Pukul lima kurang sepuluh menit, Shana menutup laptopnya. Dia sudah menulis lebih dari empat ribu kata hari ini. Rekor terbaiknya dalam beberapa minggu terakhir. Naga di novelnya sudah punya nama sekarang.
Dia membereskan tasnya dan keluar dari ruang kerja. Kafe cukup ramai sore ini. Bagas sibuk di balik mesin kopi. Ayu mengantar pesanan ke meja-meja.
"Mbak Shana mau pulang?" tanya Ayu.
"Iya, Yu. Dijemput."
"Sama Pak Handaru?" Ayu menaikkan alisnya dengan senyum menggoda.
"Sama sopir," bohong Shana.
"Halah. Dari tadi Mbak Shana liat jam terus. Kayak nunggu pacar."
Shana memukul lengan Ayu pelan. Lalu berjalan menuju pintu kafe. Dia mengirim pesan pada Gilang bahwa dia sudah siap. Lalu membuka pintu dan melangkah keluar.
"Shana."
Langkahnya terhenti.
Dito berdiri di trotoar depan kafe. Pria itu terlihat lebih kurus dari terakhir kali Shana melihatnya. Pipinya cekung. Matanya merah. Namun dia mengenakan kemeja putih yang rapi dan rambutnya disisir. Seperti sengaja berdandan.
Dan di belakangnya, di seberang jalan, ada tiga orang dengan kamera.
Shana langsung mengerti. Ini jebakan.
"Mau apa kamu?" tanya Shana datar. Dia mundur selangkah, kembali mendekati pintu kafe.
"Aku cuma mau ngomong."
"Aku udah bilang aku nggak mau ngomong sama kamu."
"Lima menit." Dito melangkah maju. "Di depan mereka." Dia menunjuk kamera di seberang jalan. "Biar semua orang tahu yang sebenarnya."
"Yang sebenarnya apa?"
"Kalau kamu masih sayang sama aku." Dito tersenyum. Senyum yang dulu membuat Shana jatuh cinta. Sekarang hanya membuatnya mual. "Kalau kamu nikah sama Handaru cuma buat balas dendam ke aku."
Kamera di seberang jalan mulai bergerak mendekat. Shana bisa melihat lampu merah kecil yang menyala di salah satunya. Merekam.
"Kamu gila, Dito."
"Mungkin." Dito melangkah lagi. Sekarang jarak mereka hanya satu meter. "Tapi aku gila karena kamu."
Shana berbalik untuk masuk kembali ke kafe. Namun sebelum tangannya meraih gagang pintu, dia merasakan cengkeraman keras di pergelangan tangannya.
Dito menariknya. Kuat. Tubuh Shana terhuyung ke belakang.
"Lepas!"
"Dengerin aku dulu!"
"Dito, lepas! Sakit!"
Cengkeraman Dito tidak melonggar. Justru semakin erat. Shana bisa merasakan kuku pria itu menekan kulitnya.
"Tiga tahun, Shan! Tiga tahun kita sama-sama! Kamu nggak bisa buang aku gitu aja!"
Kamera-kamera itu sekarang sudah ada di sekeliling mereka. Para wartawan merekam dengan wajah bersemangat. Tidak ada satu pun yang bergerak untuk menolong.
Pintu kafe terbuka keras dari dalam. Bagas berlari keluar. "Lepasin Mbak Shana!"
Namun sebelum Bagas sampai, sebuah mobil hitam berhenti mendadak di pinggir jalan. Pintunya terbuka bahkan sebelum mesinnya mati.
Ndaru turun.
Shana tidak pernah melihat pria itu bergerak secepat itu. Dalam tiga langkah panjang, Ndaru sudah berdiri di antara dirinya dan Dito. Tangannya yang besar mencengkeram pergelangan tangan Dito. Tidak kasar. Namun sangat kuat.
"Lepaskan," ucap Ndaru. Suaranya pelan. Sangat pelan. Namun setiap kata terdengar seperti pisau.
