Putri berdiri. Dia berjalan ke lemari kecil di sudut ruang tamu. Lemari yang sama tempat dia menyimpan ponsel Haryadi. Dari laci paling bawah, dia mengeluarkan sebuah map cokelat tua.
Map itu sudah lusuh. Ujung-ujungnya melengkung. Ada noda kopi di sudut kanannya.
Putri berlutut di samping Shana dan meletakkan map itu di depannya.
"Aku menemukan ini tiga hari yang lalu," ucap Putri pelan. "Waktu aku membereskan laci meja kerja Mas Arya. Di bawah tumpukan berkas Benasaka. Seperti dia sengaja menyimpannya di tempat yang selalu bisa dia lihat."
Shana menatap map itu. Di sampulnya, ada tulisan tangan dengan tinta biru yang sudah memudar.
Bambang Sudarsono.
Tangan Shana mulai gemetar.
"Buka," ucap Putri.
Shana membukanya. Di dalamnya, beberapa lembar kertas. Fotokopi putusan pengadilan belasan tahun yang lalu. Kliping berita dari surat kabar. Dan beberapa lembar catatan tulisan tangan.
Lalu satu kliping berita lain. Lebih baru. Bertanggal tujuh tahun yang lalu. Tentang seorang direktur perusahaan konstruksi yang ditangkap karena kasus korupsi dan penggelapan dana. Nama perusahaannya sama dengan tempat Ayah dulu bekerja. Nama direkturnya, Shana mengenalinya. Atasan Ayah. Pria yang dulu menyuruh Ayah menyimpan berkas tanpa membaca.
Di pinggir kliping itu, tulisan tangan yang sama. Tinta hitam. Ditekan begitu keras sampai kertasnya hampir robek.
Pola yang sama. Tanda tangan yang sama. Saya keliru.
Shana berhenti bernapas.
Dia membalik lembar berikutnya. Selembar kertas surat bergaris. Tulisan tangan yang rapi, tetapi ada beberapa coretan di sana-sini. Seperti seseorang yang menulis ulang kalimatnya berkali-kali.
Untuk keluarga Bapak Bambang Sudarsono,
Saya Haryadi Djanu Atmadjiwo. Saya hakim yang memimpin persidangan Bapak Bambang belasan tahun yang lalu.
Saya menulis surat ini karena saya keliru. Saya terlalu percaya pada berkas di atas meja. Saya tidak cukup mendengarkan ketika Bapak Bambang berkata dia tidak bersalah. Saya terlalu cepat mengetuk palu.
Saya tahu permintaan maaf ini tidak akan mengembalikan tahun-tahun yang hilang. Tidak akan mengembalikan nama baik Bapak Bambang yang sudah tercemar. Saya ingin menyampaikan catatan dan membantu keluarga mencari penasihat hukum untuk memeriksa langkah yang dapat ditempuh, jika keluarga bersedia. Saya tidak bisa menggantikan keputusan keluarga atau hasil pemeriksaan pengadilan.
Surat itu berhenti di sana. Tidak ada tanda tangan. Tidak ada tanggal.
Di bawahnya, selembar kertas kecil dengan catatan yang lebih singkat.
Alamat lama sudah kosong. Tetangga bilang istrinya sudah meninggal. Anak-anaknya pindah. Pak Bambang sudah bebas, tidak ada yang tahu ke mana. Cari lagi setelah Benasaka selesai.
Setelah Benasaka selesai.
Shana menatap kalimat itu. Air matanya jatuh di atas kertas. Membuat tinta yang sudah memudar itu sedikit melebar.
Dia tidak pernah selesai. Benasaka tidak pernah selesai baginya.
"Dia mencari kalian," bisik Putri. Air matanya juga mengalir. "Dia mencari keluargamu, Shana. Dia ingin minta maaf. Dia ingin membersihkan nama ayahmu."
Shana tidak bisa berbicara. Dia memeluk map itu di dadanya. Bahunya bergetar hebat.
Ayah.
Selama ini Shana percaya ayahnya tidak bersalah. Kini ada catatan yang mengakui kekeliruan, tetapi catatan itu masih perlu dicocokkan dengan berkas perkara dan bukti lain. Ia tidak mau lagi menerima kepastian hanya karena datang dari orang yang mempunyai nama besar.
