'Cuci tangannya sampai malam, ya?' seru Nini dari kamar.
Tri baru saja meletakkan kotak brownies di meja yang tak terjangkau dari ranjang. Ia menggeleng sambil menutup keran, kemudian mengelap tangan pada kain bersih. Aki sudah membantu Nini bersandar. Kaki neneknya tidak lagi dibiarkan menggantung seperti saat pertama tiba di Jakarta, tetapi bergerak dari ranjang ke kursi tetap membutuhkan kesabaran.
'Kalau Nini buru-buru, saya tambah sabunnya.'
'Ih, kamu.'
Tri membuka tutup kotak dan mengangkat isinya agar Nini bisa melihat. Mata perempuan tua itu langsung mengikuti potongan brownies durian. Di belakangnya, Aki menahan senyum. Tadi istrinya menolak lauk karena mengaku tak berselera, sekarang tangannya yang sehat sudah bergerak mendekat.
'Yang kecil dulu, Ni,' kata Tri, memotong satu bagian lebih kecil ke piring. 'Ini buat dicicipi, bukan mengganti makan malam.'
'Nini tahu. Kamu dari tadi sudah berapa potong?'
Tri pura-pura sibuk mencari garpu. Pertanyaan yang sangat tidak perlu. Ia menyerahkan piring kepada Nini dan mengambilkan sedikit air minum, sementara Aki duduk di tepi ranjang untuk membantu bila diperlukan.
Nini mencicipi perlahan. Ia mengangguk seperti juri lomba, lalu memejamkan mata sebentar. Tri jadi geli. Neneknya memang masih lemah, tetapi kemampuan membuat orang menunggu komentar tampaknya tak ikut berkurang.
'Enak,' putus Nini. 'Kalau begini, tokonya boleh laku.'
'Alhamdulillah, akhirnya pemilik dua puluh lima cabang dapat izin Nini.'
Aki tertawa. Ia mengambil bagian miliknya setelah Tri meletakkan kotak di meja kecil. Tidak ada pesta makan brownies. Sisanya tetap di kotak, ditutup dan diletakkan jauh dari wadah lauk. Tri ingin menyisihkan beberapa potong untuk hari berikutnya, bukan menyajikan semuanya hanya karena Nini sedang ingin.
'Kamu ketemu siapa tadi?' tanya Aki.
'Pemilik tokonya. Mas Lucky. Saya diundang karena beberapa hari lalu menunjukkan rumah Engkong.'
'Oh, yang borong duren itu,' sahut Aki.
'Iya. Kalau diingat, saya masih bisa kesal. Tapi browniesnya menyulitkan saya mempertahankan kekesalan.'
Nini mengerutkan dahi. 'Kamu senyum terus waktu bilang namanya.'
'Saya senyum kalau bilang brownies juga.'
'Nini masih bisa membedakan.'
Tri memilih berdiri dan membawa peralatan makannya ke dapur. Percuma berdebat dengan orang yang sudah mengenalnya sejak bayi. Dari belakang, ia mendengar Aki menanyakan apakah Nini ingin berbaring lagi. Kali ini neneknya tidak menjawab dengan godaan, melainkan suara lelah. Tri berhenti sebentar di ambang dapur, menunggu sampai mereka selesai membetulkan bantal.
Sesudah itu ia menyalakan kompor. Telur dari warung dikocok dengan garam, sementara sayur yang sudah ada dipanaskan secukupnya. Aki datang membawa beras yang tadi ditanyakan lewat pesan. Ia menawarkan diri mengiris bawang, tetapi Tri menyodorkan dua piring untuk ditata saja.
'Bukan meragukan Aki. Kalau bawangnya habis dicicipi mentah, nanti saya yang disalahkan Nini.'
'Aki bukan kambing, Tri.'
'Makanya tugasnya menata piring.'
Mereka bekerja dalam dapur sempit dengan gerakan saling mengalah. Ketika Tri membawa wajan, Aki memiringkan tubuh agar gagangnya tak membentur pinggang. Dulu ia memasak untuk satu orang. Kini porsi bertambah, ruangnya tetap sama. Ia mulai memikirkan letak alat yang lebih mudah diraih tanpa membuat Aki harus membungkuk terlalu rendah.
