Shella melihat semuanya dari teras.
Dia berdiri di balik pilar putih di samping pintu. Tidak keluar. Tidak bersembunyi. Hanya berdiri di sana dengan kedua tangan terlipat di dada.
Dia melihat Shana berlutut di ruang tamu. Mendengar setiap kata pengakuannya. Tidak ada pembelaan. Tidak ada air mata palsu. Hanya kejujuran yang menyakitkan.
Dia melihat map cokelat itu. Surat yang tidak pernah dikirim. Catatan Saya keliru dalam tulisan tangan Mas Arya.
Dia melihat Om Harris mengulurkan tangannya.
Dan dia melihat Mas Ndaru berdiri di ambang pintu, mengulurkan tangannya dan bertanya, Boleh?
Shella tidak pernah melihat kakak iparnya seperti itu. Bahkan saat bersama Mbak Farah.
Tidak, itu tidak adil. Mas Ndaru mencintai Mbak Farah. Shella tahu itu. Dia melihatnya sendiri di pernikahan mereka. Melihat cara Mas Ndaru menggenggam tangan kakaknya di rumah sakit. Melihat Mas Ndaru hancur di pemakaman.
Namun ini berbeda. Mas Ndaru yang dulu bersama Mbak Farah adalah pria muda yang sibuk, yang selalu terlambat, yang selalu mengira masih ada waktu. Mas Ndaru yang sekarang adalah pria yang sudah tahu rasanya kehilangan. Pria yang menunggu di ujung jalan sejak pukul sembilan pagi. Pria yang mengambil cuti dari jabatannya demi seorang perempuan yang membohonginya.
Pria yang belajar dari kesalahannya.
Shella menatap tangannya sendiri. Tangan yang beberapa hari lalu mendorong map plastik bening ke meja kerja Mas Ndaru. Dengan nada menang.
Dia mengira dia melindungi Juna. Melindungi kenangan Mbak Farah.
Namun sekarang, berdiri di teras ini, dia tidak yakin lagi apa yang sebenarnya ia lindungi.
***
Setelah wartawan pergi dan gerbang kembali tertutup, Shella menghampiri mereka.
Ndaru dan Shana berdiri di halaman depan. Tangan mereka sudah tidak bertaut lagi. Namun mereka berdiri berdekatan. Sangat berdekatan.
Shana melihatnya lebih dulu. Wajahnya menegang sedikit.
"Mbak Shella."
Shella berhenti di depan mereka. Dia menatap Shana. Lalu Ndaru. Lalu kembali ke Shana.
"Aku yang menemukan artikel itu," ucapnya. Langsung. Tanpa basa-basi. "Aku yang bawa ke Mas Ndaru."
Shana mengangguk pelan. "Saya tahu, Mbak."
"Kamu tahu?"
"Saya menebak." Shana tersenyum tipis. "Mas Ndaru bukan orang yang suka mengorek masa lalu orang lain."
Shella menatapnya. Lalu dia tertawa kecil. Tawa yang sedikit getir.
"Aku nggak minta maaf," ucapnya. "Artikel itu benar. Kamu memang menyembunyikannya."
"Iya, Mbak."
"Tapi aku salah soal satu hal." Shella menarik napas dalam. "Aku kira kamu ke sini buat balas dendam. Aku kira kamu mau ngerebut tempat Mbak Farah. Aku kira kamu bakal nyakitin Juna."
Shana tidak menjawab. Dia menunggu.
"Juna nangis seharian waktu kamu pergi," lanjut Shella. Suaranya sedikit bergetar. "Sus Nur cerita ke aku. Dia nggak mau makan kalau bukan wortel bintang. Dia nggak mau tidur kalau nggak dengar cerita naga." Shella menunduk. "Dia nggak pernah nangis kayak gitu waktu aku pulang habis main sama dia."
"Mbak Shella—"
"Dia sayang kamu." Shella mengangkat wajahnya. Matanya basah. "Dan kayaknya kamu juga sayang dia."
"Saya sayang Juna, Mbak," ucap Shana pelan. "Sama kayak Mbak sayang dia. Itu nggak harus saling menggantikan."
Shella menatapnya lama.
"Mbak Farah nggak akan pernah tergantikan," ucapnya.
