Kantor Ranjana Media di lantai dua puluh dua sebuah gedung di Sudirman tidak pernah tidur. Namun hari itu, ruang redaksi lebih sibuk dari biasanya.
Fathur Ranjana berdiri di depan dinding layar yang menampilkan puluhan portal berita sekaligus. Kemeja birunya digulung sampai siku. Kacamata tergantung di kerah. Ponsel menempel di telinga.
"Gue nggak peduli trafiknya segede apa," ucapnya tegas pada seseorang di seberang telepon. "Ranjana nggak akan naikin berita ini sampai ada konfirmasi dari pihak Shana. Titik. Dan lo bilang ke anak-anak portal jaringan kita, siapa pun yang ngutip video Dito tanpa konteks, gue tarik kerja samanya."
Dia memutus sambungan. Lalu langsung menekan nomor lain.
Gilang duduk di sofa ruangan Fathur sejak pukul sepuluh pagi. Dia sudah menyaksikan Fathur menelepon lebih dari dua puluh orang. Pemimpin redaksi, produser berita, pemilik portal. Beberapa adalah teman. Beberapa adalah saingan. Semuanya mendengarkan.
Ranjana Media bukan media terbesar di negeri ini. Namun jaringannya luas. Puluhan portal berita daerah, beberapa kanal televisi lokal, dan akun-akun media sosial dengan jutaan pengikut berada di bawah payung kerja samanya. Saat Fathur berkata "tahan", banyak yang menahan.
Tidak semua. Portal-portal gosip tetap memberitakan. Akun-akun anonim tetap menyebarkan. Namun gelombangnya tidak sebesar yang Dito harapkan.
"Lima portal besar sepakat nunggu konfirmasi," ucap Fathur setelah menutup telepon terakhirnya. Dia menjatuhkan diri di kursi kerjanya. "Dua stasiun TV nahan sampai besok. Sisanya gue nggak bisa kontrol."
"Itu sudah banyak, Pak Fathur," jawab Gilang. "Terima kasih."
"Jangan terima kasih ke gue." Fathur memijat pelipisnya. "Gue ngelakuin ini buat adik ipar gue. Dan buat calon istri gue yang dari tadi pagi ngancem mau ngelempar pisau daging ke muka Dito."
Gilang tersenyum tipis.
"Sekarang," lanjut Fathur sambil menegakkan punggungnya. "Kita bales. Rekaman CCTV Atma Hotel. Keterangan Wawan. Bukti Dito selingkuh dan bukti dia sendiri yang manggil wartawan ke depan kafe. Kita punya semuanya. Sekali naik, video dia nggak ada artinya lagi."
Gilang mengangguk. "Pak Ndaru juga sudah menyiapkan semuanya. Tapi beliau minta satu hal."
"Apa?"
"Beliau minta Bu Shana yang memutuskan."
Fathur menatap Gilang. Alisnya terangkat.
"Bos lo," ucapnya pelan. "Dia lagi marah sama adik gue, kan?"
"Saya tidak berhak menjawab itu, Pak."
"Tapi dia tetap nyerahin keputusan ke Shana." Fathur menggeleng pelan. Ada senyum kecil di bibirnya. "Gue mulai suka sama bos lo, Lang."
***
Sore harinya, Fathur datang ke rumah Erina. Gilang ikut bersamanya.
Shana menerima mereka di ruang tamu. Wajahnya pucat, tetapi matanya sudah tidak sembab lagi. Dia mendengarkan rencana Fathur tanpa menyela. Rekaman CCTV. Keterangan Wawan. Semua bukti yang bisa membalikkan keadaan dalam sekejap.
Saat Fathur selesai, Shana terdiam lama.
"Jangan, Mas," ucapnya akhirnya.
Fathur mengerjap. "Jangan?"
"Jangan bales pakai itu. Belum." Shana menatap calon kakak iparnya. "Kalau kita naikin video Dito selingkuh sekarang, orang-orang bakal ngira gue ngalihin isu. Mereka bakal bilang, liat, dia nggak bisa bantah, jadi dia nyerang balik."
