Darma Baktiar duduk di sofa kulit di ruang kerja Ndaru dengan kaki bersilang. Pria berusia enam puluhan itu mengenakan batik sutra berwarna cokelat keemasan. Cincin akik besar melingkar di jari manisnya. Wajahnya ramah, senyumnya lebar. Namun matanya tajam seperti elang yang mengintai mangsa.
"Selamat atas pernikahanmu, Ru. Maaf saya tidak bisa datang ke akad. Ada urusan di Samarinda."
"Tidak apa-apa, Pak Darma. Terima kasih sudah datang ke resepsinya."
"Tentu, tentu." Darma tersenyum. "Istrimu cantik. Pintar bicara juga. Saya lihat wawancara kalian."
"Terima kasih, Pak."
Darma menyesap teh yang disajikan Gilang. Lalu meletakkan cangkirnya dengan pelan. Senyumnya masih di tempat. Namun ada perubahan di udara. Seperti awan yang mulai menutupi matahari.
"Saya ke sini mau bicara soal RUPS, Ru."
"Silakan, Pak."
"Seperti yang sudah saya sampaikan ke Papamu, ada beberapa pemegang saham yang masih ragu." Darma menatap Ndaru lurus. "Tujuh orang, tepatnya. Dan kebetulan, mereka semua kenalan dekat saya."
Ndaru tidak bereaksi. Dia sudah tahu angka itu dari Gilang.
"Apa yang mereka ragukan, Pak?"
"Banyak hal." Darma menghitung dengan jari-jarinya. "Pertama, usiamu. Kamu baru tiga puluh delapan. Mas Guna dulu memimpin di usia empat puluh lima. Arya rencananya juga di usia empat puluh tiga."
"Usia bukan ukuran kemampuan, Pak."
"Saya setuju. Tapi mereka tidak." Darma menekuk jari keduanya. "Kedua, pengalamanmu. Kamu memang berhasil di Surabaya. Tiga anak perusahaan, pertumbuhan bagus. Tapi itu skala kecil, Ru. Induk perusahaan ini berbeda."
Ndaru masih diam.
"Ketiga." Darma menekuk jari ketiganya. Senyumnya mulai memudar. "Skandal itu."
"Skandal itu sudah selesai, Pak. Saya sudah menikah dengan Shana. Publik sudah menerima."
"Publik, iya. Pemegang saham belum tentu." Darma mencondongkan tubuhnya ke depan. "Mereka tidak bodoh, Ru. Mereka tahu pernikahan ini terjadi terlalu cepat. Beberapa pekan setelah skandal, langsung menikah. Banyak yang curiga ini hanya pengalihan isu."
Ndaru tidak menjawab. Jari-jarinya mulai mengetuk sandaran kursi.
"Dan ada satu hal lagi." Darma menatap Ndaru dengan serius. "Latar belakang istrimu."
Ketukan jari Ndaru berhenti.
"Saya dengar ayahnya mantan narapidana. Benar?"
Ndaru menatap Darma lama. Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin.
"Dari mana Bapak dengar itu?"
"Kabar seperti ini cepat menyebar di kalangan kita, Ru. Kamu tahu itu." Darma bersandar kembali. "Saya tidak menilai. Saya hanya menyampaikan apa yang mereka pikirkan. Seorang direktur utama Atmadjiwo Grup, yang terlibat skandal ciuman di hotel, lalu menikah dengan anak mantan narapidana dalam waktu beberapa pekan. Kamu pikir bagaimana mereka akan memandangnya?"
"Ayah Shana sudah meninggal. Dan kasusnya tidak ada hubungannya dengan perusahaan."
"Tentu. Tapi persepsi itu penting." Darma tersenyum lagi. "Kamu sendiri yang bilang nama baik itu segalanya."
Ndaru tidak menjawab. Dia menatap pria di hadapannya. Darma adalah besan ayahnya. Ayah Putri. Kakek Satria. Orang yang sudah menjadi bagian dari keluarga Atmadjiwo selama lebih dari lima belas tahun.
Dan orang yang sekarang mengancamnya dengan halus.
"Apa yang Bapak inginkan?" tanya Ndaru pada akhirnya.
