Pukul dua lewat tiga puluh, Shana menatap sofa tunggal yang kosong.
Teh tanpa gula yang ia seduh untuk dirinya sendiri sudah setengah habis. Laptopnya menyala di pangkuan. Halaman baru novelnya terbuka. Raja kerajaan es baru saja keluar dari istananya untuk pertama kalinya dalam seratus tahun.
Namun Shana tidak bisa menulis satu kalimat pun.
Matanya terus melirik ke arah tangga. Menunggu suara langkah kaki. Menunggu pria itu muncul dengan iPad dan berkas-berkasnya. Menunggu dia duduk di sofa tunggal dan berkata, "Kamu sudah bangun."
Pukul tiga. Pukul tiga lewat tiga puluh.
Tangga tetap sunyi.
Shana menghela napas. Mungkin dia lelah. Mungkin rapatnya banyak. Mungkin dia pulang terlalu malam.
Mungkin.
***
Pagi harinya, Ndaru sudah pergi sebelum sarapan.
"Bapak berangkat jam enam, Bu," ucap Suster Nur saat Shana bertanya. "Katanya ada rapat pagi."
"Oh." Shana mengangguk. Dia menyuapi Juna dengan nasi tim. "Bapak udah sarapan?"
"Belum, Bu. Cuma minum kopi."
Shana terdiam. Makanan yang ia siapkan semalam juga masih utuh di bawah tudung saji. Hanya kertas kecilnya yang hilang.
"Papa mana?" tanya Juna dengan mulut penuh.
"Papa kerja, Sayang. Pagi-pagi sekali."
"Papa marah?"
Shana menoleh menatap Juna. "Kenapa Mas Juna bilang Papa marah?"
Juna mengedikkan bahunya. Gerakan yang ia tiru dari Shana. "Papa nggak cium Juna."
Shana tidak tahu harus menjawab apa.
***
Ndaru pulang pukul sembilan malam. Lebih cepat dari semalam, tetapi tetap terlambat untuk makan malam bersama.
Shana sedang di ruang tengah membacakan buku untuk Juna saat pintu depan terbuka. Juna langsung melompat turun dari sofa dan berlari ke arah ayahnya.
"Papa!"
Ndaru menangkap anaknya dan menggendongnya. Dia mencium pipi Juna. Juna tertawa senang.
Lalu mata Ndaru bertemu dengan mata Shana.
Hanya sebentar. Sangat sebentar. Lalu Ndaru mengalihkan pandangannya.
"Selamat malam, Pak," sapa Shana.
"Selamat malam." Ndaru menurunkan Juna. "Saya masih ada pekerjaan. Juna sama Tante Cana dulu, ya."
Dia berjalan menuju ruang kerjanya di lantai satu. Menutup pintunya.
Shana menatap pintu itu.
Ada yang berbeda. Shana bisa merasakannya. Seperti ada dinding tak terlihat yang tiba-tiba berdiri di antara mereka. Dinding yang lebih tinggi dari dinding di hari-hari pertama pernikahan mereka.
Saat itu, Ndaru tidak menatapnya karena tidak peduli. Sekarang, Ndaru tidak menatapnya karena sesuatu yang lain.
Shana tidak tahu apa.
***
Setelah Juna tertidur, Shana turun ke dapur. Dia menyeduh teh hangat. Bukan untuknya. Untuk Ndaru. Teh melati dengan sedikit madu, seperti yang Suster Nur bilang Ndaru suka saat sedang lelah.
Dia membawa cangkir itu ke ruang kerja. Berdiri di depan pintu. Menarik napas. Lalu mengetuk.
"Masuk."
Shana membuka pintu. Ndaru sedang duduk di balik meja kerjanya. Laptop terbuka. Beberapa lembar kertas berserakan di atas meja.
Saat melihat Shana, tangan Ndaru bergerak. Cepat. Membalik satu lembar kertas yang tergeletak paling dekat dengannya. Menelungkupkannya di atas meja.
Gerakan itu kecil. Sangat kecil. Namun Shana melihatnya.
Sebelum kertas itu tertelungkup, dia sempat melihat sepotong judul. Huruf tebal. Hanya satu kata yang tertangkap matanya.
