Ada luka yang tak pernah dibicarakan. Ada sesal yang disimpan dalam diam. Malam ini, di bawah lampu dapur yang temaram. Akhirnya sebuah cerita lama mulai dibuka perlahan.
Juna pulih dengan cepat. Sore harinya, demamnya sudah turun sepenuhnya. Dokter yang memeriksanya sejak dini hari datang kembali untuk menilai perkembangannya. Hasil pemeriksaan saat itu memungkinkan Juna tetap dirawat di rumah dengan pemantauan yang dijelaskan kepada keluarganya. Mereka tetap diminta menghubungi dokter bila keadaannya berubah.
Malam itu, Juna tidur di kamar ayahnya. Ndaru yang memintanya. Anak itu meringkuk di tengah ranjang besar dengan boneka dinosaurus di pelukannya. Tertidur pulas sejak pukul tujuh.
Shana tidur dari pukul sepuluh pagi sampai pukul lima sore. Lalu terbangun dengan kepala pusing dan perut keroncongan. Dia makan malam sendirian di dapur. Ndaru sedang menemani Juna.
Pukul satu dini hari, Shana terbangun lagi. Lebih awal dari biasanya. Mungkin karena terlalu banyak tidur siang tadi.
Dia turun ke dapur untuk membuat teh. Dan menemukan lampu dapur sudah menyala.
Ndaru duduk di kursi bar di depan meja dapur. Mengenakan kaos abu-abu dan celana training. Rambutnya berantakan. Di depannya, ada segelas air putih yang belum tersentuh.
"Pak?"
Ndaru menoleh. Dia tidak terlihat terkejut. Seolah sudah menunggunya.
"Tidak bisa tidur?"
"Kebangun. Bapak?"
"Sama."
Shana berjalan ke kompor dan menyalakan pemanas air. Dia mengambil dua cangkir dari lemari. Tanpa bertanya, dia membuat dua cangkir teh. Satu untuknya, satu untuk Ndaru.
Dia meletakkan cangkir itu di depan Ndaru. Lalu duduk di kursi bar di seberangnya. Meja dapur di antara mereka.
"Juna gimana?"
"Tidur. Nyenyak."
"Syukurlah."
Mereka minum teh dalam diam. Hanya suara jam dinding dapur yang berdetak pelan. Dan suara dengung lemari pendingin.
"Shana."
"Ya, Pak?"
Ndaru menatap cangkir tehnya. Jari-jarinya memutar-mutar cangkir itu pelan. Lama dia terdiam. Shana tidak mendesak. Dia hanya menunggu.
"Farah meninggal sepuluh hari setelah Juna lahir," ucap Ndaru pada akhirnya.
Shana tidak bergerak. Dia tidak menyangka pria itu akan membicarakan ini. Tidak malam ini. Tidak pada dirinya.
"Pendarahan," lanjut Ndaru. Suaranya datar. Terlalu datar. Seperti seseorang yang sudah mengulang cerita ini di kepalanya ribuan kali sampai semua emosinya terkikis. "Komplikasi setelah melahirkan. Dokter tidak bisa menjanjikan bahwa hasilnya pasti berbeda. Tapi aku terus mengulang kemungkinan bahwa bantuan seharusnya datang lebih cepat."
Shana menelan ludahnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Jadi dia tidak berkata apa-apa.
"Waktu itu saya masih wakil direktur. Mas Guna mulai sibuk dengan partai, jadi banyak pekerjaannya yang dilimpahkan ke saya. Saya pulang larut setiap hari. Kadang tidak pulang sama sekali." Ndaru tersenyum getir. "Farah selalu protes. Katanya saya menikah dengan perusahaan, bukan dengan dia."
Shana memeluk cangkirnya dengan kedua tangan. Hangat. Dia butuh sesuatu yang hangat.
"Kami sering bertengkar soal itu. Terutama waktu dia hamil. Dia ingin saya ada di rumah. Saya bilang nanti, setelah proyek ini selesai. Setelah rapat ini selesai. Setelah kuartal ini selesai." Ndaru menggeleng pelan. "Selalu setelah."
"Pagi itu, kami bertengkar lagi. Dia bilang badannya tidak enak. Pusing. Dia minta saya tidak berangkat. Saya bilang ada rapat penting dengan investor dari Singapura. Saya janji pulang cepat."
Ndaru terdiam. Jari-jarinya berhenti memutar cangkir.
