Shana masih duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga saat langkah kaki kecil terdengar mendekat.
"Tante Shana?"
Satria berdiri beberapa langkah darinya. Anak laki-laki itu memegang selembar kertas gambar. Wajahnya ragu-ragu. Seperti tidak yakin apakah dia boleh mendekat.
Shana buru-buru mengusap wajahnya. Memasang senyum. "Hai, Satria. Juna mana?"
"Lagi dipakein sepatu sama Sus Nur. Mau main di bawah." Satria melangkah mendekat. "Tante Shana sakit? Tadi Bunda bilang Tante pusing."
"Udah mendingan kok."
Satria mengangguk. Lalu dia duduk di ujung bangku. Agak jauh. Kakinya berayun-ayun karena belum sampai ke tanah. Kertas gambar itu masih di pangkuannya.
"Itu gambar apa?" tanya Shana.
Satria menatap kertasnya. Lalu menyodorkannya pada Shana dengan malu-malu.
Gambar krayon. Seorang pria tinggi berkacamata dengan baju hitam panjang. Di sampingnya, seorang anak kecil. Mereka berdiri di depan sebuah bangunan besar dengan tiang-tiang. Di atas kepala pria itu, ada tulisan dengan huruf yang sedikit miring.
AYAH. HAKIM PALING BERANI.
Shana menatap gambar itu. Tenggorokannya tercekat.
"Ini tugas sekolah," ucap Satria pelan. "Disuruh gambar pahlawan. Teman-teman gambar tentara sama dokter. Aku gambar Ayah."
"Bagus banget," bisik Shana.
"Kata Bu Guru, hakim bukan pahlawan." Satria menunduk. Kakinya berhenti berayun. "Tapi Ayah bilang, hakim itu harus berani. Soalnya kalau hakim takut, orang yang nggak salah bisa masuk penjara. Terus orang yang salah malah bebas."
Shana tidak bisa menjawab.
"Ayah juga bilang," lanjut Satria, "hakim juga bisa salah. Makanya harus hati-hati banget. Harus dengerin semua orang." Dia mendongak menatap Shana. "Tante Shana kan penulis. Menurut Tante, Ayah pahlawan nggak?"
Pertanyaan itu sederhana. Diajukan oleh anak sepuluh tahun dengan mata yang jernih. Mata yang mirip sekali dengan mata pria di foto bertoga di ruang kerja tadi.
Shana menatap gambar krayon itu lama. Pria tinggi berbaju hitam panjang. Hakim paling berani.
Enam belas tahun dia membenci pria itu. Enam belas tahun dia membayangkannya sebagai monster bertoga yang pergi tanpa menoleh.
Namun bagi anak di sampingnya ini, pria itu adalah ayah yang mengajarinya bahwa hakim harus berani dan harus mendengarkan.
"Tante nggak kenal Ayah kamu," jawab Shana akhirnya. Pelan dan jujur. "Tapi Tante rasa, orang yang ngajarin anaknya kalau hakim bisa salah dan harus hati-hati... itu orang yang berani."
Satria tersenyum. Lebar. Gigi depannya ompong satu.
"Nanti aku bilang ke Bu Guru."
Dia mengambil kembali gambarnya dan berlari masuk ke rumah. Meninggalkan Shana sendirian di bawah pohon mangga.
Shana menatap punggung anak itu sampai menghilang di balik pintu.
Lalu dia menunduk dan menatap tangannya sendiri yang gemetar.
***
Harris tiba tiga puluh menit kemudian. Pria tua itu berjalan dengan tongkatnya, didampingi Iqbal. Di belakangnya, Darma juga datang. Wajah pria itu terlihat serius. Tidak ada senyum ramah seperti biasanya.
Shana sudah kembali ke ruang tamu. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi dia sudah lebih tenang. Dia duduk di samping Ndaru di sofa. Tangannya terlipat di pangkuan.
Ndaru meliriknya beberapa kali. Shana tidak membalas tatapannya.
"Papa," sapa Putri sambil mencium tangan ayah mertuanya. "Terima kasih sudah datang."
"Ada apa, Put? Iqbal bilang kamu ingin bicara penting."
Putri tidak langsung menjawab. Dia menatap ayahnya sendiri, Darma, yang berdiri di dekat pintu. Darma mengangguk pelan. Seperti memberi izin.
"Duduk dulu, Pa," ucap Putri.
Semua orang duduk. Harris di kursi berlengan di kepala ruangan. Darma di sampingnya. Ndaru dan Shana di sofa panjang. Putri di kursi tunggal yang berhadapan dengan semua orang. Iqbal dan Gilang berdiri di dekat pintu.