Makan malam disiapkan setelah nasi matang. Nini dibantu mengambil posisi nyaman, Aki duduk dekatnya, dan Tri membawa piring sendiri ke sisi meja. Ia tak begitu lapar setelah makan siang yang terlambat, tetapi mengambil sedikit nasi agar Nini tidak punya alasan untuk membalas semua omelannya.
'Besok masih jualan?' tanya Aki.
'Iya. Lusa saya mau antar Nini kontrol. Jadi besok saya sekalian siapkan bahan yang gampang dibereskan.'
'Dulu kamu bilang mau lebih cepat.'
Tri mengangguk. Rencana itu memang mundur beberapa hari ketika menyesuaikan jualan dan keadaan rumah. Ia tak hendak menundanya lagi. Sesudah makan, ia akan memeriksa jam layanan dan menyiapkan berkas yang dibawa dari kampung, supaya pagi keberangkatan tidak dihabiskan mencari kertas.
'Aki ikut. Biar kalau disuruh menjelaskan keadaan Nini, tidak semua kamu yang mengingat,' kata kakeknya.
'Saya juga bisa menjelaskan,' sela Nini.
'Iya, Ni. Tapi jangan cerita sinetronnya dulu sebelum keluhan Nini selesai.'
Tawa kecil membuat meja makan terasa lebih longgar. Setelah piring kosong, Tri membantu Aki mengantar Nini beristirahat. Ia menunggu sampai neneknya nyaman sebelum kembali mencuci. Air sisa cucian tak dibiarkan menggenang; besok pagi ia tak mau orang terpeleset hanya karena dirinya malas mengelap lantai.
Ketika dapur sudah rapi, barulah ia mengeluarkan hasil jualan. Lembar uang yang tadi membuat hatinya ringan dipisah menurut kegunaan. Ada uang bahan, belanja rumah, dan cadangan untuk kontrol. Yang tersisa tidak sebanyak kesan pertama saat kotak uang penuh. Pernah seminggu tidak berjualan sudah cukup membuat simpanannya habis terpakai; ia tidak ingin mengulang ketidaksiapan yang sama.
Keinginan kuliah tata boga tetap ada. Namun malam itu ia memasukkan sisa kecil ke amplop kosong lebih dulu, belum berani menyebutnya uang pendaftaran. Besok amplop itu boleh bertambah sedikit. Kalau ia terus menunggu bisa menyisihkan banyak sekaligus, mungkin amplopnya akan tetap kosong sampai warnanya pudar.
Salah satu kertas pemeriksaan terselip di lipatan kantong obat. Tri baru menemukannya setelah Aki ikut membongkar kantong yang dibawa dari kampung. Sudutnya sudah kusut. Ia meratakan di meja, lalu memasukkannya ke map agar tidak hilang lagi. Aki mengambil pena dan menuliskan perubahan yang dilihatnya pada Nini belakangan ini, termasuk kesulitan berdiri tanpa bantuan. Tri menambahkan jam neneknya biasanya paling lelah. Mereka akan membawanya sebagai pengingat saat ditanya nanti, bukan menebak jawabannya di depan pemeriksa.
Tri menyelipkan berkas Nini ke tas, terpisah dari buku dagangan. Lalu ia menyandarkan punggung sejenak pada kursi. Bayangan Lucky di ruang kerjanya muncul lagi, kali ini bercampur papan toko lama yang ditunjukkan pria itu. Barangkali toko juga bisa tumbuh dari hal kecil yang tidak menyerah menjadi kecil selamanya.
Ketukan di pintu membuatnya bangkit. Suara Adam menyusul, bertanya apakah boleh masuk. Tri merapikan rambut pendeknya dengan telapak tangan, lalu menyuruhnya menunggu sebentar. Di meja, kotak brownies masih terlihat jelas. Ia sudah bisa menebak pertanyaan pertama sahabatnya itu.