Kata itu datang di pagi hari Minggu. Tanpa rencana. Tanpa aba-aba.
Shella datang pukul sembilan pagi dengan sebuah kotak kado besar. Dia sudah menelepon Ndaru sehari sebelumnya untuk meminta izin. Ndaru bilang dia tidak perlu izin. Shella bilang dia tetap ingin meminta.
"Tante La!" Juna berlari ke pintu begitu melihat tantenya.
Shella berjongkok dan memeluk keponakannya. Lalu menyerahkan kotak kado itu. "Buat Mas Juna. Dari Tante La. Sama dari Mama Farah."
Juna merobek kertas kadonya dengan semangat. Di dalamnya, sebuah boneka naga berwarna ungu. Sudah sedikit pudar. Salah satu sayapnya pernah dijahit ulang dengan benang yang warnanya sedikit berbeda.
"Naga!" seru Juna.
"Ini naganya Mama Farah waktu kecil," ucap Shella pelan. Matanya berkaca-kaca. "Tante simpen lama. Sekarang buat Mas Juna."
Juna memeluk boneka naga ungu itu dengan mata berbinar. Lalu dia berbalik dan berlari ke arah Shana yang berdiri di belakang Ndaru.
"Tante Cana! Holly punya temen!"
Shana berjongkok. Menatap boneka naga ungu di pelukan Juna. Lalu menatap Shella. Shella tersenyum padanya. Senyum yang masih sedikit canggung. Namun tulus.
"Namanya siapa, Mas Juna?" tanya Shana.
Juna berpikir keras. Dahinya berkerut. Lalu dia menatap Shella.
"Nama Mama?"
Shella menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh.
"Farah," jawab Ndaru pelan dari belakang. Suaranya sedikit serak. "Nama Mama Farah."
"Naga Farah!" Juna mengangkat boneka itu tinggi-tinggi. "Holly sama Farah temenan!"
***
Siang itu, Shana mengajak Juna dan Satria bermain di halaman belakang. Putri datang bersama Satria untuk makan siang. Shella belum pulang. Ndaru duduk di teras bersama Putri dan Shella. Mengawasi.
Satria mengajari Juna menendang bola. Juna lebih sering jatuh daripada menendang. Namun dia tertawa setiap kali jatuh.
"Mas Satria," panggil Juna di sela tawanya. "Mama Mas Satria mana?"
"Itu." Satria menunjuk Putri di teras. "Bunda."
Juna menatap Putri. Lalu menatap Satria. "Bunda?"
"Iya. Aku manggilnya Bunda."
Juna terdiam. Dia memeluk boneka naga ungunya. Dahinya berkerut. Seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.
Shana melihatnya. "Kenapa, Mas Juna?"
Juna menoleh padanya. Menatapnya lama dengan mata bulatnya yang jernih.
"Mama Farah di surga," ucapnya pelan. Seperti mengulang sesuatu yang sering ia dengar.
"Iya, Sayang."
"Mama Farah tetep Mama."
"Iya. Mama Farah selalu Mamanya Mas Juna."
Juna mengangguk serius. Lalu dia berjalan mendekati Shana. Berdiri tepat di depannya. Boneka naga ungu terjepit di bawah lengannya.
"Tante Cana," ucapnya. "Tante Cana bukan Mama."
Shana tersenyum. Meski dadanya sedikit perih. "Iya, Sayang. Tante Cana bukan Mama."
"Tante Cana..." Juna berpikir lagi. Lalu wajahnya berbinar seperti menemukan jawaban dari teka-teki yang sulit. "Bunda?"
Shana membeku.
Di teras, Ndaru berdiri dari kursinya. Putri menutup mulutnya. Shella mencengkeram lengan kursinya.
"Tante Cana jadi Bunda Juna?" tanya Juna lagi. Polos. Penuh harap. "Kayak Bunda Mas Satria?"
Shana tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat. Dia menoleh ke arah teras. Mencari Ndaru.
Bukan untuk meminta izin. Untuk berbagi.
Ndaru menatapnya dari teras. Matanya merah. Lalu dia mengangguk. Pelan.
Shana menoleh ke arah Shella. Takut. Ragu.
Shella menatapnya. Air mata mengalir di pipinya. Lalu, perlahan, dia juga mengangguk.
Shana kembali menatap Juna. Anak dua tahun dengan boneka naga ungu dan mata yang penuh harap.
"Boleh, Sayang," bisiknya. Suaranya pecah. "Bunda."
