Hotel di Surabaya itu sunyi. Kamar di lantai dua puluh lima menghadap kota yang gemerlap di bawah sana. Ndaru tertidur di ranjang dengan masih mengenakan kemeja kerjanya. Laptop di sampingnya masih menyala. Dia tertidur saat membaca laporan.
Ponselnya bergetar di nakas.
Ndaru membuka matanya. Tangannya meraih ponsel dengan refleks. Matanya menyipit menatap layar yang terlalu terang.
Satu pesan dari Shana.
Ndaru langsung terduduk. Dia membaca pesan itu sekali. Dua kali. Tangannya mulai dingin.
Juna demam 39,8.
Sesuatu yang dingin merayap dari perutnya naik ke dadanya. Napasnya tercekat. Untuk beberapa detik, dia tidak bisa bergerak.
Bukan di sini. Bukan di kamar hotel ini. Pikirannya terlempar ke tempat lain. Ke waktu yang lain.
Ruang rapat di lantai tiga puluh. Ponsel dalam mode senyap di saku jasnya. Tujuh panggilan tak terjawab yang baru ia lihat dua jam kemudian. Semuanya dari Farah.
Ndaru menggeleng keras. Dia menekan tombol panggil.
Nada sambung pertama. Kedua.
"Pak?" Suara Shana terdengar pelan. Di latar belakang, ada suara tangisan kecil yang lemah.
"Bagaimana Juna?"
"Masih panas, Pak. Udah dikasih obat sepuluh menit yang lalu. Lagi dikompres sama Sus Nur."
"Berapa sekarang?"
"Pemeriksaan sedang diatur, Pak. Kami mengikuti arahan dokter sambil menunggu beliau sampai."
Ndaru berdiri. Dia berjalan mondar-mandir di kamar hotel dengan ponsel di telinga. Tangannya yang bebas mengusap wajahnya kasar.
"Saya pulang sekarang."
"Pak, ini jam setengah tiga pagi."
"Saya tahu."
"Pesawat paling pagi pasti jam lima atau jam enam. Bapak mau nunggu di bandara?"
"Iya."
Shana terdiam sebentar. Di latar belakang, tangisan Juna semakin keras. "Papa... Papa..."
"Juna," ucap Ndaru. Suaranya pecah. "Shana, bisa kamu dekatkan ponselnya ke Juna?"
"Bisa, Pak."
Suara gemerisik. Lalu suara napas kecil yang tersengal-sengal.
"Mas Juna," panggil Ndaru pelan. "Ini Papa."
Tangisan itu berhenti sebentar. "Papa?"
"Iya, Sayang. Papa di sini."
"Papa mana?"
"Papa di Surabaya. Tapi Papa pulang sekarang. Papa naik pesawat."
"Papa pulang?"
"Pulang. Papa janji." Ndaru memejamkan matanya. "Mas Juna sama Tante Shana dulu, ya? Mas Juna minum obatnya. Nanti pas Mas Juna bangun, Papa udah di rumah."
"Panas, Pa."
"Iya. Papa tahu. Nanti dingin lagi."
Hening. Lalu suara Shana kembali terdengar. "Pak, dia mulai tenang. Kayaknya dengar suara Bapak bikin dia lega."
Ndaru menghela napas panjang. Napas yang ia tahan sejak membaca pesan itu.
"Shana."
"Ya, Pak?"
"Terima kasih sudah menghubungi saya."
Hening sebentar. Lalu Shana menjawab dengan suara pelan. "Bapak yang bilang. Langsung Bapak. Bukan Gilang."
Ndaru tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
"Saya kabarin tiap jam, Pak. Bapak siap-siap aja."
"Iya."
Panggilan berakhir. Ndaru menatap ponselnya lama. Lalu dia menelepon Gilang yang tidur di kamar sebelah.
"Lang. Bangun. Pesan tiket pesawat paling pagi ke Jakarta. Sekarang."
***
Bandara Juanda masih sepi pukul empat pagi. Hanya ada beberapa penumpang yang tertidur di kursi-kursi ruang tunggu. Petugas kebersihan menyapu lantai dengan malas. Toko-toko masih tutup.
Ndaru duduk di kursi ruang tunggu dengan ponsel di tangan. Dia tidak bisa duduk tenang. Kakinya terus bergerak. Matanya terus menatap layar ponsel.
Gilang duduk di sebelahnya dengan dua gelas kopi dari mesin otomatis. Dia menyodorkan satu pada atasannya. Ndaru menerimanya tanpa melihat.
