Malam yang sunyi tiba-tiba pecah. Tangis kecil terdengar memecah resah. Tubuh mungil terbakar panas yang tak kunjung reda. Sementara sang ayah berada jauh di kota yang berbeda.
Ndaru berangkat ke Surabaya pukul tiga sore. Kunjungan resmi pertamanya sebagai direktur utama ke anak-anak perusahaan yang dulu ia pimpin. Hanya semalam. Besok sore dia sudah kembali.
Juna menangis saat ayahnya pergi. Bukan tangisan keras, tetapi rengekan panjang yang membuat Ndaru berhenti tiga kali di depan pintu.
"Papa pulang besok, Mas. Besok sore."
"Papa jangan pergi."
"Papa kerja sebentar."
"Papa jangan pergi," ulang Juna. Tangannya mencengkeram kerah kemeja ayahnya erat-erat.
Shana berdiri di belakang Suster Nur, menyaksikan pemandangan itu. Dia melihat bagaimana wajah Ndaru berubah. Bagaimana rahangnya mengeras menahan sesuatu.
"Mas Juna," panggil Shana pelan sambil mendekat. "Nanti malam Tante cerita Holly sama Yono naik gunung. Mau?"
Juna menoleh. Matanya masih basah. "Gunung?"
"Gunung yang paling tinggi. Ada salju di atasnya."
Juna terdiam. Rengekannya berhenti. Dia menatap Shana, lalu menatap ayahnya. Lalu kembali menatap Shana.
"Salju itu apa?"
"Nanti Tante ceritain."
Juna berpikir keras. Lalu dia melepaskan cengkeramannya pada kerah kemeja ayahnya dan mengulurkan tangannya ke arah Shana.
Ndaru menatap anaknya yang kini beralih ke pelukan Shana. Ada sesuatu di matanya. Lega, mungkin. Atau sesuatu yang lebih rumit.
"Saya pulang besok sore," ucap Ndaru pada Shana. "Kalau ada apa-apa, telepon saya. Langsung saya. Bukan Gilang."
Shana mengangguk. "Iya, Pak."
Ndaru mencium kepala Juna sekali lagi. Lalu pergi.
***
Malam itu, Shana menepati janjinya. Dia bercerita tentang Holly dan Yono yang mendaki gunung bersalju. Tentang Juna yang menemukan gua es berkilauan di puncaknya. Juna mendengarkan dengan mata berbinar sampai akhirnya tertidur pukul delapan tepat.
Shana kembali ke kamarnya dan menulis sampai pukul sebelas. Lalu tidur.
Pukul dua dini hari, dia terbangun. Seperti biasa.
Namun kali ini berbeda. Kali ini ada suara.
Tangisan. Dari kamar sebelah ruang bermain. Bukan rengekan biasa. Tangisan yang lemah dan serak, seperti anak yang kesakitan.
Shana langsung bangkit. Dia keluar dari kamarnya dengan kaki telanjang dan berjalan cepat melewati ruang bermain. Pintu kamar Juna terbuka. Lampu tidurnya menyala.
Suster Nur duduk di tepi ranjang kecil itu dengan wajah panik. Juna terbaring di pangkuannya, menangis dengan mata setengah terpejam. Wajahnya merah. Rambutnya basah oleh keringat.
"Sus? Kenapa?"
"Mas Juna panas, Bu." Suara Suster Nur bergetar. "Tinggi banget."
Shana langsung berlutut di samping ranjang dan menyentuh kening Juna. Panas. Sangat panas. Seperti menyentuh cangkir teh yang baru diseduh.
"Udah diukur, Sus?"
"Belum, Bu. Termometernya..." Suster Nur menoleh ke sana kemari dengan bingung. "Saya lupa taruh di mana."
Shana menatap wanita paruh baya itu. Tangannya gemetar. Matanya berkaca-kaca. Shana menyadari sesuatu. Suster Nur panik. Benar-benar panik.
Dan jika Suster Nur panik, maka Shana harus tenang.
"Sus, tarik napas dulu," ucap Shana pelan namun tegas. "Termometer biasanya di mana?"
"Di laci... di laci kotak obat. Di kamar mandi."
"Oke. Saya ambil. Sus pegang Juna dulu."
