Waktu berjalan tanpa terasa. Hari demi hari berlalu begitu saja. Dinding yang dulu dingin kini mulai bernyawa. Tawa kecil memenuhi setiap sudutnya.
Satu bulan berlalu sejak kejadian di depan kafe.
Dito Alamsyah menghilang dari pemberitaan. Kabar terakhir menyebutkan dia pergi ke Bali untuk "menenangkan diri". Rumah produksi resmi mencabut namanya dari proyek film kedua. Tidak ada yang tahu siapa yang akan menggantikannya. Shana sendiri belum memutuskan apa-apa.
Pengawal bertopi baseball masih setia duduk di meja sudut kafe setiap hari. Mereka sudah menjadi pelanggan tetap. Bagas bahkan sudah hafal pesanan mereka. Kopi susu gula aren, pisang goreng, dan sesekali roti bakar keju kalau sedang lapar. Ayu memberi mereka nama julukan. Si Lemari Satu dan Si Lemari Dua.
Rumah berpagar tinggi itu juga berubah.
Perubahan itu tidak datang dalam satu malam. Datang perlahan. Seperti air yang menetes sedikit demi sedikit sampai akhirnya mengisi gelas.
Sarapan pagi tidak lagi hening. Juna selalu punya cerita. Tentang mimpinya semalam, tentang dinosaurus yang ia lihat di buku, tentang semut yang berbaris di halaman belakang. Shana selalu menanggapinya dengan antusias. Dan Ndaru, yang dulu selalu membaca iPad saat sarapan, sekarang lebih sering mendengarkan.
Kadang dia tersenyum. Kadang dia tertawa kecil. Kadang, saat Juna atau Shana mengatakan sesuatu yang konyol, dia menunduk ke cangkir kopinya dengan bahu berguncang.
Suster Nur sudah berhenti pura-pura tidak melihat.
Ndaru juga pulang lebih cepat. Tidak setiap hari, tetapi sering. Dua atau tiga kali seminggu, dia sudah di rumah sebelum makan malam. Dia makan bersama Juna dan Shana di meja makan yang dulu terlalu besar. Meja itu tidak terasa terlalu besar lagi.
Dan malam-malam di ruang tengah menjadi kebiasaan.
Pukul dua dini hari, Shana turun dengan laptopnya. Tidak lama kemudian, Ndaru menyusul dengan iPad dan berkas-berkasnya. Mereka duduk di tempat masing-masing. Shana di sofa panjang, Ndaru di sofa tunggal. Lampu baca yang Gilang belikan menyala hangat di antara mereka.
Mereka tidak banyak bicara. Kadang Shana membacakan potongan kalimat dari novelnya dan meminta pendapat Ndaru. Kadang Ndaru bertanya pendapat Shana tentang sebuah strategi bisnis. Kadang mereka hanya diam, bekerja dalam keheningan yang nyaman.
Shana tidak tahu kapan itu dimulai. Dia hanya tahu bahwa sekarang dia tidak bisa menulis dengan nyaman jika Ndaru tidak duduk di sofa tunggal itu.
***
"Tante Cana bobokin Juna."
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, Juna menolak tidur jika bukan Shana yang menidurkannya. Anak itu berdiri di depan pintu kamarnya dengan piyama dinosaurus dan boneka hijau di pelukan. Matanya menatap Shana penuh harap.
"Papa yang bobokin, ya?" tawar Ndaru yang berdiri di samping Shana.
Juna menggeleng tegas. "Tante Cana."
"Papa bisa cerita Holly juga."
Juna menatap ayahnya dengan curiga. "Papa bisa bersin api?"
Ndaru terdiam. Shana menahan tawa.
"Papa bisa belajar," ucap Ndaru.
"Tante Cana aja."
Ndaru menghela napas. Dia menatap Shana dengan tatapan yang hampir terlihat merajuk. Shana tidak pernah melihat ekspresi itu di wajah Handaru Atmadjiwo sebelumnya.
"Gimana kalau Papa ikut dengerin?" tawar Shana. "Mas Juna boleh pilih. Papa dengerin, atau Papa keluar."
Juna menimbang-nimbang. Lalu mengangguk. "Papa dengerin. Diem."
Mereka masuk ke kamar Juna. Shana duduk di tepi ranjang kecil itu. Juna berbaring dengan boneka dinosaurusnya. Ndaru duduk di kursi goyang di sudut kamar. Kursi yang sama tempat Shana tertidur memeluk Juna sebulan yang lalu.
Shana mulai bercerita. Malam ini tentang Holly yang belajar terbang lebih tinggi dari awan. Tentang Yono yang mengajarinya. Tentang Juna yang menunggu di bawah dengan perasaan cemas.
"Terus Holly jatuh?" tanya Juna.
"Holly hampir jatuh. Tapi tahu nggak siapa yang nangkep?"
"Siapa?"
"Yono. Karena teman yang baik nggak akan biarin temannya jatuh."
Juna tersenyum puas. Matanya mulai sayu.
