Kamar di lantai dua rumah Erina tidak banyak berubah. Kamar yang dulu Shana tempati sebelum dia cukup mampu menyewa apartemen sendiri. Kamar yang masih bisa ia pakai ketika membutuhkan tempat beristirahat.
Ranjang kecil dengan seprai bermotif kotak-kotak. Meja lipat di sudut. Rak buku kecil yang masih berisi novel-novel lama dari masa SMA. Poster film adaptasi novel pertamanya yang mulai menguning di dinding. Erina yang memasangnya. Katanya, biar ada yang bisa dibanggakan kalau tamu datang.
Shana meletakkan bingkai foto Ayah di atas meja lipat. Lalu dia berbaring di ranjang dan menatap langit-langit.
Dulu, kamar ini adalah dunianya. Tempat dia menulis naskah pertamanya sampai pagi. Tempat dia menangis setiap kali merindukan Ibu. Tempat dia merasa aman.
Sekarang, kamar ini terasa terlalu sempit. Terlalu sepi. Tidak ada suara langkah kaki kecil yang berlari di lorong. Tidak ada teriakan "Tante Cana!" setiap pagi. Tidak ada sofa tunggal dengan pria yang membaca iPad di bawah lampu baca.
Erina tidak banyak bertanya. Dia hanya memastikan Shana makan tiga kali sehari. Memastikan Shana mandi. Memastikan Shana tidak mengurung diri terlalu lama.
"Lo jujur?" tanya Erina di malam pertama.
"Jujur, Mbak."
"Semuanya?"
"Semuanya. Termasuk soal kita ngerayain."
Erina terdiam. Lalu dia memeluk adiknya. "Lo udah ngelakuin bagian lo, Na. Sekarang giliran dia."
Apartemen Shana sendiri sudah kosong. Kardus-kardusnya sudah lama diangkut ke rumah berpagar tinggi itu. Dia tidak punya tempat lain untuk pulang selain rumah kakaknya.
***
Hari kedua, Shana ke kafe.
Dia tidak tahan diam di rumah. Dia butuh sesuatu untuk dilakukan. Sesuatu yang bisa membuatnya berhenti memikirkan Juna. Berhenti memikirkan tatapan Ndaru dari jendela ruang kerja.
Bagas menyambutnya dengan senyum lebar. Lalu senyumnya memudar saat melihat wajah bosnya.
"Mbak Shana sakit?"
"Nggak, Gas. Kurang tidur aja."
Ayu menatapnya dari balik mesin kopi. Gadis itu tidak bertanya. Namun dua puluh menit kemudian, dia meletakkan secangkir cokelat panas dengan marshmallow di meja kerja Shana. Tanpa berkata apa-apa.
Shana menatap cangkir itu dan hampir menangis lagi.
Dia membuka laptopnya. Membuka naskah novelnya. Raja kerajaan es masih berdiri di gerbang istananya. Sudah empat hari dia berdiri di sana. Shana tidak bisa membuatnya melangkah.
Dia menatap keluar jendela ruang kerjanya yang menghadap ke area kafe.
Di meja sudut, dua pria berkemeja flanel dan bertopi baseball duduk dengan kopi susu gula aren di depan mereka. Si Lemari Satu dan Si Lemari Dua.
Mereka masih di sini.
Shana menatap mereka lama. Dia mengira setelah semuanya, setelah dia pergi dengan koper biru, Ndaru akan menarik mereka. Tidak ada alasan lagi untuk menjaganya.
Namun mereka masih di sini.
Dan saat dia keluar untuk mengambil air, Bagas berbisik padanya.
"Mbak, orang yang kemarin dikenalin Mas Gilang juga masih jaga di depan rumah Mbak Erina, ya? Ayu liat waktu nganter pesanan."
Shana terdiam.
Dia kembali ke ruang kerjanya. Duduk. Menatap ponselnya.
Tidak ada pesan dari Ndaru. Tidak sejak dia pergi.
