Menjelang siang, aroma durian kembali menguasai sudut pujasera. Tri menurunkan api di bawah cetakan sebelum menyendok adonan berikutnya. Pelanggan yang menunggu di depan lapaknya mengintip piring berisi pancake vanila.
'Yang itu durian juga, Teh?'
'Bukan. Kalau yang itu harum begini, berarti hidung Abang sudah ketularan sebelahnya.'
Lelaki itu tertawa dan memilih memesan campur. Tri mengambil wadah lain agar kedua rasa tak tertukar. Piring vanila sengaja ditempatkan jauh dari daging durian. Pelanggan boleh memilih, termasuk orang tertentu yang wajahnya langsung berubah kalau mencium buah kesukaan Engkong itu.
Ana dan Dhifa datang saat antrean mulai pendek. Seperti biasa, Ana melirik bangku tempat Adam sering duduk sebelum menanyakan keberadaannya. Tri menunjuk arah kampus dengan dagu karena tangannya sedang memegang cetakan.
'Kelas. Tadi dia bilang baru selesai agak sore.'
'Aku kira sekarang lebih sering di sini,' kata Ana.
'Dia mahasiswa, bukan penjaga gerobak saya.'
Dhifa tertawa sambil memilih topping. Ana ikut tersenyum, tetapi ponsel yang berbunyi membuat senyumnya berubah. Nama Reyhan terlihat sebentar ketika layar menghadap Tri. Gadis itu membalikkan ponsel dan meminta pesanannya dibungkus.
Tri tidak bertanya. Setelah pembicaraan mereka sebelumnya tentang pertunangan, ia tahu urusan Ana tidak sesederhana orang yang bisa bebas mengejar Adam. Tetapi bukan waktunya memberi komentar ketika ada pembeli lain menunggu kembalian. Ia menyerahkan pesanan dengan jumlah tepat dan kembali mengangkat pancake sebelum bagian bawahnya terlalu gelap.
Sore hari, ketika bahan yang disiapkan tinggal sedikit, pesan Adam masuk. Kelasnya selesai. Tri membalas bahwa ia akan menutup sesudah dua pesanan terakhir, lalu mengajak bertemu di pasar. Ia perlu pulang menyimpan cetakan lebih dulu dan memberi tahu Aki bahwa besok pagi mereka berangkat kontrol.
Mang Ucup membantu melihat lapaknya sebentar sewaktu Tri membeli sabun cuci di ujung deretan. Sebagai balasan, ia mengantarkan segelas air yang tadi dipesan pembeli mi ayam. Mereka sama-sama ingin dagangan selesai dan bisa pulang tanpa meninggalkan pelanggan menunggu.
Setelah wadah terakhir kosong, Tri membersihkan meja dan mengikat peralatan di motor. Ia tidak membawa brownies hari ini. Ruang di depan jok terasa lebih longgar, tetapi pikirannya justru penuh daftar kecil: berkas Nini sudah masuk tas, beras cukup untuk besok, dan buah durian untuk dagangan setelah kontrol harus dipesan sebelum keburu diangkut orang lain.
Aki menyambutnya di kontrakan dengan kabar Nini sudah tidur siang. Tri berbicara pelan sambil menurunkan alat. Ia meminta Aki mengingatkan Nini agar siap lebih pagi, lalu menunjukkan map yang akan mereka bawa. Sesudah berganti kaus yang tidak berbau asap kompor, ia berangkat ke Pasar Sinar Asih.
Adam sudah menunggu dekat kios Engkong. Ia berdiri agak jauh dari keranjang durian, memegang tali tas seperti orang yang siap melarikan diri bila ada buah dibelah. Tri sengaja berhenti di sisinya dan mengipaskan tangan dari arah keranjang.
'Segar, kan?'
'Aku belum melakukan kesalahan apa-apa hari ini, Teh.'
'Baru sore. Masih ada kesempatan.'
