Shana tidak turun ke ruang tengah malam itu.
Ndaru duduk di sofa tunggal dengan iPad di pangkuannya. Lampu baca menyala. Teh tanpa gula yang ia seduh untuk Shana sudah dingin di meja.
Pukul dua lewat lima belas. Pukul dua lewat tiga puluh. Pukul tiga.
Tangga tetap sunyi.
Ndaru tahu Shana sudah bangun. Saat dia melewati kamar istrinya tadi, ada cahaya yang merembes dari celah bawah pintu. Dan samar-samar, suara ketikan keyboard.
Shana menulis. Namun tidak di sini. Tidak di sofa panjang di bawah lampu baca.
Ndaru menatap sofa panjang yang kosong itu. Bantal kecil bermotif bunga yang biasa Shana peluk masih di tempatnya. Selimut rajut yang biasa Shana pakai menutupi kakinya masih terlipat di sandaran.
Dia baru menyadari betapa sunyinya ruang tengah tanpa suara ketikan dari sofa panjang. Tanpa gumaman pelan saat Shana membaca ulang kalimatnya. Tanpa desahan frustrasi saat dia kehilangan kata-kata.
Ndaru mematikan iPad-nya. Dia tidak bisa berkonsentrasi.
***
Pagi harinya, Shana turun untuk sarapan dengan senyum seperti biasa. Dia menyapa Juna dengan riang, membantu anak itu makan bubur ayam, mengobrol dengan Suster Nur tentang rencana mengajak Juna ke kebun binatang.
Semuanya terlihat normal.
Kecuali satu hal. Shana tidak menatap Ndaru.
"Kamu tidak turun semalam," ucap Ndaru saat Juna sibuk dengan buburnya.
Shana menyendok buburnya. "Iya, Pak. Lagi pengin nulis di kamar."
"Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Pengin suasana baru aja."
Ndaru menatapnya. Shana terus menatap mangkuk buburnya.
"Polisi sudah menerima ponsel Mas Arya," ucap Ndaru. Mengganti topik. "Gilang bertemu temannya kemarin. Mereka akan menyelidiki diam-diam."
Sendok Shana berhenti di udara. Hanya sebentar. Lalu kembali bergerak.
"Syukurlah, Pak."
"Kita juga menambah pengawal. Untuk rumah ini dan untuk Mbak Putri. Kamu jangan kaget kalau ada orang baru di depan."
"Iya, Pak."
"Kalau kamu ke kafe—"
"Saya ngerti, Pak." Shana tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke matanya. Dia berdiri dan mengambil mangkuk Juna yang sudah kosong. "Mas Juna, ayo cuci tangan."
Juna turun dari kursi tingginya. Shana menggandengnya ke wastafel di dapur.
Ndaru menatap punggung istrinya. Dia teringat ruang tamu kakaknya dua hari yang lalu. Saat Putri membacakan cerita tentang malam terakhir Haryadi. Saat Putri menyebut kalimat "aku pernah salah".
Shana memucat saat itu. Lebih pucat dari sebelumnya.
***
Pola itu berulang selama dua hari berikutnya.
Saat Ndaru menerima telepon dari Putri di ruang tengah, Shana tiba-tiba ingat ada cucian yang harus diangkat. Saat Mala mengirim pesan ke grup keluarga berisi foto-foto lama Haryadi, Shana meletakkan ponselnya dan tidak membukanya lagi. Saat Juna bertanya kenapa Mas Satria tidak punya papa lagi, Shana menjawab dengan suara yang sedikit bergetar.
"Papanya Mas Satria udah di surga, Mas Juna. Sama Mama Farah."
"Ketemu?"
"Mungkin."
"Kenapa Tante Cana sedih?"
Shana tersenyum. "Tante Cana nggak sedih."
Juna menatapnya dengan mata bulatnya. Anak dua tahun itu tidak percaya.
Ndaru juga tidak percaya.
***
Malam ketiga, Ndaru tidak menunggu di ruang tengah.
Dia berdiri di depan pintu kamar Shana. Pukul dua dini hari. Cahaya masih merembes dari celah pintu. Suara ketikan masih terdengar.
Tangannya terangkat untuk mengetuk.
Lalu berhenti di udara.