Suara tawa Juna dan Satria terdengar samar dari lantai atas. Kontras dengan ketegangan di ruang tamu.
Putri menatap foto suaminya di dinding. Lama. Lalu dia menarik napas dalam.
"Aku sudah lama ingin bicara soal ini," ucapnya pelan. "Tapi aku takut. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku tidak tahu siapa yang bisa aku percaya."
Harris mengerutkan dahinya. "Soal apa, Put?"
Putri menunduk. Tangannya meremas ujung gamisnya. Darma menatap putrinya dengan tatapan khawatir.
"Papa tahu," lanjut Putri sambil melirik Darma. "Aku cerita ke Papa malam setelah tujuh harinya Mas Arya. Papa bilang aku harus menunggu sampai aku siap. Sampai aku yakin."
Darma mengangguk. "Dan sekarang kamu sudah siap, Nak?"
Putri mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi tatapannya tegas.
"Sudah, Pa." Dia menatap Harris. Lalu Ndaru. "Aku sudah memperhatikan keluarga ini selama dua bulan terakhir. Aku melihat Ndaru menghadapi RUPS tanpa takut. Aku melihat Ndaru membela Shana di depan kamera. Aku melihat Papa mulai tersenyum lagi." Suaranya bergetar. "Aku sadar, aku tidak bisa menyimpan ini sendirian lagi. Aku butuh keluarga ini."
"Put," Harris mencondongkan tubuhnya. "Ada apa?"
Putri menelan ludahnya. Lalu dia berbicara. Pelan, tetapi jelas.
"Kecelakaan Mas Arya bukan kecelakaan biasa."
Hening.
Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas.
Shana merasakan darah di wajahnya mengering. Tangannya yang terlipat di pangkuan mencengkeram satu sama lain.
Ndaru membeku di sampingnya. Wajahnya yang biasanya tenang kini memucat.
"Apa maksud kamu, Put?" tanya Harris. Suaranya pelan. Terlalu pelan. Seperti seseorang yang takut mendengar jawabannya.
Putri menatap mertuanya. Air mata mulai mengalir di pipinya. Namun dia tidak berhenti.
"Ada seseorang yang sengaja melakukannya, Pa."
* * *
Kebenaran tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang ia datang dengan bisikan pelan. Dari bibir seseorang yang terlalu lama menyimpan luka. Sampai tak sanggup lagi menahan beban yang ada.
"Siapa?" Harris mencengkeram kepala tongkatnya. Buku-buku jarinya memutih. "Siapa yang melakukannya, Put?"
Putri menggeleng. "Aku tidak tahu, Pa. Itu yang membuatku takut selama ini."
Dia berdiri dan berjalan ke sebuah lemari kecil di sudut ruang tamu. Membuka laci paling bawah dan mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain putih. Saat ia membukanya, semua orang melihat sebuah ponsel hitam dengan layar retak di sudut kanan atas.
"Ponsel Mas Arya," ucapnya pelan. "Polisi mengembalikannya bersama barang-barang lain dari mobil. Aku tidak berani membukanya selama berminggu-minggu. Sampai suatu malam, Satria bertanya apakah dia boleh melihat foto-foto ayahnya."
Putri duduk kembali. Tangannya gemetar saat ia menyalakan ponsel itu dan memasukkan kata sandi.
"Aku menemukan ini."
Dia menyerahkan ponsel itu pada Harris. Harris memakai kacamata bacanya. Ndaru mencondongkan tubuhnya dan ikut membaca dari samping.
Sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenal. Dikirim tiga hari sebelum kecelakaan.
Hentikan kasus Benasaka. Ini peringatan terakhir. Anda punya istri dan anak. Pikirkan mereka.
Di bawahnya, ada balasan dari Haryadi. Hanya satu kalimat.
Saya hakim. Saya tidak bisa dibeli dan tidak bisa ditakut-takuti.
Harris meletakkan ponsel itu di pangkuannya. Wajahnya yang keriput kini terlihat sangat tua. Lebih tua dari yang pernah Shana lihat.
"Peringatan terakhir," ulang Ndaru. Suaranya datar. Terlalu datar. "Berarti ada peringatan sebelumnya."
Putri mengangguk. "Ada empat pesan lain dari nomor berbeda. Selama dua bulan. Semuanya meminta hal yang sama." Dia menghapus air matanya. "Mas Arya tidak pernah cerita padaku. Tidak pernah sekali pun."
"Kenapa dia diam?" tanya Darma. Suaranya serak.
