Shana tidak tidur malam itu.
Dia duduk di lantai kamarnya, bersandar pada sisi ranjang. Lampu tidak dinyalakan. Hanya cahaya bulan yang masuk dari celah tirai.
Bingkai foto ayahnya ia peluk di dada.
Pukul dua dini hari tiba. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Shana tidak bangun karena kebiasaan. Dia memang tidak pernah tidur.
Dia tidak turun ke ruang tengah. Dia tahu sofa tunggal itu akan kosong. Atau lebih buruk, tidak kosong.
Pukul empat, Shana berdiri.
Dia mengambil koper biru dari dalam lemari. Koper yang sama yang ia bawa dari rumah Erina hampir dua bulan yang lalu. Dia membukanya di atas ranjang dan mulai memasukkan barang-barang.
Bukan semuanya. Hanya yang ia perlukan. Beberapa potong baju. Laptop. Charger. Bingkai foto Ayah. Sweter abu-abu kebesaran.
Piyama bermotif bulan ia biarkan terlipat di laci.
Dia tidak tahu apakah dia pergi untuk selamanya. Dia tidak tahu apakah dia akan kembali. Dia hanya tahu bahwa dia tidak bisa tinggal di rumah ini sekarang. Tidak saat pria itu menatapnya seperti orang asing. Tidak saat dia harus melewati pintu ruang kerja itu setiap hari.
Shana menutup kopernya. Lalu dia duduk di tepi ranjang dan menatap kamar itu.
Kamar yang dulu terasa terlalu besar. Terlalu asing. Kamar yang perlahan menjadi miliknya. Rak buku yang ia isi dengan novel-novel fantasi. Meja kerja di dekat jendela. Gambar naga putih buatan Juna yang ditempel di dinding dengan selotip.
Holly. Dengan sayap yang terlalu besar dan api berwarna ungu karena Juna tidak bisa menemukan krayon merah.
Shana berdiri dan melepas gambar itu dari dinding dengan hati-hati. Melipatnya. Memasukkannya ke saku sweter.
***
Pukul lima pagi, Shana keluar dari kamarnya dengan koper di tangan.
Dia berhenti di depan kamar Juna. Pintunya sedikit terbuka. Di dalam, lampu tidur berbentuk bintang menyala redup. Juna tertidur dengan posisi telentang, kedua tangannya terentang lebar. Boneka dinosaurusnya terjepit di bawah lengan.
Shana masuk tanpa suara. Dia berlutut di samping ranjang kecil itu.
Wajah Juna begitu damai. Bulu matanya yang panjang. Pipinya yang gembul. Bibirnya yang sedikit terbuka.
"Mas Juna," bisik Shana. Dia mengusap rambut anak itu dengan sangat pelan. "Tante Cana pergi sebentar, ya. Mas Juna jangan nakal. Makan wortelnya yang banyak. Yang bentuk bintang."
Juna menggeliat sedikit. Lalu kembali tenang.
Shana menahan isakannya. Dia membungkuk dan mencium kening Juna. Lama.
"Tante Cana sayang Mas Juna."
Dia berdiri dan keluar dari kamar itu sebelum dia berubah pikiran.
Di lorong, dia hampir menabrak Suster Nur yang baru keluar dari kamarnya. Wanita itu menatap koper biru di tangan Shana. Lalu menatap wajah Shana yang sembab.
"Bu..."
"Sus." Shana tersenyum. Senyum yang retak di mana-mana. "Saya ke rumah Mbak Erina dulu. Beberapa hari."
Suster Nur tidak bertanya. Dia sudah bekerja untuk keluarga ini cukup lama untuk tahu kapan harus tidak bertanya. Namun matanya berkaca-kaca.
"Mas Juna pasti nyariin, Bu."
"Saya tahu, Sus." Suara Shana bergetar. "Tolong jagain dia. Bacain cerita Holly kalau dia susah tidur. Sus tahu ceritanya, kan?"
"Tahu, Bu. Tapi Mas Juna maunya Ibu yang cerita."
Shana tidak bisa menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Suster Nur sebentar. Lalu dia turun.
