Pukul tujuh pagi, Shana turun ke ruang makan dengan mata bengkak. Dia tidur lagi pukul tiga setelah percakapan di dapur. Tidak nyenyak. Kepalanya terlalu penuh dengan cerita Ndaru.
Dia berhenti di anak tangga terakhir. Ndaru sudah duduk di kepala meja. Juna di pangkuannya, sedang mengunyah roti berbentuk bintang dengan semangat. Anak itu terlihat segar. Seolah tidak pernah demam sama sekali.
"Tante Cana!" seru Juna begitu melihatnya.
Ndaru mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu.
Lalu keduanya langsung membuang muka di saat yang bersamaan.
Shana berjalan ke kursinya dengan kaku. Dia duduk dan langsung meraih cangkir teh yang sudah disiapkan. Ndaru menunduk menatap iPad-nya. Yang bahkan belum ia nyalakan.
Suster Nur yang duduk di samping Juna melirik keduanya bergantian. Bibirnya berkedut.
"Pagi, Pak," ucap Shana tanpa menatap.
"Pagi."
Hening.
"Juna udah sembuh?" tanya Shana pada Suster Nur. Bukan pada Ndaru.
"Udah, Bu. Tadi pagi bangun langsung minta main."
"Syukurlah."
Hening lagi.
Ndaru menyalakan iPad-nya. Shana menyesap tehnya. Juna mengunyah rotinya dengan berisik.
"Tante Cana," panggil Juna tiba-tiba.
"Iya, Sayang?"
"Semalem Tante bobok sama Juna."
Shana tersedak tehnya. Dia terbatuk-batuk sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Dua malam lalu, Mas," koreksi Suster Nur cepat sambil menahan tawa. "Pas Mas Juna sakit."
"Tante Cana peluk Juna. Anget."
Shana masih terbatuk. Wajahnya memerah. Ndaru menatap anaknya, lalu menatap Shana, lalu kembali menatap iPad-nya dengan sangat serius.
"Nanti bobok sama Juna lagi?" tanya Juna polos.
"Mas Juna," tegur Ndaru. "Makan rotinya."
"Tapi Papa, Tante Cana anget—"
"Makan, Mas."
Juna cemberut. Namun dia menurut dan kembali mengunyah rotinya.
Shana sudah berhenti batuk. Namun wajahnya masih merah. Dia meraih gelas air dan meminumnya cepat. Terlalu cepat. Air tumpah sedikit ke dagunya.
Ndaru menyodorkan tisu tanpa melihat. Shana menerimanya tanpa melihat juga.
"Makasih," gumamnya.
"Hm."
Suster Nur menunduk dalam-dalam. Bahunya berguncang. Dia pura-pura sibuk mengelap mulut Juna yang sebenarnya sudah bersih.
Gilang masuk ke ruang makan dengan iPad di tangan. Dia berhenti di ambang pintu. Matanya menyapu pemandangan di depannya. Atasannya yang menatap iPad yang layarnya terbalik. Istri atasannya yang memegang tisu dengan wajah merah. Suster Nur yang gemetar menahan tawa.
Gilang memutuskan untuk tidak bertanya.
"Pagi, Pak. Pagi, Bu."
"Pagi, Lang," jawab Ndaru. Terlalu cepat. "Jadwal hari ini?"
"Pukul sembilan rapat direksi, Pak. Bapak yang memimpin untuk pertama kalinya sebagai direktur utama."
Ndaru langsung berdiri. "Saya berangkat sekarang."
"Pak, masih jam tujuh lewat lima belas—"
"Saya mau baca materinya di kantor."
Ndaru menurunkan Juna ke kursi tingginya. Mencium kepala anaknya. Lalu meraih jasnya dan berjalan cepat menuju pintu.
Di ambang pintu, dia berhenti. Ragu. Lalu menoleh.
"Shana."
Shana mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu lagi. Kali ini tidak ada yang membuang muka.
"Semalam," ucap Ndaru. Lalu terdiam. Rahangnya bergerak, seperti sedang mencari kata yang tepat. "Terima kasih sudah mendengarkan."
Shana menatapnya. Lalu tersenyum kecil. "Sama-sama, Pak."
Ndaru mengangguk. Lalu pergi.
Shana menatap pintu yang tertutup. Lalu dia menunduk menatap tisu di tangannya. Tisu yang Ndaru berikan. Dia meremasnya pelan.
"Bu Shana," panggil Suster Nur pelan.
"Ya, Sus?"
