Pukul tujuh pagi, ruang kerja Harris di Menteng sudah penuh asap kopi.
Tiga pria duduk mengelilingi meja kayu jati besar. Harris di kursinya yang biasa, di balik meja. Guna dan Ndaru di dua kursi di hadapannya. Darma tidak hadir. Pria itu memilih menemani Putri di rumah.
Ponsel Haryadi tergeletak di tengah meja. Di sebelahnya, cetakan tangkapan layar semua pesan ancaman. Gilang menyiapkannya semalam. Lima lembar kertas. Lima pesan dari lima nomor berbeda.
Guna sudah membaca semuanya. Dua kali. Wajahnya merah padam.
"Bajingan," desisnya. "Mereka membunuh Mas Arya."
"Kita belum tahu itu, Mas," ucap Ndaru.
"Belum tahu?" Guna menatap adiknya tidak percaya. "Lima pesan ancaman, Ru! Tiga hari kemudian dia meninggal! Apa lagi yang perlu kita tahu?"
"Polisi menyimpulkan kecelakaan itu murni kecelakaan. Truk yang menabrak dari belakang mengalami rem blong. Sopirnya sudah diperiksa."
"Dan kamu percaya?"
"Saya tidak bilang saya percaya." Ndaru menatap kakaknya tenang. "Saya bilang kita belum tahu. Itu berbeda."
Guna mengusap wajahnya kasar. Dia berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Seperti singa yang terkurung.
"Kita harus bawa ini ke media," ucapnya. "Biar semua orang tahu. Biar pelakunya ketakutan."
"Tidak," ucap Ndaru dan Harris bersamaan.
Guna berhenti. Dia menatap ayah dan adiknya bergantian.
"Kalau kita bawa ke media, pelakunya akan menghilangkan jejak," jelas Ndaru. "Nomor-nomor itu akan mati. Orang-orang di balik itu akan bersembunyi. Dan Mbak Putri serta Satria akan jadi sasaran."
"Ndaru benar," ucap Harris. "Ini bukan kampanye, Gun. Ini nyawa."
Guna terdiam. Rahangnya mengeras. Lalu perlahan, bahunya turun.
"Maaf, Pa," ucapnya pelan. Dia kembali duduk. "Aku cuma... aku marah."
"Kita semua marah," jawab Harris.
Hening sebentar. Hanya suara jam dinding yang berdetak.
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Guna.
"Kita sampaikan lewat laporan resmi dan serahkan bukti dengan catatan penerimaan," jawab Ndaru. "Kalau perlu pendamping, tim hukum bisa membantu. Kedekatan dengan seseorang tidak menggantikan pemeriksaan."
"Kamu punya orang seperti itu?"
"Gilang punya." Ndaru mengangguk. "Teman kuliahnya bekerja di Polda. Reserse. Gilang bilang dia orang yang lurus."
Harris menatap putra bungsunya lama. Lalu mengangguk. "Lakukan."
***
Setelah keputusan dibuat, Guna pamit lebih dulu. Ada rapat dengan tim kampanye yang tidak bisa ditunda. Sebelum pergi, dia menepuk bahu Ndaru.
"Kabari aku," ucapnya. "Apa pun yang kamu butuhkan."
"Iya, Mas."
Guna menatap adiknya sebentar. Lalu dia tersenyum tipis. "Kamu berubah, Ru. Dulu kamu pasti udah lempar semuanya ke aku."
Ndaru tidak menjawab. Guna keluar dan menutup pintu.
Tinggal Ndaru dan Harris. Ayah dan anak bungsu. Duduk berhadapan di ruang kerja yang sunyi.
Ndaru menatap ponsel kakaknya di atas meja. Layarnya yang retak. Casing kulitnya yang sudah usang di sudut-sudutnya.
"Dia ke Surabaya karena saya, Pa," ucapnya tiba-tiba. Sangat pelan.
Harris mengangkat wajahnya.
"Saya yang minta dia datang," lanjut Ndaru. Matanya tetap tertuju pada ponsel itu. "Soal tanah Mama. Bisa diselesaikan lewat telepon. Tapi saya minta dia datang. Kalau saya tidak minta, dia tidak akan ada di jalan tol pagi itu."
"Ru."
"Kalau saya tidak minta—"
"Ndaru." Suara Harris tegas. Cukup tegas untuk membuat Ndaru mengangkat wajahnya.
Pria tua itu menatap putranya. Matanya merah.