Ada upaya mencari alamat mereka, tetapi juga penundaan yang panjang. Kliping itu sudah berusia tujuh tahun. Draf belum ditandatangani, dan catatan itu masih berkata nanti setelah Benasaka. Penyesalan Haryadi tidak mengembalikan waktu yang hilang karena ia belum sungguh menuntaskan perbaikannya.
"Mas Arya bukan manusia sempurna," ucap Putri. Dia meletakkan tangannya di bahu Shana. "Dia pernah salah. Kesalahan yang menghancurkan keluargamu. Aku tidak akan membelanya untuk itu." Suaranya bergetar. "Aku baru mengetahui catatan ini. Aku tidak bisa mengubahnya menjadi alasan agar kamu wajib memaafkan. Menyesal saja belum cukup; ada pekerjaan memperbaiki akibatnya yang belum dia selesaikan. Aku ingin membantu kalau kamu dan Erina bersedia."
Shana mengangkat wajahnya yang basah. Menatap Putri.
"Mbak," isaknya. "Saya minta maaf. Saya minta maaf, Mbak."
Putri menariknya ke dalam pelukan. Dua wanita itu berpelukan di atas karpet. Di bawah foto pria yang sama-sama mereka tangisi dengan alasan yang berbeda.
"Aku juga minta maaf," bisik Putri. "Atas nama dia. Karena dia tidak sempat."
***
Harris menatap mereka dari kursinya.
Pria tua itu sudah membaca isi map itu tadi pagi. Putri menunjukkannya sebelum Shana datang. Dia sudah membaca surat yang tidak pernah dikirim itu. Sudah membaca catatan "Saya keliru" dalam tulisan tangan putranya.
Dan dia sudah menangis di ruang kerja Arya. Sendirian. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman.
Sekarang, dia menatap menantunya yang menangis di pelukan menantu yang lain. Di bawah foto putranya.
Dia meraih tongkatnya. Berdiri dengan bantuan Iqbal. Lalu berjalan pelan menghampiri mereka.
Putri melepaskan pelukannya. Shana mendongak. Menatap pria tua yang berdiri di hadapannya.
Harris menatapnya. Lama.
"Arya anak saya," ucapnya. Suaranya parau. "Dia keliru pada ayahmu. Vonis dua belas tahun, sembilan tahun yang benar-benar dijalani, dan akibat yang jauh lebih panjang." Dia menarik napas yang gemetar. "Saya minta maaf atas nama dia."
Shana menatapnya tidak percaya.
"Dan kamu salah pada anak saya," lanjut Harris. "Kamu merayakan kematiannya. Itu tidak akan pernah saya lupakan."
Shana menunduk. "Iya, Pa."
"Tapi kamu datang. Kamu berlutut. Kamu tidak membela diri." Harris terdiam sebentar. "Arya tidak sempat melakukan itu untuk keluargamu. Kamu melakukannya untuk keluarga kami."
Dia mengulurkan tangannya. Tangan tua yang keriput dan sedikit gemetar.
Shana menatap tangan itu. Lalu dia meraihnya. Mencium punggung tangan itu dengan bibir yang bergetar.
Harris meletakkan tangannya yang lain di atas kepala Shana. Sebentar. Sangat sebentar.
"Bangun," ucapnya. "Lantainya dingin."
* * *
Iqbal masuk dengan wajah tegang lima belas menit kemudian.
Shana sudah duduk di sofa di samping Putri. Matanya masih merah. Map cokelat itu masih di pangkuannya. Di meja kopi, kotak kue lemon sudah terbuka. Harris sedang memotongnya sendiri.
"Pak," ucap Iqbal. "Ada wartawan di depan gerbang. Banyak. Dan Dito Alamsyah bersama mereka."
Gerakan tangan Harris terhenti.
Shana membeku. Map di pangkuannya terasa berat tiba-tiba.
Putri berdiri dan berjalan ke jendela. Menyibak tirai sedikit. Di luar gerbang, belasan orang dengan kamera dan mikrofon berkerumun. Di tengah-tengah mereka, seorang pria berkemeja hitam berbicara ke arah kamera dengan gerakan tangan yang dramatis.