Shana melanjutkan ceritanya dengan suara yang semakin pelan. Sampai napas Juna teratur. Sampai tangan kecilnya yang memeluk boneka dinosaurus mulai melonggar.
Shana menarik selimut sampai ke dada Juna. Lalu dia berdiri pelan.
Saat dia berbalik, dia melihat Ndaru. Pria itu masih duduk di kursi goyang. Matanya menatap Shana dengan tatapan yang membuat lutut Shana sedikit lemas.
"Apa?" bisik Shana.
Ndaru menggeleng pelan. "Tidak apa-apa."
Mereka keluar dari kamar Juna dan menutup pintu pelan-pelan. Berdiri di lorong yang temaram.
"Bapak tadi mau belajar bersin api?" tanya Shana dengan senyum jahil.
"Tidak."
"Tadi Bapak bilang bisa belajar."
"Itu taktik negosiasi."
Shana tertawa pelan. Dia menutup mulutnya agar tidak membangunkan Juna.
"Shana," panggil Ndaru.
"Hm?"
"Novel kamu yang pertama. Yang dijadikan film." Ndaru terdiam sebentar. "Nama naganya Arkana, kan?"
Shana membeku. Dia menatap Ndaru dengan mata membulat.
"Bapak... baca?"
Ndaru tidak menjawab. Namun telinganya memerah.
"Bapak bilang Bapak nggak pernah baca novel!"
"Saya tidak pernah," jawab Ndaru. "Sebelumnya."
Shana menatap pria itu. Pria yang dulu menatapnya seperti laporan keuangan. Pria yang dulu tidak peduli apa yang ia lakukan. Pria yang dulu berkata "jangan terlalu dekat dengan anak saya".
Pria itu membaca novelnya.
"Sampai bab berapa?" tanya Shana pelan.
"Bab dua puluh tiga."
"Arkana belum keluar dari gua."
"Saya tahu." Ndaru menatapnya. "Kapan dia keluar?"
Shana tersenyum. Lebar. Dia tidak bisa menahannya.
"Baca aja, Pak. Nanti juga tahu."
* * *
Makan malam keluarga di rumah Harris kini menjadi agenda rutin. Setiap Jumat malam. Ndaru, Shana, dan Juna. Guna, Yanti, dan Mala. Putri dan Satria. Kadang Darma juga datang.
Shana sudah tidak lagi gugup seperti pertama kali. Dia sudah hafal di mana dia harus duduk. Di samping Ndaru, di sisi kiri Harris. Dia sudah hafal kebiasaan setiap orang. Guna yang selalu membicarakan politik. Yanti yang selalu bertanya tentang resep. Mala yang selalu menempel padanya dan bertanya tentang novel barunya. Putri yang lebih banyak diam, tetapi selalu tersenyum.
Dan Harris. Pria tua yang masih dingin padanya. Namun tidak lagi sedingin dulu.
Malam ini, Shana membawa sesuatu. Sebuah kotak kue yang ia bungkus dengan kain batik.
"Apa itu?" tanya Ndaru saat mereka turun dari mobil.
"Kue lemon."
Ndaru mengangkat alisnya. "Kamu bikin?"
"Mbak Erina yang ajarin. Saya bikin tiga kali. Dua gagal."
Ndaru menatapnya. "Kenapa kue lemon?"
"Juna bilang Opa suka kue lemon. Waktu di tempat berkuda, Opa nyuapin Juna kue lemon."
Ndaru terdiam. Dia menatap istrinya lama. Shana pura-pura sibuk merapikan kain batik pembungkus kue.
"Kamu tidak perlu melakukan itu," ucap Ndaru pelan.
"Saya tahu, Pak." Shana tersenyum. "Tapi saya mau."
***
Makan malam berjalan seperti biasa. Guna membicarakan survei elektabilitas terbaru. Angkanya naik lagi. Rahmat sudah benar-benar mengubah gaya media sosialnya. Sekarang captionnya santai dan sering diselipi humor. Engagement naik tiga kali lipat.
"Gara-gara kamu," ucap Guna sambil menunjuk Shana dengan garpunya. "Sekarang Rahmat nggak berhenti nanya pendapatmu."
"Saya cuma kasih saran, Mas."
"Saran yang bagus." Guna tersenyum. Senyum yang tulus. "Terima kasih, Shana."
Shana tersenyum balik. Dia tidak menyangka Guna akan berterima kasih padanya. Pria itu dulu menatapnya seperti noda di jas mahalnya.
Setelah makan malam selesai, pelayan membawakan hidangan penutup. Shana berdiri dan mengambil kotak kue yang tadi ia titipkan di dapur.
"Pa," ucapnya sambil meletakkan kotak itu di depan Harris. "Ini untuk Papa."
Semua orang di meja makan terdiam. Harris menatap kotak itu. Lalu menatap Shana.
"Apa ini?"
"Kue lemon, Pa."
Harris membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya, ada kue lemon bundar dengan taburan gula halus di atasnya. Tidak sempurna. Bagian pinggirnya sedikit gosong. Namun aromanya harum.
"Kamu yang buat?"
"Iya, Pa. Diajarin Mbak Erina."
