Gilang baru menyelesaikan pencocokan keterangannya beberapa pekan setelah Ndaru memintanya.
"Pak Darma mendapatkan informasi soal ayah Bu Shana dari Bu Putri," lapornya pada suatu pagi di ruang kerja Ndaru.
Ndaru mengangkat wajahnya dari laptop. "Mbak Putri?"
"Betul, Pak. Tapi tidak ada maksud buruk. Setelah makan malam pertama dengan keluarga Bu Shana, Bu Putri bercerita pada ayahnya tentang acara itu. Termasuk soal ucapan Pak Harris. Bu Putri tidak tahu Pak Darma akan menggunakannya untuk menekan Bapak di RUPS."
Ndaru menghela napas. Dia bersandar di kursinya. "Mbak Putri tahu soal ini?"
"Saya tidak yakin, Pak. Tapi sepertinya Bu Putri sedang memikirkan hal lain akhir-akhir ini."
"Maksud kamu?"
Gilang terlihat ragu. "Bu Putri menelepon saya kemarin, Pak. Beliau bertanya kapan Bapak dan Bu Shana punya waktu luang. Beliau ingin mengundang Bapak dan Bu Shana ke rumah almarhum Pak Arya. Pak Harris juga diundang."
"Untuk apa?"
"Beliau tidak bilang, Pak. Hanya bilang ada yang ingin dibicarakan."
Ndaru terdiam. Dia teringat malam di rumah Arya saat tahlilan empat puluh hari. Putri yang terlihat lebih kurus dari biasanya. Putri yang beberapa kali menatap foto suaminya di dinding dengan tatapan kosong.
"Kapan?"
"Sabtu siang, Pak. Kalau Bapak dan Bu Shana bisa."
"Atur."
***
Malam itu, Ndaru memberitahu Shana di ruang tengah. Pukul dua dini hari, seperti biasa.
"Mbak Putri mengundang kita ke rumahnya. Sabtu siang."
Jari-jari Shana yang sedang mengetik langsung berhenti. Dia mengangkat wajahnya dari laptop. "Rumah Mbak Putri?"
"Rumah Mas Arya."
Shana terdiam. Sesuatu berubah di wajahnya. Seperti awan yang tiba-tiba menutupi matahari. Ndaru melihatnya. Persis seperti di tahlilan empat puluh hari.
"Untuk apa, Pak?"
"Saya tidak tahu. Mbak Putri bilang ada yang ingin dibicarakan. Papa juga diundang."
Shana menunduk menatap laptopnya. Jarinya tidak bergerak. Kursor berkedip-kedip di akhir kalimat yang tidak selesai.
"Kamu tidak mau ikut?" tanya Ndaru pelan.
"Bukan nggak mau, Pak." Shana menggeleng cepat. "Saya ikut."
"Kalau kamu tidak nyaman—"
"Saya ikut, Pak."
Ndaru menatapnya. Shana tidak membalas tatapannya. Gadis itu kembali menatap layar laptop dan mulai mengetik lagi. Namun Ndaru bisa melihat bahwa yang ia ketik hanyalah huruf-huruf acak yang kemudian ia hapus.
Ada sesuatu. Ndaru tahu ada sesuatu. Setiap kali nama Arya disebut, setiap kali mereka membicarakan rumah itu, Shana berubah. Wajahnya memucat. Tangannya mendingin. Dia menarik diri.
Ndaru ingin bertanya. Ingin tahu apa yang membuat istrinya ketakutan seperti itu.
Namun dia tidak bertanya. Karena dia takut jawabannya.
Dan karena dia ingin Shana yang memutuskan kapan dia siap bercerita.
***
Sabtu pagi, Shana baru terbangun pukul empat. Sedikit lebih lama daripada kebiasaannya terjaga pukul dua, tetapi ia tetap belum merasa cukup beristirahat. Dia tidak bisa tidur lagi setelah itu.
Dia duduk di meja kerjanya dan menatap bingkai foto ayahnya. Pria berkumis tipis yang menggendong gadis kecil berkepang dua.
"Yah," bisiknya. "Hari ini Shana ke rumah dia."
Tidak ada jawaban.
"Shana nggak tahu harus gimana."
Shana memeluk lututnya di atas kursi. Dia teringat ruang sidang itu. Belasan tahun yang lalu. Dia masih berusia sepuluh tahun. Duduk di bangku kayu panjang di barisan belakang, di samping Ibu dan Erina. Ibu menggenggam tangannya terlalu erat sampai sakit.