"Dia berani datang ke sini," desis Putri.
"Dia tahu saya akan datang," ucap Shana pelan. "Pengawal bilang ada mobil yang mengikuti kami tiga hari terakhir."
Shella yang sejak tadi diam di sofa berdiri. Wajahnya pucat. Dia menatap ke luar jendela, lalu menatap Shana. Seolah baru menyadari sesuatu.
"Saya yang keluar," ucap Shana. Dia berdiri dan meletakkan map itu di atas meja. "Dia mencari saya. Bukan keluarga ini."
"Kamu tidak keluar sendirian," ucap Harris tegas.
"Pa, ini rumah duka Mas Arya. Saya tidak mau—"
"Dia tidak akan keluar sendirian."
Suara itu datang dari arah pintu.
Semua orang menoleh.
Ndaru berdiri di ambang pintu ruang tamu. Kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Celana bahan abu-abu. Wajahnya tenang. Gilang berdiri di belakangnya dengan tablet di tangan.
Shana menatapnya. Jantungnya berhenti berdetak sebentar.
"Bapak..."
"Saya bilang baik," ucap Ndaru. Dia berjalan masuk. Berhenti di depan Shana. "Saya tidak bilang saya tidak akan datang. Tadi Gilang memberi tahu bahwa ada wartawan berkumpul. Saya datang setelah menghubungi pengawal yang kamu setujui. Saya tetap ingin mendengar dulu apakah kamu mau saya mendampingi."
Shana tidak bisa berkata apa-apa.
Ndaru menatapnya. Matanya menyapu wajah Shana yang sembab. Map cokelat di atas meja. Kotak kue lemon yang sudah terpotong. Ayahnya yang berdiri dengan tongkat di samping kursi.
Lalu kembali ke Shana.
"Kamu sudah melakukan bagianmu," ucapnya pelan. "Sekarang biar saya melakukan bagian saya."
Dia mengulurkan tangannya. Telapak tangan menghadap ke atas. Menunggu.
"Boleh?"
Satu kata. Kata yang sama yang ia ucapkan di resepsi pernikahan mereka. Di depan seribu dua ratus tamu dan puluhan kamera.
Shana menatap tangan itu. Lalu dia meletakkan tangannya di atasnya.
Jari-jari Ndaru menutup perlahan. Hangat. Kokoh.
***
Gerbang terbuka.
Kilatan kamera langsung menyambar. Suara-suara berteriak bersahutan.
"Mbak Shana! Benar Mbak merayakan kematian Pak Haryadi?"
"Pak Ndaru! Apa tanggapan Bapak soal video Dito?"
"Kenapa Mbak Shana datang ke rumah duka?"
Ndaru tidak menjawab. Dia berjalan tenang dengan Shana di sampingnya. Tangan mereka bertaut. Gilang di belakang mereka. Dua pengawal di sisi kiri dan kanan.
Dito berdiri di tengah kerumunan wartawan. Saat melihat mereka, matanya menyipit. Lalu dia tersenyum. Senyum orang yang merasa sudah menang.
"Lihat," ucapnya ke arah kamera-kamera. "Dia datang ke rumah orang yang kematiannya ia rayakan. Pakai kerudung. Pura-pura berduka. Ini yang saya maksud."
Ndaru berhenti tepat di depan Dito. Jarak mereka hanya dua langkah.
"Istri saya datang untuk meminta maaf," ucap Ndaru. Suaranya tidak keras. Namun semua mikrofon menangkapnya. "Pada ayah saya. Pada kakak ipar saya. Atas hal yang memang ia lakukan. Itu urusan keluarga kami, dan keluarga kami sudah menyelesaikannya."
Dito tertawa sinis. "Oh, jadi kalian maafin? Semudah itu?"
"Itu bukan urusan Anda."
"Publik berhak tahu—"
"Publik berhak tahu banyak hal." Ndaru menoleh pada Gilang. "Termasuk tentang Anda."
Gilang melangkah maju. Dia mengangkat tablet di tangannya dan menghadapkannya ke arah kamera-kamera.