Darma tertawa pelan. "Saya tidak menginginkan apa-apa, Ru. Saya hanya ingin memastikan perusahaan ini dipimpin oleh orang yang tepat. Kalau kamu bisa meyakinkan mereka, saya akan mendukungmu. Kalau tidak..." Dia mengangkat bahu. "Kita lihat saja hasilnya."
Darma berdiri dan merapikan batiknya. Dia mengulurkan tangannya pada Ndaru.
"Semoga berhasil, Ru. Saya sungguh berharap kamu berhasil."
Ndaru menjabat tangan itu. Erat. "Terima kasih, Pak Darma."
Setelah Darma pergi, Ndaru masih berdiri di tengah ruangan. Tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
"Pak," panggil Gilang pelan. "Bapak baik-baik saja?"
"Dia tahu soal ayah Shana, Lang."
"Saya juga terkejut, Pak. Informasi itu seharusnya hanya diketahui keluarga."
"Cari tahu dari mana dia dapat informasi itu."
"Baik, Pak."
Ndaru berjalan ke jendela. Dia menatap gedung-gedung tinggi Jakarta dari lantai tertinggi gedung Atmadjiwo Grup. Kota yang dulu ia tinggalkan. Kota yang sekarang menuntutnya untuk kembali.
Dan untuk pertama kalinya sejak keputusannya untuk menikah, Ndaru bertanya-tanya. Apakah dia sudah menyeret Shana ke dalam sesuatu yang lebih besar dari yang gadis itu bayangkan?
***
Malam itu, Ndaru pulang pukul sepuluh. Lebih awal dari biasanya, tetapi tetap terlambat untuk makan malam bersama Juna.
Lampu ruang tengah menyala. Bukan lampu meja yang redup, tetapi lampu baca baru yang Gilang belikan. Lampu dengan tiang tinggi dan kepala yang bisa ditekuk, cahayanya hangat keemasan.
Shana duduk di sofa dengan laptop di pangkuan. Dia mengangkat wajahnya saat mendengar langkah Ndaru.
"Pak. Udah pulang?"
"Hm."
Shana menatapnya. Lalu dia menutup laptopnya sedikit. "Bapak kenapa?"
"Kenapa apa?"
"Muka Bapak kayak orang abis kalah perang."
Ndaru terdiam. Dia tidak tahu bagaimana gadis itu bisa membaca wajahnya dengan begitu mudah. Semua orang selalu bilang wajahnya tidak bisa ditebak. Datar. Dingin. Tanpa ekspresi.
Namun Shana membacanya seperti membaca buku yang terbuka.
Ndaru meletakkan tasnya dan duduk di sofa tunggal yang sama seperti malam itu. Dia melonggarkan dasinya. Lalu, untuk pertama kalinya, dia bercerita.
Tentang RUPS. Tentang tujuh pemegang saham yang ragu. Tentang Darma dan ancaman halusnya. Dia tidak menyebutkan soal ayah Shana. Dia tidak tahu kenapa, tetapi dia tidak sanggup mengatakannya.
Shana mendengarkan tanpa menyela. Laptopnya sudah tertutup sepenuhnya. Matanya menatap Ndaru dengan serius.
"Jadi masalahnya bukan di kemampuan Bapak," ucap Shana setelah Ndaru selesai. "Tapi di cerita."
"Cerita?"
"Mereka nggak percaya sama cerita Bapak. Mereka liat Bapak sebagai duda muda yang kena skandal, terus buru-buru nikah buat nutupin. Itu ceritanya." Shana memeluk lututnya. "Kalau Bapak mau mereka percaya, Bapak harus ganti ceritanya."
Ndaru menatapnya. "Bagaimana caranya?"
Shana tersenyum. Senyum yang sama seperti saat dia mengarang cerita tentang bandara Juanda.
"Saya penulis, Pak. Kasih saya waktu satu malam."
* * *
Shana tidak tidur malam itu. Tidak hanya terbangun pukul dua dini hari seperti biasa. Dia benar-benar tidak tidur sama sekali.