Di depan ruangan, di kursi tinggi, duduk seorang pria muda dengan toga hitam. Wajahnya tegas. Matanya tajam. Suaranya menggema saat dia membacakan putusan.
Dua belas tahun penjara.
Shana ingat Ibu menjerit. Erina menangis. Ayah berbalik dan menatap mereka dari kursi terdakwa. Tersenyum. Senyum yang sangat lembut. Senyum yang berkata, "Nggak apa-apa. Ayah nggak apa-apa."
Dan pria bertoga hitam itu bangkit dan pergi tanpa menoleh.
Haryadi Djanu Atmadjiwo. Hakim muda yang menurut berita saat itu adalah bintang yang sedang naik daun.
Shana menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir di pipinya. Dia tidak sadar dia menangis.
Suara ketukan pintu membuatnya terlonjak.
"Shana?" Suara Ndaru dari luar. "Kamu sudah bangun?"
Shana buru-buru mengusap wajahnya dengan lengan piyama. "Udah, Pak."
"Juna minta sarapan sama kamu."
"Iya, Pak. Sebentar."
Hening. Lalu suara Ndaru lagi. Lebih pelan.
"Kamu baik-baik saja?"
Shana menatap pintu yang tertutup itu. Dia ingin membukanya. Ingin bercerita. Ingin menceritakan semuanya pada pria di balik pintu itu.
Namun bagaimana dia bisa menceritakan bahwa dia membenci kakak dari pria yang ia cintai? Bahwa dia merayakan kematian orang yang membuat suaminya merasa bersalah setiap hari?
"Baik, Pak," jawabnya. "Saya turun sebentar lagi."
Hening lagi. Lalu suara langkah kaki yang menjauh.
Shana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Lalu dia berdiri, mencuci muka, dan memasang senyumnya.
Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun.
* * *
Kediaman Haryadi terlihat berbeda di siang hari. Tanpa tenda putih. Tanpa kursi-kursi plastik yang berjajar. Tanpa lantunan doa. Hanya sebuah rumah besar bergaya klasik dengan taman yang mulai tidak terawat.
Shana turun dari mobil dengan langkah kaku. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru tua dan cardigan rajut abu-abu. Rambutnya digerai. Kacamatanya bertengger di hidung.
Ndaru turun dari sisi lain sambil menggendong Juna. Dia melirik Shana. Gadis itu menarik napas dalam berkali-kali. Persis seperti di bandara malam itu.
"Kita bisa pulang kapan saja," bisik Ndaru saat mereka berjalan menuju pintu.
Shana menoleh. Dia menatap Ndaru dengan mata yang sedikit melebar. Lalu tersenyum kecil. "Makasih, Pak."
Putri membuka pintu sebelum mereka sempat mengetuk. Wanita itu mengenakan gamis berwarna krem. Wajahnya lebih kurus dari terakhir kali Shana melihatnya. Namun senyumnya tetap hangat.
"Ndaru. Shana. Terima kasih sudah datang."
"Mbak." Ndaru mencium tangan kakak iparnya.
Shana ikut mencium tangan Putri. Tangannya dingin. Dia berharap Putri tidak menyadarinya.
"Juna!" Satria muncul dari balik punggung ibunya. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun itu langsung menghampiri Juna yang masih digendong ayahnya. "Mau main sama Mas Satria? Aku punya lego dinosaurus!"
Juna langsung menggeliat ingin turun. "Dinosaurus!"
Ndaru menurunkan anaknya. Satria menggandeng tangan Juna dan membawanya ke ruang bermain di lantai atas. Suster Nur yang ikut bersama mereka menyusul di belakang.
"Papa belum datang," ucap Putri. "Mungkin setengah jam lagi. Mau minum dulu?"
Mereka duduk di ruang tamu. Pelayan rumah membawakan teh dan kue-kue kecil. Ruang tamu itu luas dan elegan. Perabotan kayu jati berukir. Lukisan-lukisan pemandangan di dinding.
Dan di dinding utama, foto Haryadi. Foto besar yang sama seperti saat tahlilan empat puluh hari. Dengan toga hakim. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
Shana duduk di sofa dengan punggung tegak. Dia berusaha untuk tidak menatap foto itu. Namun matanya terus tertarik ke sana. Seperti magnet.
"Shana," panggil Putri. "Kamu baik-baik saja? Kamu pucat."
Shana tersentak. "Baik, Mbak. Cuma kurang tidur."
"Masih banyak pekerjaan?" tanya Putri. "Kalau perlu istirahat dulu, bilang, ya."
Shana tertawa kecil. Tawa yang terdengar sedikit dipaksakan. "Iya, Mbak. Terima kasih."