"Karena dia tahu aku akan memintanya berhenti." Putri tersenyum pahit. "Dan dia tidak mau berhenti."
***
Putri bercerita.
Malam sebelum Haryadi berangkat, dia menemukan suaminya duduk sendirian di ruang kerja pukul satu dini hari. Lampu meja menyala. Berkas-berkas Benasaka bertumpuk di depannya. Tumpukan setinggi lutut.
"Belum tidur, Mas?" tanya Putri malam itu.
Haryadi tersenyum padanya. Senyum yang lelah. "Sebentar lagi, Put. Tinggal sedikit."
"Kasus itu bikin Mas capek."
"Kasus ini penting." Haryadi memijat pelipisnya. "Ada banyak orang yang dirugikan, Put. Uang pembangunan jalan yang seharusnya untuk desa-desa kecil malah masuk kantong pejabat. Anak-anak yang harus jalan kaki dua jam ke sekolah karena jalannya tidak pernah jadi."
"Mas bisa serahkan ke hakim lain."
Haryadi menggeleng. Lalu dia berbicara dengan suara yang sangat pelan. Begitu pelan sampai Putri hampir tidak mendengarnya.
"Dulu, waktu aku masih muda, aku pernah salah, Put. Aku terlalu percaya pada berkas di atas meja. Aku terlalu cepat mengetuk palu." Dia menatap tumpukan berkas di depannya. "Aku tidak mau mengulanginya. Kali ini aku mau memastikan semuanya benar. Setelah kasus ini selesai, aku berhenti. Aku janji."
Putri tidak mengerti apa yang dimaksud suaminya malam itu. Dia hanya memeluknya dan memintanya tidur.
Keesokan harinya, Haryadi berangkat ke bandara. Ke Surabaya. Menemui adiknya.
Dia tidak pernah sampai.
***
Ruang tamu itu hening setelah Putri selesai bercerita.
Harris menatap foto putra keduanya di dinding. Matanya basah. Guna tidak ada di sana, tetapi Shana bisa membayangkan apa yang akan ia katakan. Darma memeluk putrinya yang kini menangis tanpa suara.
Dan Ndaru duduk membeku. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di atas lutut.
Shana duduk di sampingnya. Dia tidak bergerak. Tidak bernapas.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya.
Dulu, waktu aku masih muda, aku pernah salah.
Aku terlalu cepat mengetuk palu.
Shana merasakan dadanya sesak. Seperti ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya. Dia menatap foto Haryadi di dinding. Pria bertoga hitam dengan wajah tegas dan mata tajam.
Pria yang ia benci selama belasan tahun.
Pria yang menolak dibeli. Yang menolak ditakut-takuti. Yang memilih mempertaruhkan nyawanya demi anak-anak yang harus berjalan kaki dua jam ke sekolah.
Pria yang mengakui bahwa dia pernah salah.
Apakah itu tentang Ayah? Atau tentang orang lain? Berapa banyak orang yang pernah salah ia vonis?
Shana tidak tahu. Dia tidak akan pernah tahu. Orang yang bisa menjawabnya sudah terbaring di bawah tanah.
Dan dia merayakan kematiannya.
"Saya permisi sebentar," ucap Shana tiba-tiba. Suaranya terdengar aneh di telinganya sendiri. "Saya cek Juna dulu."
Ndaru menoleh. Dia menatap istrinya yang sudah berdiri dan berjalan cepat menuju tangga. Wajahnya putih seperti kertas.
Ndaru ingin menyusulnya. Namun Harris memanggil namanya.
"Ru."
Ndaru menoleh pada ayahnya.
"Panggil Guna," ucap Harris. Suaranya parau, tetapi tegas. "Besok pagi. Di rumah. Kita harus bicara."
Ndaru mengangguk. Lalu dia kembali menoleh ke arah tangga.
Shana sudah menghilang.
***
Di lantai atas, Shana tidak masuk ke ruang bermain. Dia berdiri di lorong. Bersandar pada dinding dengan mata terpejam.
Dari balik pintu yang setengah terbuka, dia mendengar suara Juna tertawa. Suara Satria yang menjelaskan cara memasang kaki dinosaurus lego. Suara Suster Nur yang meminta mereka hati-hati.
Satria. Anak yang kehilangan ayahnya karena ayahnya menolak berhenti melakukan hal yang benar.
Shana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bahunya bergetar.
Dia menangis tanpa suara. Di lorong rumah pria yang ia benci. Untuk pertama kalinya, dia menangis bukan untuk ayahnya.
Dia tidak tahu untuk siapa dia menangis.