Dito menatap Ndaru dengan mata membelalak. Wajahnya memucat. Namun dia tidak melepaskan cengkeramannya.
"Ini urusan gue sama Shana."
"Lepaskan tangan istri saya."
Tekanan di pergelangan tangan Dito semakin keras. Akhirnya, jari-jari Dito melonggar. Shana menarik tangannya dan mundur ke belakang. Ke belakang punggung Ndaru.
Ndaru melepaskan tangan Dito. Lalu dia berdiri tegak. Tubuhnya yang tinggi menjulang di depan Dito. Menghalangi Shana sepenuhnya dari pandangan pria itu.
"Istri," Dito tertawa sinis. "Lo pikir gue nggak tahu? Lo cuma pelarian dia. Dia nikah sama lo karena mau balas dendam ke gue."
Ndaru menatapnya tanpa ekspresi.
"Lo nggak kenal dia," lanjut Dito. Suaranya meninggi. "Lo nggak tahu dia suka apa, takut apa. Lo nggak tahu dia selalu bangun jam dua pagi. Lo nggak tahu—"
"Dia sudah mengatakan tidak mau ditemui," potong Ndaru. "Anda tidak perlu tahu seluruh kebiasaannya untuk menghormati keputusan itu. Dia penulis yang bekerja keras, dan dia berhak datang ke tempat kerjanya tanpa dicengkeram atau dipaksa menjawab di depan kamera."
Dito membeku. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Di belakang Ndaru, Shana juga membeku.
"Saya kenal istri saya," lanjut Ndaru. "Mungkin tidak selama kamu. Tapi saya kenal dia."
Para wartawan merekam semuanya. Tidak ada yang berani bersuara.
Ndaru melangkah satu langkah ke depan. Dito mundur satu langkah.
"Dan satu lagi," ucap Ndaru. Suaranya tetap pelan, tetapi cukup jelas untuk ditangkap semua mikrofon di sekitar mereka. "Dia bukan pelarian. Bukan pengalihan. Bukan balas dendam. Dia istri saya. Bukan karena kertas. Bukan karena kamera. Istri saya."
Hening.
Shana menatap punggung pria di depannya. Punggung yang lebar dan tegak. Kemeja putihnya sedikit kusut di bagian bahu. Ada sesuatu yang bergemuruh di dadanya. Sesuatu yang begitu keras sampai dia takut orang lain bisa mendengarnya.
Bukan karena kertas.
Dito menatap Ndaru dengan wajah merah padam. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Namun dia tidak bergerak. Mungkin karena tiga pengawal Ndaru sudah berdiri di belakangnya. Mungkin karena dia sadar kamera-kamera yang ia undang justru merekam kekalahannya.
Ndaru berbalik menghadap para wartawan.
"Kalian sudah dapat beritanya," ucapnya datar. "Silakan muat. Dan muat juga ini. Mulai hari ini, kalau Saudara Dito Alamsyah mendekati istri saya lagi, kami akan menempuh jalur hukum."
Setelah itu, Ndaru berbalik pada Shana. Wajahnya yang tadi sekeras batu berubah. Sedikit. Hanya sedikit. Namun Shana melihatnya.
"Ayo pulang," ucapnya pelan.
Ndaru tidak menarik tangannya. Tidak merangkulnya. Dia hanya berdiri di samping Shana, menunggu. Menghalangi tubuh Shana dari kamera dengan tubuhnya sendiri.
Shana mengangguk. Dia berjalan menuju mobil. Ndaru berjalan di sampingnya. Dua pengawal membuka jalan.
Di belakang mereka, Dito masih berdiri di trotoar. Sendirian. Dikelilingi kamera yang kini berbalik menyorot wajahnya.
* * *
Mobil melaju meninggalkan kafe. Tidak ada yang berbicara.
Shana duduk di sisi kanan, menatap ke luar jendela. Tangannya terlipat di pangkuan. Pergelangan tangan kirinya berdenyut. Dia bisa merasakan bekas cengkeraman Dito yang mulai memanas.