Apa yang akan ia katakan? Kenapa kamu menghindar? Kenapa kamu pucat setiap kali nama kakak saya disebut? Apa yang kamu sembunyikan?
Ndaru menurunkan tangannya.
Dia teringat kontrak mereka. Poin lima. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Dulu, poin itu ia tulis untuk melindungi dirinya sendiri. Agar gadis asing itu tidak mengorek luka-lukanya.
Sekarang, poin itu terasa seperti dinding. Dinding yang ia bangun sendiri, yang kini menghalanginya mendekat pada satu-satunya orang yang ingin ia dekati.
Ndaru berdiri di sana cukup lama. Mendengarkan suara ketikan dari balik pintu. Lalu suara itu berhenti. Hening.
Lalu, samar-samar, suara isakan.
Sangat pelan. Hampir tidak terdengar. Seperti seseorang yang menangis dengan wajah terbenam di bantal.
Ndaru menempelkan telapak tangannya di pintu. Kayu yang dingin di bawah kulitnya.
Dia tidak mengetuk. Dia tidak bertanya.
Dia hanya berdiri di sana. Di balik pintu. Sampai suara isakan itu berhenti dan lampu di kamar itu padam.
Lalu dia kembali ke kamarnya sendiri. Berbaring di ranjang besar yang terlalu luas. Menatap langit-langit sampai fajar menyingsing.
* * *
Malam keempat, Shana turun.
Pukul dua lewat sepuluh. Ndaru sudah berada di sofa tunggal sejak pukul dua kurang lima belas. Dia hampir tidak percaya saat mendengar langkah kaki di tangga.
Shana muncul dengan sweter abu-abunya yang kebesaran. Rambutnya dicepol asal. Kacamatanya bertengger di hidung. Laptop dipeluk di dada. Matanya sedikit bengkak.
Dia berhenti di ujung tangga saat melihat Ndaru.
"Bapak belum tidur?"
"Belum."
Shana ragu sejenak. Lalu dia berjalan ke sofa panjang dan duduk di tempatnya yang biasa. Menarik selimut rajut dari sandaran sofa dan menutupi kakinya. Memeluk bantal bermotif bunga.
Ndaru bangkit tanpa berkata apa-apa. Dia berjalan ke dapur. Beberapa menit kemudian, dia kembali dengan secangkir teh hangat. Tanpa gula. Dia meletakkannya di meja di depan Shana.
Shana menatap cangkir itu. Lalu menatap Ndaru.
"Makasih, Pak."
Ndaru kembali ke sofa tunggalnya. Membuka iPad-nya. Tidak berkata apa-apa.
Shana membuka laptopnya. Juga tidak berkata apa-apa.
Mereka duduk dalam keheningan. Namun bukan keheningan yang nyaman seperti dulu. Ada sesuatu yang menggantung di antara mereka. Tebal dan berat seperti kabut.
***
Pukul tiga lewat dua puluh, Shana berhenti mengetik.
"Pak," panggilnya pelan.
Ndaru mengangkat wajahnya dari iPad.
Shana tidak menatapnya. Dia menatap layar laptopnya yang menyala. Jari-jarinya diam di atas keyboard.
"Menurut Bapak," ucapnya ragu, "Mas Arya orang baik?"
Ndaru terdiam. Pertanyaan itu tidak ia duga. Dia menatap istrinya lama. Shana masih menatap layar laptop.
"Dia kakak terbaik yang saya punya," jawab Ndaru pada akhirnya. "Waktu saya kecil, dia yang mengajari saya naik sepeda. Waktu saya dihukum Papa karena bolos sekolah, dia yang diam-diam membawakan saya makanan ke kamar. Waktu Farah meninggal, dia yang pertama kali datang ke rumah sakit. Dia yang mengurus semuanya. Saya tidak bisa melakukan apa-apa saat itu."
Shana mendengarkan. Tangannya mencengkeram ujung selimut rajut.
"Tapi dia bukan orang sempurna," lanjut Ndaru. "Dia keras kepala. Dia terlalu serius. Dia sering lupa ulang tahun orang. Dia tidak pernah bisa menyembunyikan ekspresi saat tidak suka makanannya." Ndaru tersenyum tipis. "Dan seperti yang Mbak Putri bilang, dia pernah salah. Dia sendiri yang mengakuinya."
