Rahasia yang dibisikkan dalam kepercayaan bisa berubah menjadi senjata. Di tangan orang yang terluka dan penuh dendam. Ia ditajamkan, dibesar-besarkan. Lalu dilemparkan ke dunia tanpa belas kasihan.
"Pak. Pak Ndaru."
Ndaru membuka matanya. Cahaya pagi menyilaukan. Dia butuh beberapa detik untuk menyadari di mana dia berada. Ruang tengah. Sofa tunggal. Selimut rajut yang bukan miliknya menutupi tubuhnya.
Gilang berdiri di sampingnya dengan wajah pucat. Ponsel di tangannya.
"Ada apa?"
Gilang tidak menjawab. Dia hanya menyodorkan ponselnya.
Ndaru duduk tegak. Mengambil ponsel itu. Di layar, sebuah artikel dari portal gosip yang namanya cukup dikenal. Judulnya ditulis dengan huruf kapital.
EKSKLUSIF: DITO ALAMSYAH BONGKAR RAHASIA SHANA ARKADEWI. RAYAKAN KEMATIAN HAKIM HARYADI, KAKAK IPARNYA SENDIRI
Di bawah judul itu, sebuah video berdurasi delapan menit. Dito duduk di sebuah sofa dengan latar belakang putih. Kemeja hitam. Rambut tersisir rapi. Wajah yang dibuat terlihat sedih dan prihatin.
Ndaru menekan tombol putar.
"Saya sudah lama diam," ucap Dito di video itu. Suaranya pelan dan terkontrol. Seperti aktor yang sudah berlatih berkali-kali. "Saya dituduh selingkuh. Saya dipermalukan. Saya kehilangan film saya. Saya terima semuanya. Tapi ada hal yang tidak bisa saya simpan lagi. Karena ini menyangkut keadilan untuk seseorang yang sudah meninggal."
Dito menatap kamera.
"Malam sesudah pemakaman Pak Haryadi, saya datang ke apartemen Shana. Saya bawa nasi goreng. Dia sangat senang malam itu. Terlalu senang. Waktu saya tanya kenapa, dia bilang, 'Hakim gila itu akhirnya mati.' Dia bilang dia dan kakaknya merayakannya malam sebelumnya."
Jari Ndaru mencengkeram ponsel itu.
"Saya baru tahu kemudian, ayah Shana pernah divonis dua belas tahun oleh Pak Haryadi. Kasus penggelapan dana." Dito menghela napas panjang. Dibuat-buat. "Lalu tidak lama kemudian, tiba-tiba ada skandal di hotel. Tiba-tiba dia menikah dengan adik Pak Haryadi. Saya tidak menuduh. Saya hanya bertanya. Apakah ini kebetulan?"
Ndaru menghentikan video itu.
"Sudah berapa lama ini beredar?"
"Dua jam, Pak," jawab Gilang. "Sudah ditonton lebih dari tiga juta kali. Tagar nama Bu Shana jadi trending nomor satu. Beberapa portal lain sudah mulai mengutip."
Ndaru membuka kolom komentar. Dia menggulir. Lalu berhenti. Lalu menggulir lagi.
Perempuan iblis.
Pantesan nikahnya buru-buru. Ada udang di balik batu.
Kasihan banget keluarga Atmadjiwo. Dimanfaatin.
Anak napi ya tetap anak napi.
Boikot novel-novelnya!
Ndaru mengembalikan ponsel itu pada Gilang. Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Namun Gilang yang sudah tiga tahun bekerja untuknya tahu bahwa ketenangan seperti itu lebih berbahaya dari kemarahan.
"Hubungi Fathur," ucap Ndaru. "Sekarang."
"Pak Fathur yang mengirim tautan ini, Pak. Beliau sudah menunggu telepon Bapak."
"Dan siapkan mobil. Saya mandi lima menit."
Ndaru berdiri. Selimut rajut jatuh dari pangkuannya. Dia menatapnya sebentar. Lalu memungutnya dan melipatnya dengan rapi. Meletakkannya kembali di sandaran sofa panjang. Tempatnya semula.
***
Di rumah Erina, ponsel Shana tidak berhenti bergetar.
Notifikasi demi notifikasi. Pesan dari nomor-nomor yang tidak ia kenal. Panggilan dari wartawan. Penanda di media sosial yang jumlahnya terus bertambah setiap detik.
Shana menonton video itu sekali. Hanya sekali. Lalu dia meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah di atas meja makan.
Erina berdiri di dapur dengan wajah merah padam. Pisau dapur di tangannya. Dia sedang memotong bawang. Atau tepatnya, mencincang bawang dengan kekuatan yang berlebihan.
