Ruang rapat utama di lantai empat puluh gedung Atmadjiwo Grup dipenuhi orang-orang berjas gelap. Meja oval panjang dari kayu mahoni dikelilingi oleh kursi-kursi kulit berwarna hitam. Di ujung meja, layar besar menampilkan logo perusahaan.
Ndaru duduk di kursi yang biasanya ditempati direktur utama. Kursi yang selama ini milik kakaknya. Guna duduk di sampingnya. Harris duduk di kursi komisaris utama di ujung lain meja, didampingi Iqbal.
Darma duduk di sisi kanan meja. Dikelilingi oleh tujuh pemegang saham yang sejak awal meragukan Ndaru. Wajah mereka datar. Beberapa menatap Ndaru dengan tatapan menilai. Beberapa lagi sibuk membaca dokumen di depan mereka.
Gilang berdiri di belakang Ndaru dengan iPad di tangan. Wajahnya tegang. Lebih tegang dari biasanya.
"Mari kita mulai," ucap Harris. Suaranya bergema di ruangan yang sunyi.
Prosesi RUPS berjalan seperti biasa. Laporan keuangan tahunan. Laporan kinerja direksi. Rencana strategis untuk tahun depan. Semua dibacakan oleh direktur keuangan dengan suara monoton.
Lalu tiba saatnya.
"Agenda selanjutnya," ucap Harris. "Pengangkatan direktur utama baru. Sebagaimana diketahui, Saudara Adhiguna Amir Atmadjiwo akan mengundurkan diri dari jabatan direktur utama untuk fokus pada pencalonannya sebagai anggota DPR RI. Dewan komisaris mengusulkan Saudara Handaru Gama Atmadjiwo sebagai pengganti."
Darma mengangkat tangannya. "Sebelum pemungutan suara, boleh saya bicara?"
Harris menatap besannya. Lalu mengangguk. "Silakan, Dar."
Darma berdiri. Dia merapikan jasnya dan menatap seluruh ruangan.
"Saya tidak meragukan kemampuan Ndaru. Dia anak yang cerdas. Kinerjanya di Surabaya sangat baik." Darma tersenyum. "Namun ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab sebelum kita mempercayakan perusahaan ini padanya."
Ruangan hening. Semua mata tertuju pada Darma.
"Pertama, skandal yang terjadi beberapa minggu lalu. Kita semua melihat fotonya. Kita semua membaca beritanya. Saham perusahaan turun hampir delapan persen dalam seminggu." Darma menatap Ndaru. "Apa jaminan bahwa hal serupa tidak akan terjadi lagi?"
Beberapa pemegang saham mengangguk setuju.
"Kedua, pernikahan yang begitu cepat. Beberapa pekan setelah skandal. Banyak yang bertanya, apakah ini keputusan bisnis atau keputusan pribadi?"
Ndaru tidak bereaksi. Dia hanya menatap Darma dengan tenang.
"Saya rasa itu cukup. Saya persilakan Ndaru untuk menjawab." Darma kembali duduk.
Semua mata beralih pada Ndaru.
Ndaru berdiri. Dia tidak membawa catatan. Tidak membawa iPad. Hanya berdiri di sana dengan kedua tangan di sisi tubuhnya.
Malam sebelumnya, dia dan Shana sudah menyusun pidato ini bersama-sama. Sampai pukul dua dini hari. Shana menulis, Ndaru membaca dan mengoreksi. Lalu Shana menulis ulang. Lalu Ndaru membaca lagi.
Namun sekarang, berdiri di depan para pemegang saham, Ndaru memutuskan untuk tidak membacakannya.
"Pak Darma benar," ucapnya. Suaranya tenang dan jelas. "Skandal itu terjadi. Fotonya nyata. Saham turun delapan persen. Saya tidak akan menyangkalnya."
Beberapa pemegang saham terlihat terkejut. Mereka tidak menyangka Ndaru akan mengakuinya begitu saja.
"Saya juga tidak akan menjelaskan detail apa yang terjadi malam itu. Itu urusan pribadi saya dan istri saya." Ndaru menatap mereka satu per satu. "Yang bisa saya katakan adalah, saya tidak lari. Saya menghadapinya. Saya bertanggung jawab. Dan dalam dua minggu, saham kita kembali naik sebelas persen."
Gilang di belakangnya mengangkat iPad. Layar besar di ujung ruangan berganti menampilkan grafik pergerakan saham. Garis yang turun tajam, lalu naik kembali dengan curam.
"Bapak-bapak bertanya apakah pernikahan saya keputusan bisnis atau pribadi." Ndaru terdiam sebentar. "Jujur, saya tidak tahu lagi bedanya."
Ruangan hening.
"Saya menikahi seorang perempuan yang tidak pernah takut pada saya. Yang semalaman tidak tidur untuk membantu saya menyiapkan rapat ini. Yang membuat anak saya tertawa lebih banyak dalam dua minggu terakhir dibanding dua tahun sebelumnya."
Darma mengerutkan dahinya. Beberapa pemegang saham saling berpandangan.
