"Gula lo kurang."
Erina berdiri di samping Shana di dapur sambil menatap adonan kue di dalam mangkuk besar. Jumat malam. Pukul sepuluh. Dapur Erina berantakan dengan tepung, kulit lemon, dan cangkang telur.
"Udah dua ratus gram, Mbak."
"Tambah lima puluh."
"Kebanyakan!"
"Lo bilang Papa mertua lo minta yang lebih manis." Erina mengambil toples gula dan menuangkannya sendiri ke dalam mangkuk. "Kalau mau minta maaf, jangan setengah-setengah."
Shana menatap kakaknya. Lalu tersenyum kecil. Dia mengaduk adonan itu pelan-pelan.
Harris mungkin tidak akan memakannya. Pria tua itu mungkin bahkan tidak akan mau melihatnya. Gilang bilang Harris melarang Ndaru membawanya ke rumah keluarga. Namun besok bukan rumah Harris. Besok rumah Putri. Dan Gilang juga bilang Putri sudah memberi tahu Harris bahwa Shana akan datang.
Harris tidak menjawab. Namun dia juga tidak melarang.
Itu sudah cukup bagi Shana untuk mencoba.
***
Kue itu masuk oven pukul sebelas. Shana duduk di lantai dapur di depan pintu oven. Menatap adonan yang perlahan mengembang di balik kaca.
Erina duduk di sampingnya. Dua kakak beradik di lantai dapur. Seperti saat mereka masih kecil dan Ibu memanggang kue ulang tahun.
"Lo udah siap?" tanya Erina.
"Belum."
"Lo tahu mau ngomong apa?"
"Nggak."
Erina tertawa kecil. "Penulis macam apa lo."
Shana ikut tertawa. Lalu tawanya memudar. Dia menatap kaca oven yang mulai berembun.
"Gue takut, Mbak," ucapnya pelan. "Gue takut liat muka Mbak Putri. Gue takut liat Satria. Gue takut Papa Harris ngusir gue di depan semua orang."
"Wajar."
"Gue juga takut liat dia."
Erina tidak perlu bertanya siapa dia.
"Dia bakal ada di sana?"
"Gue nggak tahu, Mbak. Gue nggak nanya." Shana memeluk lututnya. "Gilang bilang dia nggak boleh dateng ke rumah Papa Harris kalau gue nggak boleh. Tapi besok rumah Mbak Putri. Gue nggak tahu dia dateng atau nggak."
Ponsel Shana bergetar di atas meja dapur. Erina mengambilnya dan menyerahkannya pada adiknya.
Sebuah pesan. Dari Pak Ndaru.
Mbak Putri bilang kamu akan datang besok.
Shana menatap pesan itu. Jantungnya berdebar.
Iya, Pak.
Saya jemput.
Shana terdiam lama. Jarinya melayang di atas layar.
Dia ingin berkata iya. Ingin duduk di samping pria itu di kursi belakang mobil. Ingin merasakan kehadirannya. Ingin mendengar dia berbisik, "Kita bisa pulang kapan saja," seperti saat mereka pertama kali ke rumah Putri.
Namun ini bukan sesuatu yang bisa ia lakukan dengan bersandar pada orang lain.
Nggak usah, Pak. Ini harus saya lakukan sendiri.
Centang dua. Biru. Tiga titik. Hilang. Muncul lagi.
Baik.
Lalu satu pesan lagi.
Juna menggambar Holly baru. Apinya merah kali ini. Dia bilang untuk Tante Cana kalau pulang.
Shana menutup mulutnya dengan tangan. Erina yang membaca dari samping merangkul bahunya.
Shana mengetik balasan dengan jari gemetar.
Bilang ke Juna, Tante Cana mau liat.
Balasan itu datang cepat. Lebih cepat dari biasanya.
Dia akan menunggu.
Dan setelah jeda yang cukup lama, satu pesan lagi.
Saya juga.
Shana menatap dua kata itu. Lalu dia menundukkan kepala di atas lututnya dan menangis. Bukan tangis yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Tangis yang lebih ringan. Seperti hujan yang akhirnya turun setelah langit terlalu lama mendung.
Oven berbunyi. Kue lemon itu sudah matang.
Kali ini, pinggirnya tidak gosong.
***
Di sebuah kafe di Senopati, Dito Alamsyah duduk di meja sudut dengan ponsel di tangannya.
Video eksklusifnya tidak meledak seperti yang ia harapkan. Ranjana Media dan jaringannya menolak mengutipnya. Stasiun-stasiun televisi menahan diri. Dan setelah dua hari, mulai muncul komentar-komentar yang bertanya balik. Kenapa baru sekarang? Kenapa Dito yang dituduh selingkuh tiba-tiba bicara soal keadilan?
Dito membutuhkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tidak bisa ditahan oleh Fathur Ranjana.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari fotografer lepas yang ia bayar untuk mengikuti mobil Shana selama tiga hari terakhir.
Mobil Shana Arkadewi besok jam 10 ke rumah almarhum Haryadi. Info dari satpam kompleks. Mau saya ikuti?
Dito menatap pesan itu. Lalu senyum perlahan terbentuk di bibirnya.
Rumah almarhum Haryadi. Perempuan yang merayakan kematian sang hakim datang ke rumah dukanya. Gambar yang sempurna. Judul yang sempurna.
Dia mengetik balasan.
Ikuti. Dan hubungi semua wartawan yang kamu kenal. Saya juga akan datang.
* * *
Meminta maaf bukan tentang kata-kata yang indah. Ini tentang keberanian berdiri tanpa membela diri. Mengakui luka yang telah ditorehkan sendiri. Lalu menunggu, tanpa tahu apakah pintu akan terbuka lagi.