Engkong menyuruh mereka mendekat. Memet sedang mengangkat keranjang masuk ke sudut yang teduh. Papan kecil berisi nama pembeli dan jumlah buah diletakkan di dekat timbangan. Tri membungkuk membaca, mencari namanya yang tentu saja belum ada.
'Nah, sekarang gue datang sebelum dagangannya habis, Kong.'
'Bagus. Biasanya lu datang setelah yang lain pulang, terus gue yang kena omel.'
'Saya protes sopan.'
'Sopannya kagak kelihatan dari seberang pasar.'
Adam tertawa paling keras. Tri menyikut lengannya pelan, lalu meminta Engkong menyisihkan lima buah untuk lusa, ketika ia sudah kembali berjualan sesudah mengantar Nini kontrol. Ia tidak meminta mengambil jatah pelanggan yang sudah tercatat. Memet mengecek kiriman yang diperkirakan masuk, kemudian menunjuk bagian kosong pada papan.
'Besok sore sudah bisa diambil, Neng. Kalau mau ambil lusa pagi sebelum jualan juga bisa. Kalau kirimannya mundur, kami kabari.'
Tri memberikan nomor yang bisa dihubungi dan menanyakan harga. Engkong menyebut harga hari itu serta mengingatkan bahwa kiriman berikut bisa berbeda. Ia mencatat perkiraannya, belum menghitung keuntungan seolah barang sudah ada. Tak ada gunanya menjanjikan pancake durian kepada orang kalau buahnya baru tinggal nama.
Seorang pembeli datang menanyakan durian yang tidak terlalu pahit. Engkong menunjuk dua pilihan, tetapi orang itu meminta buah yang paling besar dengan harga paling kecil. Tri menahan senyum. Ternyata pelanggan setiap dagangan punya cara yang sama untuk membuat penjual mengelus dada. Engkong menjawab dengan mengangkat keranjang kosong dan menawarkan ukuran besar itu kalau pembelinya memang cuma mengejar ukuran. Adam sampai membuang muka agar tidak terlihat tertawa.
Memet membelah satu buah untuk pesanan pembeli lain. Ada bagian yang bagus, ada yang terlalu tipis untuk dipakai isian banyak. Tri mendekat dan memperhatikan. Memilih dari ukuran kulit saja ternyata mudah menipu mata. Ia menanyakan berapa banyak daging yang biasanya didapat, lalu membandingkannya dengan kebutuhan cetakannya.
'Bukan berarti lima buah pasti cukup untuk jumlah yang sama,' kata Memet.
'Iya. Nanti kalau kurang, saya tambah vanila. Jangan sampai pelanggan saya bayar duren, yang terasa cuma kenangan.'
Engkong menyahut bahwa kenangan juga mahal, terutama kalau menyangkut perempuan yang dulu tidak jadi dilamarnya. Adam langsung berpura-pura memeriksa jam. Tri tertawa; kalau dibiarkan, cerita lama Engkong bisa menunda kepulangan sampai pedagang lain menutup kios.
Sebelum pergi, ia menanyakan apakah pengiriman Lucky akan mengambil stok yang sama. Engkong menggeleng, menjelaskan jatah yang sudah dipisahkan. Tri lega, bukan karena ingin mengalahkan pembeli besar itu, melainkan karena kini ia punya kepastian untuk dagangannya sendiri.
'Mas Lucky minta contoh pancake,' katanya sambil menyimpan catatan. 'Kalau cocok, mungkin dia pesan. Tapi belum ada jumlah apa-apa.'
'Kalau jadi, bilang dulu. Jangan besok teriak minta satu kebun,' sahut Engkong.
Tri menyanggupi. Adam mengingatkan waktu sudah mendekati petang. Mereka pamit, lalu menuju tempat motor masing-masing. Besok ia tidak akan mengejar durian atau mengarang alasan untuk mampir ke kafe. Ia harus membawa Nini ke tempat pemeriksaan, dan kali ini rencana itu benar-benar akan dilaksanakan.