Namun ada sebuah pesan dari Suster Nur. Dikirim tadi malam. Sebuah video.
Jari Shana gemetar saat dia menekan tombol putar.
Video itu gelap. Hanya diterangi lampu tidur berbentuk bintang. Di layar, Shana melihat kamar Juna. Ranjang kecil. Dan di atasnya, dua sosok yang tertidur. Juna yang memeluk lengan ayahnya. Ndaru dengan kaki menjuntai keluar dari ranjang yang terlalu pendek.
Di bawah video itu, Suster Nur menulis pesan.
Bu, Mas Juna nangis seharian. Nggak mau makan kalau bukan wortel bintang. Malamnya Bapak yang cerita Holly. Mas Juna tidurnya sama Bapak. Saya cuma mau Ibu tahu. Maaf kalau lancang.
Shana menutup mulutnya dengan tangan.
Dia memutar video itu lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Ndaru menceritakan Holly. Pria yang tidak bisa bersin api. Pria yang bilang dia bisa belajar.
Dia belajar.
***
Malam itu, Shana mengetik pesan di ponselnya. Menghapusnya. Mengetik lagi. Menghapus lagi.
Pukul dua dini hari, dia akhirnya mengirimnya.
Juna gimana, Pak?
Pesan itu terkirim. Centang dua. Lalu biru.
Shana menatap layar. Menunggu.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
Lima menit kemudian, balasan itu datang.
Dia menanyakan kamu.
Hanya itu. Tiga kata. Tidak lebih.
Shana menatap tiga kata itu sampai layar ponselnya meredup. Lalu dia memeluk ponsel itu di dada dan memejamkan mata.
Tiga kata. Namun Ndaru membalasnya pukul dua dini hari.
Artinya, dia juga belum tidur.
* * *
Ndaru tidak bisa tidur di kamarnya.
Dia sudah mencobanya. Malam pertama setelah Shana pergi, dia tertidur di ranjang kecil Juna. Malam kedua, dia mencoba kembali ke kamar utama. Namun saat dia berbaring di ranjang besar itu, yang ia dengar hanya keheningan dari ujung lorong. Dari kamar di seberang ruang bermain. Kamar yang kosong.
Jadi dia turun ke ruang kerja. Tidur di sofa kulit yang terlalu pendek. Dengan jas sebagai selimut.
Atau lebih tepatnya, berbaring. Karena dia tidak benar-benar tidur.
***
Malam ketiga, pukul dua dini hari, Ndaru keluar dari ruang kerja.
Dia tidak tahu kenapa. Kakinya bergerak sendiri. Melewati lorong yang gelap. Menuju ruang tengah.
Lampu baca tidak menyala. Sofa panjang kosong. Bantal bermotif bunga masih di tempatnya. Selimut rajut masih terlipat di sandaran.
Ndaru menyalakan lampu baca. Cahaya hangat menyebar di antara dua sofa. Lalu dia duduk di sofa tunggalnya.
Menatap sofa panjang yang kosong.
Di ponselnya, pesan terakhir dari Shana masih terbuka. Juna gimana, Pak? Dan balasannya yang singkat. Dia menanyakan kamu.
Ndaru menatap pesan itu. Dia ingin menulis lebih banyak. Ingin menulis, Saya juga. Namun jarinya tidak mau bergerak malam itu.
Dia meletakkan ponselnya. Lalu meraih iPad di meja.
Bukan untuk bekerja. Dia membuka aplikasi buku digital. Novel pertama Shana. Arkana. Bab dua puluh tiga, tempat terakhir kali dia berhenti.
Dia membaca.
Arkana masih di dalam gua. Naga hitam yang mengurung dirinya selama seratus tahun karena pernah membakar sebuah desa. Desa yang ia kira penuh musuh. Ternyata hanya berisi petani-petani yang ketakutan.