Dia duduk di sofa ruang tengah dengan laptop, buku catatan, dan tiga cangkir teh yang sudah habis. Di meja depannya, berserakan kertas-kertas yang dipenuhi coretan. Data perusahaan yang Ndaru berikan. Artikel-artikel lama tentang Atmadjiwo Grup. Profil singkat tujuh pemegang saham yang Gilang kirimkan lewat surel tengah malam.
Ndaru turun pukul empat pagi untuk berenang. Dia berhenti di anak tangga terakhir dan menatap kekacauan di ruang tengah dengan mata membulat.
"Kamu tidak tidur?"
"Belum, Pak. Sebentar lagi selesai."
Ndaru berjalan mendekat. Dia melirik layar laptop Shana. Ada dokumen yang panjangnya sudah belasan halaman.
"Apa ini?"
"Cerita Bapak." Shana memutar laptopnya agar Ndaru bisa melihat. "Saya bagi jadi tiga bagian."
Ndaru duduk di sofa tunggal. Dia membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua. Wajahnya yang tadinya mengantuk perlahan berubah serius.
"Bagian pertama," jelas Shana. "Bapak harus akui skandal itu. Jangan dihindari. Pemegang saham nggak bodoh. Kalau Bapak pura-pura itu nggak pernah terjadi, mereka makin curiga. Jadi Bapak bahas duluan, sebelum mereka bahas."
"Mengakui skandal di RUPS?"
"Pisahkan fakta yang perlu diluruskan dari kehidupan pribadi," jawab Shana. "Menikah bukan bukti kemampuan memimpin. Yang harus Bapak tunjukkan adalah cara menghadapi masalah, hasil kerja, dan rencana yang bisa diperiksa."
Ndaru terdiam. Kalimat itu menusuknya. Karena dia pernah lari. Dari Jakarta, dari rumah lamanya, dari semua kenangan. Dia lari ke Surabaya dan bersembunyi selama bertahun-tahun.
"Bagian kedua," lanjut Shana, tidak menyadari perubahan di wajah Ndaru. "Angka. Bapak punya angka yang bagus dari Surabaya. Tiga anak perusahaan, pertumbuhan rata-rata dua puluh persen per tahun. Itu harus ditonjolkan. Tapi jangan cuma angka. Ceritain prosesnya. Gimana Bapak ambil perusahaan yang hampir bangkrut dan bikin dia untung."
"Gilang sudah menyiapkan presentasinya."
"Saya udah liat. Bagus, tapi terlalu kering. Kayak laporan keuangan." Shana tersenyum. "Orang lebih inget cerita daripada angka, Pak."
Ndaru menatapnya. Dia mulai mengerti kenapa novel-novel gadis ini laku keras.
"Bagian ketiga?"
Shana terdiam sebentar. Dia terlihat ragu. "Bagian ketiga ini... agak pribadi, Pak."
"Katakan."
"Keluarga." Shana menatap Ndaru dengan hati-hati. "Pemegang saham itu orang-orang tua, Pak. Kebanyakan udah punya cucu. Mereka percaya sama orang yang punya keluarga yang stabil. Bapak punya Juna. Bapak punya istri. Bapak punya keluarga besar yang mendukung. Itu harus mereka liat."
"Bagaimana caranya mereka melihat?"
"Gilang bilang ada acara Atmadjiwo Foundation lusa. Peresmian taman bacaan anak di daerah Jakarta Utara."
Ndaru mengangguk. Acara itu sudah terjadwal sejak lama. Biasanya Yanti yang menghadirinya sebagai perwakilan keluarga.
"Kita datang," ucap Shana. "Bapak, saya, dan Juna. Bukan sebagai direktur atau keluarga konglomerat. Tapi sebagai keluarga biasa yang peduli sama anak-anak."
Ndaru menatap Shana lama. Gadis itu menatapnya balik dengan mata merah karena kurang tidur. Ada lingkaran hitam di bawah matanya. Rambutnya berantakan. Namun matanya bersinar dengan semangat yang tulus.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Ndaru pelan.
Shana mengerjap. "Melakukan apa?"
"Ini." Ndaru menunjuk laptop dan kertas-kertas di meja. "Semalaman tidak tidur untuk menyusun strategi perusahaan saya."
Shana terdiam. Dia menunduk menatap jari-jarinya.