"Saya tahu, Mbak. Saya nggak mau menggantikan." Shana tersenyum. "Juna punya Mama Farah. Mama yang dia kirimi mawar putih. Saya cuma mau jadi orang yang bacain dia cerita naga tiap malam."
Shella terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya, dia tersenyum pada Shana. Senyum kecil. Ragu-ragu. Namun tulus.
"Holly," ucapnya. "Juna cerita soal Holly. Naga putih yang bisa bersin api."
"Iya, Mbak."
"Mbak Farah juga suka naga." Shella tertawa kecil sambil menghapus air matanya. "Waktu kecil, dia selalu bilang mau punya naga peliharaan. Papa kami beliin boneka naga ungu. Dia bawa ke mana-mana sampai SMA."
Shana menatap Shella. Lalu dia tersenyum. Matanya juga mulai basah.
"Mungkin nanti Holly bisa punya teman," ucapnya. "Naga ungu."
Shella menatapnya. Lalu mengangguk pelan.
Dia menoleh pada Ndaru.
"Aku pulang dulu, Mas." Dia ragu sejenak. "Aku masih boleh main sama Juna, kan?"
"Kapan saja, La," jawab Ndaru. "Kamu tantenya."
"Juna pasti seneng Tante La datang," tambah Shana.
Shella menatap mereka berdua. Lalu dia berbalik dan berjalan ke mobilnya. Di tengah jalan, dia berhenti dan menoleh sekali lagi.
"Jaga mereka," ucapnya pada Shana. "Juna dan Mas Ndaru. Mereka berdua payah kalau sendirian."
Lalu dia pergi.
Shana menatap mobil Shella yang menghilang di balik gerbang. Lalu dia menoleh pada Ndaru.
Pria itu sedang menatapnya. Dengan tatapan yang membuat lutut Shana kembali lemas.
* * *
Mereka pamit pada Putri dan Harris menjelang sore.
Putri memeluk Shana lama di depan pintu. Berbisik bahwa dia boleh datang kapan saja. Bahwa Satria ingin menunjukkan lego dinosaurusnya pada Juna lagi. Bahwa map cokelat itu boleh Shana bawa. Itu milik keluarga Bambang Sudarsono sekarang.
Harris tidak memeluknya. Pria tua itu hanya mengangguk dari kursinya. Namun saat Shana mencium punggung tangannya untuk pamit, Harris berbicara pelan.
"Kuenya. Manisnya pas sekarang."
Shana tersenyum di balik air matanya. "Iya, Pa."
"Jumat depan, bawa lagi. Ke rumah." Harris menatap Ndaru. "Kalian berdua."
Ndaru menatap ayahnya. Lalu mengangguk. "Iya, Pa."
***
Mobil melaju pelan meninggalkan kediaman Haryadi. Gilang di kursi depan di samping sopir. Ndaru dan Shana di kursi belakang.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa menit.
Shana memeluk map cokelat itu di pangkuannya. Matanya menatap ke luar jendela. Jalanan Jakarta yang mulai macet di sore hari. Langit yang mulai berwarna jingga.
"Kita mau ke mana, Pak?" tanyanya pelan.
"Terserah kamu."
Shana menoleh. Ndaru menatap lurus ke depan.
"Saya bisa mengantar kamu ke rumah Mbak Erina," lanjut Ndaru. "Atau..."
Dia tidak melanjutkan.
Shana menatapnya. Pria itu terlihat lelah. Kantung mata yang menghitam. Rahang yang belum dicukur selama beberapa hari. Kemeja putih yang sedikit kusut.
"Bapak masih marah sama saya?" tanya Shana.
Ndaru terdiam lama. Lalu dia menjawab dengan jujur.
"Sedikit."
Shana menunduk.
"Tapi tidak sebesar rasa rindu saya," lanjut Ndaru pelan.
Shana mengangkat wajahnya. Menatap pria itu. Ndaru masih menatap lurus ke depan. Namun telinganya memerah.
"Gilang," ucap Ndaru tiba-tiba. "Minggir sebentar."
Gilang menatap atasannya melalui spion. Lalu meminta sopir menepi di pinggir jalan. Di depan sebuah taman kecil yang sepi.