"Mungkin Bapak-bapak menganggap itu tidak relevan untuk memimpin perusahaan." Ndaru tersenyum tipis. "Tapi saya tidak meminta dipilih karena pernikahan. Bapak-bapak berhak menilai pengalaman, hasil, dan rencana kerja saya. Semua angkanya sudah disiapkan untuk diperiksa."
Lalu Ndaru mulai berbicara tentang Surabaya. Tentang tiga anak perusahaan yang ia ambil alih saat hampir bangkrut. Tentang karyawan-karyawan yang hampir di-PHK, yang sekarang menjadi tulang punggung perusahaan. Tentang keputusan-keputusan sulit yang ia ambil. Tentang kesalahan-kesalahan yang ia buat dan bagaimana ia memperbaikinya.
Dia tidak membaca angka. Dia bercerita.
Persis seperti yang Shana ajarkan.
Dua puluh menit kemudian, Ndaru selesai. Dia kembali duduk. Ruangan masih hening.
Lalu salah satu pemegang saham, seorang pria tua berambut putih yang duduk di sebelah Darma, mulai bertepuk tangan. Pelan. Lalu pemegang saham lain mengikuti. Satu per satu.
Darma menatap sekelilingnya. Wajahnya tidak terbaca.
"Kita lakukan pemungutan suara," ucap Harris.
Hasilnya diumumkan sepuluh menit kemudian.
Handaru Gama Atmadjiwo terpilih sebagai Direktur Utama Atmadjiwo Grup. Dengan suara mayoritas. Dari tujuh pemegang saham yang ragu, lima berubah pikiran.
Darma adalah salah satunya.
Setelah rapat selesai, Darma menghampiri Ndaru. Dia mengulurkan tangannya.
"Selamat, Ru."
Ndaru menjabat tangan itu. "Terima kasih, Pak Darma."
"Kamu tahu kenapa saya melakukan semua itu?" Darma tersenyum. Kali ini senyumnya terasa berbeda. Lebih tulus. "Saya harus memastikan kamu bisa berdiri sendiri. Arya tidak ada lagi. Saya tidak bisa mempercayakan masa depan cucu saya pada orang yang tidak bisa bertahan di bawah tekanan."
Ndaru menatap Darma. Dia tidak tahu harus percaya atau tidak. Namun untuk saat ini, dia memilih untuk mengangguk.
"Saya mengerti, Pak."
"Dan satu lagi." Darma mencondongkan tubuhnya. Berbisik. "Istrimu. Jaga dia baik-baik. Perempuan seperti itu jarang."
Darma menepuk bahu Ndaru dan berlalu pergi.
Ndaru masih berdiri di tempatnya. Dia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Jarinya bergerak cepat.
Berhasil.
Balasan datang dalam hitungan detik. Seolah gadis itu sudah menunggu dengan ponsel di tangan.
SELAMAT PAK!!! Saya udah tahu Bapak bisa!!!
Tiga tanda seru. Dua kali.
Ndaru menatap pesan itu. Lalu dia tersenyum. Senyum yang lebar dan tidak disembunyikan. Di tengah ruang rapat yang mulai sepi, di depan Gilang yang menatapnya dengan mulut terbuka.
"Lang."
"Y-ya, Pak?"
"Belikan martabak. Yang paling besar. Untuk di rumah."
* * *
Guna menyalami Ndaru di lobi gedung setelah rapat. Di depan Harris, di depan Iqbal, di depan beberapa direktur yang masih berlalu-lalang. Pelukannya erat. Tepukannya di punggung Ndaru terdengar keras.
"Selamat, Ru. Aku bangga sama kamu."
"Terima kasih, Mas."
"Papa juga pasti bangga." Guna menoleh pada ayahnya. 'Kan, Pa?'
Harris menatap kedua putranya. Lalu dia mengangguk pelan. "Kamu sudah melakukan yang seharusnya, Mas."
Hanya itu. Namun bagi Ndaru, itu sudah cukup. Harris Atmadjiwo tidak pernah memuji secara berlebihan. Bahkan pada hari wisuda Ndaru di luar negeri dulu, ayahnya hanya berkata, "Sudah selesai? Bagus. Pulang."
"Papa pulang dulu," ucap Harris. "Malam ini empat puluh harinya Arya. Jangan sampai terlambat."
"Iya, Pa."
Harris berlalu dengan tongkatnya, didampingi Iqbal. Guna menatap kepergian ayahnya. Lalu kembali menatap Ndaru.
"Aku serius, Ru," ucapnya lebih pelan. "Aku bangga."
"Aku tahu, Mas."
"Tapi jujur..." Guna tertawa kecil. "Aku sedikit iri."
Ndaru menatap kakaknya. Dia tidak menyangka Guna akan mengakuinya.
"Kamu datang, kena skandal, nikah, terus semua orang suka sama kamu. Dalam satu bulan." Guna menggeleng pelan. "Aku butuh sepuluh tahun buat bangun nama di politik. Dan masih ada orang yang benci aku."
"Mas—"
"Nggak apa-apa." Guna menepuk bahu adiknya. "Aku cuma mau jujur. Biar nggak jadi penyakit."
