Shana berlatih di mobil.
Sepanjang perjalanan dari rumah Erina ke rumah berpagar tinggi itu, dia menyusun kalimat di kepalanya. Mencoret. Menyusun ulang. Mencoret lagi.
Pak, ada yang mau saya ceritakan.
Pak, ayah saya Bambang Sudarsono. Dia divonis dua belas tahun oleh Mas Arya.
Pak, saya minta maaf.
Tidak ada yang terdengar benar. Semua terdengar seperti dialog dari novel yang buruk. Shana, yang sudah menulis ratusan ribu kata seumur hidupnya, tidak bisa menemukan satu kalimat pun yang tepat.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Pengawal membukakan pintu. Shana turun.
Rumah itu terang. Mobil Ndaru sudah terparkir di garasi. Dia pulang lebih cepat malam ini.
Shana menarik napas dalam. Lalu masuk.
***
Juna sudah tertidur. Suster Nur memberitahunya di lorong lantai dua. Anak itu menunggu Tante Cana untuk dibacakan cerita, tetapi akhirnya tertidur di pangkuan Suster Nur.
"Mas Juna tanya terus, Bu. Tante Cana ke mana. Tante Cana pulang, nggak."
Shana merasakan hatinya teremas. "Maaf, Sus."
"Nggak apa-apa, Bu." Suster Nur tersenyum. Lalu dia ragu sejenak. "Bu, Bapak tadi tanya juga. Ibu ke mana."
"Bapak di mana sekarang, Sus?"
"Di ruang kerja, Bu. Dari tadi."
Shana mengangguk. Dia masuk ke kamar Juna sebentar. Menatap anak itu yang tertidur memeluk boneka dinosaurusnya. Dia membungkuk dan mencium kening Juna.
"Doain Tante Cana ya, Mas," bisiknya.
Lalu dia keluar. Menuruni tangga. Berjalan menuju ruang kerja di ujung lorong lantai satu.
Setiap langkah terasa berat. Seperti berjalan menuju ruang sidang.
Shana berhenti di depan pintu. Tangannya terangkat. Gemetar.
Dia teringat Ayah. Di kursi terdakwa. Berbalik menatap keluarganya dan tersenyum lembut. Nggak apa-apa. Ayah nggak apa-apa.
Ayah tidak pernah lari. Bahkan saat semua orang menyebutnya pencuri. Ayah menghadapi semuanya dengan kepala tegak.
Shana menarik napas dalam. Lalu mengetuk.
"Masuk."
***
Ndaru duduk di balik meja kerjanya. Tidak ada laptop yang menyala. Tidak ada berkas yang berserakan. Meja itu kosong.
Kecuali satu map plastik bening di tengahnya.
Ndaru mengangkat wajahnya saat Shana masuk. Dia tidak tersenyum. Tidak juga terlihat marah. Wajahnya hanya terlihat lelah. Sangat lelah. Seperti seseorang yang sudah tidak tidur selama dua hari.
"Kamu dari rumah Mbak Erina," ucapnya. Bukan pertanyaan.
"Iya, Pak."
"Duduk."
Shana tidak duduk. Dia berdiri di depan meja itu. Tangannya mencengkeram ujung sweternya.
"Pak," ucapnya. Suaranya bergetar. "Ada yang mau saya ceritakan."
Ndaru menatapnya. Lama.
Lalu dia tersenyum. Senyum tipis yang sangat pahit. Senyum yang membuat sesuatu di dada Shana runtuh.
"Saya juga," ucapnya pelan. "Ada yang ingin saya tanyakan."
Dia mendorong map plastik itu ke ujung meja. Ke arah Shana.
Shana menatap map itu. Melalui plastik bening, dia bisa membaca judul artikel yang dicetak dengan huruf tebal. Dia bisa melihat foto buram di bawahnya. Pria berkemeja putih yang digiring keluar ruang sidang.
Dan gadis kecil berkepang dua di sudut gambar.
Itu dirinya. Belasan tahun yang lalu. Dipeluk Ibu di koridor pengadilan.
Lututnya lemas. Dia meraih sandaran kursi di depannya untuk menopang tubuhnya.
"Saya ingin dengar dari kamu, Shana," ucap Ndaru. Suaranya sangat tenang. Terlalu tenang. "Bukan dari orang lain. Dari kamu."
Shana mengangkat wajahnya. Menatap pria di balik meja itu. Pria yang membaca novelnya sampai bab dua puluh tiga. Pria yang menyeduhkan teh tanpa gula untuknya. Pria yang menunggunya empat malam di sofa tunggal.
Dia sudah terlambat.