Ponsel Ndaru bergetar. Pesan dari Shana.
Jam3.30: dokter sudah memeriksa langsung. Juna didampingi di rumah dengan rencana pemeriksaan lanjut, Pak. Kami akan menghubungi lagi kalau ada perubahan.
Ndaru menghela napas lega. Sedikit.
Lima puluh menit kemudian, pesan lain masuk.
Jam4.20: Juna sudah lebih tenang dan tidur. Sus Nur istirahat sebentar bergantian dengan saya. Kami mengikuti rencana dari dokter yang memeriksa tadi.
Ndaru menatap pesan itu. Mereka bergantian mendampingi. Gadis itu belum tidur sama sekali sejak pukul dua.
Dia mengetik balasan.
Kamu juga harus istirahat.
Balasan datang cepat.
Nanti, Pak. Kalau Bapak udah sampai.
Ndaru menatap layar ponselnya. Lalu dia menatap ke luar jendela kaca besar ruang tunggu. Langit mulai berubah warna. Dari hitam pekat menjadi biru tua.
Bandara Juanda. Dia teringat cerita yang Shana karang. Pesawat delay. Ponsel mati. Charger yang dipinjamkan.
Ironis. Mereka tidak pernah bertemu di sini. Namun sekarang, di bandara yang sama, Ndaru menunggu pesawat untuk pulang ke rumah. Ke anaknya. Dan ke gadis yang menjaga anaknya.
"Pak," panggil Gilang pelan. "Boarding."
Ndaru berdiri. Dia membuang gelas kopinya yang masih penuh ke tempat sampah. Lalu berjalan cepat menuju gerbang keberangkatan.
Di dalam pesawat, Ndaru tidak bisa tidur. Dia menatap jendela dengan tangan terkepal di pangkuan.
Dulu, dia tidak mengangkat telepon. Dulu, dia memilih rapat. Dulu, dia datang terlambat.
Sekarang, dia akan datang. Bahkan jika harus terbang tanpa henti.
* * *
Pesawat mendarat pukul tujuh. Mobil menjemput di terminal. Jalanan Jakarta di hari kerja tentu saja macet. Ndaru menghabiskan satu jam di dalam mobil dengan kaki yang terus bergerak dan jari yang terus mengetuk sandaran tangan.
Gilang sudah menyerah memintanya tenang sejak tiga puluh menit pertama.
Pesan terakhir dari Shana masuk pukul enam lewat tiga puluh menit.
38,1. Udah mulai turun, Pak. Juna masih tidur.
Sejak itu, tidak ada pesan lagi. Ndaru sudah mengirim dua pesan. Keduanya hanya bercentang satu.
"Mungkin ponselnya mati, Pak," ucap Gilang hati-hati.
"Atau dia ketiduran."
"Itu juga mungkin, Pak."
Ndaru tidak menjawab. Dia menatap ke luar jendela. Mobil akhirnya memasuki komplek perumahan. Pagar tinggi berwarna cokelat tua terbuka. Belum sempat mobil berhenti sempurna, Ndaru sudah membuka pintu.
"Pak! Hati-hati!"
Ndaru tidak mendengarkan. Dia berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Salah satu asisten rumah tangga yang baru datang terkejut melihatnya.
"Pak? Bapak udah pulang?"
"Juna di mana?"
"Di kamarnya, Pak. Sama Bu Shana."
Ndaru langsung naik tangga. Dua anak tangga sekaligus. Lorong lantai dua sunyi. Pintu kamar Juna sedikit terbuka. Ada cahaya pagi yang menyusup dari celahnya.
Ndaru berhenti di ambang pintu. Napasnya terengah. Tangannya terulur untuk mendorong pintu lebih lebar.
Lalu dia berhenti.
Kamar Juna terang oleh cahaya matahari pagi. Tirai jendela sudah dibuka setengah. Di sudut kamar, di kursi goyang kayu yang dulu Ndaru beli saat Juna masih bayi, Shana duduk dengan mata terpejam.
Juna tertidur di dadanya.
Anak itu meringkuk seperti bayi kecil. Kepalanya bersandar di bahu Shana. Tangan mungilnya mencengkeram kerah piyama Shana. Ada handuk kecil yang terlipat di keningnya. Pipinya yang tadinya merah karena demam kini sudah kembali pucat normal.
Shana memeluknya dengan kedua tangan. Satu tangan menopang punggung Juna, satu lagi menahan kepalanya. Bahkan dalam tidurnya, pelukan itu tidak melonggar.
