Beberapa bulan berlalu sejak Shana kembali. Selama waktu itu, ia dan Erina tidak lagi menyerahkan nama ayah mereka kepada janji orang besar. Mereka memilih pendamping hukum, memeriksa salinan perkara, dan mencocokkan catatan Haryadi dengan dokumen perusahaan serta bahan pembanding yang diperoleh melalui proses resmi. Ada keterangan yang harus diperbaiki, ada saksi yang didengar, dan ada pertanyaan yang jawabannya tidak mereka sukai. Draf di laci tidak diperlakukan sebagai putusan pengadilan.
Prosesnya panjang. Ketika salinan hasil pemeriksaan dan putusan yang memulihkan kedudukan Bambang akhirnya diterima keluarga, Shana membacanya bersama Erina. Bukan karena Harris memerintahkan seseorang meloloskannya. Bukti tentang berkas keuangan dan tanda tangan telah diuji, dan nama ayah mereka dibersihkan lewat hasil yang dapat mereka simpan serta tunjukkan. Tahun-tahun penjara tidak kembali. Ibu tetap tidak pulang. Namun mereka tidak perlu lagi meminta izin keluarga Atmadjiwo untuk menyebut bahwa ayah mereka diperlakukan tidak adil.
Harris membantu membuka berkas yang diminta, lalu berdiri di belakang pilihan kedua kakak beradik itu. Ia meminta maaf sekali lagi karena dahulu memakai kata narapidana untuk mengecilkan seluruh hidup Bambang. Erina menerima permintaan maafnya tanpa harus segera memanggilnya Papa. Shana menyukai perubahan itu: seseorang boleh menerima bantuan tanpa menyerahkan cara ia merasakan lukanya.
Perkara kematian Haryadi juga tidak ditutup oleh satu pengakuan. Keluarga mengikuti pemeriksaan sampai bukti komunikasi, pembayaran, dan perjalanan diuji. Hasil penanganan resmi kemudian menetapkan peran orang yang memerintahkan dan orang yang menjalankan penabrakan itu. Bagi Putri dan Satria, kepastian tersebut tidak menggantikan Arya, tetapi menghentikan banyak tebakan yang selama ini mereka tanggung. Berkas Benasaka tetap berada pada proses pengadilan yang diteruskan, tanpa keluarga mengatur hasilnya melalui berita.
Shana pun menyerahkan bukti cengkeraman Dito, catatan pemeriksaan, serta rekaman yang relevan melalui pendampingnya. Ia tidak lagi harus menjawab kedatangan mendadak itu sebagai urusan kekasih yang belum selesai. Tindakan yang menyakitinya ditangani secara resmi; Dito berhenti mendekati rumah dan kafenya. Media yang pernah memuat tuduhan rencana balas dendam diberi keterangan koreksi. Pasangan itu juga meluruskan kisah Bandara Juanda yang mereka karang sendiri. Memperbaiki kebohongan tidak sama dengan menuntut semua orang menyukai mereka.
Arkana jilid dua akhirnya terbit dengan suara Shana sendiri. Kerja sama film yang lama sudah diselesaikan tertulis, dan pembicaraan adaptasi berikutnya dilakukan tanpa Dito. Pada halaman persembahan, nama Ayah tetap berada paling depan. Di bawahnya ada kalimat untuk seseorang yang bertanya kapan naga keluar dari gua.
Tidak semua malam mereka habiskan dengan bekerja sampai fajar. Shana mulai meminta bantuan untuk gangguan tidurnya, dengan waktu dan cerita yang ia pilih sendiri. Ndaru menata ulang jam kerja serta cara ia menerima kabar penting. Kadang mereka masih terjaga pukul dua, tetapi kedekatan tidak lagi diukur dari seberapa lama keduanya mampu mengabaikan lelah.
Pagi itu mereka ingin berziarah.
Pemakaman keluarga Atmadjiwo sunyi di pagi hari.
Embun masih menempel di rerumputan. Burung-burung berkicau di pohon kamboja. Langit Jakarta yang biasanya kelabu hari ini sedikit lebih biru.
Shana berjalan di samping Ndaru. Juna di gendongan ayahnya, memeluk boneka naga ungu dan setangkai mawar putih. Suster Nur mengikuti di belakang dengan keranjang berisi bunga tabur.