"Ini rekaman CCTV koridor lantai sembilan belas Atma Hotel," ucap Gilang dengan suara jelas. "Malam ketika Saudara Dito mengaku dituduh selingkuh. Pukul dua puluh dua lewat empat belas menit. Saudara Dito masuk ke kamar 1908 bersama seorang perempuan. Bukan Mbak Shana. Mbak Shana baru tiba sesudah tengah malam, beberapa waktu setelah pria itu masuk bersama perempuan lain."
Cuplikan yang sudah diperiksa keasliannya diputar. Wajah tamu lain ditutup dan nomor kamar tidak ditampilkan. Rekaman memperlihatkan urutan kejadian yang relevan; versi asli disimpan untuk pemeriksaan resmi, bukan dibagikan tanpa batas.
Wajah Dito yang asli memucat.
"Itu... itu editan—"
"Rekaman asli ada di pihak keamanan hotel. Pemeriksaan lebih lanjut dapat dilakukan melalui jalur yang berwenang," potong Gilang tenang.
"Dan ini," ucap Ndaru. Dia menoleh pada Shana. Shana mengeluarkan ponselnya dari saku gamis. Membuka sebuah percakapan lama. Lalu menyerahkannya pada Ndaru.
Ndaru mengangkat ponsel itu ke arah kamera.
"Pesan dari Saudara Dito pada istri saya. Dikirim pada malam sesudah pemakaman, setelah Shana bercerita kepadanya tentang perayaan malam sebelumnya."
Di layar, sebuah pesan dari nama kontak Dito. Bertanggal sesudah pemakaman Haryadi.
Masih seneng soal hakim itu? Besok kita rayain lagi ya, Sayang. Aku traktir.
Kerumunan wartawan mendadak hening.
"Anda menuduh istri saya merayakan kematian kakak saya," ucap Ndaru. Matanya menatap Dito tajam. "Anda sudah mendengar cerita itu sebelum skandal dan menanggapinya dengan ajakan merayakan lagi. Itu tidak membenarkan perbuatan istri saya; itu memperlihatkan bagaimana Anda memakai kepercayaannya untuk menekannya sekarang. Lalu tiga bulan kemudian, setelah dia meninggalkan Anda karena perselingkuhan Anda sendiri, Anda memakai cerita itu untuk menghancurkannya."
Dito membuka mulutnya. Tidak ada suara yang keluar.
"Satu lagi," lanjut Ndaru. "Fotografer yang mengikuti mobil istri saya selama tiga hari terakhir. Petugas keamanan meminta penjelasannya pagi tadi dan menghubungi pihak berwenang. Keterangan serta bukti komunikasinya diserahkan untuk diperiksa; kami tidak menahan atau memaksanya mengaku. Dan Anda yang memintanya menghubungi semua wartawan di sini." Ndaru menatap kerumunan itu. "Sama seperti di depan kafe istri saya bulan lalu."
Satu per satu, kamera-kamera itu berbalik. Dari Ndaru dan Shana. Ke arah Dito.
Dito melangkah mundur. Wajahnya merah padam. Matanya melirik ke kanan dan kiri. Mencari jalan keluar.
"Ini belum selesai," desisnya ke arah Shana.
Shana menatapnya. Pria yang dulu ia cintai selama tiga tahun. Pria yang membawakan nasi goreng di malam itu. Pria yang sekarang berdiri di depan rumah duka orang lain, dikelilingi kamera yang ia undang sendiri.
"Sudah, Dit," ucap Shana pelan. Suaranya tidak marah. Hanya lelah. "Udah selesai dari lama."
Dito menatapnya. Lalu dia berbalik dan mendorong kerumunan wartawan. Berjalan cepat menuju mobilnya.
Beberapa wartawan mengejarnya. Sebagian besar tetap di tempat. Menatap pasangan yang berdiri di depan gerbang rumah duka dengan tangan yang masih bertaut.
Dan di belakang mereka, dari ambang pintu, Harris Atmadjiwo berjalan keluar dengan tongkatnya.
Pria tua itu berhenti di samping putra bungsunya. Menatap kamera-kamera dengan wajah keras.
"Menantu saya sudah meminta maaf pada keluarga kami," ucapnya. Suaranya berat dan berwibawa. "Dan kami sudah memaafkannya. Itu saja yang perlu kalian tahu."
Lalu dia berbalik dan masuk kembali ke dalam rumah. Tanpa menunggu pertanyaan.