'Kalau bayar, saya pulang saja,' sahut Tri. 'Di pujasera tadi saya sudah seharian jadi orang yang dibayar. Di sini gantian.'
Tawa Lucky memenuhi ruang kerjanya. Ponsel yang semula hendak dipakai memesan makan diturunkannya. Tri ikut tersenyum, meskipun sesudah itu ia mencubit ujung jaket sendiri. Jangan kebanyakan tingkah, nanti undangan makan berubah menjadi undangan keluar.
'Brownies dulu, baru makan siang. Begitu?'
'Nah, bisa juga Mas memahami penderitaan rakyat.'
Lucky menelepon ke bawah, meminta beberapa potong brownies dan dua porsi makan siang dibawa ke ruangannya. Ia sempat menanyakan lauk yang diinginkan Tri. Gadis itu buru-buru menyebut ayam, lalu menambahkan bahwa ia tak bisa makan makanan laut. Lucky mengulang pesanannya kepada pegawai, termasuk permintaan tanpa campuran makanan laut, sebelum menutup telepon.
Tri menatap meja yang terlalu rapi untuk seseorang yang mengurus dua puluh lima cabang. Di lapaknya sendiri, saat pembeli ramai, pulpen bisa bersembunyi di bawah bungkus terigu. Di sini satu pena pun punya tempat sendiri. Ia menarik tangannya yang hampir menyentuh tumpukan berkas.
'Boleh lihat itu?' tanyanya, menunjuk foto toko lama di rak.
Lucky mengambil bingkainya. Bangunan dalam foto jauh lebih kecil daripada kafe tempat mereka duduk. Papan namanya juga sederhana, belum berkilau seperti yang di luar.
'Toko nenek saya dulu. Tidak langsung sebesar sekarang.'
'Saya kira dari lahir Mas sudah punya tempat yang kalau orang masuk langsung merasa dompetnya kurus.'
'Kamu sendiri masuk dengan berani.'
'Karena diundang gratis. Beda urusan.'
Lucky menyerahkan bingkai itu. Tri memperhatikan meja kayu di depan toko, lalu membayangkan gerobaknya sendiri. Punya tempat yang bisa ditinggal tanpa harus mengangkat cetakan setiap hari pasti menyenangkan. Tetapi sekarang ia masih harus memikirkan kontrakan, kebutuhan Nini, dan bahan untuk besok. Keinginan itu disimpannya dulu bersama senyum kecil.
Ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Tri segera mengembalikan foto dan duduk tegak. Piring kecil berisi beberapa potong brownies diletakkan di meja, disusul air minum. Ia menunggu sampai pegawai keluar sebelum memandangi hidangan itu dengan mata berbinar.
'Silakan. Yang ini durian,' kata Lucky.
Tri mencuil sedikit, tidak lagi ingat hendak terlihat anggun. Aroma durian menyusul rasa cokelat ketika ia mengunyah. Lapisan atasnya melekat di langit-langit mulut. Enak. Menyebalkan sekali, orang yang membuatnya grogi ternyata menjual makanan yang juga sulit ditolak.
'Bagaimana?'
'Kalau jawabnya enak, boleh nambah?'
'Boleh. Kalau bilang tidak enak juga boleh.'
'Wah, sistemnya bagus.'
Ia tertawa, lalu mengambil seteguk air. Setelah mencoba potongan lain, Tri menunjuk brownies durian yang masih tersisa. Kali ini ia tidak hanya memikirkan jumlah yang bisa dibawa pulang.
'Yang durian lebih terasa waktu baru digigit. Setelah itu cokelatnya kuat sekali. Memang sengaja begitu, Mas?'
Lucky mendekatkan piring, ikut mencicipi sedikit. Ia menjelaskan bahwa ada pembeli yang menyukai durian, tetapi tidak ingin rasa cokelatnya hilang. Tri mengangguk. Pancake di lapaknya justru mendapat banyak pesanan karena orang ingin rasa durian yang jelas. Bahan yang sama ternyata bisa mencari pembeli yang berbeda.