"Poin empat," jawabnya pada akhirnya. "Pihak pertama dan pihak kedua harus saling membantu untuk membangun citra positif."
Ndaru menatapnya. Dia tahu itu bukan jawaban yang sebenarnya. Namun dia tidak bertanya lagi.
"Terima kasih," ucapnya.
Shana tersenyum kecil. "Bapak bisa bilang terima kasih setelah RUPS-nya berhasil."
Ndaru berdiri. Dia menatap jam dinding. Pukul empat lewat tiga puluh menit.
"Tidur. Sekarang."
"Tapi saya belum selesai—"
"Sekarang, Shana." Ndaru menutup laptop gadis itu dengan pelan. "Sisanya kita kerjakan nanti malam. Bersama."
Shana menatapnya. Lalu dia mengangguk pelan. Dia berdiri dengan kaki yang sedikit goyah karena terlalu lama duduk bersila.
"Selamat pagi, Pak," ucapnya sambil menguap.
"Selamat tidur, Shana."
***
Dua hari kemudian, taman bacaan anak di sebuah kampung nelayan di Jakarta Utara dipenuhi wartawan.
Mereka datang karena mendengar kabar bahwa Handaru Atmadjiwo dan Shana Arkadewi akan hadir. Bersama dengan anak mereka. Ini pertama kalinya Juna akan muncul di depan publik sejak foto di bandara.
Taman bacaan itu sederhana. Sebuah bangunan kayu bercat warna-warni dengan rak-rak buku yang penuh. Di depannya, ada halaman kecil dengan ayunan dan perosotan. Puluhan anak-anak kampung sudah berkumpul dengan wajah penasaran.
Shana turun dari mobil lebih dulu. Dia mengenakan kemeja linen putih dan celana panjang krem. Sederhana. Rambutnya diikat ekor kuda. Kacamatanya kembali bertengger di hidungnya. Gilang sempat bertanya apakah dia mau menggunakan lensa kontak. Shana menolak.
"Mereka harus liat saya yang asli, Mas."
Ndaru turun dari sisi lain sambil menggendong Juna. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan pendek dan celana bahan. Tidak ada jas. Tidak ada dasi. Juna di gendongannya mengenakan kaos bergambar dinosaurus dan topi kecil.
Wartawan langsung mengarahkan kamera mereka.
Namun Shana tidak menghiraukan mereka. Dia langsung berjalan menuju anak-anak yang berkumpul di depan taman bacaan. Dia berjongkok dan tersenyum.
"Halo! Siapa yang suka cerita naga?"
Puluhan tangan terangkat.
"Aku! Aku!"
"Aku suka naga!"
Shana tertawa. Dia duduk di atas tikar di depan taman bacaan dan mulai bercerita. Cerita tentang naga putih bernama Holly. Anak-anak duduk mengelilinginya dengan mata berbinar.
Juna menggeliat di gendongan ayahnya. "Papa. Holly. Turun."
Ndaru menurunkan anaknya. Juna langsung berlari kecil dan duduk di pangkuan Shana. Tanpa ragu. Tanpa malu. Seolah itu adalah tempat paling alami di dunia.
Kamera wartawan berkedip tanpa henti.
Ndaru berdiri di belakang mereka. Dia memperhatikan Shana yang bercerita dengan penuh semangat. Juna yang tertawa di pangkuannya. Anak-anak kampung yang terpukau.
Lalu seorang anak laki-laki kecil menarik celana Ndaru.
"Om. Om juga mau dengerin?"
Ndaru menunduk. Anak itu menatapnya dengan mata polos. Tidak takut. Tidak segan.
Ndaru terdiam sebentar. Lalu dia melepas sepatunya dan duduk bersila di atas tikar. Di antara anak-anak kampung yang menatapnya heran.
Shana meliriknya. Dia tidak berhenti bercerita, tetapi senyumnya melebar.
Dan kamera wartawan menangkap semuanya. Handaru Atmadjiwo, pewaris kerajaan bisnis Atmadjiwo Grup, duduk bersila di atas tikar lusuh di kampung nelayan. Mendengarkan istrinya bercerita tentang naga. Dengan anaknya yang tertawa di pangkuan sang istri.