Mereka berhenti di depan sebuah makam dengan nisan marmer hitam.
Farah Marissa.
Juna turun dari gendongan ayahnya. Kali ini dia tidak perlu disuruh. Dia berjalan sendiri ke depan nisan dan meletakkan mawar putihnya. Tepat di bawah nama ibunya.
"Mama," ucapnya. "Juna bawa Bunda."
Shana berlutut di samping Juna. Dia menatap nisan itu. Nama wanita yang tidak pernah ia kenal. Wanita yang melahirkan anak yang kini memanggilnya Bunda. Wanita yang dicintai pria di sampingnya.
"Mbak Farah," ucapnya pelan. "Saya Shana."
Angin bertiup pelan. Daun-daun kamboja bergemerisik.
"Saya nggak akan menggantikan Mbak. Saya janji. Juna akan selalu tahu siapa Mamanya. Saya akan ceritakan tentang Mbak. Tentang naga ungu Mbak. Tentang kamar bayi yang Mbak dekor sendiri." Shana tersenyum. Matanya basah. "Tapi saya akan menjaga mereka. Juna dan Mas Ndaru. Mbak Shella bilang mereka payah kalau sendirian."
Di sampingnya, Ndaru tertawa kecil. Tawa yang serak.
Juna menepuk-nepuk nisan ibunya dengan tangan kecilnya. "Mama. Ini Farah." Dia mengangkat boneka naga ungunya. "Naga Mama. Sekarang temennya Holly."
Ndaru berlutut di sisi lain Juna. Dia meletakkan tangannya di atas nisan istrinya. Lama.
"Farah," ucapnya pelan. "Aku sudah tidak marah pada diriku sendiri lagi. Atau setidaknya, aku sedang belajar." Dia menarik napas dalam. "Juna bahagia. Aku juga. Aku harap kamu juga."
Shana menatap suaminya. Lalu, dengan hati-hati, dia meletakkan tangannya di atas tangan Ndaru. Di atas nisan.
Ndaru membalikkan tangannya. Menggenggam tangan Shana.
***
Setelah dari makam Farah, mereka berjalan ke makam lain. Tidak jauh. Hanya beberapa baris.
Haryadi Djanu Atmadjiwo.
Nisannya terawat. Marmernya mengilap. Bunga-bunga di atasnya masih segar. Seseorang baru saja datang. Mungkin Putri. Mungkin Harris.
Shana berdiri di depan makam itu lama.
Dia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Beberapa bulan yang lalu, dia merayakan kematian pria ini. Sekarang, ia berdiri di depan makamnya dengan ingatan tentang map cokelat yang tersimpan aman di laci meja kerjanya. Surat yang tidak pernah dikirim. Catatan Saya keliru.
Dia berlutut. Menaburkan bunga dari keranjang Suster Nur.
"Mas Arya," ucapnya pada akhirnya. Pelan. "Saya Shana. Anak Bambang Sudarsono."
Ndaru berdiri di belakangnya. Diam. Membiarkannya.
"Mas mencari kami. Saya baru tahu." Shana menatap nama di nisan itu. "Saya membenci Mas selama enam belas tahun. Saya merayakan kematian Mas. Saya minta maaf."
Angin bertiup. Lebih lembut dari sebelumnya.
"Dan terima kasih," lanjut Shana. Suaranya bergetar. "Terima kasih sudah mengakui kesalahan Mas. Terima kasih sudah mencari kami. Aku dan Mbak Erina sudah menjalani pemeriksaan yang seharusnya dimulai jauh lebih awal. Bantuan keluarga tidak menggantikan bukti. Nama Ayah dipulihkan melalui proses itu, bukan melalui pesta atau draf permintaan maaf."
Dia menunduk. Air matanya jatuh di atas tanah makam.
"Ayah selalu bilang, jangan sampai jadi orang yang membenci. Saya sempat lupa. Tapi sekarang saya ingat lagi."
Dia berdiri. Menatap nisan itu sekali lagi.
Lalu dia berbalik dan meraih tangan suaminya.
***
Malam itu, pukul dua dini hari, Shana turun ke ruang tengah dengan laptopnya.
Lampu baca sudah menyala. Teh tanpa gula sudah mengepul di meja.