Harris menatap kue itu lama. Wajahnya tidak terbaca. Semua orang menahan napas.
"Opa! Kue!" seru Juna dari kursi tingginya. "Tante Cana bikin! Juna bantu!"
"Mas Juna bantu?" Harris menoleh pada cucunya.
"Juna aduk!" Juna mengangkat tangannya dan membuat gerakan mengaduk dengan semangat. "Muter-muter!"
Harris menatap cucunya. Lalu, perlahan, wajah tuanya melunak. Sudut bibirnya terangkat.
"Iqbal," panggilnya. "Ambilkan pisau."
Iqbal mengambilkan pisau kue. Harris memotong kue itu sendiri. Potongan pertama untuk Juna. Potongan kedua untuk dirinya sendiri.
Dia menggigitnya. Mengunyah perlahan. Semua orang menatapnya.
"Terlalu asam," ucap Harris.
Shana menunduk. Dia sudah menduga.
"Tapi enak."
Shana mengangkat wajahnya. Harris menatapnya. Ada sesuatu di mata pria tua itu. Bukan kehangatan yang meluap-luap. Namun juga bukan dingin seperti dulu.
"Lain kali gulanya ditambah sedikit," lanjut Harris sambil memotong potongan ketiga. "Mama Ndaru dulu selalu bikin yang lebih manis."
Hening.
Ndaru menatap ayahnya. Guna dan Yanti saling berpandangan. Mala menutup mulutnya dengan tangan.
Harris tidak pernah membicarakan istrinya yang sudah meninggal. Tidak pernah. Sejak Yuningsih pergi bertahun-tahun lalu, namanya seolah menjadi kata terlarang di rumah ini.
Namun malam ini, karena sepotong kue lemon yang sedikit gosong, Harris menyebutnya.
"Iya, Pa," jawab Shana pelan. "Lain kali saya tambah gulanya."
Harris mengangguk. Lalu dia kembali menyuapi Juna dengan kue lemon. Tidak berkata apa-apa lagi.
Namun saat Shana kembali duduk di kursinya, dia merasakan tangan Ndaru di bawah meja. Tidak menggenggam tangannya. Hanya menyentuh punggung tangannya dengan ujung jari. Sebentar. Sangat sebentar.
Shana menoleh. Ndaru menatap lurus ke depan, ke arah ayahnya yang sedang menyuapi Juna.
Namun matanya berkaca-kaca.
***
Setelah makan malam, saat semua orang berkumpul di ruang keluarga, Harris memanggil Shana ke teras belakang. Hanya mereka berdua.
Shana mengikutinya dengan jantung berdebar. Teras belakang rumah Harris menghadap taman luas dengan kolam ikan koi di tengahnya. Lampu-lampu taman menyala temaram.
Harris duduk di kursi rotan dengan tongkat di sampingnya. Dia menunjuk kursi lain di sebelahnya. Shana duduk.
Hening sebentar. Hanya suara gemericik air kolam.
"Kamu pakai nama kuda saya di cerita untuk Juna," ucap Harris tiba-tiba.
Shana tersentak. "Yono? Maaf, Pa. Saya nggak bermaksud—"
"Juna cerita ke saya. Yono kuda terbang yang sombong tapi baik hati." Harris menatap kolam ikan. "Yono memang sombong. Dia tidak mau ditunggangi orang lain selain saya."
Shana tidak tahu harus menjawab apa.
"Dia sudah tua sekarang. Seperti saya." Harris terdiam sebentar. "Terima kasih sudah membuatnya terbang. Meski hanya di cerita."
Shana menatap pria tua itu. Matanya mulai panas.
"Ndaru berubah," lanjut Harris. Masih menatap kolam. "Saya ayahnya. Saya bisa melihatnya. Dia tertawa lagi. Dia pulang lebih cepat. Dia bicara lebih banyak."
"Pa—"
"Saya tidak tahu apa yang terjadi di antara kalian. Saya tahu pernikahan ini dimulai dengan kontrak." Harris menoleh menatap Shana. Tatapannya tajam, tetapi tidak dingin. "Tapi saya bukan orang bodoh. Saya bisa melihat cara anak saya menatap kamu."
Shana tidak bisa bernapas.
"Saya tidak meminta apa-apa," ucap Harris pada akhirnya. "Saya hanya ingin bilang. Kamu boleh panggil saya Papa. Tidak hanya di depan orang lain."
Shana menatap Harris. Pria tua yang dulu menyebut ayahnya mantan narapidana di depan semua orang. Pria yang dulu memamerkan menantu-menantunya seperti koleksi. Pria yang dulu tidak menginginkannya.
Dan sekarang, pria itu memberinya izin untuk memanggilnya Papa.
"Iya, Pa," jawab Shana. Suaranya bergetar.
Harris mengangguk. Lalu dia meraih tongkatnya dan berdiri. "Masuk. Di luar dingin."
Shana mengikutinya masuk. Namun sebelum mereka sampai di pintu, Harris berhenti dan berbicara tanpa menoleh.
"Dan satu lagi. Kue lemonnya. Lain kali bawa lagi."