"Pak Ndaru udah lama nggak kayak gitu."
"Kayak gimana?"
Suster Nur tersenyum. "Salah tingkah."
Shana tidak menjawab. Dia menyesap tehnya yang sudah mulai dingin. Pura-pura tidak mendengar.
Namun jantungnya mendengar. Dan jantungnya tidak bisa berpura-pura.
***
Siang itu, Shana duduk di meja kerja di kamarnya. Laptop terbuka di depannya. Naskah novelnya menunggu untuk dilanjutkan.
Namun dia tidak bisa menulis.
Setiap kali dia mencoba, yang muncul di kepalanya bukan naga putih atau kerajaan di atas awan. Yang muncul adalah dapur yang temaram. Cangkir teh yang dingin. Bahu seorang pria yang bergetar menahan tangis.
Dan nama itu. Mas Arya.
Shana menutup laptopnya. Dia meraih bingkai foto ayahnya di sudut meja. Menatapnya lama.
"Yah," bisiknya. "Shana harus gimana?"
Ponselnya berdering. Nama Erina muncul di layar.
"Halo, Mbak."
"Lo kenapa?"
Shana mengerjap. "Gue belum ngomong apa-apa."
"Suara lo aneh. Lo kenapa?"
Shana terdiam. Dia selalu lupa betapa tajamnya intuisi kakaknya.
"Nggak apa-apa, Mbak. Kurang tidur aja. Juna kemarin demam."
"Demam? Terus gimana?"
"Udah sembuh."
"Lo yang jagain?"
"Sama Sus Nur."
"Ndaru di mana?"
"Di Surabaya. Tapi dia langsung pulang naik pesawat pertama."
Erina terdiam di seberang sana. Lama. Lalu dia menghela napas panjang.
"Shan."
"Hm?"
"Lo inget yang gue bilang di pelaminan?"
Shana memejamkan matanya. Jangan jatuh cinta sama dia.
"Inget, Mbak."
"Bagus." Erina terdiam lagi. "Tapi kalau udah telanjur, bilang sama gue. Jangan dipendem sendiri."
Shana tidak menjawab. Dia hanya memeluk bingkai foto ayahnya di dadanya.
"Shan? Lo masih di sana?"
"Masih, Mbak."
"Lo nggak jawab pertanyaan gue."
"Lo nggak nanya, Mbak. Lo cuma bilang."
Erina tertawa kecil. Tawa yang terdengar sedikit sedih. "Ya udah. Gue tunggu sampai lo siap cerita."
Panggilan berakhir. Shana meletakkan ponselnya dan menatap ke luar jendela. Ke arah kolam renang yang berkilauan diterpa matahari siang.
Dia belum siap. Belum siap mengakuinya pada Erina. Belum siap mengakuinya pada dirinya sendiri.
Karena jika dia mengakuinya, dia juga harus mengakui hal lain. Hal yang jauh lebih menakutkan.
Bahwa pria yang ia mulai cintai adalah adik dari pria yang paling ia benci di dunia ini.
* * *
Orang yang terpojok bisa berbuat apa saja. Akal sehat ditinggalkan begitu saja. Yang tersisa hanya ego yang meraja. Dan keinginan untuk memiliki yang sudah tak lagi dipunya.
Dito Alamsyah sudah tidak tidur dengan benar selama seminggu.
Apartemennya berantakan. Botol-botol kosong menumpuk di meja dapur. Tirai tertutup rapat sepanjang hari. Ponselnya yang retak terus berdering, tetapi dia tidak pernah mengangkatnya.
Tiga hari yang lalu, rumah produksi mengirim surel resmi. Proyek film kedua ditunda tanpa batas waktu. Alasannya: evaluasi ulang tim kreatif. Dito tahu apa artinya. Mereka sedang mencari sutradara pengganti.
Dua hari yang lalu, Kiki mengundurkan diri. Asisten yang sudah lima tahun bersamanya itu pergi dengan satu kalimat terakhir.
"Lo nggak butuh asisten, Dit. Lo butuh psikolog."
Dan kemarin, Dito melihat video itu. Video Shana yang duduk di atas tikar di kampung nelayan, bercerita tentang naga pada anak-anak. Dengan anak Handaru Atmadjiwo di pangkuannya. Dengan Handaru Atmadjiwo duduk bersila di sampingnya.
Dito menonton video itu berulang kali. Tiga puluh, empat puluh, mungkin lima puluh kali. Setiap kali melihatnya, dadanya terasa terbakar.