Shana berlari ke kamar mandi Juna. Dia membuka laci kotak obat dan menemukan termometer digital di antara botol-botol sirup. Dia kembali dan menyelipkannya di ketiak Juna dengan hati-hati.
Juna menangis lebih keras. Tangannya menggapai-gapai lemah.
"Papa," rengeknya. "Papa..."
"Papa lagi kerja, Sayang. Tante di sini. Sus di sini." Shana mengusap rambut Juna yang basah. "Sebentar, ya. Tante ukur panasnya dulu."
Termometer berbunyi. Shana menariknya dan menatap angkanya.
Tiga puluh sembilan koma delapan.
Shana menelan ludahnya. Tinggi. Sangat tinggi untuk anak seusia Juna.
"Sus, Juna pernah kejang kalau demam?"
Suster Nur menggeleng cepat. "Belum pernah, Bu. Tapi kemarin waktu di Surabaya dia diopname karena demam tinggi. Sebelum pindah ke sini."
Shana teringat. Gilang pernah menyebutkan Juna baru keluar dari rumah sakit saat pertama kali tiba di Jakarta. Plester bekas infus di tangan kecilnya di bandara.
"Ada nomor dokter anak yang biasa nanganin?"
"Ada, Bu. Di buku catatan saya."
"Ambil, Sus. Telepon sekarang. Saya pegang Juna."
Suster Nur menyerahkan Juna pada Shana dan berlari keluar. Shana memeluk tubuh kecil itu di dadanya. Panas. Tubuh Juna terasa seperti tungku kecil.
"Papa..."
"Ssst. Tante di sini."
Shana mulai bersenandung pelan. Lagu yang dulu sering Ibu nyanyikan saat dia demam waktu kecil. Lagu daerah yang liriknya sudah ia lupakan setengahnya. Namun nadanya masih ia ingat.
Juna berhenti menangis sebentar. Dia membuka matanya yang merah dan menatap Shana dengan bingung.
"Tante Cana?"
"Iya, Sayang. Tante di sini."
"Panas."
"Iya. Nanti dingin lagi. Sebentar lagi."
Suster Nur kembali dengan ponsel di telinga. Dia berbicara dengan cepat. Lalu menyerahkan ponselnya pada Shana.
"Dokternya mau bicara sama Ibu."
Shana menerima ponsel itu. Suara pria di seberang sana terdengar tenang dan mengantuk. Dokter itu bertanya beberapa hal. Suhu tubuh. Apakah ada ruam. Apakah Juna masih mau minum. Apakah ada kejang.
Shana menjawab semuanya dengan jelas. Setelah mendengar keadaan Juna, dokter mengatur pemeriksaan segera. Ia tidak meminta mereka menunggu sampai suhu menyentuh angka tertentu. Sementara menunggu, Shana dan Suster Nur mengikuti arahan langsung yang diberikan sesuai keadaan anak itu, serta menyiapkan kendaraan bila bantuan di rumah tidak cukup.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Shana mengembalikan ponsel itu pada Suster Nur. Lalu dia menatap wanita paruh baya itu dengan tegas.
"Sus, siapkan catatan kesehatan Juna dan buka akses untuk dokternya. Kita ikuti yang sudah beliau jelaskan, jangan menebak sendiri."
"Baik, Bu."
Suster Nur bergerak cepat. Kepanikannya mulai mereda setelah diberi tugas yang jelas.
Shana menatap Juna yang masih terisak lemah di pelukannya. Lalu dia meraih ponselnya sendiri dari saku piyama. Jam di layar menunjukkan pukul dua lewat dua puluh menit.
Dia membuka percakapan dengan Ndaru.
Telepon saya. Langsung saya. Bukan Gilang.
Jarinya berhenti di atas layar. Dia ragu. Pria itu sedang di Surabaya. Pasti sudah tidur. Pasti lelah setelah seharian rapat.
Juna kembali menangis. "Papa..."
Shana tidak ragu lagi. Dia mengetik dengan cepat.
Pak, Juna demam 39,8. Dokter sudah dihubungi dan pemeriksaan segera diatur. Saya dan Sus Nur mendampingi. Juna cari Bapak. Tolong hubungi kami.
Dia mengirimnya. Lalu meletakkan ponselnya di atas kasur dan kembali fokus pada anak yang menggigil di pelukannya.