Rambut Shana berantakan. Kacamatanya tergeletak di nakas di samping kursi. Di lantai, ada baskom berisi air yang sudah dingin, handuk-handuk kecil, botol obat, termometer, dan ponsel Shana yang layarnya gelap. Kehabisan baterai.
Suster Nur tertidur di tepi ranjang kecil Juna. Duduk di lantai, kepalanya bersandar di kasur.
Ndaru berdiri di ambang pintu. Tidak bergerak.
Dia tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana. Satu menit. Mungkin lima. Waktu terasa berhenti.
Di dadanya, ada sesuatu yang bergemuruh. Sesuatu yang besar dan tidak terkendali. Dia tidak tahu namanya. Dia tidak mau tahu namanya.
Yang dia tahu hanya satu. Selama dua tahun terakhir, dia selalu takut akan satu hal. Takut suatu saat Juna sakit dan dia tidak ada di sana. Takut Juna menangis mencari seseorang dan tidak ada yang memeluknya.
Dan semalam, ketakutan itu menjadi nyata. Dia tidak ada di sana.
Namun Juna tidak sendirian.
Ndaru melangkah masuk dengan sangat pelan. Dia berjongkok di samping kursi goyang. Tangannya terulur, menyentuh kening Juna dengan punggung jarinya. Hangat. Tidak panas lagi. Hanya hangat seperti anak yang sedang tertidur nyenyak.
Ndaru menghembuskan napas yang tidak ia sadari sudah ia tahan sejak di Surabaya.
Shana bergerak sedikit. Matanya terbuka perlahan. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari ada seseorang di depannya. Lalu matanya membulat.
"Pak?" bisiknya serak.
"Ssst." Ndaru meletakkan jari di bibirnya. "Dia tidur."
Shana mengerjap. Dia melirik Juna di dadanya. Lalu kembali menatap Ndaru. "Bapak udah sampai?"
"Baru saja."
"Saya ketiduran. Maaf. Terakhir saya ukur jam enam. Tiga puluh delapan koma satu."
"Saya tahu. Kamu kirim pesan."
"HP saya mati."
"Saya tahu."
Shana menatapnya. Matanya merah dan sembab. Ada lingkaran hitam di bawahnya. Wajahnya pucat karena kurang tidur.
Ndaru menatapnya balik. Dia ingin mengatakan banyak hal. Terima kasih. Maaf. Terima kasih lagi. Namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.
"Bapak mau gendong dia?" tanya Shana pelan.
Ndaru menatap Juna yang masih tertidur pulas. Tangan kecilnya masih mencengkeram kerah piyama Shana. Tidak mau lepas.
"Iya. Biar saya ambil alih," jawab Ndaru.
"Tangan saya sudah kesemutan, Pak."
Ndaru mengangguk. Ia meminta Suster Nur yang mulai terbangun membantu menyiapkan ranjang, lalu menerima Juna pelan-pelan agar Shana dapat melepaskan tangannya.
Dia berdiri dan berjalan ke lemari di sudut kamar. Mengambil selimut kecil untuk Juna yang sudah dibaringkan di ranjang, kemudian menyodorkan selimut lain kepada Shana. Lalu dia duduk di lantai. Bersandar pada dinding di samping kursi goyang.
Shana menatapnya bingung. "Bapak nggak istirahat?"
"Saya di sini."
"Bapak capek."
"Kamu lebih capek."
Shana terdiam. Dia tidak bisa membantah. Dia memang sangat capek. Seluruh tubuhnya terasa remuk.
Ndaru menyandarkan kepalanya di dinding. Dia memejamkan matanya. Tidak tidur, hanya memejamkan mata. Mendengarkan napas teratur Juna. Mendengarkan napas Shana yang perlahan kembali melambat.
Di luar jendela, matahari pagi semakin tinggi. Burung-burung berkicau di pohon kamboja halaman belakang.
Gilang yang menyusul ke lantai dua berhenti di ujung lorong. Dia melihat pintu kamar Juna yang terbuka. Dia melihat atasannya yang duduk di lantai dengan mata terpejam. Dia melihat istri atasannya beristirahat di kursi goyang, anak atasannya di ranjang, dan Suster Nur yang sudah kembali berjaga di dekatnya.
Gilang berbalik tanpa suara. Dia turun kembali ke lantai satu dan mengeluarkan ponselnya.
Dia membatalkan semua jadwal atasannya hari ini.