Masa lalu tidak pernah benar-benar terkubur. Ia hanya tertidur di halaman-halaman berdebu. Menunggu tangan yang cukup gigih membukanya. Lalu bangkit membawa luka yang sudah lama tertunda.
Shella datang ke kantor Atmadjiwo Grup pukul sepuluh pagi. Tanpa janji.
Gilang mencoba menahannya di depan ruangan Ndaru. Mengatakan bahwa atasannya sedang menyiapkan bahan rapat direksi. Namun Shella tidak peduli. Dia hanya tersenyum dan berkata, "Lima menit, Mas Gilang. Ini soal Juna."
Kata Juna selalu berhasil.
Ndaru mengangkat wajahnya dari laptop saat pintu ruangannya terbuka. Dia melihat adik iparnya masuk dengan langkah percaya diri. Rambutnya tergerai rapi. Kemeja putih dan celana kulot krem. Di tangannya, sebuah map plastik bening.
"La." Ndaru melirik jam tangannya. "Saya ada rapat sebentar lagi."
"Aku nggak lama, Mas." Shella duduk di kursi di depan meja kerja Ndaru tanpa dipersilakan. Dia meletakkan map plastik itu di atas meja. Mendorongnya pelan ke arah Ndaru. "Aku cuma mau Mas baca ini."
Ndaru menatap map itu. Lalu menatap Shella. "Apa ini?"
"Baca aja, Mas."
Ndaru menghela napas. Dia menarik map itu dan membukanya. Di dalamnya, beberapa lembar kertas hasil cetakan. Sebuah artikel berita dari portal daring yang sudah lama. Tanggal di sudut kanan atas menunjukkan tahun yang sudah belasan tahun berlalu.
Judulnya ditulis dengan huruf tebal.
Hakim Haryadi Atmadjiwo Jatuhkan Vonis 12 Tahun untuk Bambang Sudarsono dalam Kasus Penggelapan Dana
Ndaru membaca judul itu. Sekali. Dua kali.
Bambang Sudarsono.
Nama itu terasa familier. Terlalu familier. Dia pernah mendengarnya. Diucapkan dengan lantang di ballroom kecil lantai tiga Atma Hotel. Diucapkan oleh Haji Sholeh. Diucapkan oleh dirinya sendiri.
Saya terima nikah dan kawinnya Shana Arkadewi binti Bambang Sudarsono.
Ndaru terus membaca. Artikel itu tidak panjang. Hanya beberapa paragraf. Tentang seorang pria yang dituduh menggelapkan dana di tempatnya bekerja. Tentang terdakwa yang bersikeras tidak bersalah sampai akhir persidangan. Tentang hakim muda yang memimpin sidang dengan tegas. Tentang vonis dua belas tahun yang dibacakan di hadapan keluarga terdakwa yang menangis.
Di bawah artikel itu, ada sebuah foto. Hitam putih dan buram. Seorang pria berkemeja putih yang digiring keluar ruang sidang oleh dua petugas. Wajahnya menunduk.
Dan di sudut foto, nyaris terpotong, seorang gadis kecil berkepang dua yang dipeluk seorang wanita.
Ndaru menatap foto itu sangat lama.
"Aku awalnya cuma penasaran, Mas," ucap Shella. Suaranya pelan, tetapi ada nada puas yang tidak bisa ia sembunyikan. "Aku denger di akad nikah ada yang bilang ayah dia mantan napi. Aku cuma mau tahu kasusnya apa. Ternyata..." Dia menunjuk judul artikel itu dengan kuku jarinya yang dicat merah muda. "Yang vonis ayahnya itu Mas Arya."
Ndaru tidak menjawab.
"Mas nggak curiga?" Shella mencondongkan tubuhnya. "Dari semua laki-laki di Jakarta, dia muncul di depan lift hotel dan cium adiknya hakim yang penjarain ayahnya. Kebetulan?"
"Shella."