"Tapi Na—"
"Dan gue emang nggak bisa bantah, Mas." Shana tersenyum tipis. "Gue emang ngerayain. Gue emang bilang hakim gila itu mati. Kalau gue nyerang Dito sekarang, gue cuma lari dari kesalahan gue sendiri."
Fathur terdiam. Dia menatap calon adik iparnya itu dengan tatapan yang berbeda. Seperti baru pertama kali melihatnya.
"Terus lo mau gimana?"
"Gue mau minta maaf dulu," jawab Shana. "Ke Mbak Putri. Ke Papa Harris. Ke keluarga Mas Arya. Langsung. Bukan lewat media. Bukan lewat video klarifikasi." Dia menarik napas dalam. "Setelah itu, terserah Mas mau naikin apa."
Gilang yang duduk di sudut ruangan menunduk. Lalu dia berbicara untuk pertama kalinya.
"Bu Shana," ucapnya pelan. "Ada yang perlu Ibu tahu."
Shana menoleh.
"Pagi ini di rumah Pak Harris, Pak Harris meminta Pak Ndaru menceraikan Ibu." Gilang menatap Shana. "Pak Ndaru menolak. Beliau mengambil cuti dari jabatan direktur utama mulai besok. Supaya pemegang saham tenang. Dan Pak Harris bilang Pak Ndaru tidak boleh membawa Ibu ke rumahnya lagi. Pak Ndaru bilang, kalau begitu dia juga tidak akan datang."
Ruang tamu itu hening.
Shana menatap Gilang. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Cuti. Dari jabatan yang ia perjuangkan di RUPS. Jabatan yang membuat semua orang meragukannya. Jabatan yang akhirnya ia raih dengan susah payah.
Demi dirinya. Demi perempuan yang membohonginya.
"Kenapa?" bisik Shana. "Kenapa dia lakuin itu?"
Gilang tidak menjawab. Bukan haknya untuk menjawab.
Namun Erina, yang berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek di pinggang, menjawab untuknya.
"Lo tahu kenapa, Na."
Shana menunduk. Air mata yang sejak pagi ia tahan akhirnya jatuh.
"Satu lagi, Bu," ucap Gilang pelan. "Bu Putri ingin bertemu Ibu. Sabtu. Di rumahnya."
* * *
Editor Shana datang ke kafe hari Kamis pagi.
Wanita berusia empat puluhan itu sudah menangani naskah-naskah Shana sejak novel pertamanya. Dia yang pertama kali menemukan naskah Arkana di tumpukan kiriman. Dia yang memperjuangkannya di rapat redaksi. Dia yang menelepon Shana sambil menangis saat novel itu dicetak ulang untuk kesepuluh kalinya.
Hari ini, dia datang dengan wajah serius dan map tebal di tangannya.
Shana menerimanya di ruang kerjanya di bagian belakang kafe. Pengawal bertopi baseball masih duduk di meja sudut di depan. Wartawan sudah mulai berkurang di depan kafe setelah Bagas mengusir mereka dengan sapu untuk kedua kalinya.
"Aku nggak akan basa-basi, Shan," ucap editornya setelah duduk. "Rumah produksi menelepon kami kemarin. Mereka ingin membatalkan film kedua."
Shana sudah menduganya. Namun tetap saja, kata itu terasa seperti pukulan. "Karena video Dito?"
"Karena semuanya. Video Dito. Skandal sebelumnya. Mereka takut penonton boikot." Editornya menghela napas. "Mereka juga sudah tidak punya sutradara. Dito keluar, dan tidak ada sutradara besar yang mau masuk ke proyek yang sedang terbakar."
Shana mengangguk pelan. Dia menatap ke luar jendela.
"Tapi," lanjut editornya, "aku tidak datang ke sini hanya untuk menyampaikan kabar buruk."
Shana menoleh.
Editornya membuka map tebal di pangkuannya. Mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Kontrak film kedua yang dulu ditandatangani memang ada, Shan. Tim penerbit dan penasihat hukum sudah memeriksa hak adaptasi serta kewajiban masing-masing pihak, lalu menyelesaikan pengakhiran kerja sama secara tertulis dengan rumah produksi. Ini bukan hak yang otomatis kembali hanya karena mereka mundur." Ia menunjukkan dokumen hasil penyelesaian itu. "Untuk proyek berikutnya, keputusan baru perlu persetujuanmu."