Dia ingin menceritakannya sendiri. Dia sudah datang ke ruangan ini untuk menceritakannya. Namun sekarang, apa pun yang ia katakan akan terdengar seperti pembelaan. Seperti seseorang yang tertangkap basah lalu baru mengaku.
Keberaniannya datang satu hari terlambat.
"Ini benar ayah kamu?" tanya Ndaru.
Shana menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa seperti diisi pasir.
"Iya, Pak."
* * *
Kata-kata yang terlalu lama dipendam tidak keluar dengan indah. Ia keluar dengan gemetar dan terbata-bata. Membawa serta semua luka yang tersimpan rapat. Dan rasa bersalah yang tak lagi bisa ditahan.
Shana duduk.
Bukan karena Ndaru menyuruhnya. Karena kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Dia duduk di kursi di depan meja kerja itu. Kedua tangannya mencengkeram lutut. Map plastik bening tergeletak di antara mereka seperti tembok kaca.
"Ayah saya staf keuangan di sebuah perusahaan konstruksi," ucapnya pelan. Matanya menatap foto buram di dalam map itu. "Bukan orang penting. Gajinya cukup buat kami bertiga. Ibu, Mbak Erina, dan saya."
Ndaru tidak menyela.
"Waktu saya sepuluh tahun, ada uang perusahaan yang hilang. Banyak. Semua berkas mengarah ke Ayah. Tanda tangannya ada di mana-mana." Shana menelan ludah. "Tapi Ayah bilang dia nggak pernah tanda tangan berkas-berkas itu. Ayah bilang atasannya yang menyuruh dia menyimpan berkas tanpa membaca. Ayah terlalu percaya."
"Lalu?"
"Lalu Ayah disidang. Hakimnya masih muda. Tegas. Semua orang bilang dia bintang yang sedang naik daun." Suara Shana bergetar. "Saya duduk di bangku paling belakang. Di samping Ibu dan Mbak Erina. Saya inget dia membacakan putusan. Dua belas tahun. Saya inget Ibu menjerit. Saya inget dia berdiri dan pergi tanpa menoleh sedikit pun."
Ndaru menatap foto di dalam map. Gadis kecil berkepang dua.
"Ibu sakit setelah itu. Tiga tahun kemudian, Ibu meninggal. Ayah nggak bisa datang ke pemakaman Ibu." Air mata mulai mengalir di pipi Shana. Dia tidak menghapusnya. "Mbak Erina yang besarin saya. Dia baru delapan belas tahun waktu itu. Dia kerja di dapur restoran dari pagi sampai malam supaya saya bisa sekolah."
"Ayah kamu bebas?"
"Sembilan tahun kemudian. Dapat remisi. Tapi dunia di luar udah nggak sama, Pak. Keluarga Ayah sendiri nggak mau kenal lagi. Teman-temannya pergi. Nggak ada yang mau terima mantan napi kerja." Shana tertawa kecil. Tawa yang hancur. "Ayah cuma hidup beberapa tahun setelah keluar. Dua tahun lalu, Ayah meninggal. Masih dengan nama yang kotor."
Hening.
"Dan kamu tahu siapa hakimnya," ucap Ndaru.
"Saya tahu."
"Sejak kapan?"
"Sejak saya sepuluh tahun, Pak. Saya nggak pernah lupa wajahnya." Shana akhirnya mengangkat wajahnya. Menatap Ndaru. "Haryadi Djanu Atmadjiwo."
Ndaru memejamkan matanya sebentar.
"Malam itu," ucapnya pelan. "Di depan lift. Kamu sudah tahu saya siapa?"
"Nggak, Pak. Demi Allah, saya nggak tahu." Shana menggeleng cepat. "Saya baru tahu Bapak adiknya waktu wartawan mulai nulis nama Bapak. Waktu itu semuanya udah telanjur."
"Dan kamu tetap setuju menikah dengan saya."
"Saya nggak punya pilihan, Pak. Dito, skandal itu, kafe saya, Mbak Erina—"
"Kamu bisa bilang." Suara Ndaru mengeras untuk pertama kalinya. "Kamu bisa bilang ke saya. Di hari pertama. Di hari kita tanda tangan kontrak. Kapan saja."
Shana terdiam.
"Kamu tidak bilang," lanjut Ndaru. Dia berdiri. Berjalan ke jendela. Membelakangi Shana. "Kenapa?"
Shana menatap punggung pria itu. Punggung yang tegak dan kaku.
Dia bisa berbohong lagi. Bisa berkata dia takut. Bisa berkata dia tidak ingin menyakiti siapa pun. Semua itu benar. Namun bukan seluruh kebenaran.
