'Kalau mau menagih uang sewa, besok saja. Kantor sudah tutup,' kata Tri sambil membuka pintu.
Adam mengangkat kantong jeruk. 'Aku datang membawa hasil bumi, bukan surat tagihan.'
'Wah, maaf, Pak Juragan. Silakan.'
Ia masuk setelah Tri memberi jalan. Aki muncul dari kamar dan menyambutnya dengan senyum. Nini belum tidur, tetapi tak ingin berpindah lagi. Adam menyerahkan kantong jeruk kepada Aki, lalu mendekat sebentar ke pintu kamar untuk menanyakan kabar. Nini sempat memintanya duduk, namun Tri menunjuk ruang depan agar percakapan mereka tidak mengganggu istirahat.
'Aku dari rumah Engkong. Tadi beliau menyuruh membagi jeruk ini,' kata Adam ketika mereka sudah duduk.
'Engkong ingat anak kontrakannya juga. Saya terharu.'
'Aku yang membawa, Engkong yang dapat pujian.'
'Kamu dapat kursi.'
Adam tertawa, tetapi pandangannya segera tertahan pada kotak di meja. Tulisan Brownies Kareueut tidak bisa disembunyikan oleh buku dagangan yang diletakkan di sampingnya. Tri sengaja membiarkannya. Untuk apa menyembunyikan makanan seolah ia baru mencuri?
'Tadi dari sana?' tanya Adam.
'Iya. Waktu kamu cari ke lapak, saya memang sudah menutup. Saya sudah titip pesan ke Mang Ucup.'
'Aku tidak bilang mencari.'
'Biasanya kamu begitu kalau kuliah selesai.'
Adam menggeser duduk. Tri baru sadar dirinya terlalu mudah menganggap pemuda itu selalu punya waktu mampir. Ia menanyakan bagaimana kelasnya hari ini. Jawaban Adam singkat saja: ada tugas kelompok yang belum beres dan temannya sulit diajak memilih waktu. Tangannya menunjuk buku tipis yang terselip di bawah lengan sejak masuk.
'Itu dibawa supaya kelihatan rajin?'
'Buat dibaca nanti. Enggak semua orang menghabiskan sore dengan makan gratis.'
Tri mengangkat alis. 'Kok tahu gratis?'
'Dari wajah Teteh. Kalau bayar, biasanya sudah mengeluh harga minum sebelum duduk.'
Ia tak bisa membantah. Tri mengambil piring kecil dan menawarkan brownies yang bukan varian durian. Adam menunjuk potongan cokelat biasa, memastikan sekali lagi tidak bercampur rasa yang dibencinya. Tri menggeleng sambil menyodorkan piring.
'Nasib kamu jadi cucu juragan duren, tapi malah minta dijauhkan dari duren.'
'Ada pembagian tugas. Engkong menjual, Teteh makan, aku menghindar.'
Tri tertawa. Ia menuangkan air minum, lalu duduk kembali. Semula obrolan terasa seperti malam-malam lain, sampai Adam bertanya berapa lama ia berada di ruang kerja Lucky. Pertanyaan itu keluar terlalu hati-hati untuk dianggap biasa.
'Lumayan. Makan dulu, ngobrol. Kenapa?'
'Tidak apa-apa. Di atas, ya?'
'Iya. Saya diajak ngobrol di ruang kerjanya.'
Adam menatap garpu di tangannya. 'Baru kenal, sudah akrab sekali.'
Suara Tri ikut berubah. 'Saya juga baru kenal kamu waktu mulai sering minta bantuan. Apa dulu harus menunggu tiga tahun dulu sebelum boleh ngobrol?'
'Bukan begitu.'
'Lalu begitu bagaimana?'
Adam ingin menjawab bahwa Lucky berbeda, tetapi tak menemukan alasan yang tidak terdengar seperti tuduhan. Di kepalanya muncul wajah ayah yang cuma dikenalnya melalui cerita, lalu ibu yang memilih pergi. Namun menyamakan semua orang yang berkecukupan dengan satu luka keluarganya sendiri tidak membuatnya punya bukti tentang Lucky.