"Bajingan," desis Erina. "Gue sumpahin dia keselek nasi goreng seumur hidup."
"Mbak."
"Apa?"
"Dia nggak bohong."
Erina berhenti mencincang. Dia berbalik menatap adiknya.
Shana duduk di kursi makan. Kedua tangannya memeluk mug teh yang sudah dingin. Wajahnya pucat, tetapi tenang. Terlalu tenang.
"Malam itu gue emang bilang gitu ke dia," ucap Shana pelan. 'Gue bilang "hakim gila itu akhirnya mati". Gue cerita kita ngerayain. Gue juga cerita soal Ayah. Dulu, waktu gue masih percaya sama dia.'
"Na—"
"Satu-satunya yang bohong cuma bagian balas dendam, Mbak. Sisanya bener." Shana tersenyum tipis. Senyum yang sangat lelah. "Gue nggak bisa bilang itu fitnah. Karena bukan."
Erina meletakkan pisaunya. Dia berjalan ke meja makan dan duduk di samping adiknya. Merangkul bahunya.
Ponsel Shana bergetar lagi. Kali ini bukan notifikasi. Sebuah pesan masuk. Dari nama yang membuat jantungnya berhenti sebentar.
Pak Ndaru.
Jangan keluar rumah. Jangan bicara dengan wartawan. Saya urus.
Shana menatap pesan itu lama. Lalu jarinya mengetik balasan.
Itu benar, Pak. Bagian yang saya rayakan itu benar.
Centang dua. Biru. Tiga titik.
Saya tahu. Tapi bagian balas dendam tidak.
Shana menatap layar itu. Matanya mulai panas.
Saya tahu. Tapi bagian balas dendam tidak.
Pria itu masih marah padanya. Shana tahu itu. Namun pria itu tidak membiarkan dunia memercayai kebohongan tentangnya.
Shana memeluk ponselnya di dada. Erina memeluknya dari samping.
Di luar pagar, Shana bisa mendengar suara mobil-mobil berhenti. Suara pintu dibanting. Suara orang-orang berteriak memanggil namanya.
Dan suara dua pria berbadan besar yang dengan tenang meminta mereka mundur.
* * *
Ruang keluarga rumah Harris di Menteng tidak pernah terasa sedingin ini.
Semua orang ada di sana. Harris di kursi berlengannya. Guna dan Yanti di sofa panjang. Putri di kursi tunggal dengan wajah pucat. Darma berdiri di dekat jendela. Iqbal di belakang kursi Harris.
Ndaru berdiri di tengah ruangan. Dia tidak duduk. Tidak ada yang menyuruhnya duduk.
Di meja kopi, sebuah tablet menampilkan video Dito yang sudah ditonton lebih dari tujuh juta kali dalam enam jam.
"Kamu tahu?" tanya Harris. Suaranya rendah dan berbahaya. "Soal ayahnya. Soal Arya."
"Saya tahu, Pa. Empat hari yang lalu."
"Empat hari." Harris tertawa pendek. Tanpa humor sama sekali. "Dan kamu tidak memberi tahu saya."
"Itu urusan saya dan istri saya."
"Urusanmu?" Harris memukul lengan kursinya dengan tongkat. Suaranya menggema di ruangan itu. "Ini tentang kakakmu, Ndaru! Kakakmu yang mati! Dan perempuan itu merayakannya!"
Ndaru tidak menjawab.
"Survei elektabilitasku turun empat persen sejak pagi," ucap Guna pelan. Wajahnya lelah. "Lawan politikku sudah mulai pakai ini. Mereka bilang keluarga Atmadjiwo bahkan tidak bisa menjaga kehormatan almarhum anggota keluarganya sendiri."
"Saham turun tiga persen," tambah Darma dari dekat jendela. Suaranya tidak semarah yang lain. Lebih seperti fakta yang diucapkan dengan berat hati. "Beberapa pemegang saham sudah menelepon saya."
Harris menatap putra bungsunya.
"Akhiri," ucapnya. "Ceraikan dia. Hari ini juga. Buat pernyataan bahwa kamu tidak tahu apa-apa dan kamu juga korban. Publik akan bersimpati."
Hening.
Semua mata tertuju pada Ndaru.
Ndaru menatap ayahnya. Lama. Lalu dia menjawab. Pelan, tetapi sangat jelas.
"Tidak, Pa."
Yanti menutup mulutnya. Guna memejamkan matanya. Putri menatap adik iparnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa katamu?" Harris mencondongkan tubuhnya.
"Saya tidak akan menceraikan istri saya."
"Dia merayakan kematian kakakmu!"
