Malam itu, Ndaru duduk di ruang kerjanya dengan lampu yang dimatikan. Hanya cahaya bulan yang menyusup dari jendela, memberi warna perak pada meja kerjanya yang rapi.
Boneka dinosaurus biru milik Juna masih duduk di sudut meja. Menatapnya dengan mata plastik yang bulat.
Ndaru menatap boneka itu. Lalu menatap tangannya sendiri.
Tangan yang tadi mencengkeram pergelangan tangan Dito. Dia masih bisa merasakannya. Tulang-tulang pergelangan tangan pria itu di bawah jari-jarinya. Dan keinginan yang sangat kuat untuk mencengkeram lebih keras.
Ndaru tidak pernah merasa seperti itu sebelumnya. Dia adalah orang yang tenang. Orang yang bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Semua orang tahu itu. Bahkan Farah dulu sering mengeluh karena Ndaru tidak pernah marah, bahkan saat mereka bertengkar hebat.
Namun tadi sore, saat dia melihat tangan Dito mencengkeram pergelangan tangan Shana, saat dia mendengar Shana berteriak sakit, sesuatu di dalam dirinya meledak.
Dia ingin memukul Dito. Ingin membuatnya merasakan sakit yang sama. Ingin memastikan pria itu tidak pernah bisa menyentuh Shana lagi.
Dan saat Dito berkata "Lo nggak kenal dia," sesuatu yang lain muncul. Sesuatu yang lebih panas dari marah. Lebih pahit.
Cemburu.
Ndaru menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Dia cemburu. Pada Dito. Pada tiga tahun yang pria itu habiskan bersama Shana. Pada semua hal yang Dito tahu tentang Shana dan dia tidak. Pada kenyataan bahwa Dito pernah menggenggam tangan Shana tanpa perlu bertanya boleh.
Ini tidak benar. Ini tidak seharusnya terjadi.
Pernikahan mereka hanya di atas kertas. Satu tahun. Lalu selesai. Itu kesepakatannya. Itu yang mereka tanda tangani.
Namun tadi sore, di depan kamera, dia sendiri yang berkata: bukan karena kertas.
Dan dia tidak berbohong.
Ndaru menurunkan tangannya. Dia menatap boneka dinosaurus itu lagi.
"Aku harus gimana?" bisiknya.
Boneka itu tentu saja tidak menjawab.
Ndaru meraih ponselnya dan menelepon Gilang.
"Ya, Pak?"
"Siapkan pilihan pengamanan untuk ditawarkan kepada Shana besok. Dia sudah meminta agar pengawalnya tidak menghalangi pelanggan. Kita perlu mendengar cara yang bisa dia terima."
"Pak, Bu Shana sudah meminta—"
"Saya tahu. Tawarkan pakaian biasa dan tempat duduk yang disepakati, supaya tidak membuat pelanggan takut. Jelaskan siapa yang berjaga dan kapan. Kalau dia ingin cara lain, bicarakan dulu."
Hening di seberang sana. Lalu suara Gilang terdengar sedikit geli. "Baik, Pak. Pengawal yang menyamar jadi pelanggan."
"Dan Lang."
"Ya, Pak?"
"Lain kali, kalau ada yang menyangkut keselamatan Shana, langsung beri tahu saya. Jangan tunggu."
"Baik, Pak. Saya minta maaf."
Ndaru menutup telepon. Dia berdiri dan berjalan keluar dari ruang kerjanya. Langkahnya membawanya ke dapur. Lalu ke kotak obat di lemari atas. Dia mengambil sebuah tube salep berwarna putih. Salep untuk memar dan luka ringan.
Lalu dia naik ke lantai dua.
Dia berhenti di depan pintu kamar Shana. Lampu di dalam masih menyala. Terlihat dari celah di bawah pintu.
Ndaru mengangkat tangannya untuk mengetuk. Lalu berhenti. Tangannya menggantung di udara.
Apa yang akan dia katakan? Ini salep untuk tanganmu? Terdengar terlalu peduli. Terlalu dekat. Terlalu... bukan dirinya.
Dia menurunkan tangannya. Berbalik.
Lalu berbalik lagi.
Ndaru mengetuk pintu itu. Dua kali. Pelan.
Pintu terbuka setelah beberapa detik. Shana berdiri di sana dengan piyama bergambar bulan dan rambut yang sudah digerai. Matanya sedikit merah. Seperti habis menangis. Atau mungkin hanya lelah.
"Pak?"
Ndaru mengulurkan tube salep itu. "Untuk tanganmu."
Shana menatap salep itu. Lalu menatap Ndaru. "Bapak naik ke sini cuma buat kasih ini?"
"Iya."
Shana menerima salep itu. Jari-jari mereka tidak bersentuhan. Ndaru memastikan itu.
"Makasih, Pak."