Itu seharusnya dia. Dia yang seharusnya duduk di samping Shana. Dia yang seharusnya mendengarkan cerita naga itu. Dia yang mengenal dunia Shana. Yang mengerti naga-naganya, penyihir-penyihirnya, kerajaan di atas awannya.
Handaru Atmadjiwo bahkan tidak pernah membaca novel. Shana sendiri yang bilang di televisi.
"Lo kalah telak," kata Kiki dulu.
Tidak. Dito belum kalah. Belum selama Shana masih bisa ia temui.
Dito meraih ponselnya. Dia membuka daftar kontak dan menelepon seseorang. Wartawan infotainment yang dulu sering ia beri bocoran tentang proyek-proyek filmnya.
"Halo, Mas Dito? Lama nggak ada kabar."
"Lo mau berita eksklusif?"
Hening sebentar. Lalu suara di seberang terdengar bersemangat. "Selalu, Mas."
"Besok sore. Jam lima. Kafe Shana."
"Mas Dito mau ngapain?"
"Ngomong sama dia. Di depan kamera." Dito tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. "Gue mau semua orang tahu kalau Shana masih punya perasaan sama gue."
"Mas, itu bisa jadi bumerang—"
"Lo mau beritanya atau nggak?"
Hening lagi. Lalu, "Mau, Mas. Jam lima. Saya bawa tim."
***
Keesokan paginya, di rumah berpagar tinggi itu, Shana sedang bersiap-siap untuk ke kafe. Dia mengenakan sweater kebesaran berwarna biru tua dan celana jins. Rambutnya diikat ekor kuda. Kacamatanya kembali bertengger di hidung.
"Bu Shana mau berangkat?" tanya Suster Nur yang sedang menyuapi Juna di ruang makan.
"Iya, Sus. Pulang sore."
"Pengawalnya udah siap di depan, Bu."
Shana menghela napas. Pengawal. Dua pria berbadan besar yang selalu mengikutinya ke mana-mana. Mereka baik dan sopan, tetapi Shana merasa sesak. Setiap kali dia keluar untuk membeli kopi di warung sebelah kafe, dua pria itu langsung berdiri. Setiap kali dia ke toilet, salah satunya berjaga di depan pintu.
Kemarin, Shana akhirnya berbicara dengan Gilang. Memohon agar pengawalnya cukup mengantar dan menjemput. Tidak perlu menunggu seharian di depan kafe.
"Kafe saya kecil, Mas. Pelanggan saya takut liat mereka. Bagas bilang omzet turun."
Gilang menyetujuinya dengan berat hati. Dengan syarat Shana harus memberi kabar setiap dua jam.
"Mas Juna, Tante berangkat dulu, ya."
Juna mengangkat tangannya yang belepotan bubur. "Tante Cana pulang?"
"Pulang. Sore."
"Papa pulang?"
"Papa juga pulang. Nanti Papa jemput Tante, terus kita makan di rumah Opa."
Ya. Malam ini ada makan malam keluarga di rumah Harris. Ndaru sudah mengirim pesan tadi pagi.
Saya jemput kamu di kafe jam lima. Kita ke rumah Papa bersama.
Shana tersenyum mengingat pesan itu. Ini pertama kalinya Ndaru menawarkan diri untuk menjemputnya. Biasanya pria itu terlalu sibuk. Biasanya Gilang yang mengatur semuanya.
Namun sejak malam di dapur itu, ada yang berubah. Sedikit demi sedikit. Pesan-pesan Ndaru tidak lagi hanya satu kata. Pria itu mulai pulang lebih cepat. Mulai sarapan bersama setiap pagi. Mulai bertanya tentang tulisannya.
Kemarin malam, Ndaru bahkan bertanya apa nama naga di novel barunya.
"Belum ada namanya, Pak."
"Kenapa?"
"Karena naganya masih belum tahu dia siapa."
Ndaru menatapnya lama. Lalu berkata, "Nama itu penting. Nama memberi seseorang tempat untuk pulang."
Shana tidak bisa tidur setelah itu. Bahkan sebelum pukul dua.
"Bu?" Suster Nur membuyarkan lamunannya. "Ibu senyum-senyum sendiri."
Shana langsung menghapus senyumnya. "Nggak, Sus. Saya berangkat."
Dia berjalan cepat keluar rumah. Di belakangnya, terdengar suara tawa kecil Suster Nur dan celoteh Juna yang tidak jelas.