Ndaru terdiam. Lalu dia tersenyum tipis. "Shana bilang caption Mas terlalu formal."
Guna tertawa. Keras. Beberapa direktur yang lewat menoleh. "Istrimu itu, Ru. Mulutnya nggak ada saringannya."
"Tapi dia benar."
"Iya. Dia benar." Guna menghela napas. "Rahmat udah ganti gaya caption-ku. Engagement naik dua kali lipat dalam tiga hari."
Kedua saudara itu tertawa bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
***
Di mobil menuju rumah, Guna duduk diam di samping Yanti. Matanya menatap ke luar jendela.
"Mas lega?" tanya Yanti.
"Lega." Guna terdiam sebentar. "Tapi juga sedih."
"Kenapa?"
"Harusnya Arya yang duduk di kursi itu." Suara Guna bergetar. "Dia udah setuju mau berhenti jadi hakim. Dia udah siap. Tinggal satu kasus lagi."
Yanti menggenggam tangan suaminya. Dia tidak berkata apa-apa. Tidak ada kata-kata yang bisa menghibur di saat seperti ini.
Guna memejamkan matanya. Untuk beberapa saat, dia membiarkan dirinya bersedih. Bukan sebagai politisi. Bukan sebagai anak sulung keluarga Atmadjiwo. Hanya sebagai seorang kakak yang kehilangan adiknya.
***
Kediaman Haryadi kembali ramai malam itu. Tahlilan empat puluh hari. Tenda putih berdiri di halaman depan. Kursi-kursi plastik berjajar rapi. Lantunan doa mulai terdengar dari dalam rumah.
Shana turun dari mobil dengan langkah kaku. Dia mengenakan gamis hitam sederhana dan kerudung abu-abu tua. Tangannya dingin. Perutnya mual.
Ini pertama kalinya dia menginjakkan kaki di rumah ini. Rumah Haryadi Atmadjiwo.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ndaru yang berjalan di sampingnya sambil menggendong Juna.
"Baik, Pak," jawab Shana cepat. Terlalu cepat.
Ndaru menatapnya. Namun mereka sudah sampai di teras. Putri menyambut mereka di pintu dengan senyum lembut.
"Shana. Terima kasih sudah datang."
"Sama-sama, Mbak." Shana memaksakan senyumnya. "Saya turut berduka."
Kalimat itu terasa pahit di lidahnya. Turut berduka. Dia tidak berduka. Dia tidak pernah berduka. Dia merayakan.
Putri memeluknya sebentar. Lalu menuntunnya masuk ke ruang tengah, ke area perempuan. Shana duduk di antara ibu-ibu yang tidak ia kenal. Yanti duduk di sebelahnya. Mala di sebelah Yanti.
Lantunan Yasin dimulai. Shana membuka buku Yasin di pangkuannya. Dia membaca bersama yang lain. Bibirnya bergerak mengikuti. Namun pikirannya tidak di sana.
Matanya tertuju pada foto besar di dinding ruang tengah. Foto Haryadi dengan toga hakim. Wajahnya tegas, matanya tajam. Pria yang sama yang Shana lihat di televisi saat berita kecelakaannya. Pria yang sama yang Shana lihat bertahun-tahun lalu, duduk di kursi tinggi di ruang sidang.
Shana menunduk. Tangannya gemetar. Huruf-huruf di buku Yasin mulai kabur.
Setelah pembacaan Yasin selesai, Shana bangkit. "Mbak Yanti, toiletnya di mana?"
"Lurus, belok kiri."
Shana berjalan cepat. Hampir berlari. Dia masuk ke toilet dan mengunci pintu. Lalu bersandar di dinding dengan napas terengah.
Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat. Matanya merah.
"Lo duduk di rumahnya," bisiknya pada pantulan itu. "Lo baca Yasin buat dia."
Shana menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya gemetar. Bukan karena sedih. Bukan juga karena marah. Lebih seperti tubuhnya tidak tahu harus merasakan apa. Benci yang sudah ia simpan bertahun-tahun, bertabrakan dengan kebaikan Putri. Dengan senyum Satria. Dengan Ndaru yang membaca Yasin untuk kakaknya dengan suara bergetar.
Jangan sampai kalian jadi orang yang membenci.
Suara Ayah. Kalimat yang Erina ulang di dapur malam itu.
Shana membasuh wajahnya dengan air dingin. Berkali-kali. Sampai napasnya kembali teratur. Lalu dia menatap cermin lagi dan memasang senyumnya.
Senyum yang sudah ia latih bertahun-tahun.
Dia keluar dari toilet dan kembali ke ruang tengah. Duduk di samping Yanti. Tersenyum pada Putri yang menatapnya dari seberang ruangan.
Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang bertanya.
Kecuali satu orang.
Dari area laki-laki di teras, melalui pintu yang terbuka, Ndaru menatap istrinya. Dia melihat Shana yang pergi dengan tergesa. Dia melihat Shana yang kembali dengan wajah basah dan senyum yang terlalu sempurna.
Dia tidak bertanya. Namun dia menyimpannya.