Kertas bisa mengikat dua nama dalam satu perjanjian. Namun ia tak bisa mengikat hati yang memilih sendiri. Saat dua orang sepakat untuk mulai lagi, tinta lama tak lagi berarti.
Tiga hari setelah Shana pulang, dia turun ke ruang tengah pukul dua dini hari dengan sesuatu di tangannya. Bukan laptop.
Sebuah map plastik. Kali ini bukan bening. Biru tua.
Ndaru sudah duduk di sofa tunggal. iPad di pangkuannya. Teh tanpa gula di meja, mengepul untuk Shana. Dia mengangkat wajahnya saat Shana turun dari tangga.
Matanya langsung tertuju pada map di tangan istrinya.
"Apa itu?"
Shana tidak menjawab. Dia duduk di sofa panjang. Di tempatnya yang biasa. Menarik selimut rajut menutupi kakinya. Lalu membuka map biru itu dan mengeluarkan beberapa lembar kertas.
Ndaru mengenalinya seketika. Kertas dengan kop surat firma hukum. Tanda tangannya sendiri di halaman terakhir. Tanda tangan Shana di sebelahnya. Materai yang sudah sedikit lecek.
Surat perjanjian pranikah mereka.
"Saya mau bahas kontrak, Pak," ucap Shana. Wajahnya serius. Terlalu serius. Namun ada sesuatu di sudut bibirnya. "Poin per poin."
Ndaru menatapnya. Lalu dia meletakkan iPad-nya di meja. Bersandar di sofa tunggal. Melipat tangan di dada.
"Silakan."
Shana berdeham. Dia membaca dengan suara formal. Seperti notaris yang membacakan akta.
"Poin satu. Pernikahan hanya akan berlangsung selama satu tahun. Dapat diperpanjang apabila Pihak Pertama dan Pihak Kedua memiliki kepentingan yang belum terselesaikan." Dia menatap Ndaru. "Pihak Pertama sudah menyatakan punya kepentingan yang belum selesai. Pihak Kedua juga."
"Pihak Kedua punya kepentingan apa?"
Shana menatapnya. Pipinya memerah. "Rahasia."
"Poin lima melarang saya bertanya?"
"Kita belum sampai poin lima, Pak."
Ndaru menahan senyumnya. "Lanjut."
"Poin dua. Pihak Kedua harus tinggal bersama Pihak Pertama." Shana mengangguk. "Pihak Kedua sudah pulang. Dan nggak berencana pergi lagi."
"Bagus."
"Poin tiga. Pihak Pertama menanggung segala kebutuhan Pihak Kedua." Shana mengerutkan dahinya. "Kartu hitam itu masih belum saya pakai sama sekali, Pak."
"Saya tahu jumlah tagihan yang memang sudah kita sepakati untuk dibuka. Selebihnya tetap urusanmu," jawab Ndaru. "Kamu bebas memakai penghasilanmu sendiri, dan kita bisa mengganti cara membagi kebutuhan rumah."
"Saya masih ingin memilih sendiri kapan memakai uang saya. Termasuk untuk kue lemon itu."
Ndaru menggeleng pelan. Tidak berdebat.
"Poin empat. Saling membantu membangun citra positif." Shana tertawa kecil. "Yang ini kayaknya gagal total, Pak. Citra kita udah hancur lebur dua kali."
"Dan dibangun lagi dua kali."
"Poin lima." Shana berhenti. Dia menatap Ndaru. Tawanya memudar. "Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing."
Ndaru tidak menjawab. Dia menatap istrinya.
"Saya rasa poin ini yang bikin semuanya rusak, Pak," ucap Shana pelan. "Saya nggak cerita karena takut. Bapak nggak nanya karena poin ini."
"Saya tidak bertanya karena saya takut jawabannya," koreksi Ndaru. "Poin itu hanya alasan."
Shana menatapnya. Lalu tersenyum kecil. "Kita berdua penakut ya, Pak."
"Iya."
"Poin enam. Tidak boleh ada orang ketiga." Shana melirik Ndaru. "Nggak ada masalah. Kecuali Juna yang tiap malam minta tidur di tengah."
"Juna bukan orang ketiga. Juna atasan kita berdua."
Shana tertawa. Kali ini lepas. Dia menutup mulutnya agar tidak membangunkan seisi rumah.
Lalu dia membalik halaman. Dan tawanya berhenti.
"Poin tujuh," ucapnya. Lebih pelan. "Tidak ada kontak fisik. Bisa dipertimbangkan jika untuk keperluan publik."
Hening.
Mereka saling menatap. Lampu baca menyala hangat di antara dua sofa.
"Selama ini," ucap Ndaru pelan, "setiap kali saya bertanya boleh, itu bukan karena poin tujuh."
"Terus karena apa?"
"Karena kamu berhak untuk bilang tidak."
Shana menatapnya. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia ingat malam pertama mereka bertemu. Di depan lift. Saat dia mencium pria asing tanpa bertanya. Karena panik, karena marah, karena ingin membuat Dito sakit hati. Dia tidak pernah bertanya.
Dan pria itu, sejak hari itu, selalu bertanya.
"Saya dulu sudah minta maaf waktu pertemuan pertama kita, tapi sekarang saya mau mengatakannya dengan lebih jelas," bisik Shana. "Saya mencium Bapak tanpa izin, bahkan saat Bapak berusaha melepaskan diri. Panik dan marah pada Dito bukan alasan untuk melakukan itu. Saya minta maaf."