'Kamu sekarang menjual pancake durian juga, kan? Engkong cerita waktu saya ke rumahnya.'
'Iya. Beberapa hari ini lumayan. Tadi sudah habis, makanya saya berani menutup lapak lebih cepat.'
'Saya ingin coba. Besok atau kapan kamu sempat, bawakan contoh. Saya bayar.'
Tri menurunkan garpunya. Ia nyaris menjawab bahwa untuk Lucky tak perlu membayar. Untung ingat harga buah durian yang membuatnya mengomel beberapa hari lalu. Toko besar pria ini tak dibangun dari pemilik yang selalu menghadiahkan barang dagangan.
'Kalau contoh satu porsi boleh. Tapi jangan mendadak minta dua ratus seperti membeli duren Engkong. Cetakan saya bisa mengundurkan diri.'
'Saya belum meminta sebanyak itu.'
'Saya berjaga-jaga. Mas pernah memborong sebelum saya kebagian.'
Lucky tertawa lagi, kali ini sambil mengangkat tangan menyerah. Mereka berhenti membahas dagangan ketika makan siang datang. Tri menyingkirkan piring brownies agar lauk tak tumpang tindih. Perut yang tadi berani memprotes ternyata tetap senang mendapat nasi hangat.
Makan berhadapan dengan Lucky membuat gerakan biasa terasa rumit. Saat mengambil sambal, ujung sendoknya mengenai pinggir piring dan berbunyi nyaring. Ia lekas mengangkat wajah. Lucky tidak mengejek, hanya menggeser wadah sambal agar lebih dekat.
'Kalau di rumah saya makan pakai tangan,' celetuk Tri, sebelum sempat menyaring ucapannya.
'Di sini juga boleh.'
'Nanti tangan saya minta bungkus brownies semua.'
Pria itu menggeleng geli. Tri mulai lebih santai. Ia bercerita tentang pelanggan yang memesan dua puluh pancake sekaligus, tentang Mang Ucup yang selalu tahu siapa mencari siapa di pujasera. Lucky mendengarkan sambil sesekali bertanya. Tri senang bisa menjawab sebagai orang yang tahu pekerjaannya.
Sesudah makan, ia melirik jam. Aki bisa menemani Nini, tetapi bukan berarti ia bebas pulang sesukanya. Tri menghabiskan airnya dan merapikan alat makan ke sisi meja.
'Saya pulang dulu, Mas. Nini pasti menunggu cerita. Kalau saya bilang cuma makan, bisa disuruh menceritakan isi ruangannya juga.'
'Keadaan beliau bagaimana?'
'Masih perlu dibantu kalau bergerak. Sebentar lagi mau saya antar kontrol. Aki ikut menjaga di kontrakan.'
Lucky tidak menahan. Ia mengambil satu kotak yang sudah disiapkan bersama hidangan tadi dan memberikannya kepada Tri. Isinya beberapa potong brownies untuk dibawa pulang, bukan tumpukan yang tadi sempat dibayangkannya.
'Ini cukup, Mas. Banyak-banyak nanti saya sendiri yang habis sebelum sampai rumah.'
'Berarti harus cepat pulang.'
Tri berdiri sambil tertawa. Lucky mengantarnya ke pintu ruangan, lalu berjalan turun bersamanya. Di tangga, ia terpaksa memperlambat langkah karena Lucky masih mengajaknya bicara tentang contoh pancake. Tri berjanji mengabari setelah menentukan hari, bukan menjanjikan barang yang besok belum tentu bisa ia sisihkan.
Ketika sampai di lantai bawah, aroma brownies kembali menyergap. Kali ini Tri sudah membawa bagiannya. Yang mengganggu justru senyum pria di sampingnya. Ia bisa menghitung berapa potong isi kotak itu, tetapi tak tahu bagaimana menghitung debar yang bertambah setiap Lucky memanggil namanya.