Erina benar. Setidaknya dia akan dibenci sebagai dirinya yang asli.
"Karena saya malu, Pak," ucapnya. "Hari Mas Arya meninggal, saya liat beritanya di kafe. Malamnya saya masak untuk Mbak Erina. Kami makan bersama." Dia menarik napas yang gemetar. "Kami merayakannya, Pak."
Punggung Ndaru menegang.
"Saya merayakan kematian kakak Bapak."
***
Keheningan yang turun setelah itu begitu berat. Shana bisa mendengar detak jam dinding. Bisa mendengar napasnya sendiri yang tersengal. Bisa mendengar darah yang berdesir di telinganya.
Ndaru tidak berbalik.
"Kamu merayakannya," ulangnya. Suaranya sangat pelan. Hampir tidak terdengar.
"Iya, Pak."
"Hari dia meninggal. Hari saya terbang dari Surabaya dengan Juna masih di rumah sakit. Hari Mbak Putri kehilangan suaminya. Hari Satria kehilangan ayahnya." Ndaru berbalik. Wajahnya pucat. Matanya merah. "Kamu makan malam dan merayakannya."
Shana tidak bisa menjawab.
"Lalu kamu datang ke rumah duka." Suara Ndaru mulai bergetar. Bukan karena sedih. Karena marah yang tertahan. "Kamu duduk di samping saya. Kamu membaca Yasin untuk dia. Kamu memeluk Mbak Putri dan bilang turut berduka cita."
"Pak—"
"Dan malam itu di dapur." Ndaru menatapnya tajam. "Saya cerita tentang Farah. Tentang Mas Arya. Tentang perjalanan ke Surabaya yang saya minta. Saya cerita hal-hal yang tidak pernah saya ceritakan ke siapa pun, Shana. Ke Papa pun tidak."
Air mata mengalir deras di pipi Shana.
"Kamu mendengarkan saya menyalahkan diri sendiri atas kematian dia. Dan kamu diam." Ndaru tertawa pendek. Tawa yang sangat pahit. "Apa yang kamu pikirkan saat itu? Bahwa saya bodoh? Bahwa saya menangisi orang yang pantas mati?"
"Nggak, Pak! Saya nggak pernah—"
"Lalu apa?"
"Saya nggak tahu harus gimana!" Suara Shana pecah. "Saya benci dia selama belasan tahun, Pak! Belasan tahun! Dan tiba-tiba saya harus duduk di rumahnya dan ngeliat istrinya nangis. Ngeliat anaknya yang umur sepuluh tahun. Sama kayak saya waktu itu." Dia terisak. "Dan Bapak... Bapak cerita soal dia dengan cara yang bikin saya nggak bisa benci dia lagi. Saya nggak tahu harus gimana!"
Ndaru menatapnya. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
"Saya nggak pernah merencanakan apa pun, Pak," ucap Shana di sela isakannya. "Saya nggak pernah mau nyakitin keluarga Bapak. Saya sayang Juna. Saya sayang Mbak Putri. Saya—"
Dia berhenti. Kata itu tertahan di ujung lidahnya. Kata yang tidak bisa ia ucapkan. Tidak sekarang. Tidak di ruangan ini.
Ndaru menunggu. Namun kata itu tidak keluar.
"Saya percaya kamu tidak merencanakan apa pun," ucap Ndaru pada akhirnya. Suaranya kembali datar. Dingin. "Saya tahu bagaimana semua ini dimulai."
Shana mengangkat wajahnya. Ada sedikit harapan di matanya.
"Tapi saya tidak tahu," lanjut Ndaru, "apakah saya bisa percaya apa pun lagi yang kamu katakan."
Harapan itu padam.
Ndaru berjalan kembali ke mejanya. Dia mengambil map plastik itu dan memasukkannya ke dalam laci. Lalu dia duduk. Menatap meja yang kosong.
"Saya butuh waktu," ucapnya tanpa menatap Shana. "Tolong tinggalkan saya sendiri."
Shana berdiri. Kakinya gemetar. Dia berjalan ke pintu. Tangannya meraih gagang pintu.
"Pak," ucapnya tanpa berbalik. "Saya ke sini malam ini untuk cerita. Sebelum saya liat map itu. Saya mau cerita."
Hening.
"Saya tahu Bapak nggak akan percaya," lanjutnya. "Tapi saya mau Bapak tahu."
Dia membuka pintu dan keluar.
Ndaru menatap pintu yang tertutup itu. Lama sekali.
Lalu dia menundukkan kepala dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.