"Saya tahu." Suara Ndaru tetap tenang. "Dan saya marah padanya. Sangat marah. Saya belum tahu apakah saya bisa memaafkannya." Dia menarik napas dalam. "Tapi dia bukan orang yang Dito gambarkan, Pa. Dia tidak menikahi saya untuk balas dendam. Shana mengusulkan pernikahan setelah skandal. Saya yang menjadikannya kontrak dengan aturan dan penalti yang tidak ia pahami seluruhnya. Papa tahu bagaimana saya ikut menekannya. Itu bukan bukti rencana balas dendam."
Harris terdiam.
"Ayahnya divonis dua belas tahun waktu dia sepuluh tahun, lalu menjalani sembilan tahun sebelum bebas," lanjut Ndaru. "Ibunya meninggal waktu ayahnya masih di penjara. Ayahnya meninggal dengan nama yang kotor. Dan dia percaya ayahnya tidak bersalah." Ndaru menatap foto Haryadi yang tergantung di dinding ruang keluarga. "Mas Arya sendiri bilang ke Mbak Putri. Dia pernah salah. Dia terlalu cepat mengetuk palu."
Putri terisak pelan.
"Saya tidak bilang dia benar merayakan kematian Mas Arya," ucap Ndaru. "Saya bilang saya mengerti kenapa dia melakukannya. Dan saya tidak akan membuangnya ke serigala hanya karena itu membuat angka survei naik."
Guna menunduk. Wajahnya memerah.
Harris menatap putra bungsunya dengan mata menyala. Tangannya yang memegang tongkat gemetar.
"Kamu tahu apa yang kamu pertaruhkan?"
"Saya tahu."
"Perusahaan. Nama keluarga. Kampanye kakakmu."
Ndaru mengangguk pelan. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat semua orang di ruangan itu membeku.
"Kalau pernikahan saya merusak perusahaan, saya akan mengambil cuti dari jabatan direktur utama. Mulai besok. Sampai semua ini selesai." Dia menoleh pada Darma. "Kita ajukan pengaturan sementara kepada pihak perusahaan yang berwenang, supaya pekerjaan tetap berjalan. Saya tidak bisa menunjuk pengganti sendirian di ruang keluarga."
"Ru!" Guna berdiri. "Kamu gila? Kamu baru beberapa pekan menjabat!"
"Saya tidak gila, Mas." Ndaru menatap kakaknya. "Saya hanya tidak mau menjadi orang yang meninggalkan istrinya saat dia jatuh. Saya sudah pernah tidak ada untuk Farah. Saya tidak akan mengulanginya."
Guna terdiam. Perlahan, dia kembali duduk.
Darma menatap Ndaru dari dekat jendela. Pria tua itu tidak mengatakan apa-apa. Namun ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang mirip penghormatan.
Harris bersandar di kursinya. Wajahnya terlihat sangat tua tiba-tiba.
"Kalau begitu," ucapnya pelan. Dingin. "Jangan bawa dia ke rumah ini. Dan jangan harap saya akan berdiri di sampingmu."
Ndaru menatap ayahnya. Pria yang beberapa hari lalu meletakkan tangan di bahunya dan berkata bahwa kematian Farah bukan salahnya. Pria yang memakan kue lemon buatan Shana dan berkata, lain kali bawa lagi.
"Baik, Pa," jawab Ndaru. Suaranya tidak bergetar. "Kalau dia tidak boleh masuk ke rumah ini, saya juga tidak."
Dia membungkuk sedikit pada ayahnya. Lalu berbalik dan berjalan keluar.
Tidak ada yang menghentikannya.
***
Ndaru sudah membuka pintu mobil saat seseorang memanggil namanya.
"Ru!"
Putri berlari kecil dari teras. Gamis kremnya berkibar. Dia berhenti di depan Ndaru dengan napas terengah.
"Mbak?"
"Aku mau ketemu Shana," ucap Putri. Matanya masih basah. "Tolong bilang ke dia. Aku mau ketemu."
Ndaru menatap kakak iparnya. "Mbak tidak marah?"
"Aku marah." Putri tersenyum sedih. "Tapi aku juga istri seorang hakim, Ru. Aku tahu tidak semua putusan Mas Arya benar. Dia sendiri yang bilang." Dia ragu sejenak. "Dan ada sesuatu yang aku temukan. Di ruang kerja Mas Arya. Waktu aku membereskan berkas-berkasnya kemarin. Aku belum yakin apa artinya. Tapi Shana harus lihat."
"Apa itu, Mbak?"
Putri menggeleng. "Bilang ke dia. Sabtu. Di rumahku. Aku akan menunggu."