Vonis.
Jantung Shana berhenti berdetak. Hanya sedetik. Lalu kembali berdetak, terlalu cepat.
"Ada apa?" tanya Ndaru. Suaranya datar.
"Saya... bawain teh, Pak." Shana memaksakan senyumnya. Dia berjalan mendekat dan meletakkan cangkir itu di sudut meja. Jauh dari kertas yang tertelungkup. "Bapak kelihatan capek."
"Terima kasih."
Bukan "makasih". Bukan "hm". Terima kasih. Formal. Dingin. Seperti saat pertama kali mereka bertemu.
Shana berdiri di sana. Menunggu. Menunggu Ndaru mengatakan sesuatu. Apa saja.
Ndaru kembali menatap laptopnya.
"Pak," panggil Shana pelan.
"Hm?"
"Bapak... baik-baik aja?"
Jari-jari Ndaru berhenti di atas keyboard. Dia mengangkat wajahnya. Menatap Shana. Untuk pertama kalinya malam itu, benar-benar menatapnya.
Ada sesuatu di mata pria itu. Sesuatu yang membuat Shana ingin mundur selangkah. Bukan kemarahan. Lebih buruk dari kemarahan.
Kekecewaan.
"Saya baik-baik saja," jawab Ndaru. "Kamu tidur. Sudah malam."
Shana mengangguk. Dia berbalik dan berjalan keluar. Menutup pintu di belakangnya.
Lalu dia bersandar di pintu itu. Tangannya menekan dadanya yang sesak.
Vonis.
Dia tahu. Atau setidaknya, dia mulai tahu.
* * *
"Lo tahu lo kelihatan kayak orang yang belum tidur tiga hari?"
Erina menyambut adiknya di depan pintu dengan celemek masih terpasang di pinggangnya. Wangi bawang putih tumis menguar dari dalam rumah. Di belakang Shana, mobil hitam dengan dua pengawal berhenti di depan pagar.
"Dua hari, Mbak," jawab Shana lemah.
Erina menatap adiknya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sweter abu-abu kebesaran. Rambut dicepol asal. Mata sembab. Bibir pucat.
Erina tidak bertanya lagi. Dia menarik tangan Shana masuk ke dalam rumah. Mendudukkannya di kursi dapur. Lalu kembali ke kompor.
"Gue lagi bikin sup ayam," ucapnya tanpa menoleh. "Lo makan dulu. Baru cerita."
Sup ayam. Masakan Ibu. Masakan yang selalu Erina buat setiap kali salah satu dari mereka sedang tidak baik-baik saja.
Shana menatap punggung kakaknya. Matanya mulai panas.
***
Shana menghabiskan semangkuk sup ayam dalam diam. Erina duduk di hadapannya. Menunggu dengan sabar.
Setelah suapan terakhir, Shana meletakkan sendoknya. Lalu dia mulai bercerita.
Tentang Putri dan ponsel Haryadi. Tentang pesan-pesan ancaman. Tentang Haryadi yang menolak dibeli. Tentang anak-anak yang harus berjalan kaki dua jam ke sekolah. Tentang kalimat itu. Aku pernah salah. Aku terlalu cepat mengetuk palu.
Tentang Ndaru yang tiba-tiba berubah. Yang tidak turun ke ruang tengah. Yang membalik kertas di atas mejanya. Vonis.
Erina mendengarkan semuanya tanpa menyela. Wajahnya perlahan berubah. Dari khawatir, menjadi terkejut, lalu menjadi sesuatu yang lebih sulit dibaca.
Saat Shana selesai, Erina terdiam lama.
"Dia bilang dia pernah salah?" ulang Erina pelan.
Shana mengangguk.
"Soal Ayah?"
"Gue nggak tahu, Mbak. Bisa soal Ayah, bisa soal orang lain." Shana menunduk. "Tapi Mbak, dia bukan monster. Dia nolak disogok. Dia mati karena nolak berhenti ngebela orang-orang yang dirugiin. Dia... dia punya anak umur sepuluh tahun yang sekarang nggak punya papa."
Erina tidak menjawab.