Bab dua puluh empat. Seorang gadis kecil dari desa yang terbakar itu datang ke gua. Sudah dewasa sekarang. Membawa obor dan pedang. Datang untuk membalas dendam.
Ndaru terus membaca. Bab dua puluh lima. Dua puluh enam. Gadis itu dan Arkana saling berhadapan. Gadis itu mengangkat pedangnya. Arkana tidak melawan.
Dua puluh tujuh.
Gadis itu menurunkan pedangnya.
"Aku membencimu selama bertahun-tahun," ucap gadis itu. "Aku kira dengan membunuhmu, aku akan merasa lega. Tapi melihatmu di sini, sendirian, menghukum dirimu sendiri selama seratus tahun... aku sadar kita sama. Kita berdua terkurung oleh hari yang sama."
Ndaru berhenti membaca.
Dia menatap kalimat itu lama. Lalu dia melihat tahun terbit novel itu. Lima tahun yang lalu. Jauh sebelum Shana mengenal dirinya. Jauh sebelum Haryadi meninggal.
Gadis itu sudah menulis tentang kebencian dan pengampunan bertahun-tahun yang lalu. Tentang seseorang yang ingin membenci, tetapi tidak sanggup.
Ndaru meletakkan iPad itu di pangkuannya.
Dia memikirkan seorang gadis kecil berkepang dua di koridor pengadilan. Gadis yang kehilangan ayahnya di usia sepuluh tahun. Yang kehilangan ibunya tiga tahun kemudian. Yang dibesarkan oleh kakaknya yang masih remaja. Yang menunggu ayahnya pulang selama sembilan tahun, hanya untuk kehilangannya lagi.
Dan pria bertoga hitam yang pergi tanpa menoleh.
Apa yang akan ia rasakan, jika itu Juna? Jika seseorang mengambil dirinya dari Juna selama dua belas tahun karena kesalahan yang tidak ia lakukan? Apakah Juna akan berduka saat orang itu meninggal?
Ndaru memejamkan mata.
Dia masih marah. Kemarahan itu masih ada. Masih mengendap di dasar dadanya. Shana berbohong padanya. Shana duduk di rumah duka kakaknya dengan rahasia sebesar itu. Itu tidak bisa ia lupakan begitu saja.
Namun di bawah kemarahan itu, ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih besar. Yang selama tiga hari ini terus tumbuh tanpa bisa ia hentikan.
Dia merindukannya.
Merindukan suara ketikan dari sofa panjang. Merindukan gumaman pelan saat dia membaca ulang kalimatnya. Merindukan cara dia menyentuh ujung kacamatanya saat berbohong. Merindukan tawanya saat Juna mengatakan sesuatu yang konyol.
Ndaru merogoh saku kemejanya. Mengeluarkan dua lembar kertas kecil yang sudah lecek.
Kalau lapar. Sambalnya bikinan saya, bukan Mbak di dapur. Kalau kepedesan, maaf. —S
Kalau lapar, dihangatkan dulu ya, Pak. Jangan makan dingin. —S
Dia menatap kedua kertas itu di bawah cahaya lampu baca.
"Kenapa kamu tidak bilang?" bisiknya pada ruangan yang kosong.
Tidak ada jawaban.
Hanya sofa panjang yang kosong. Dan bantal bermotif bunga yang masih menyimpan sedikit aroma sampo stroberi.
***
Gilang menemukannya pukul tujuh pagi. Tertidur di sofa tunggal ruang tengah. Lampu baca masih menyala. iPad di pangkuannya. Dua lembar kertas kecil tergenggam di tangannya.
Gilang tidak membangunkannya. Dia mematikan lampu baca dan mengambil selimut rajut dari sandaran sofa panjang. Menyelimuti atasannya dengan hati-hati.
Lalu ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Fathur Ranjana.
Lang, bangunin bos lo. Dito baru aja rilis sesuatu. Lo harus liat ini sekarang.
Gilang membuka tautan yang dikirim Fathur. Dia membaca judulnya.
Wajahnya memucat.