Juna tersenyum lebar. Lalu dia melompat ke pelukan Shana. Hampir menjatuhkan mereka berdua ke rumput.
"Bunda!" serunya. Keras. Bahagia. "Bunda Juna!"
Shana memeluknya erat. Menangis di bahu kecilnya. Tertawa di saat yang sama.
"Bunda bobokin Juna nanti?"
"Iya, Sayang."
"Cerita Holly sama Farah?"
"Iya."
"Papa dengerin. Diem."
Shana tertawa sambil menangis. Dia melihat Ndaru berjalan turun dari teras. Menghampiri mereka. Berlutut di rumput di samping istri dan anaknya.
Juna menoleh pada ayahnya. "Papa! Tante Cana jadi Bunda!"
"Papa dengar," ucap Ndaru. Suaranya serak. Dia mengusap kepala anaknya. Lalu tangannya bergerak ke arah Shana. Berhenti di udara.
Shana menatap tangan itu. Lalu dia meraihnya sendiri. Menggenggamnya.
Di teras, Shella menangis di bahu Putri. Putri memeluknya sambil tersenyum.
Dan Satria, yang berdiri di tengah halaman dengan bola di kakinya, menggaruk kepalanya bingung.
"Kok semua nangis? Kan cuma ganti nama."
* * *
Meja makan rumah Harris di Menteng tidak pernah sepenuh ini.
Jumat malam. Semua kursi terisi. Dan Iqbal harus menambahkan tiga kursi lagi dari ruang tamu.
Harris di kepala meja. Di sisi kanannya, Guna, Yanti, dan Mala. Di sisi kirinya, Ndaru, Shana, dan Juna di kursi tingginya. Putri dan Satria di sebelah Mala. Darma di sebelah Putri. Shella di sebelah Juna, membantu menyuapi keponakannya.
Dan di ujung meja yang lain, dua orang yang tidak pernah duduk di meja ini sebelumnya.
Erina Keswari dan Fathur Ranjana.
Harris sendiri yang mengundang mereka. Lewat Iqbal. Dengan kartu undangan resmi yang membuat Erina mengira dia akan disidang.
"Gue nggak mau dateng," ucap Erina pada Shana dua hari sebelumnya. "Dia bilang Ayah mantan napi di depan semua orang."
"Dia juga minta maaf atas nama Mas Arya, Mbak."
"Ke lo. Bukan ke gue."
Shana tidak membantah. Namun pada akhirnya Erina datang. Dengan gaun hitam sederhana, rambut diikat rapi, dan sebuah panci besar yang dibungkus kain.
"Sup ayam," ucapnya saat Iqbal menerima panci itu di pintu. "Resep ibu saya."
***
Makan malam itu dimulai dengan canggung.
Erina duduk tegak dengan wajah datar. Harris menatapnya dari ujung meja dengan wajah yang sama datarnya. Fathur dan Shana saling melirik dengan cemas.
Pelayan menyajikan hidangan. Dan di antara semua hidangan mewah dari dapur keluarga Atmadjiwo, ada mangkuk-mangkuk sup ayam sederhana dari panci Erina.
Harris menatap mangkuknya. Lalu menyendoknya. Mengunyahnya perlahan.
Semua orang menahan napas. Seperti saat kue lemon dulu.
"Ini sup ayam," ucap Harris.
"Iya, Pak," jawab Erina datar.
"Ibu kalian yang mengajarkan?"
"Iya."
Harris terdiam. Lalu dia menyendok lagi. Dan lagi.
"Istri saya dulu membuat sup ayam yang mirip," ucapnya pelan. "Saat anak-anak sakit."
Erina menatapnya. Sedikit dari kekakuannya mengendur.
Harris meletakkan sendoknya. Menatap Erina langsung.
"Saya pernah menyebut ayah kalian mantan narapidana di depan semua orang," ucapnya. "Seolah itu satu-satunya hal yang perlu diketahui tentang dia."
Meja makan itu mendadak sunyi. Bahkan Juna berhenti mengunyah.
"Saya salah," lanjut Harris. "Dan anak saya juga salah. Saya sudah membaca semua berkas di map itu." Dia menarik napas. "Saya ingin menawarkan biaya dan akses berkas untuk diperiksa penasihat hukum yang kalian pilih. Langkah perkara harus atas persetujuan kalian sebagai keluarga, bukan keputusan saya. Draf Arya dan kliping itu baru bahan awal; hasilnya harus ditentukan dari bukti dan pemeriksaan resmi, bukan pengaruh nama Atmadjiwo."