***
Ndaru melihatnya dari jendela ruang kerja.
Dia juga tidak tidur. Dia duduk di kursi kerjanya sepanjang malam. Menatap meja yang kosong. Menatap laci yang tertutup.
Saat mendengar suara roda koper di lantai marmer, dia berdiri dan berjalan ke jendela.
Di halaman depan, Shana berdiri di samping mobil. Salah satu sopir memasukkan koper biru ke bagasi. Shana mengenakan sweter abu-abunya yang kebesaran. Rambutnya dicepol asal. Dia menatap rumah itu sekali. Lama.
Matanya menyapu jendela-jendela di lantai dua. Kamar Juna. Ruang bermain. Kamarnya sendiri.
Lalu jendela ruang kerja di lantai satu.
Ndaru tidak menyingkir. Mata mereka bertemu melalui kaca.
Shana tidak tersenyum. Ndaru juga tidak.
Lalu gadis itu berbalik dan masuk ke mobil.
Ndaru tetap berdiri di sana sampai mobil itu menghilang di balik gerbang. Tangannya terkepal di saku celananya. Di saku kemejanya, dua lembar kertas kecil terasa seperti batu.
Dia tidak menghentikannya.
Dia meraih ponselnya. Menekan nomor Gilang.
"Lang," ucapnya saat panggilan tersambung. Suaranya serak. "Shana ke rumah kakaknya. Pastikan pengawalnya ikut. Dua orang di depan rumah Mbak Erina. Dua orang di kafe. Jelaskan rencana pengamanan itu kepadanya dan Mbak Erina. Pastikan mereka bersedia; jangan jadikan orang-orang itu pengawas kegiatan Shana."
Hening sebentar di seberang sana.
"Baik, Pak," jawab Gilang pelan. "Pak, Bapak baik-baik saja?"
Ndaru tidak menjawab. Dia memutus sambungan.
* * *
"Tante Cana!"
Suara Juna menggema di lorong lantai dua pukul enam pagi. Anak itu berlari dengan kaki telanjang dan piyama dinosaurus. Boneka hijau terseret di belakangnya.
Dia membuka pintu kamar Shana dengan kedua tangannya. Masuk. Berhenti.
Kamar itu kosong. Ranjangnya rapi. Tidak ada laptop di meja kerja. Tidak ada sweter abu-abu di sandaran kursi.
"Tante Cana?" Juna berjalan ke kamar mandi. Kosong. Dia membuka lemari. Ada baju-baju, tetapi tidak ada Tante Cana. Dia melongok ke kolong ranjang.
"Tante Cana umpet?"
Tidak ada jawaban.
Juna berdiri di tengah kamar itu. Matanya menyapu dinding. Lalu berhenti di satu titik. Titik di mana gambar Holly-nya biasa tertempel. Sekarang hanya ada bekas selotip.
Bibir Juna mulai bergetar.
"Holly juga pergi?"
***
Suster Nur menemukannya lima menit kemudian. Juna duduk di lantai kamar Shana. Memeluk boneka dinosaurusnya. Menangis tanpa suara. Hanya air mata yang terus mengalir dan bahu kecil yang bergetar.
"Mas Juna..." Suster Nur berlutut dan memeluknya.
"Tante Cana mana, Sus?" Juna terisak. "Tante Cana mana?"
"Tante Cana ke rumah Tante Erina, Sayang. Sebentar."
"Kapan pulang?"
Suster Nur tidak bisa menjawab.
Tangis Juna pecah. Kali ini dengan suara. Raungan anak kecil yang kehilangan sesuatu dan tidak mengerti kenapa. Raungan yang memenuhi seluruh lantai dua rumah itu.
Ndaru mendengarnya dari lantai satu. Dia berlari menaiki tangga. Dua anak tangga sekaligus.
"Juna?"
Juna mengangkat wajahnya yang basah. Melihat ayahnya. Lalu tangisnya semakin keras.
"Papa! Tante Cana pergi!"
Ndaru berlutut dan mengambil anaknya dari pelukan Suster Nur. Juna memeluk lehernya erat-erat. Tubuh kecilnya berguncang hebat.