"Maksud Mbak?"
"Maksudku, kita yang menentukan nasib sekuel ini. Bukan Dito. Bukan rumah produksi yang takut." Editornya mencondongkan tubuhnya. "Kami ingin menerbitkan novel sekuelnya dulu. Arkana jilid dua. Bulan depan, kalau naskahmu siap. Tanpa menunggu film. Setelah itu, kami akan cari rumah produksi dan sutradara baru. Yang mau menggarapnya dengan benar."
Shana menatap editornya tidak percaya. "Mbak... di tengah semua ini? Orang-orang lagi boikot buku saya."
"Sebagian." Editornya mengangguk. "Tapi kamu tahu apa yang terjadi dengan penjualan novel-novelmu dua hari ini?"
Shana menggeleng.
"Naik. Dua kali lipat." Editornya tertawa kecil. "Orang yang marah membeli bukumu untuk mencari bukti kamu jahat. Orang yang membelamu membeli bukumu untuk mendukungmu. Dan orang-orang yang tidak peduli gosip membeli bukumu karena penasaran. Pembaca setiamu masih di sini, Shan. Mereka membanjiri kolom komentar penerbit dengan satu pertanyaan."
"Pertanyaan apa?"
"Kapan Arkana keluar dari gua?"
Shana menatap editornya. Lalu, untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, dia tertawa. Tawa kecil yang bercampur air mata.
***
Setelah editornya pergi, Shana duduk di depan laptopnya.
Naskah Arkana jilid dua sudah delapan puluh persen selesai. Naskah yang ia tulis bersamaan dengan novel raja kerajaan es. Naskah yang tertunda karena Dito terus meminta perubahan agar cocok dengan visinya untuk film.
Shana membuka file itu. Membaca catatan-catatan revisi dari Dito yang menempel di margin. Tambahkan adegan pertarungan. Kurangi dialog. Hapus tokoh gadis desa, terlalu lambat.
Dia menghapus semuanya. Satu per satu.
Lalu dia mulai menulis.
Di jilid pertama, Arkana tetap di dalam gua. Gadis dari desa yang terbakar menurunkan pedangnya dan pergi. Pembaca mengira itu akhir dari kisah mereka.
Namun Shana selalu tahu itu bukan akhir.
Di jilid kedua, gadis itu kembali. Bukan dengan pedang. Dengan sepiring makanan. Dan dengan pertanyaan yang selama ini ia simpan.
Shana mengetik dengan cepat. Kalimat demi kalimat mengalir seperti air yang akhirnya menemukan jalannya. Dia tidak menyadari waktu berlalu. Tidak menyadari Ayu yang datang membawakan makan siang dan pergi lagi. Tidak menyadari langit yang berubah jingga di luar jendela.
Gadis itu duduk di mulut gua. Arkana menatapnya dari kegelapan.
"Kenapa kau kembali?" tanya naga itu.
"Karena aku sadar," jawab gadis itu, "aku tidak bisa terus membencimu tanpa mengenalmu. Dan aku tidak bisa memaafkanmu tanpa mendengar ceritamu."
Shana berhenti mengetik. Dia membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu dia teringat sesuatu. Seorang pria di sofa tunggal pukul dua dini hari. Bertanya padanya, Kapan dia keluar?
Ndaru membaca sampai bab dua puluh tiga. Mungkin lebih sekarang. Shana tidak tahu.
Dia menatap halaman pertama naskah itu. Halaman persembahan yang masih kosong.
Jarinya bergerak pelan.
Untuk Ayah, yang mengajarkan aku untuk tidak membenci.
Dia berhenti. Lalu menambahkan satu baris lagi.
Dan untuk seseorang yang membaca sampai bab dua puluh tiga, lalu bertanya kapan naga itu keluar dari gua.
Shana menatap baris itu lama. Lalu dia menyimpan filenya dan menutup laptop.
Naskah itu akan selesai. Tanpa Dito. Tanpa catatan revisi yang membuatnya kehilangan suaranya sendiri.
Ini ceritanya. Dan dia yang akan menyelesaikannya.