"Ini yang tadi disarankan saat pemeriksaan. Ikuti penjelasan petugasnya, ya. Kalau masih sakit, kita periksakan lagi."
"Iya, Pak."
Mereka berdiri di ambang pintu. Diam. Ndaru tahu dia harus pergi. Namun kakinya tidak mau bergerak.
"Shana."
"Ya?"
"Tadi sore. Yang saya bilang ke Dito." Ndaru terdiam. Rahangnya bergerak. "Saya..."
Dia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak tahu bagaimana menyelesaikannya.
Shana menatapnya. Menunggu. Matanya yang besar di balik kacamata menatap Ndaru dengan sesuatu yang membuat dada pria itu sesak.
"Saya tahu, Pak," ucap Shana pelan. "Bapak cuma nolongin saya."
Ndaru menatapnya. Dia ingin bilang bukan. Ingin bilang dia tidak hanya menolong. Ingin bilang setiap kata yang ia ucapkan tadi sore adalah kejujuran.
Namun yang keluar dari mulutnya hanya, "Selamat malam, Shana."
"Selamat malam, Pak."
Pintu tertutup.
Ndaru berdiri di lorong yang gelap. Menatap pintu yang tertutup itu. Lalu dia berbalik dan berjalan ke kamarnya.
Di dalam kamarnya, Shana bersandar di pintu yang baru saja ia tutup. Tube salep di genggamannya. Jantungnya berdetak terlalu kencang. Sangat kencang sampai dia bisa mendengarnya di telinganya sendiri.
Bapak cuma nolongin saya.
Dia sendiri yang mengatakannya. Untuk membantu pria itu. Untuk memberikannya jalan keluar dari kalimat yang tidak bisa dia selesaikan.
Namun saat dia mengatakannya, dia berharap Ndaru akan membantahnya.
Dan pria itu tidak membantah.
Shana meluncur turun sampai terduduk di lantai. Dia memeluk lututnya. Menatap tube salep di tangannya.
Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mbak Erina," bisiknya. "Gue udah telanjur."
* * *
Berita itu meledak keesokan harinya.
Video Ndaru yang berdiri di depan Shana, menghalangi Dito, menjadi berita utama di semua portal berita. Potongan kalimat "Dia istri saya. Bukan karena kertas. Bukan karena kamera. Istri saya" ditonton jutaan kali dalam hitungan jam.
Bagian lain yang banyak dikutip adalah permintaannya agar keputusan Shana dihormati. Menolak ditemui tidak memerlukan alasan yang harus disetujui oleh mantan kekasih.
Netizen menggila.
"Dia sudah bilang pergi. Harusnya didengar dari pertama."
"Handaru Atmadjiwo: duda incaran satu Indonesia. Sekarang: suami idaman satu Indonesia."
"Nggak perlu membuktikan paling kenal untuk menghormati penolakan seseorang."
"Ini bukan nikah kontrak. Ini nikah karena cinta beneran. Gue yakin."
Shana membaca komentar terakhir itu di layar ponselnya sambil duduk di meja makan. Tangannya berhenti di udara. Hampir menjatuhkan cangkir tehnya.
Nikah kontrak.
Bagaimana netizen bisa menebak? Tidak, mereka tidak menebak. Mereka hanya bercanda. Mereka menyebut itu karena menganggapnya tidak mungkin.
Shana menutup ponselnya. Dia menyesap tehnya. Tanpa gula.
Ponselnya berdering. Erina.
"Halo, Mbak—"
"SI DITO BANGSAT ITU!"
Shana menjauhkan ponsel dari telinganya. Bahkan dari jarak sejauh itu, suara Erina masih terdengar sangat jelas.
"Mbak, pelan-pelan—"
"Pelan-pelan gimana? Gue liat videonya! Dia cengkeram tangan lo! Tangan lo luka nggak? Hah? Luka nggak?"
"Dikit, Mbak. Udah diobatin."
"Dikit! Dikit katanya!" Erina terdengar seperti akan meledak. "Gue mau ke apartemennya sekarang. Gue bawa pisau daging."
"Mbak, jangan!"
"Bercanda. Gue bawa panci presto."
Shana tertawa. Dia tidak bisa menahannya.
"Lo ketawa? Lo bisa ketawa?"
"Maaf, Mbak. Lo lucu."
Erina menghela napas panjang di seberang sana. Ketika dia berbicara lagi, suaranya lebih pelan. "Lo beneran nggak apa-apa?"
"Beneran, Mbak."
"Ndaru gimana?"
Shana terdiam sebentar. "Dia... marah."
"Sama lo?"
"Sama Dito."
"Bagus." Erina terdiam. Lalu dia bertanya dengan nada yang berbeda. "Shan. Tadi dia tetap dengerin keputusan lo? Dia nggak malah ngatur semuanya setelah itu?"
"Dia nanya dulu sebelum bantuin tangan gue, Mbak. Soal pengawalan juga mau dibicarain lagi."