Tri menunggu, bukannya menebak terus. Dari kamar terdengar Aki menutup wadah air. Adam merendahkan suara agar percakapan mereka tidak merembet menjadi pertanyaan Nini.
'Aku sempat mikir macam-macam. Maaf. Aku belum tahu dia orangnya bagaimana.'
'Saya juga belum tahu semuanya. Tapi tadi dia memperlakukan saya baik. Kalau ada yang membuat saya kesal, nanti saya ceritakan. Jangan sudah menghukum sebelum saya punya cerita.'
Adam mengangguk lambat. Garpu diletakkannya di piring, padahal browniesnya belum habis. Tri memperhatikan gerakan itu, menyesal sedikit karena nada bicaranya terlalu tajam, tetapi tidak menarik kembali maksudnya.
'Dam, kamu khawatir boleh. Cuma jangan semua orang yang mendekat ke saya dianggap sedang menyiapkan jebakan.'
'Iya. Aku salah bicara.'
Ia menyuap sisa brownies agar mulutnya punya pekerjaan. Rasa cokelat yang seharusnya enak terasa terlalu pekat. Tri bangkit sebentar mengambil air tambahan, lalu menaruh gelas di dekat tangannya tanpa komentar. Perhatian sederhana itu malah membuat Adam semakin malu pada dirinya sendiri.
Untuk memindahkan percakapan, Tri menceritakan permintaan Lucky agar kelak membawa contoh pancake. Kali ini Adam benar-benar bertanya tentang dagangan, bukan ruangan tempat mereka makan. Apakah pancake diminta segera? Apakah stok durian sudah dipesan?
'Belum ada pesanan besar. Cuma mau mencoba. Besok saya tanya Engkong kapan bisa menyisihkan buah untuk jualan biasa. Kapok datang setelah semuanya diborong.'
'Kalau mau ke pasar, sore aku bisa ikut. Pagi ada kelas.'
'Boleh. Tapi saya belum tahu jamnya. Kabari selesai kelas dulu.'
Adam menyanggupi. Aki keluar membawa satu jeruk yang sudah dikupas, lalu meletakkan beberapa bagiannya di piring. Nini rupanya meminta mencicipi sedikit dan menyuruh sisanya dibagi. Melihat wajah kedua anak muda itu terlalu serius, Aki menanyakan apakah mereka sedang rapat kenaikan sewa.
'Tidak, Ki. Saya sedang memeriksa mutu brownies,' jawab Adam cepat.
'Kalau begitu jangan mukanya asam. Itu nanti bagian jeruk.'
Tri tertawa duluan. Adam akhirnya ikut tersenyum, meskipun telinganya masih panas. Aki duduk sebentar menceritakan Nini yang tadi berusaha meraih kotak brownies dengan alasan hanya hendak membetulkan letaknya. Cerita itu membuat percakapan kembali ringan, tanpa memaksa pertengkaran kecil tadi seolah tidak pernah ada.
Ketika jam mulai malam, Adam mengangkat buku bawaannya. Tugasnya belum selesai, dan Tri masih harus bangun pagi. Ia membawa piring kosong ke dapur sebelum pamit, tidak menunggu ditawarkan makanan lagi.
'Besok aku kabari, Teh.'
'Iya. Jangan lupa buku itu dibaca, bukan cuma diajak bertamu.'
'Kalau sudah selesai, aku pinjamkan. Teteh perlu latihan duduk diam.'
Ia menunjukkan sampulnya. Tri membaca judul cerita horor itu lalu menggeleng tegas. Adam malah tampak puas berhasil menemukan bahan godaan baru. Tri menyuruhnya membawa semua hantu di dalam buku pulang bersama pemiliknya.
Tri mengantarnya sampai pintu sambil mengomel. Sesudah Adam berjalan ke rumah Engkong, ia mengunci pintu dan memeriksa kamar sekali. Nini sudah mulai mengantuk. Malam itu tak ada kunjungan lain yang perlu ditunggu, dan Tri membiarkan kotak brownies tetap tertutup ketika akhirnya bersiap tidur.