"Terus tiba-tiba dia setuju nikah sama Mas. Cepet banget. Tinggal serumah sama Juna. Deket sama keluarga Mas Arya." Shella menggeleng. "Aku nggak tahu dia mau apa, Mas. Tapi aku nggak percaya ini kebetulan."
"Shella," ulang Ndaru. Lebih pelan. Lebih dingin.
Shella berhenti bicara. Dia menatap kakak iparnya. Wajah Ndaru tidak menunjukkan apa-apa. Tidak marah, tidak terkejut, tidak sedih. Hanya datar. Seperti tembok.
Namun tangannya yang memegang lembaran artikel itu mencengkeram terlalu erat. Ujung kertas itu kusut.
"Siapa lagi yang tahu soal ini?"
Shella mengerjap. "Nggak ada. Cuma aku."
"Pastikan tetap begitu."
"Mas—"
"Jangan ceritakan ini pada siapa pun, La. Tidak pada Papa. Tidak pada Mbak Putri. Tidak pada siapa pun." Ndaru menatapnya tajam. "Kamu mengerti?"
Shella membuka mulutnya untuk membantah. Lalu menutupnya lagi. Dia mengangguk perlahan.
"Aku cuma mau lindungi Juna, Mas," ucapnya pelan. "Juna keponakanku. Anaknya Mbak Farah. Aku nggak mau dia dekat-dekat sama orang yang punya dendam sama keluarga kita."
Ndaru tidak menjawab. Dia menutup map itu dan meletakkannya di laci meja kerjanya.
"Saya ada rapat," ucapnya. "Gilang akan mengantar kamu keluar."
Shella berdiri. Dia merapikan kemejanya dan meraih tasnya. Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.
"Mas Ndaru udah jatuh cinta sama dia, ya?"
Ndaru mengangkat wajahnya. Menatap adik iparnya.
Tidak menjawab.
Shella tersenyum. Namun senyum itu tidak lagi terlihat puas. Ada sesuatu yang retak di sana.
"Aku harap aku salah, Mas," ucapnya. "Demi Juna."
Lalu dia pergi.
***
Rapat direksi berlangsung selama dua jam. Ndaru memimpinnya dengan tenang seperti biasa. Dia mendengarkan laporan, mengajukan pertanyaan, mengambil keputusan.
Tidak ada yang menyadari ada yang berbeda.
Kecuali Gilang. Yang duduk di sampingnya dan melihat bahwa sepanjang rapat, atasannya tidak menyentuh kopinya sama sekali. Dan ujung bolpoinnya terus mengetuk-ngetuk tepi buku catatan. Pelan. Berulang-ulang.
Seperti jantung yang berdetak terlalu cepat.
* * *
Ndaru tidak pulang tepat waktu malam itu.
Dia duduk di ruangannya sampai lampu-lampu gedung di sekitarnya padam satu per satu. Gilang sudah ia suruh pulang sejak pukul delapan. Lantai paling atas gedung Atmadjiwo Grup sunyi. Hanya suara pendingin ruangan yang berdengung pelan.
Di atas meja, artikel itu terbuka. Ndaru sudah membacanya lebih dari sepuluh kali. Dia sudah hafal setiap kalimatnya.
Namun yang terus ia tatap adalah foto buram itu. Gadis kecil berkepang dua di sudut gambar.
Ndaru tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Bisa saja itu bukan Shana. Bisa saja itu anak orang lain. Namun di dalam hatinya, Ndaru tahu.
Dia memejamkan mata. Dan kepingan-kepingan itu mulai tersusun dengan sendirinya.
Malam tahlilan empat puluh hari. Shana yang terlalu lama di toilet. Matanya yang sembab saat keluar. Tangannya yang dingin saat Ndaru mengantarnya ke mobil.
Saat dia membacakan surat Yasin. Bersama keluarga Atmadjiwo. Untuk kakaknya.
Hari di rumah Mbak Putri. Shana yang meraih kusen pintu ruang kerja Mas Arya karena kakinya lemas. Matanya yang tertuju pada satu foto di sudut. Foto Mas Arya muda dengan toga hakim di depan gedung pengadilan negeri.
