat menyambut sebelum kesepakatannya ada.