Pukul sepuluh tepat, mobil yang membawa Shana berhenti di depan kediaman Haryadi.
Shana turun sendirian. Dua pengawal tetap di dalam mobil atas permintaannya. Dia mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu muda dan kerudung putih yang ia sampirkan di kepala. Kacamatanya bertengger di hidung. Di tangannya, kotak kue yang dibungkus kain batik.
Kue lemon. Dengan gula yang lebih banyak.
Dia berdiri di depan pintu. Rumah besar bergaya klasik itu terlihat sama seperti terakhir kali ia datang. Taman yang mulai tidak terawat. Pohon mangga di halaman belakang. Jendela-jendela tinggi dengan tirai krem.
Namun kali ini, Shana tidak datang sebagai menantu yang menyembunyikan sesuatu. Dia datang sebagai dirinya sendiri.
Dia menarik napas dalam. Lalu menekan bel.
Pintu terbuka. Putri berdiri di sana. Wajahnya tidak tersenyum seperti biasa. Namun juga tidak dingin.
"Masuk, Shana."
***
Ruang tamu itu sudah dipenuhi orang.
Harris duduk di kursi berlengan di kepala ruangan, persis di bawah foto besar Haryadi bertoga hakim. Iqbal berdiri di belakangnya. Wajah pria tua itu keras seperti batu. Dia tidak menatap Shana saat gadis itu masuk.
Di sofa panjang, Shella duduk dengan kaki bersilang. Shana tidak menyangka akan melihatnya di sini. Gadis itu menatap Shana dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada kemarahan di sana. Namun juga sesuatu yang lain. Keraguan.
"Shella menelepon aku setelah video itu," ucap Putri pelan saat melihat Shana menatap Shella. "Aku memintanya datang. Dia juga keluarga. Dia juga harus dengar."
Shana mengangguk.
Ndaru tidak ada di sana. Shana sudah menduganya. Dia sendiri yang meminta. Namun tetap saja, ada sesuatu di dadanya yang terasa kosong saat matanya menyapu ruangan dan tidak menemukan pria itu.
Putri menunjuk kursi di tengah ruangan. "Duduk."
Shana tidak duduk.
Dia berjalan ke tengah ruangan. Meletakkan kotak kue di atas meja kopi. Lalu dia berlutut di atas karpet. Di hadapan Harris. Di bawah foto Haryadi.
Shella menegakkan punggungnya. Putri menutup mulutnya dengan tangan. Bahkan Iqbal yang selalu tanpa ekspresi terlihat terkejut.
Harris akhirnya menatapnya.
"Papa," ucap Shana. Suaranya bergetar, tetapi jelas. "Mbak Putri. Mbak Shella. Saya datang ke sini bukan untuk membela diri."
Tidak ada yang menjawab.
"Semua yang Dito katakan di video itu benar. Kecuali satu hal." Shana menarik napas. "Ayah saya, Bambang Sudarsono, divonis dua belas tahun oleh Mas Arya. Saya duduk di ruang sidang itu waktu saya sepuluh tahun. Saya membenci Mas Arya sejak hari itu."
Harris tidak bergerak.
"Hari Mas Arya meninggal, saya melihat beritanya. Malamnya saya dan kakak saya makan malam. Kami merayakannya. Saya bilang pada Dito, hakim gila itu akhirnya mati." Air mata mulai mengalir di pipi Shana. Dia tidak menghapusnya. "Itu benar. Saya melakukannya. Saya tidak akan bilang itu fitnah."
Putri memejamkan matanya.
"Lalu saya datang ke rumah ini. Ke tahlilan empat puluh hari. Saya duduk di antara keluarga Papa. Saya membaca Yasin untuk Mas Arya. Saya memeluk Mbak Putri dan bilang turut berduka cita." Shana menunduk. "Dengan hati yang masih menyimpan semua itu. Tanpa bilang apa-apa."
Suaranya pecah.
"Saya minta maaf. Bukan karena saya ketahuan. Saya minta maaf karena saya merayakan kematian seorang ayah. Seorang suami. Seorang anak." Shana mengangkat wajahnya. Menatap Harris. "Satu-satunya yang Dito bohongi adalah soal balas dendam. Saya tidak pernah menikahi Mas Ndaru untuk membalas apa pun. Tapi saya tahu, setelah semua yang saya lakukan, Papa tidak punya alasan untuk percaya."
Hening.
"Saya tidak minta dimaafkan," lanjut Shana pelan. "Saya hanya ingin Papa dan Mbak Putri mendengarnya langsung dari saya. Bukan dari Dito. Bukan dari media. Dari saya."
Dia menunduk dalam-dalam. Dahinya hampir menyentuh karpet.
Dan menunggu.
Detik demi detik berlalu. Shana bisa mendengar suara jam dinding. Suara napasnya sendiri. Suara isakan pelan dari arah Putri.
Lalu suara tongkat yang diketukkan ke lantai.
"Angkat kepalamu."
Suara Harris. Parau. Berat.
Shana mengangkat kepalanya perlahan. Harris menatapnya. Mata tuanya merah. Rahangnya mengeras.
"Kamu merayakan kematian anak saya," ucapnya pelan.
"Iya, Pa."
"Kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan anak?"
"Tidak, Pa."
"Seperti kehilangan sebagian dari tubuhmu sendiri." Suara Harris bergetar. "Dan kamu merayakannya."
Shana tidak menjawab. Tidak ada yang bisa ia katakan.
Harris menatapnya lama. Sangat lama.
Lalu dia menoleh pada Putri.
"Put," ucapnya. "Tunjukkan padanya."