Kalimat Mbak Putri. Aku pernah salah. Aku terlalu cepat mengetuk palu. Dan wajah Shana yang berubah seputih kertas.
Empat hari Shana menghindar. Empat hari dia tidak turun ke ruang tengah. Suara isakan dari balik pintu kamarnya.
Dan pertanyaan itu. Pukul tiga dini hari. Menurut Bapak, Mas Arya orang baik?
Lalu kebohongan itu. Buat novel. Tokoh hakim. Jarinya menyentuh ujung kacamata.
Ndaru membuka matanya. Napasnya terasa berat.
Dia tidak percaya pada teori Shella. Dia tahu bagaimana pernikahan ini dimulai. Skandal di depan lift itu bukan rencana Shana. Kontrak itu bukan ide Shana. Ndaru sendiri yang menyodorkannya. Shana bahkan hampir menolak. Gadis itu tidak mungkin merencanakan semuanya untuk balas dendam.
Lagi pula, dia sudah melihat Shana bersama Juna. Melihat bagaimana gadis itu tertidur di kursi goyang dengan Juna di pelukannya. Melihat bagaimana gadis itu memasak bubur dan membuatkan wortel berbentuk bintang. Tidak ada dendam di sana. Hanya ketulusan.
Namun ada satu hal yang tidak bisa ia singkirkan dari kepalanya.
Shana tahu.
Sejak awal, Shana tahu siapa Haryadi. Dia tahu saat Ndaru menceritakan kematian kakaknya di dapur malam itu. Dia tahu saat Ndaru berkata bahwa dia merasa bersalah. Dia tahu saat dia duduk di samping Ndaru di tahlilan empat puluh hari dan ikut membaca Yasin.
Dan dia tidak mengatakan apa-apa.
Ndaru sudah membuka seluruh lukanya di depan gadis itu. Tentang Farah. Tentang tujuh panggilan tak terjawab. Tentang Mas Arya dan perjalanan ke Surabaya yang tidak pernah sampai. Hal-hal yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun. Bahkan pada ayahnya sendiri.
Sementara Shana menyimpan rahasia sebesar ini.
Ndaru menutup map itu. Tangannya sedikit gemetar.
Dia ingin pulang. Ingin mengetuk pintu kamar Shana dan meletakkan artikel itu di depannya. Ingin bertanya, Kenapa kamu tidak bilang?
Namun dia takut. Takut pada jawabannya. Takut jika jawaban itu akan menghancurkan sesuatu yang baru saja mulai tumbuh di antara mereka.
Dan dia juga marah. Marah dengan cara yang tidak ia pahami. Bukan kemarahan yang meledak-ledak. Kemarahan yang dingin dan berat. Yang mengendap di dasar dadanya seperti batu.
Jadi Ndaru tidak melakukan apa-apa. Dia hanya duduk di sana sampai jam menunjukkan pukul sebelas malam. Lalu dia memasukkan map itu ke dalam tas kerjanya dan pulang.
***
Rumah sudah gelap saat dia tiba. Hanya lampu teras dan lampu dapur yang menyala.
Di meja makan, ada sepiring nasi dengan lauk yang ditutup tudung saji. Dan secarik kertas kecil di atasnya. Tulisan tangan yang sudah ia kenal.
Kalau lapar, dihangatkan dulu ya, Pak. Jangan makan dingin. —S
Ndaru menatap kertas itu lama.
Lalu dia mengambilnya dan memasukkannya ke saku kemejanya. Bersama kertas yang pertama. Yang sudah ia simpan berminggu-minggu.
Dia tidak makan. Dia naik ke lantai dua. Berhenti sebentar di depan pintu kamar Shana. Lampu sudah padam. Gadis itu pasti tertidur. Masih ada tiga jam sebelum dia bangun pukul dua.
Ndaru berjalan ke kamarnya. Menutup pintu.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak kebiasaan mereka dimulai, Ndaru tidak turun ke ruang tengah pukul dua dini hari.