Motor merah Tri masih berdiri di tempat semula ketika ia keluar dari kafe. Bedanya, sekarang sebuah mobil hendak mundur dari petak di sebelahnya. Tri berhenti di tepi pintu, memeluk kotak brownies agar tidak terbentur orang yang lewat.
'Tunggu sebentar, Bu,' kata petugas parkir.
Bu? Tri hampir menoleh mencari perempuan lain. Begitu melihat petugas itu menunjuk motornya, ia pasrah. Baru selesai makan bersama duda tampan, pangkatnya langsung naik. Untung Lucky sedang menjawab pertanyaan pegawai di dekat pintu, jadi tidak mendengar protes yang cuma berani ia gumamkan.
Setelah mobil berlalu, Tri mendekati motornya. Barang-barang dagang yang dibawanya dari pujasera membuat jok belakang tampak penuh. Kotak brownies tak mungkin ditaruh begitu saja di atas cetakan. Kalau jatuh, bukan cuma kue yang hancur, harga dirinya di depan Lucky ikut penyok.
Ia menaruh kotak sebentar di jok depan, membuka ikatan barang, lalu menggeser kantong kain ke bagian bawah. Ternyata tali yang biasa dipakai mengikat peralatan tertahan gagang wadah. Tri menarik perlahan, tetapi satu ujung justru terlepas dan menyeret kantong kosong ke tanah.
'Aduh, jangan sekarang, dong.'
Lucky muncul di sampingnya. 'Perlu bantuan?'
'Pegang kotaknya sebentar saja, Mas. Kalau sama saya, bisa ikut saya ikat.'
Pria itu menerimanya tanpa tertawa terlalu keras. Tri berjongkok mengambil kantong, menepuk debu di bagian luarnya, lalu memasukkan kembali wadah yang sudah kosong. Ia memastikan tidak ada alat makan yang tertinggal di trotoar. Sibuk seperti itu membuatnya sebentar lupa sedang diperhatikan lelaki yang sejak tadi membuat lututnya lemas.
'Setiap hari kamu membawa semua ini?'
'Sebagian. Yang bisa disimpan di lapak, saya simpan. Kalau ada yang harus dicuci, ya dibawa pulang. Saya belum punya pegawai bagian angkut, Mas.'
'Kamu merangkap banyak bagian.'
'Bagian mencicipi paling saya sukai.'
Lucky tersenyum. Setelah ikatan peralatan kuat, Tri mengambil kotaknya kembali. Ia membungkusnya dengan kantong bersih, menaruhnya rata di ruang yang baru dibuat, lalu menahan bagian atas dengan tali tanpa meremukkan tutup. Jarak ke kontrakan tidak jauh, tetapi jalan berlubang tetap harus diperhitungkan.
Saat ia baru hendak memakai helm, seorang pembeli keluar dari kafe membawa beberapa kotak brownies. Satu kotak di bagian paling atas miring. Tri spontan mengulurkan tangan sebelum benda itu jatuh.
'Eh, terima kasih, Mbak.'
'Pegang yang bawahnya, Bu. Yang atas sudah mau jalan sendiri.'
Lucky membantu memanggil petugas parkir agar pembeli itu bisa membuka mobilnya. Tri menyerahkan kotak yang diselamatkannya dan mundur. Tutup kotak brownies terpasang rapat meskipun sempat miring; ia teringat bungkus pancake yang kadang basah di bagian bawah ketika ia terburu-buru menutupnya selagi terlalu panas.
Usaha besar juga memikirkan hal sekecil itu, pikirnya. Ia boleh menyukai rasa kue Lucky, tetapi yang bisa dibawa pulang bukan cuma rasa kenyang. Ada bentuk kotak, cara menyusun, dan kebiasaan pegawai mengecek pesanan sebelum pembeli pergi. Tidak semuanya cocok untuk gerobaknya, tetapi sebagian bisa dicoba tanpa membeli mesin mahal.
'Mas, kalau contoh pancake saya bawa, mau dimakan langsung atau dibawa ke tempat lain?'