Ndaru duduk di sisi kiri. Menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal di atas paha. Shana bisa melihat urat-urat di punggung tangannya yang menonjol.
Gilang di kursi depan juga diam. Sesekali dia melirik ke kaca spion. Lalu kembali menatap ke depan dengan wajah tegang.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit.
Shana tidak tahan lagi.
"Pak," panggilnya pelan.
Ndaru tidak menjawab.
"Pak, makasih."
Masih tidak ada jawaban. Rahang pria itu masih mengeras.
"Bapak marah?"
"Iya."
Shana menelan ludahnya. "Sama saya?"
Ndaru menoleh. Untuk pertama kalinya sejak masuk ke mobil. Matanya menatap Shana dengan intens. Ada sesuatu di sana. Kemarahan, iya. Namun juga sesuatu yang lain.
"Bukan sama kamu."
Shana menunduk. Dia tidak tahu harus merasa lega atau tidak.
"Ini bukan yang pertama, kan?" tanya Ndaru.
Shana mengangkat wajahnya. "Maksud Bapak?"
"Dito. Ini bukan pertama kalinya dia mendatangi kamu."
Shana terdiam. Dia melirik Gilang di kursi depan. Pria itu menunduk dalam-dalam, seperti ingin menghilang ke dalam kursinya.
"Mas Gilang yang cerita?"
"Gilang baru cerita tadi. Di mobil, sebelum kita sampai di kafe." Ndaru menatap Shana tajam. "Sebelum pernikahan. Di depan kafe. Bagas dan Ayu yang mengusirnya."
Shana menghela napas. "Iya, Pak."
"Kenapa kamu tidak bilang?"
"Poin lima, Pak. Nggak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing."
Ndaru menatapnya. Lama. Lalu dia memalingkan wajahnya ke jendela dan menghembuskan napas panjang. Napas yang terdengar sangat frustrasi.
"Lupakan poin lima," ucapnya pada akhirnya. "Untuk yang satu ini."
"Tapi—"
"Shana." Ndaru menoleh lagi. Suaranya lebih pelan sekarang. "Dia mencengkeram tanganmu di depan kamera. Kalau saya terlambat lima menit, apa yang akan terjadi?"
Shana tidak bisa menjawab.
"Saya tidak peduli soal poin lima. Saya tidak peduli soal kontrak." Ndaru terdiam sebentar. "Kalau ada orang yang menyakiti kamu, saya harus tahu."
Shana menatap pria itu. Matanya mulai panas. Dia tidak tahu kenapa. Mungkin karena syok. Mungkin karena lega. Mungkin karena kalimat-kalimat Ndaru yang terus berputar di kepalanya.
Dia berhak datang ke tempat kerjanya tanpa dicengkeram atau dipaksa menjawab di depan kamera.
Shana mengingat bahwa sejak semula ia sudah meminta Dito pergi. Tidak ada utang hubungan yang membuat permintaan itu boleh diabaikan. Ndaru mendengarnya, lalu berdiri di sisinya.
"Tangan kamu," ucap Ndaru tiba-tiba.
"Hm?"
"Tangan kamu. Yang dia pegang."
Shana menunduk menatap pergelangan tangan kirinya. Dia menutupinya dengan tangan kanan. "Nggak apa-apa, Pak."
"Boleh saya lihat?"
Lagi. Pertanyaan itu lagi. Boleh.
Shana menatap Ndaru. Pria itu menunggu. Tangannya tidak bergerak untuk meraih. Hanya menunggu.
Perlahan, Shana mengulurkan tangan kirinya. Menyingkap lengan sweaternya sedikit.
Ada bekas merah di pergelangan tangannya. Bekas jari-jari yang mencengkeram terlalu keras. Dan di beberapa titik, ada goresan kecil bekas kuku. Satu di antaranya sedikit berdarah.
Ndaru menatap bekas itu. Rahangnya kembali mengeras. Tangannya yang terkepal di pahanya bergetar sedikit.
Dia tidak menyentuh tangan Shana. Dia hanya menatapnya. Lama. Seolah sedang mengukir bekas itu di ingatannya.