"Dan kita ngerayain kematiannya, Mbak." Suara Shana pecah. 'Lo inget? Gue masak. Lo bilang "oke, kita rayain malem ini". Kita makan sambil ketawa.'
Erina memejamkan matanya. "Gue inget, Na."
"Gue jahat, Mbak."
"Kita," koreksi Erina. Dia membuka matanya. "Bukan cuma lo. Gue juga ikut. Gue yang bilang kita rayain."
Mereka terdiam. Dua kakak beradik duduk di dapur kecil itu. Di tempat yang sama di mana mereka merayakan kematian seseorang beberapa bulan yang lalu.
"Ayah pasti kecewa," bisik Shana. "Ayah selalu bilang jangan sampai kita jadi orang yang membenci."
"Ayah juga manusia, Na." Erina mengulurkan tangan dan menggenggam tangan adiknya. "Lo pikir Ayah nggak pernah benci? Dua belas tahun di penjara buat sesuatu yang nggak dia lakuin? Ayah pasti pernah benci. Bedanya, Ayah milih buat nggak nunjukin itu ke kita."
Shana menangis. Erina membiarkannya.
***
"Sekarang," ucap Erina setelah tangis Shana mereda. Dia menyodorkan tisu. "Soal suami lo."
Shana mengusap wajahnya. "Gue rasa dia tahu, Mbak."
"Dari mana?"
"Gue nggak tahu. Tapi gue liat kertas itu. Dan cara dia natap gue..." Shana menggeleng. "Dia kecewa, Mbak. Gue bisa liat."
Erina menatap adiknya serius. "Lo harus jujur sama dia, Na."
"Gue tahu."
"Nggak, lo nggak tahu." Erina menggeleng tegas. "Dengerin gue. Kalau dia tahu dari orang lain, yang dia inget bukan alasan lo. Bukan ayah kita. Bukan dua belas tahun. Yang dia inget cuma satu hal. Lo bohong sama dia."
Shana terdiam.
"Lo duduk di rumah duka kakaknya, Na. Lo baca Yasin buat kakaknya. Lo dengerin dia cerita soal rasa bersalahnya. Dan lo diem aja." Erina menghela napas. "Gue ngerti kenapa lo diem. Gue juga bakal diem. Tapi dari sisi dia, itu kelihatan kayak pengkhianatan."
"Gimana kalau dia benci gue, Mbak?"
Erina menatap adiknya lama. Lalu dia tersenyum. Senyum yang sedih.
"Dulu gue bilang jangan jatuh cinta sama dia," ucapnya pelan. "Lo udah telanjur, kan?"
Shana tidak menjawab. Namun air mata yang kembali mengalir di pipinya sudah menjadi jawaban.
"Kalau gitu, lo harus jujur," lanjut Erina. "Karena kalau lo cinta sama seseorang, lo nggak bisa terus bohong sama dia. Bohong itu kayak retakan kecil di gelas, Na. Awalnya nggak keliatan. Tapi lama-lama, gelasnya pecah sendiri."
"Kalau dia benci gue setelah gue jujur?"
"Setidaknya dia benci lo yang asli. Bukan lo yang pura-pura."
***
Fathur datang pukul delapan malam. Dia membawa sekotak martabak manis dan wajah yang serius.
"Lo udah denger?" tanyanya setelah mencium kening Erina dan duduk di samping Shana.
"Denger apa, Mas?"
"Dito balik ke Jakarta. Dua hari yang lalu." Fathur membuka kotak martabak. "Anak buah gue liat dia ketemu sama redaktur salah satu portal gosip di Senopati. Dua kali."
Shana membeku.
"Gue belum tahu dia mau apa," lanjut Fathur. "Tapi feeling gue nggak enak. Orang kayak Dito nggak akan diem setelah dipermalukan di depan kamera."
Erina menatap Shana. Shana menatap martabak di atas meja.
Kenapa semuanya harus datang di waktu yang sama?
"Na," panggil Erina. "Malam ini. Lo bilang ke dia malam ini."
Shana mengangkat wajahnya. Menatap kakaknya. Lalu mengangguk.
"Malam ini," bisiknya.