Ndaru terdiam. Lalu dia mengangguk pelan. "Saya terima."
"Poin delapan, sembilan, dan sepuluh," lanjut Shana. "Kerahasiaan selama kesepakatan, larangan saling menyebut nama di media setelah selesai, lalu kerahasiaan sesudahnya. Masih ada lampiran penalti di halaman kedua. Kita nggak boleh mengabaikan yang dulu tersembunyi itu." Dia tersenyum. "Yang ini kayaknya udah nggak relevan."
Di balik salinan itu ada dokumen lain. Shana mengeluarkannya dan membaca judulnya pelan. Hasil pembicaraan mereka dengan penasihat yang dipilih masing-masing, sejak sebelum ia kembali tinggal di rumah ini. Orang yang mendampinginya tidak hanya berasal dari firma keluarga Atmadjiwo.
Ndaru sudah menyampaikan bahwa ia melepaskan tuntutan penalti sepuluh miliar. Ia mengakui tidak pernah memastikan Shana memahami halaman itu, lalu memakainya untuk menekan persetujuan Erina. Mereka tidak menganggap rasa cinta yang muncul kemudian membenarkan caranya dahulu.
"Saya yang menulis aturan itu dan menakutimu dengan dendanya," kata Ndaru. "Saya minta maaf. Kamu tidak perlu menjual restoran kakakmu, tinggal bersamaku, atau menceritakan seluruh traumamu untuk membayar pertolonganku."
Shana memeriksa lagi bagian yang telah mereka selesaikan tertulis. Pengakhiran kesepakatan lama dan lampiran sanksinya tidak menggantung pada apakah ia kembali hari ini. Dokumen serta salinan yang perlu disimpan sudah diurus sesuai penjelasan penasihat mereka. Status pernikahan dan hak yang melekat padanya tidak dianggap lenyap karena satu lembar dirobek.
"Saya kembali karena saya ingin mencoba hidup bersama Bapak," jawab Shana. "Kalau nanti kita berbeda pendapat, saya tetap boleh meminta bantuan atau ruang. Kerahasiaan tidak boleh melarang itu."
"Iya. Dan kalau saya terluka mendengar suatu cerita, saya boleh meminta waktu, tapi saya tidak boleh mengadili seluruh hidupmu karena kamu belum sanggup menceritakannya."
Shana mengangguk. "Kita juga perlu meluruskan cerita ke publik. Kita tidak bertemu di Bandara Juanda dua tahun lalu. Aku nggak mau Juna tumbuh dengan kebohongan yang kita paksa jadi sejarah."
Ndaru menerima itu. Mereka telah menyiapkan keterangan singkat untuk mengoreksi cerita pertemuan dan foto lama yang dahulu mereka reka. Tidak ada rincian trauma atau urusan anak yang perlu ditambahkan untuk membuktikan cinta. Mereka siap menghadapi pertanyaan tanpa membuat kisah palsu berikutnya.
Dia menutup kontrak itu. Menatapnya lama.
Lalu dia menyodorkannya pada Ndaru.
"Pak. Salinan yang ini mau dirobek bareng? Dokumen yang perlu disimpan tetap ada."
Ndaru menatap kertas di tangan Shana. Lalu dia bangkit dari sofa tunggalnya. Berjalan pelan. Dan duduk di sofa panjang. Di samping Shana.
Untuk pertama kalinya, dia tidak duduk di sofa tunggal.
Dia memegang ujung lain dari kontrak itu. Shana memegang ujung yang satu.
"Satu," ucap Shana.
"Dua," lanjut Ndaru.
"Tiga."
Kertas itu robek. Suara sobekan memenuhi ruang tengah yang sunyi. Mereka merobeknya lagi. Dan lagi. Sampai yang tersisa hanya serpihan-serpihan kecil yang berserakan di atas selimut rajut Shana.
Shana menatap serpihan itu. Lalu tertawa. Tawa yang bercampur tangis.
"Pengacara Bapak bakal marah."
"Biar."
Ndaru menatap istrinya. Wajah yang basah oleh air mata. Kacamata yang sedikit melorot. Rambut yang dicepol asal. Sweter abu-abu yang kebesaran.
"Shana."
"Hm?"
"Aku—" Ndaru berhenti. Kata itu keluar begitu saja. Bukan saya. Aku. Dia sendiri terkejut.
Shana juga. Dia menatap Ndaru dengan mata membulat.
Ndaru berdeham. Telinganya memerah. Lalu dia mencoba lagi. Kali ini dengan sengaja.
"Boleh aku mencium keningmu?"
Shana menatapnya. Lama. Lalu dia mengangguk. Pelan.
"Boleh."
Ndaru mencondongkan tubuhnya. Bibirnya menyentuh kening Shana. Ringan. Hangat. Sebentar. Seperti janji yang diucapkan tanpa suara.
Saat dia menarik diri, Shana sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan senyum yang begitu lebar.
"Bapak bilang aku," bisiknya.
"Aku bilang aku," ulang Ndaru. Lalu dia tersenyum. "Dan kamu juga boleh berhenti memanggilku Bapak."
"Terus apa? Mas?"
Ndaru tidak menjawab. Namun telinganya semakin memerah.
Shana tertawa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Ndaru. Pelan. Ragu-ragu. Ndaru tidak bergerak. Lalu, perlahan, dia menyandarkan kepalanya di atas kepala Shana.
Mereka duduk seperti itu sampai pukul empat pagi. Di antara serpihan salinan kontrak sepuluh poin.