'Untuk pertama kali, saya coba di sini. Kenapa?'
'Kalau langsung, saya buat dekat jam antar. Beda dengan yang harus perjalanan jauh. Saya tidak mau Mas bilang enak cuma karena sungkan, padahal bawahnya sudah lembek.'
'Saya bisa memberi komentar yang tidak enak didengar juga.'
'Kalau begitu saya pikir-pikir lagi.'
Mereka sama-sama tertawa. Tri akhirnya memasang helm. Kaca spionnya menghadap ke bawah karena tadi tersenggol kantong. Saat ia membetulkannya, wajah Lucky terpantul di belakang bahunya. Untuk satu detik ia lupa apa yang sedang diperbaiki.
'Sudah kelihatan?' tanya Lucky.
'Sudah. Maksudnya, jalan belakangnya sudah kelihatan.'
Ia buru-buru memalingkan wajah. Untung ada helm yang menutupi sebagian pipi. Kalau Lucky tahu isi kepalanya, Tri mungkin harus pindah pujasera sebelum bisa menjual pancake lagi dengan tenang.
'Terima kasih makannya, Mas. Assalamualaikum.'
'Waalaikumsalam. Hati-hati, Tri.'
Ia menyalakan motor setelah petugas memberi isyarat jalan aman. Bukan lagi waktu mengulur perpisahan dengan bertanya macam-macam. Dengan kotak terikat di depan peralatan dan kedua tangan di setang, Tri keluar dari halaman kafe. Ia perlu berputar sebelum mengambil arah kontrakan, sama seperti waktu datang tadi.
Di lampu merah ia berhenti di belakang pengendara lain. Bunyi klakson dari jalan seberang membuatnya kembali memperhatikan sekitar. Untung ia tidak sedang mengawang sampai melewati garis. Tri menghela napas, menertawakan dirinya sendiri di balik helm.
Perut kenyang, dapat bekal, diajak bicara baik-baik. Wajar kalau ia senang. Tak perlu langsung menganggap dirinya tokoh utama sinetron yang besok dipinang pemilik dua puluh lima cabang brownies. Lagi pula, pulang nanti ada baskom yang harus dicuci. Kenyataan pandai sekali menyiapkan penawar untuk lamunan.
Setelah lampu berubah hijau, ia melaju dengan kecepatan biasa. Ia sempat berhenti di warung dekat kontrakan untuk membeli telur bagi makan malam. Uang yang dipakainya berasal dari kantong belanja rumah, bukan semua hasil jualan yang tadi terasa banyak. Setiba di rumah, ia masih harus menyisihkan modal besok dan ongkos kontrol Nini.
Sambil menunggu telur dibungkus, Tri memeriksa ponsel. Ada pertanyaan Aki tentang letak beras yang tadi dipindahkannya. Ia membalas singkat agar Aki tidak perlu mengangkat karung kecil di sudut dapur. Beras untuk malam sudah ditakar di wadah atas meja. Ternyata di rumah pun pekerjaan tetap berjalan meskipun ia sedang sibuk tersenyum sendiri.
Pemilik warung melihat kotak di motornya. 'Habis kondangan, Neng?'
'Bukan, habis latihan jadi tamu baik.'
'Kok bawa oleh-oleh banyak?'
'Hasil latihannya bagus.'
Ia membayar telur sambil tertawa. Bungkus belanja diletakkan terpisah agar tidak menekan brownies. Lalu Tri melanjutkan perjalanan pendek terakhir sampai ke gang rumahnya.
Aki membuka pintu ketika mendengar motor berhenti. Dari dalam, suara Nini sudah memanggil namanya. Tri mematikan mesin, menurunkan barang satu per satu, dan mengangkat kotak brownies paling akhir. Kali ini tidak perlu berlagak tenang di depan siapa-siapa. Ia memang ingin sekali menunjukkan hasil kunjungannya.
'Ni, saya bawa kabar enak!'
'Kabar apa?'
'Bisa dimakan. Tapi tunggu saya cuci tangan dulu.'