"Kamu dengar apa yang Putri katakan kemarin. Lima pesan ancaman. Dua bulan." Harris mencondongkan tubuhnya. "Kalau orang itu memang ingin mencelakai Arya, mereka akan melakukannya di mana saja. Di jalan tol ke bandara. Di depan rumahnya. Di depan gedung pengadilan."
Ndaru tidak menjawab.
"Meminta kakakmu berkunjung bukan tindakan mencelakainya," lanjut Harris. "Kita belum tahu sebab yang bisa dibuktikan. Jangan menjatuhkan hukuman pada dirimu sendiri atas hal yang masih diselidiki."
Ndaru menatap ayahnya. Tenggorokannya tercekat.
"Kamu dengar saya, Ru?"
Ndaru tidak bisa menjawab. Dia hanya mengangguk. Sekali.
Harris bangkit dari kursinya dengan bantuan tongkat. Dia berjalan memutari meja. Pelan. Langkahnya tertatih. Lalu dia berdiri di samping Ndaru dan meletakkan tangannya di bahu putranya.
Sudah bertahun-tahun Harris tidak melakukan itu. Mungkin sejak Ndaru masih remaja.
"Sama seperti Farah," ucap Harris pelan. "Itu juga bukan salahmu."
Bahu Ndaru menegang di bawah tangan ayahnya.
Lalu, perlahan, bahu itu bergetar.
Harris tidak berkata apa-apa lagi. Dia hanya berdiri di sana, dengan tangan di bahu putranya. Menunggu. Seperti seorang ayah yang terlambat bertahun-tahun, tetapi akhirnya datang juga.
***
Gilang menunggu di mobil selama hampir satu jam. Saat atasannya akhirnya keluar dari rumah besar itu, matanya merah dan sembab.
Gilang tidak bertanya. Dia membukakan pintu belakang dan menunggu Ndaru masuk.
"Hubungi teman kamu," ucap Ndaru setelah mobil melaju. Suaranya sudah kembali datar. "Hari ini."
"Baik, Pak."
Hening sebentar.
"Lang."
"Ya, Pak?"
"Terima kasih."
Gilang melirik spion. Atasannya sedang menatap ke luar jendela. Gilang tidak tahu untuk apa ucapan terima kasih itu. Namun dia mengangguk.
"Sama-sama, Pak."
* * *
Kantor Polda Metro Jaya selalu ramai. Orang-orang datang dan pergi dengan berbagai urusan. Ada yang melapor kehilangan, ada yang mengurus surat, ada yang hanya duduk menunggu dengan wajah cemas.
Gilang Pradipta duduk di sebuah kafe kecil di seberang gedung itu. Bukan di dalam kantor polisi. Dia sengaja memilih tempat yang lebih tenang. Lebih sedikit mata yang melihat.
Di depannya, secangkir kopi hitam yang sudah dingin. Di dalam tas kerjanya, ponsel Haryadi dibungkus kantong plastik bening. Dan map berisi cetakan tangkapan layar.
Pukul dua siang tepat, seorang pria masuk ke kafe. Tinggi, berkulit sawo matang, rambut cepak. Mengenakan kemeja batik lengan pendek dan celana bahan. Tidak terlihat seperti polisi. Lebih mirip pegawai kantoran yang sedang istirahat makan siang.
Namun Gilang mengenalnya. Bayu Prasetyo. Teman sekamarnya di asrama kampus dulu. Sekarang Komisaris Polisi di Direktorat Reserse Kriminal Umum.
"Lang." Bayu menjabat tangannya erat. "Lama banget nggak ketemu. Lo masih jadi bayangannya Atmadjiwo?"
"Masih." Gilang tersenyum tipis. "Lo masih nggak bisa diajak makan enak?"
"Gaji polisi, Lang." Bayu tertawa dan duduk. Dia memesan es teh manis pada pelayan. Lalu wajahnya berubah serius. "Lo bilang di telepon ini penting. Soal Pak Haryadi?"
Gilang mengangguk. Dia membuka tasnya dan mengeluarkan map serta ponsel itu. Meletakkannya di atas meja.
Bayu membuka map. Membaca lembar demi lembar. Wajahnya tidak berubah. Namun Gilang melihat rahangnya mengeras di lembar terakhir.
"Siapa lagi yang tahu soal ini?" tanya Bayu pelan.
"Keluarga inti. Pak Harris, Pak Guna, Pak Ndaru, Bu Putri, Pak Darma. Dan istri Pak Ndaru."
"Media?"
"Tidak. Keluarga sepakat untuk tidak membawa ini ke media."
Bayu mengangguk. "Bagus. Itu keputusan yang tepat."
Dia menutup map itu dan menatap Gilang.