"Mas Arya juga punya kebiasaan aneh," ucap Putri sambil menatap foto suaminya. Matanya melembut. "Dia selalu membaca berkas kasus di kamar mandi. Katanya, di sana paling tenang. Tidak ada yang mengganggu."
Shana tidak menjawab. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia juga suka sekali kerupuk. Kerupuk udang yang besar-besar itu. Setiap makan harus ada kerupuk. Kalau tidak ada, dia tidak mau makan." Putri tertawa pelan. "Satria juga sama. Persis ayahnya."
Shana menatap Putri yang bercerita tentang suaminya dengan mata berbinar. Seperti seorang wanita yang masih jatuh cinta. Yang masih merindukan.
Dan Shana merasakan sesuatu yang tajam menusuk dadanya.
Pria yang Putri ceritakan tidak sama dengan pria yang Shana kenal. Pria yang Putri ceritakan suka kerupuk udang dan membaca berkas di kamar mandi. Pria yang Putri ceritakan adalah suami dan ayah yang dicintai.
Pria yang Shana kenal hanya duduk di kursi tinggi dan membacakan putusan yang menghancurkan keluarganya.
Apakah mereka orang yang sama?
"Mau lihat ruang kerjanya?" tanya Putri tiba-tiba.
Shana tersentak. "Ruang kerja?"
"Ruang kerja Mas Arya. Aku belum bisa membereskannya. Semua masih seperti waktu dia pergi." Putri berdiri. "Ndaru, kamu juga. Ada beberapa barang Mas Arya yang mungkin ingin kamu simpan."
Ndaru berdiri. Dia menatap Shana. Menunggu.
Shana ingin menolak. Ingin berkata dia akan menunggu di sini. Namun kakinya bergerak sendiri. Berdiri. Mengikuti Putri.
Ruang kerja Haryadi berada di lantai satu, di ujung lorong. Putri membuka pintunya dan menyalakan lampu.
Ruangan itu dipenuhi buku. Rak-rak tinggi dari lantai sampai langit-langit, penuh dengan buku-buku hukum yang tebal. Meja kerja besar di tengah ruangan, dengan tumpukan berkas yang masih tertata. Kursi kulit yang sedikit usang di bagian sandaran.
Dan di dinding, puluhan bingkai foto. Haryadi muda dengan toga wisuda. Haryadi dengan Putri di hari pernikahan mereka. Haryadi menggendong Satria yang masih bayi. Haryadi bersama Harris, Guna, dan Ndaru muda di sebuah acara keluarga.
Dan satu foto di sudut. Foto Haryadi muda dengan toga hakim. Berdiri di depan gedung pengadilan negeri. Tersenyum. Wajahnya masih sangat muda. Mungkin baru tiga puluhan.
Shana mengenali gedung itu.
Dia mengenali wajah itu.
Kakinya mendadak lemas. Dia meraih kusen pintu untuk menopang tubuhnya.
"Shana?" Ndaru langsung berbalik. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa, Pak." Shana memaksakan senyumnya. "Pusing sedikit."
"Kamu mau duduk?" Putri menatapnya khawatir.
"Nggak, Mbak. Saya keluar sebentar. Cari udara."
Shana berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan itu. Dia tidak menoleh. Dia tidak bisa menoleh.
Di belakangnya, Ndaru menatap punggung istrinya yang menghilang di ujung lorong. Lalu dia menoleh pada dinding penuh foto. Matanya menyapu satu per satu. Mencari sesuatu yang mungkin membuat Shana bereaksi seperti itu.
Namun dia tidak menemukan apa-apa. Hanya foto-foto kakaknya.
"Ru?" panggil Putri pelan. "Shana kenapa?"
"Saya tidak tahu, Mbak," jawab Ndaru jujur.
Putri menatap adik iparnya. Lalu dia tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan banyak hal.
"Mungkin dia hanya tidak suka rumah duka," ucapnya. "Banyak orang begitu."
Ndaru mengangguk pelan. Namun dia tidak yakin.
***
Di taman belakang, Shana duduk di bangku kayu di bawah pohon mangga. Napasnya terengah. Tangannya gemetar.
Dia menatap rumah besar itu dari kejauhan. Rumah orang yang ia benci. Rumah yang penuh dengan foto-foto bahagia. Rumah tempat seorang istri masih merindukan suaminya.
"Kenapa harus dia, Yah?" bisiknya. "Kenapa dari semua orang, harus adiknya?"
Angin bertiup pelan. Daun-daun mangga bergemerisik.
Tidak ada jawaban.