Erina membeku. Sendok di tangannya bergetar.
Shana menatap Erina lebih dulu. Kali ini mereka tidak sedang menerima kejutan yang sudah diputuskan orang lain. Keduanya meminta waktu memilih pendamping dan mempelajari berkas. Ndaru mengangguk; ia hanya akan mendampingi sejauh yang mereka minta.
"Pak," ucap Erina. Suaranya bergetar. "Itu... itu nggak akan ngembaliin apa-apa."
"Saya tahu." Harris mengangguk. "Tidak akan mengembalikan tahun-tahun ayah kalian. Tidak akan mengembalikan ibu kalian. Berkas dan bukti tentang dirinya berhak diperiksa kembali. Saya akan membantu tanpa menjanjikan hasil yang bukan hak saya untuk menentukan."
Erina menunduk. Bahunya bergetar. Fathur merangkulnya.
Lalu, setelah beberapa saat, Erina mengangkat wajahnya. Matanya merah. Namun dia tersenyum. Senyum kecil yang sedikit getir.
"Terima kasih, Pak."
"Papa," koreksi Harris. Dia menunjuk Shana dengan dagunya. "Adikmu memanggil saya Papa. Kamu juga boleh."
Erina menatapnya. Lalu tertawa kecil di sela tangisnya.
"Nanti dulu, Pak. Saya butuh waktu."
Harris mengangguk. Dan untuk pertama kalinya, semua orang di meja itu melihat Harris Atmadjiwo tertawa. Pelan. Singkat. Namun nyata.
"Kamu mirip adikmu," ucapnya. "Keras kepala."
***
Setelah makan malam, saat semua orang berkumpul di ruang keluarga dengan teh dan kue lemon, Gilang masuk dengan wajah yang sedikit berbeda dari biasanya.
Dia membisikkan sesuatu pada Ndaru. Ndaru mendengarkan. Lalu wajahnya berubah.
Dia berdiri dan menatap semua orang.
"Kompol Bayu baru menelepon Gilang," ucapnya. "Polisi menangkap seseorang sore ini. Orang suruhan salah satu terdakwa kasus Benasaka. Ada dugaan ia membayar sopir truk untuk menabrak mobil Mas Arya. Penyidik sedang mencocokkan keterangannya dengan transaksi, perjalanan, dan bukti lain; pengakuan saja belum menjadi putusan akhir."
Ruang keluarga itu hening.
Putri menutup wajahnya dengan kedua tangan. Darma memeluknya. Harris mencengkeram tongkatnya.
"Sopir truk itu juga sudah ditahan," lanjut Ndaru. "Kasusnya resmi dibuka kembali. Tidak lagi sebagai kecelakaan."
Putri terisak. Satria yang duduk di sampingnya memeluk ibunya tanpa benar-benar mengerti.
"Kasus Benasaka sendiri," tambah Gilang pelan, "akan dilanjutkan oleh hakim pengganti. Semua berkas yang Pak Haryadi susun akan digunakan."
Harris menatap foto putra keduanya di dinding. Lalu dia memejamkan mata.
"Kamu dengar, Arya?" bisiknya. "Berkasmu tidak sia-sia."
***
Malam itu, saat mereka berpamitan, Erina menarik Shana ke sudut teras.
"Na," bisiknya. "Gue mau ngasih tahu lo sesuatu."
"Apa, Mbak?"
Erina mengangkat tangan kirinya. Di jari manisnya, sebuah cincin sederhana dengan satu batu kecil yang berkilau di bawah lampu teras.
Shana menutup mulutnya. "Mbak!"
"Tadi sore. Sebelum ke sini." Erina tersenyum. Pipinya memerah. Shana tidak pernah melihat kakaknya tersipu seperti itu. "Dia bilang mau ngelamar gue sebelum gue ngelempar pisau daging ke orang lain lagi."
Shana tertawa dan memeluk kakaknya erat-erat. Di balik bahu Erina, dia melihat Fathur yang berdiri di samping mobil. Pria itu mengedipkan sebelah mata padanya.
"Lo bahagia, Mbak?"
Erina membalas pelukannya. "Gue bahagia. Lo?"
Shana menoleh. Di ujung teras, Ndaru berdiri dengan Juna yang tertidur di gendongannya. Boneka naga ungu terjepit di antara mereka. Pria itu sedang menatapnya. Menunggu.
"Gue juga, Mbak," bisik Shana. "Gue juga."