Shana mengangkat wajahnya. Menatap Ndaru untuk pertama kalinya dalam empat hari.
"Bapak tahu dia salah soal apa?"
Ndaru menggeleng. "Tidak. Mas Arya tidak pernah membicarakan pekerjaannya di rumah. Bahkan pada Mbak Putri."
Shana menunduk lagi.
"Kenapa kamu tanya?" tanya Ndaru pelan.
Ini dia. Pertanyaan yang ia tahan selama empat hari. Pertanyaan yang hampir ia ajukan di depan pintu kamar Shana. Akhirnya keluar dari bibirnya.
Shana terdiam lama. Begitu lama sampai Ndaru mengira dia tidak akan menjawab.
Ndaru melihat bibir Shana terbuka. Seperti hendak mengatakan sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang sudah lama tertahan.
Lalu bibir itu tertutup lagi.
"Nggak apa-apa, Pak," ucap Shana akhirnya. "Saya cuma... penasaran. Buat novel. Tokoh hakim."
Bohong. Ndaru tahu itu bohong. Dia sudah cukup lama hidup bersama gadis ini untuk tahu kapan dia berbohong. Shana selalu menyentuh ujung kacamatanya saat berbohong. Seperti sekarang.
Ndaru bisa mendesaknya. Bisa bertanya lagi. Bisa berkata, "Saya tahu kamu bohong. Ceritakan pada saya."
Namun dia melihat mata Shana. Mata yang sembab. Mata yang ketakutan.
Dan dia tidak bisa.
"Kalau kamu butuh bahan untuk tokoh hakim," ucapnya pada akhirnya, "Mbak Putri punya banyak cerita."
Shana menatapnya. Ada sesuatu di mata gadis itu. Rasa terima kasih. Rasa bersalah. Dan sesuatu yang lain yang tidak bisa Ndaru baca.
"Iya, Pak," bisiknya. "Makasih."
Mereka kembali bekerja. Atau pura-pura bekerja. Keheningan kembali turun.
Namun kali ini, saat pukul empat tiba dan Shana menutup laptopnya, dia tidak langsung naik ke kamar. Dia duduk sebentar. Menatap Ndaru yang masih membaca iPad.
"Pak."
"Hm?"
"Saya minta maaf. Empat hari ini."
Ndaru mengangkat wajahnya. "Untuk apa?"
"Karena nggak turun." Shana tersenyum kecil. "Bapak pasti nunggu."
Ndaru tidak menyangkal. "Saya menunggu."
Shana menunduk. Pipinya sedikit memerah. Lalu dia berdiri dan memeluk laptopnya.
"Selamat malam, Pak."
"Selamat malam, Shana."
Ndaru menatap punggung istrinya yang menaiki tangga. Lalu dia menatap cangkir teh di meja. Kosong. Shana menghabiskannya.
Itu sedikit menghiburnya.
***
Di sebuah apartemen di kawasan Kuningan, lampu kamar masih menyala pukul empat dini hari.
Shella duduk di depan laptopnya dengan rambut diikat asal dan secangkir kopi yang sudah dingin. Di layar, mesin pencari menampilkan deretan hasil.
Dia sudah mencari selama berhari-hari. Semuanya berawal dari hari akad nikah itu. Saat dia berdiri di dekat pintu ballroom kecil, dua kerabat jauh Atmadjiwo berbisik di sampingnya. Tentang ayah pengantin perempuan yang katanya pernah dipenjara. Tentang wali hakim yang dipakai karena keluarga ayahnya sudah tidak mau tahu.
Waktu itu Shella pergi sebelum acara selesai. Namun bisikan itu tidak ikut pergi. Juga nama yang diucapkan penghulu dengan suara lantang.
Nama yang kini ia ketik di kolom pencarian.
Bambang Sudarsono.
Shella menggulir halaman demi halaman. Halaman satu. Halaman dua. Halaman tiga. Artikel-artikel yang tidak relevan. Orang-orang lain dengan nama yang sama.
Halaman tujuh.
Shella berhenti menggulir.
Sebuah artikel dari portal berita lama. Arsip yang sudah berusia belasan tahun. Judulnya sederhana, ditulis dengan huruf tebal.
Dia membaca judul itu. Lalu membaca isinya. Lalu membacanya sekali lagi.
Perlahan, senyum terbentuk di bibir Shella.