"Bagus. Kalau ada yang bikin lo nggak nyaman, lo tetap boleh bilang."
"Iya."
Hening panjang.
"Gue mau ketemu lo," ucap Erina pada akhirnya. "Nggak sekarang. Tapi segera. Kita harus ngomong."
"Iya, Mbak."
"Dan Shan."
"Hm?"
"Mas Fathur udah urus beritanya. Dito nggak akan bisa muncul di Ranjana Media lagi. Dan kayaknya stasiun TV lain juga bakal mikir dua kali buat undang dia."
Shana memejamkan matanya. "Makasih, Mbak. Bilang makasih ke Mas Fathur."
"Bilang sendiri."
***
Pagi itu Gilang terlebih dahulu menjelaskan pilihan pengamanan. Shana memilih dua orang berpakaian biasa di meja dekat pintu, dengan pergantian jam agar tidak mengganggu operasional kafe. Ia mengetahui siapa yang berjaga dan dapat menghubungi mereka langsung. Bagas diberi tahu pula; yang membuatnya bingung nanti hanyalah penampilan keduanya yang sama sekali tidak terlihat seperti pelanggan santai.
Siang itu, Shana tiba di kafe dengan pengawal yang mengantarnya seperti biasa. Namun begitu dia masuk, dia langsung berhenti.
Di meja sudut dekat jendela, ada dua pria yang duduk berhadapan. Mereka mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins. Masing-masing memakai topi baseball. Di depan mereka, ada dua cangkir kopi susu dan sepiring pisang goreng.
Mereka terlihat seperti pelanggan biasa. Kecuali satu hal. Tubuh mereka terlalu besar untuk kursi kafe yang mungil. Dan mereka duduk terlalu tegak. Mata mereka menyapu ruangan setiap lima detik.
Shana menatap mereka. Mereka menatap Shana. Salah satunya mengangkat cangkir kopinya sedikit, seperti memberi salam.
Shana menahan tawa.
Bagas menghampirinya dengan wajah bingung. "Mbak. Itu siapa, Mbak? Dari jam sembilan mereka di situ. Udah pesen kopi empat kali. Pisang goreng tiga piring. Bayar sendiri, kasih tip gede. Tapi nggak ngomong apa-apa."
"Pengawal, Gas."
"Hah? Pengawal? Kok pakai topi?"
"Nyamar jadi pelanggan."
Bagas menatap kedua pria itu. Lalu menatap Shana. Lalu kembali menatap kedua pria itu.
"Mbak," bisiknya. "Mereka nyamarnya jelek banget."
Shana tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa sampai harus berpegangan pada meja kasir. Ayu yang baru keluar dari dapur menatapnya bingung.
"Kenapa, Mbak?"
"Nggak apa-apa, Yu." Shana mengusap air mata di sudut matanya. "Bikinin mereka kopi lagi. Gratis. Bilang dari gue."
Shana berjalan ke ruang kerjanya. Dia duduk di kursi dan mengeluarkan ponselnya. Dia membuka percakapan dengan Ndaru.
Pak. Pengawal di kafe pakai topi baseball.
Balasan datang cepat.
Biar tidak mencolok.
Mereka mencolok banget, Pak. Badannya kayak lemari.
Hening sebentar. Lalu:
Mau saya ganti yang lebih kecil?
Shana tertawa lagi. Dia mengetik.
Nggak usah, Pak. Mereka udah makan pisang goreng tiga piring. Bagas seneng.
Pengawalnya tetap di sana.
Shana menatap pesan itu. "Sesuai yang dibicarakan tadi pagi, Pak. Kalau cara ini mengganggu kafe, saya akan bilang." Ia senang karena kali ini ia tahu rencananya, bukan hanya menerima keputusan yang sudah berjalan.
Iya, Pak. Makasih.
Dia meletakkan ponselnya. Lalu, tanpa sadar, dia menyentuh pergelangan tangan kirinya. Di bawah lengan sweater, ada plester kecil yang menutupi luka. Dan aroma salep yang samar.
Ia merawat lukanya mengikuti penjelasan dari pemeriksaan kemarin. Bila keluhannya berubah, ia tahu tempat yang bisa dihubungi.
Ponselnya bergetar lagi. Satu pesan baru dari Ndaru.
Tanganmu sudah tidak sakit?
Shana menatap pesan itu lama. Lalu dia tersenyum.
Udah nggak, Pak.
Bagus.
Satu kata. Seperti biasa. Namun kali ini, Shana tidak merasa kesal.
Karena dia tahu, di balik satu kata itu, ada pria yang naik ke lantai dua tengah malam hanya untuk memberikan salep. Ada pria yang tidak menjadikan kebiasaan pribadinya bahan tontonan di depan kamera. Ada pria yang berkata "bukan karena kertas."
Dan dia tahu, sejak kemarin, ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
Sesuatu yang tidak bisa lagi disangkal.