"Lang," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan. "Ada kotak P3K?"
"Ada, Pak." Gilang langsung merogoh laci dasbor dan mengeluarkan kotak kecil berwarna putih. Dia menyerahkannya ke belakang.
Ndaru membuka kotak itu. Mengeluarkan kapas, cairan antiseptik, dan plester. Dia membasahi kapas dengan antiseptik.
"Ini akan perih," ucapnya. "Boleh?"
Shana mengangguk pelan.
Ndaru mengulurkan kapas itu. Bukan ke tangan Shana. Dia menyerahkannya pada Shana.
Shana menatap kapas di tangannya. Lalu menatap Ndaru. Pria itu tidak menyentuhnya. Bahkan untuk mengobati lukanya. Dia membiarkan Shana yang melakukannya sendiri.
Poin tujuh. Pria itu masih menghormatinya. Bahkan di saat seperti ini.
Shana mengusap luka di pergelangan tangannya dengan kapas. Perih. Dia mendesis pelan.
"Pelan-pelan," ucap Ndaru.
"Iya, Pak."
Setelah selesai, Ndaru menyerahkan plester. Shana menempelkannya di atas luka kecil itu. Lalu menurunkan lengan sweaternya.
"Makasih, Pak."
Ndaru tidak menjawab. Dia membereskan kotak P3K dan menyerahkannya kembali pada Gilang. Lalu kembali menatap ke luar jendela.
Keheningan kembali menyelimuti mobil.
Namun kali ini, Shana tidak merasa canggung. Dia menatap profil wajah Ndaru dari samping. Rahang yang masih mengeras. Mata yang menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Jari-jari yang mengetuk sandaran tangan dengan irama cepat.
Pria itu masih marah. Bukan pada dirinya. Pada Dito. Mungkin pada dirinya sendiri juga.
Dan entah kenapa, Shana merasa ingin menenangkan pria itu.
"Pak."
"Hm."
"Bapak nggak menyebut hal-hal yang Bapak perhatikan di rumah tadi."
Ndaru tidak menjawab.
"Padahal Bapak tahu saya sering gugup."
Ketukan jari Ndaru berhenti. Pria itu terdiam lama. Lalu menjawab tanpa menoleh.
"Saya bisa menduga kamu tegang, tapi saya nggak bisa memastikan alasanmu tanpa bertanya. Dan yang saya tahu di rumah bukan bahan untuk membuktikan apa-apa di depan wartawan."
Shana menunduk menatap sweater biru tua yang ia kenakan. Ia tidak menyangka pria itu akan menahan diri di tengah kemarahannya. Menyimpan hal pribadi rupanya juga bagian dari menghargai.
"Kenapa hari ini saya gugup?" tanya Shana pelan.
Ndaru menoleh. Mata mereka bertemu.
"Karena kita mau makan malam di rumah Papa."
Shana terdiam. Lalu tertawa kecil. Kali ini tebakannya memang benar.
Namun dia tidak tahu, bahwa hari ini ada alasan lain kenapa dia memakai sweater itu. Alasan yang bahkan dia sendiri baru sadari.
Dia gugup karena akan dijemput oleh Ndaru.
***
Sebelum pulang, dengan persetujuan Shana, mereka singgah untuk memeriksakan pergelangan tangannya. Petugas menilai lukanya, mencatat keluhannya, dan menjelaskan perawatan yang sesuai. Shana menyimpan catatan pemeriksaan bersama foto luka, karena ia ingin mempunyai bukti bila kelak memilih membuat laporan.
Makan malam di rumah Harris dibatalkan. Ndaru yang memintanya. Dia menelepon ayahnya dan menjelaskan apa yang terjadi. Harris tidak banyak bertanya. Dia hanya berkata, "Bawa istrimu pulang. Istirahat."
Istrimu. Bukan "perempuan itu". Bukan "Shana Arkadewi".
Shana mendengarnya dari speaker ponsel. Dan dia tidak tahu harus merasa apa.