"Iya, Sayang. Papa tahu."
"Tante Cana nggak pamit!" Juna menangis di bahunya. "Tante Cana nggak sayang Juna!"
"Tante Cana sayang Juna," ucap Ndaru. Suaranya tercekat. "Tante Cana sayang sekali sama Juna."
"Terus kenapa pergi?"
Ndaru tidak bisa menjawab.
***
Ndaru membatalkan semua rapatnya hari itu.
Dia duduk di ruang bermain bersama Juna sepanjang pagi. Menyusun balok. Membacakan buku dinosaurus. Mendorong mobil-mobilan di lantai sambil menirukan suara mesin.
Juna tidak tertawa sekali pun.
Anak itu hanya duduk di pangkuan ayahnya. Memeluk boneka dinosaurus. Matanya terus melirik ke arah pintu. Seperti menunggu seseorang masuk.
Saat makan siang, Juna menolak makan. Suster Nur membuatkan nasi tim dengan wortel berbentuk bintang. Juna menatap wortel itu. Lalu menangis lagi.
"Bintang dari Tante Cana," isaknya.
Suster Nur menatap Ndaru dengan wajah tidak berdaya.
Ndaru mengambil sendok. Dia menyendok nasi tim dengan satu wortel bintang di atasnya. Menyodorkannya ke mulut Juna.
"Tante Cana bilang, Mas Juna harus makan wortelnya yang banyak," ucapnya pelan. "Yang bentuk bintang."
Juna berhenti menangis. Dia menatap ayahnya dengan mata merah. "Tante Cana bilang?"
"Iya. Sus Nur menyampaikan pesan Tante Cana tadi pagi, waktu Mas Juna masih bobok."
Juna menatap sendok itu. Lalu, perlahan, membuka mulutnya.
***
Malam harinya lebih buruk.
Juna menolak tidur. Dia berdiri di depan pintu kamarnya dengan boneka dinosaurus di pelukan. Persis seperti malam-malam sebelumnya. Namun kali ini, tidak ada yang bisa ia minta.
"Papa yang bobokin, ya?" tawar Ndaru.
Juna tidak menjawab. Dia hanya berjalan masuk ke kamarnya dan naik ke ranjang. Berbaring memunggungi ayahnya.
Ndaru duduk di tepi ranjang. Dia menarik napas dalam.
"Dahulu kala," ucapnya pelan, "ada seekor naga putih bernama Holly."
Juna tidak bergerak.
"Holly tinggal di atas gunung yang tinggi. Dia punya teman. Seekor kuda terbang bernama Yono."
"Kuda bersayap," koreksi Juna pelan. Masih memunggungi ayahnya.
"Kuda bersayap," ulang Ndaru. "Yono sombong, tapi baik hati. Suatu hari, Holly belajar terbang lebih tinggi dari awan. Dia hampir jatuh. Tapi Yono menangkapnya."
"Karena teman yang baik nggak biarin temannya jatuh," bisik Juna.
Ndaru terdiam. Dia menatap punggung kecil anaknya.
"Iya," ucapnya. Suaranya parau. "Karena teman yang baik tidak membiarkan temannya jatuh."
Juna berbalik. Menatap ayahnya dengan mata yang kembali basah.
"Papa," bisiknya. "Papa bikin Tante Cana pergi?"
Pertanyaan itu menghantam Ndaru seperti pukulan di dada. Dia menatap anaknya. Anak dua tahun yang matanya terlalu jernih untuk dibohongi.
"Papa nggak tahu, Sayang," jawabnya jujur. "Mungkin."
Juna menatapnya lama. Lalu dia mengulurkan tangannya yang kecil dan meletakkannya di pipi ayahnya. Seperti yang biasa Shana lakukan padanya saat dia demam.
"Papa sedih?"
Ndaru tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk.
Juna bergeser. Memberi ruang di ranjang kecilnya. Ndaru berbaring di sana dengan kaki menjuntai keluar karena ranjang itu terlalu pendek untuknya. Juna memeluk lengannya.
Mereka tertidur seperti itu. Ayah dan anak. Sama-sama merindukan orang yang sama.