"Saya dan Pak Sopir beli kopi dulu, Pak," ucap Gilang tanpa diminta. Dia turun dan mengajak sopir menyeberang ke sebuah minimarket.
Tinggal mereka berdua.
***
Ndaru akhirnya menoleh. Menatap Shana.
"Saya membaca novel kamu," ucapnya. "Sampai bab dua puluh tujuh."
Shana mengerjap.
"Gadis dari desa yang terbakar. Dia menurunkan pedangnya." Ndaru menatapnya. "Kamu menulis itu lima tahun yang lalu. Sebelum kamu kenal saya. Sebelum Mas Arya meninggal."
"Iya, Pak."
"Kamu sudah tahu sejak lama. Bahwa kamu tidak bisa terus membenci." Ndaru tersenyum tipis. "Kamu hanya butuh waktu untuk percaya pada tulisanmu sendiri."
Shana tidak bisa menjawab. Air matanya mulai menggenang lagi.
"Shana," ucap Ndaru. Suaranya pelan. Sangat pelan. "Saya marah karena kamu tidak bilang. Tapi saya sadar, saya juga tidak pernah memberi kamu alasan untuk bilang. Saya yang menulis poin lima. Saya yang membangun dinding itu. Saya yang bilang jangan mencampuri urusan pribadi."
"Pak—"
"Biar saya selesaikan." Ndaru menarik napas. "Empat hari kamu pergi. Saya tidur di sofa ruang kerja. Juna tidak mau makan. Saya membacakan cerita Holly dan tidak bisa bersin api. Saya menunggu di sofa tunggal setiap pukul dua pagi, berharap kamu turun dari tangga."
Shana menutup mulutnya dengan tangan.
"Kontrak kita," lanjut Ndaru. "Poin satu. Pernikahan hanya berlangsung satu tahun."
Shana menatapnya.
"Saya tidak mau pernikahan ini berakhir di tahun pertama, Shana."
Hening.
Hanya suara kendaraan yang lewat di luar. Dan detak jantung Shana yang terlalu keras.
"Saya tidak mau ini berakhir di tahun pertama," ulang Ndaru. "Atau tahun kedua. Atau tahun-tahun setelahnya."
Shana menatap pria di sampingnya. Pria yang dulu menatapnya seperti laporan keuangan. Pria yang dulu menyodorkan kontrak sepuluh poin dengan wajah datar. Pria yang dulu berkata, jangan terlalu dekat dengan anak saya.
"Poin satu," ucap Shana pelan. Suaranya bergetar. "Dapat diperpanjang apabila Pihak Pertama dan Pihak Kedua memiliki kepentingan yang belum terselesaikan."
Ndaru menatapnya. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang hampir seperti senyum.
"Kamu hafal kontraknya."
"Saya penulis, Pak. Saya hafal semua kalimat yang bikin saya sakit kepala."
Ndaru tertawa. Pelan. Tawa yang Shana rindukan selama empat hari.
"Kepentingan yang belum terselesaikan," ulang Ndaru. "Saya punya satu."
"Apa?"
Ndaru menatapnya. Lama. Lalu dia menjawab dengan satu kata.
"Kamu."
Shana tidak bisa bernapas.
Ndaru mengulurkan tangannya. Telapak tangan menghadap ke atas. Di atas jok di antara mereka.
"Boleh?"
Shana menatap tangan itu. Lalu menatap wajah pria itu. Lalu, untuk pertama kalinya, dia tidak meletakkan tangannya di atas tangan Ndaru.
Dia menggenggamnya. Jari-jarinya menyelinap di antara jari-jari Ndaru. Erat.
"Pulang, Pak," bisiknya. "Ke rumah. Juna nunggu Holly yang apinya merah."
Ndaru menggenggam tangannya balik.
"Ke rumah," ulangnya.
Di seberang jalan, Gilang berdiri di depan minimarket dengan dua gelas kopi di tangannya. Dia melihat atasannya melalui kaca mobil. Melihat tangan yang bertaut.
Dia tersenyum. Lalu membuka ponselnya dan mengetik sesuatu di aplikasi catatan.
Sabtu. Pukul 16.40. Pak Ndaru akhirnya bilang.
Lalu dia menunggu lima menit lagi sebelum kembali ke mobil.