"Rapatnya molor. Saya matikan suara ponsel karena tidak sopan kalau berbunyi di depan investor. Saya baru lihat ponsel dua jam kemudian. Tujuh panggilan tak terjawab. Semua dari Farah."
Shana memejamkan matanya.
"Asisten rumah tangga yang membawanya ke rumah sakit. Naik taksi, karena sopir sedang mengantar saya. Waktu saya sampai di rumah sakit..." Suara Ndaru akhirnya pecah. Sedikit. Hanya sedikit. "Sudah terlambat."
Hening.
Shana membuka matanya. Ndaru masih menatap cangkir tehnya. Wajahnya tenang. Namun tangannya gemetar.
"Rumah itu. Rumah lama kami. Saya tidak bisa tinggal di sana lagi. Setiap sudut mengingatkan saya pada dia. Kamar tempat dia mengeluh pusing. Ruang tengah tempat dia menunggu saya pulang. Kamar bayi yang dia dekor sendiri." Ndaru menghela napas. "Jadi saya pergi. Ke Surabaya. Saya pikir kalau saya pindah ke tempat yang lebih kecil, pekerjaan yang lebih sedikit, saya bisa jadi ayah yang lebih baik untuk Juna. Saya bisa mengganti semua waktu yang tidak pernah Farah dapatkan."
"Dan Bapak berhasil," ucap Shana pelan. Kalimat pertamanya sejak Ndaru mulai bercerita.
Ndaru tertawa pendek. Tawa yang pahit.
"Lalu Mas Arya meninggal."
Shana membeku.
"Dia mau ke Surabaya. Ketemu saya. Saya yang minta." Ndaru menatap Shana untuk pertama kalinya malam itu. Matanya merah. 'Masalah kecil. Soal tanah warisan Mama yang mau dibagi. Bisa diselesaikan lewat telepon. Tapi saya bilang, "Mas ke sini aja, sekalian liat Juna." Saya yang minta dia datang.'
Ndaru menunduk.
"Dan dia tidak pernah sampai."
Shana merasakan dadanya sesak. Matanya terasa panas. Bukan hanya karena cerita Ndaru. Tapi karena nama itu. Arya. Haryadi. Pria yang ia benci. Pria yang kematiannya ia rayakan.
Dan pria di hadapannya ini menyalahkan dirinya sendiri atas kematian itu.
"Mbak Putri benar," lanjut Ndaru pelan. "Kalau saya tidak minta dia datang, dia masih hidup."
"Pak—"
"Dua kali, Shana. Dua orang yang saya sayang pergi karena saya. Farah karena saya tidak ada. Mas Arya karena saya minta dia ada." Ndaru tersenyum miring. "Lucu, kan? Tidak ada pun salah. Ada pun salah."
Shana tidak tahu harus berkata apa. Semua kata-kata yang ia tahu terasa tidak cukup. Terlalu kecil untuk rasa sakit sebesar itu.
Jadi dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya duduk di sana. Mendengarkan. Menatap pria di hadapannya yang selama ini terlihat begitu kuat, begitu dingin, begitu tak tersentuh.
Ternyata di balik semua itu, hanya ada seorang pria yang terluka. Yang menyalahkan dirinya sendiri atas hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan.
Lama mereka duduk dalam diam. Teh di cangkir mereka sudah dingin.
"Pak," panggil Shana pada akhirnya.
Ndaru mengangkat wajahnya.
"Tadi pagi Bapak datang."
Ndaru menatapnya. Tidak mengerti.
"Saya kirim pesan jam dua lewat dua puluh. Bapak telepon jam dua lewat dua puluh tiga. Tiga menit." Shana tersenyum kecil. "Terus Bapak naik pesawat paling pagi. Terus Bapak lari naik tangga dua-dua. Saya denger dari kamar."
Ndaru masih diam.
"Bapak datang," ulang Shana. "Itu aja yang mau saya bilang."
Ndaru menatapnya lama. Sangat lama. Matanya yang merah perlahan berkaca-kaca. Lalu dia menunduk. Bahunya bergetar sedikit.
Shana tidak bergerak. Dia tidak menyentuhnya. Dia tidak memeluknya. Dia hanya duduk di seberang meja dapur, menemani pria itu dalam diam.
Karena kadang, yang dibutuhkan seseorang bukanlah pelukan. Hanya kehadiran.