Dan Ndaru tidak duduk di sofa tunggal.
Dia duduk di sofa panjang. Di ujung yang satu. Dengan iPad di pangkuannya dan selimut rajut yang sudah ia bentangkan di sisi lain sofa. Menunggu.
Shana tersenyum. Dia duduk di ujung yang lain. Menarik selimut rajut itu menutupi kakinya. Lalu, perlahan, menggeser tubuhnya. Lebih dekat. Lalu lebih dekat lagi. Sampai bahunya menyentuh lengan Ndaru.
Ndaru tidak menoleh. Namun sudut bibirnya terangkat.
Shana membuka laptopnya. Membuka naskah novel barunya. Raja kerajaan es.
Raja itu sudah berdiri di gerbang istananya selama berminggu-minggu. Tidak bisa melangkah keluar. Terkurung oleh es yang ia bangun sendiri. Untuk melindungi dirinya dari kehilangan.
Malam ini, Shana tahu bagaimana membuatnya melangkah.
Dia mulai mengetik.
Raja itu tidak keluar karena es di sekelilingnya mencair. Es itu tidak pernah mencair dengan sendirinya. Dia keluar karena seseorang mengetuk gerbangnya setiap malam. Seorang penyihir kecil yang tidak takut padanya. Yang membawakan teh tanpa gula dan meninggalkan catatan-catatan kecil di depan pintu. Yang bercerita tentang naga putih pada anak raja yang kesepian.
Dan suatu malam, raja itu membuka gerbangnya. Bukan karena dia dipaksa. Bukan karena perjanjian. Karena dia ingin.
Shana berhenti mengetik. Dia membaca ulang kalimat itu.
"Kenapa berhenti?" tanya Ndaru tanpa mengangkat wajah dari iPad-nya.
"Lagi mikir judul bab."
"Apa pilihannya?"
Shana menatap layar. Lalu dia menoleh pada pria di sampingnya. Pria yang dulu ia cium di depan lift tanpa bertanya. Pria yang kemudian selalu bertanya. Pria yang membaca novelnya sampai bab dua puluh tujuh. Pria yang tidak bisa bersin api, tetapi tetap membacakan cerita Holly untuk anaknya.
Pria yang ia pilih. Yang memilihnya.
"Bab Baru," jawab Shana.
Ndaru akhirnya mengangkat wajahnya. Menatapnya. "Klise."
"Biarin."
Ndaru tertawa pelan. Lalu dia meletakkan iPad-nya. Mencondongkan tubuhnya untuk membaca layar laptop Shana. Membaca paragraf terakhir yang baru saja diketik istrinya.
Dia terdiam lama.
"Penyihir kecil yang tidak takut padanya," bacanya pelan.
"Iya."
"Itu kamu."
"Itu tokoh fiksi, Mas."
Ndaru menoleh. Menatapnya. Mas. Panggilan yang kini terasa wajar di antara mereka, tanpa kamera dan keluarga yang meminta mereka berperan.
Shana sendiri baru menyadarinya. Pipinya memerah.
Ndaru tidak berkata apa-apa. Dia hanya tersenyum. Senyum yang dulu sangat jarang. Senyum yang sekarang semakin sering muncul.
"Boleh?" tanyanya pelan. Tangannya terulur. Telapak menghadap ke atas.
Shana menatap tangan itu. Tangan yang sama yang selalu bertanya. Selalu menunggu.
Dia meletakkan tangannya di sana. Menggenggamnya.
"Boleh," bisiknya.
Mereka duduk seperti itu sampai fajar menyingsing. Shana mengetik dengan satu tangan. Ndaru membaca dengan satu tangan. Tangan mereka yang lain bertaut di atas selimut rajut.
Di lantai atas, Juna tertidur memeluk naga ungu dari kenangan. Di dinding kamarnya, tertempel gambar naga putih dari cerita. Apinya merah kali ini.
Dan di ruang tengah rumah berpagar tinggi itu, di bawah cahaya lampu baca yang hangat, dua orang yang dulu membatasi hidup dengan sepuluh poin dan ancaman penalti, kini belajar menjalani pernikahan melalui pilihan yang tetap boleh dibicarakan kembali.
Hanya satu kata yang selalu ditanyakan. Dan selalu dijawab.
Boleh.
***
TAMAT