"Gue nggak bisa janji banyak, Lang. Kasus kecelakaan itu sudah ditutup unit lalu lintas. Untuk membukanya lagi, gue harus punya alasan yang kuat."
"Lima pesan ancaman bukan alasan yang kuat?"
"Kuat. Tapi bukan bukti pembunuhan. Bisa saja itu cuma gertakan dari pihak yang kesal. Bisa saja kecelakaan itu memang kecelakaan." Bayu menghela napas. "Tapi gue akan lacak nomor-nomor ini. Gue akan periksa ulang sopir truk itu. Gue akan cari tahu siapa saja terdakwa di kasus Benasaka yang punya kepentingan."
"Diam-diam?"
"Pemeriksaannya harus tetap resmi, tapi materi yang belum terverifikasi tidak diumbar ke media," jawab Bayu. "Gue bukan jalan pintas buat memastikan siapa pelakunya."
Bayu tidak menerima ponsel itu sebagai titipan pribadi di kafe. Ia menjelaskan langkah penerimaan resmi, lalu mengantar Gilang menemui petugas yang menangani laporan. Dengan izin Putri, bukti diserahkan di kantor, dicatat, dan tanda penerimaannya disimpan keluarga. Pemeriksaan perangkat selanjutnya diserahkan kepada petugas yang ditugaskan.
"Lang," ucap Bayu. "Gue kenal Pak Haryadi. Bukan secara pribadi. Tapi semua orang di gedung itu tahu namanya. Hakim yang nggak bisa disogok. Waktu dengar beliau meninggal, banyak yang bilang ini aneh."
"Lalu kenapa tidak ada yang menyelidiki?"
Bayu tersenyum pahit. "Karena orang yang bilang aneh biasanya cuma bilang di warung kopi. Bukan di laporan."
Gilang terdiam.
"Kasih tahu bos lo," lanjut Bayu sambil berdiri. "Gue akan kabari kalau ada perkembangan. Dan, Lang. Hati-hati. Kalau orang-orang ini berani mengancam hakim, mereka juga berani mengancam keluarganya."
***
Gilang kembali ke kantor Atmadjiwo Grup pukul empat sore. Dia langsung menuju ruangan Ndaru di lantai paling atas.
Ndaru sedang berdiri di depan jendela besar. Menatap Jakarta yang mulai berwarna jingga. Dia berbalik saat Gilang masuk.
"Bagaimana?"
Gilang melaporkan semuanya. Detail demi detail. Ndaru mendengarkan tanpa menyela. Saat Gilang menyampaikan peringatan Bayu, rahang Ndaru mengeras.
"Tambah pengawal untuk Mbak Putri dan Satria," ucapnya. "Dan untuk rumah saya juga. Juna dan Shana."
"Baik, Pak. Sudah saya siapkan."
Ndaru mengangguk. Dia kembali menatap jendela.
Gilang menunggu. Biasanya atasannya akan langsung memberinya tugas berikutnya. Namun kali ini Ndaru diam cukup lama.
"Lang," ucapnya pada akhirnya. "Kemarin di rumah Mbak Putri. Kamu lihat Shana?"
Gilang ragu sejenak. "Lihat, Pak."
"Menurut kamu, dia kenapa?"
Gilang terdiam. Dia teringat wajah Bu Shana yang pucat pasi. Tangannya yang gemetar saat meraih kusen pintu ruang kerja almarhum. Cara gadis itu berlari ke lantai atas setelah Bu Putri bercerita.
Dan dia teringat malam tahlilan empat puluh hari. Bu Shana yang terlalu lama di toilet. Matanya yang sembab saat keluar.
"Saya tidak tahu, Pak," jawab Gilang jujur. "Tapi sepertinya setiap kali nama Pak Haryadi disebut, Bu Shana tidak nyaman."
Ndaru tidak menjawab. Dia hanya menatap jendela.
"Kalau Bapak mau, saya bisa cari tahu."
"Jangan."
Jawaban itu cepat. Tegas. Gilang terkejut.
Ndaru berbalik. Menatap asistennya dengan tatapan yang sulit dibaca.
"Jangan cari tahu apa pun tentang dia, Lang. Apa pun itu, kalau dia mau saya tahu, dia akan cerita sendiri."
Gilang mengangguk perlahan. "Baik, Pak."
Saat Gilang keluar dari ruangan, dia menoleh sekali lagi. Atasannya kembali berdiri di depan jendela. Punggungnya tegak. Tangannya di saku celana.
Namun dari pantulan di kaca, Gilang bisa melihat wajahnya.
Wajah seorang pria yang takut pada sesuatu yang belum ia ketahui.