Gilang Pradipta sudah bekerja untuk Handaru Atmadjiwo selama tiga tahun. Tiga tahun yang penuh dengan jadwal padat, rapat tanpa henti, dan atasan yang lebih sering diam daripada berbicara.
Dalam tiga tahun itu, Gilang sudah hafal semua kebiasaan atasannya. Ndaru bangun sebelum Subuh. Berenang tiga puluh menit. Sarapan dengan kopi hitam tanpa gula. Membaca berita ekonomi di iPad. Berangkat ke kantor pukul tujuh tiga puluh. Rapat, rapat, dan rapat. Makan siang di meja kerja. Pulang larut. Tidur. Ulangi.
Tidak ada yang berubah selama tiga tahun. Bahkan setelah kepindahan ke Jakarta, rutinitas itu tetap sama.
Sampai pagi ini.
Gilang tiba di rumah Ndaru pukul tujuh tepat, seperti biasa. Dia masuk lewat pintu samping, seperti biasa. Dia berjalan menuju ruang makan untuk menyampaikan jadwal hari ini, seperti biasa.
Namun pemandangan di ruang makan tidak seperti biasa.
Ndaru duduk di kepala meja. Bukan dengan iPad di tangannya, tetapi dengan Juna di pangkuannya. Anak itu sedang mengunyah roti tawar yang dipotong berbentuk bintang. Suster Nur duduk di sampingnya dengan wajah sedikit bingung, seperti tidak tahu harus melakukan apa karena tugasnya diambil alih.
Di sisi kanan meja, Shana duduk dengan wajah yang masih mengantuk. Rambutnya berantakan. Ada bekas sandaran sofa di pipi kirinya. Dia memegang cangkir teh dengan kedua tangan sambil menguap lebar.
"Pagi, Mas Gilang," sapa Shana dengan suara serak.
"Pagi, Bu." Gilang mengalihkan pandangannya pada atasannya. "Pagi, Pak."
"Pagi, Lang."
Gilang membuka iPad-nya. "Jadwal hari ini, Pak. Pukul delapan rapat dengan divisi properti. Pukul sepuluh—"
"Mundurkan rapat jam delapan ke jam sembilan."
Gilang berhenti. Dia mengangkat wajahnya. "Maaf, Pak?"
"Mundurkan ke jam sembilan," ulang Ndaru tanpa mengangkat wajah. Dia sedang membersihkan remah roti dari pipi Juna dengan jempolnya. "Saya mau sarapan dulu."
Gilang menatap atasannya. Lalu menatap Shana yang pura-pura sibuk dengan tehnya. Lalu kembali menatap atasannya.
Dalam tiga tahun, Handaru Atmadjiwo tidak pernah memundurkan rapat untuk sarapan. Tidak sekali pun.
"Baik, Pak," jawab Gilang. Dia mengetik sesuatu di iPad-nya. Sudut bibirnya berkedut.
"Satu lagi, Lang."
"Ya, Pak?"
Ndaru terdiam sebentar. Dia melirik ke arah ruang tengah. Ke arah sofa di mana selimut krem masih terlipat asal di sandarannya.
"Belikan lampu baca untuk ruang tengah. Yang bisa diatur terangnya. Lampu meja yang sekarang terlalu redup."
Gilang menatap atasannya lagi. Ruang tengah? Lampu baca? Atasannya tidak pernah membaca di ruang tengah. Atasannya bahkan jarang duduk di ruang tengah.
Lalu matanya melirik Shana. Gadis itu menunduk dalam-dalam di atas cangkir tehnya. Telinganya memerah.
Oh.
"Baik, Pak," jawab Gilang. Dia mengetik lagi. Kali ini senyumnya tidak bisa ditahan.
"Kenapa kamu senyum?"
Gilang langsung menghapus senyumnya. "Tidak, Pak. Saya hanya teringat sesuatu."
Ndaru menatapnya curiga. Namun dia tidak bertanya lebih lanjut.
***
Di dalam mobil menuju kantor, Gilang duduk di kursi depan seperti biasa. Ndaru duduk di belakang dengan iPad di tangannya. Namun Gilang memperhatikan bahwa atasannya tidak benar-benar membaca. Matanya menatap layar, tetapi jarinya tidak menggulir apa pun selama sepuluh menit.
"Lang," panggil Ndaru tiba-tiba.
"Ya, Pak?"
"Kamu tahu di mana beli bakpia yang enak?"
Gilang hampir tersedak ludahnya sendiri. Dia menoleh ke belakang. "Bakpia, Pak?"
"Iya. Kacang hijau."
Gilang menatap atasannya. Ndaru menatapnya balik dengan wajah datar. Seolah pertanyaan itu adalah pertanyaan paling normal di dunia.
"Saya akan carikan, Pak. Yang dari Jogja?"
"Yang paling enak."
"Baik, Pak."
Gilang kembali menatap ke depan. Dia membuka aplikasi catatan di iPad-nya. Aplikasi yang biasanya ia gunakan untuk mencatat jadwal dan tugas atasannya.
Dia mulai mengetik.
Hari ini:
- Rapat divisi properti dimundurkan ke pukul 09.00 (Pak Ndaru sarapan bersama keluarga)
- Beli lampu baca untuk ruang tengah (yang bisa diatur terangnya)
- Beli bakpia kacang hijau (yang paling enak)
Gilang menatap daftar itu. Lalu dia menambahkan satu baris lagi. Bukan untuk atasannya. Untuk dirinya sendiri.
Catatan pribadi: Pak Ndaru tersenyum tiga kali minggu ini. Rekor.
Dia menutup iPad-nya dan menatap jalanan di depan. Senyumnya kembali muncul. Kali ini dia tidak berusaha menyembunyikannya.
"Lang, kamu senyum lagi."
"Maaf, Pak. Saya teringat sesuatu lagi."
"Apa?"
Gilang berdeham. "Pak Guna kembali dari Kalimantan lusa, Pak. Dan Pak Darma sudah mengonfirmasi tanggal RUPS. Minggu depan."
Wajah Ndaru langsung berubah serius. Senyum yang tadi samar-samar terlihat di wajahnya menghilang. Digantikan oleh garis-garis tegas yang Gilang kenal dengan baik.
"Persiapkan semua laporannya."
"Sudah, Pak."
"Dan cari tahu siapa saja pemegang saham yang masih ragu."
"Sudah, Pak. Ada tujuh orang. Sebagian besar dekat dengan Pak Darma."
Ndaru mengangguk pelan. Dia menatap ke luar jendela. Jari-jarinya mulai mengetuk sandaran tangan. Kebiasaan lama yang selalu muncul saat dia berpikir keras.
Gilang memperhatikannya dari kaca spion. Dia tahu minggu depan akan menjadi minggu yang berat. Atasannya akan menghadapi pertarungan yang menentukan masa depannya.
Namun untuk saat ini, Gilang mengizinkan dirinya untuk tetap tersenyum. Karena pagi ini, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia melihat atasannya terlambat ke kantor karena alasan yang bukan pekerjaan.
Dan itu, menurut Gilang, adalah kemajuan.
* * *
Si sulung pulang membawa lelah. Dari tanah seberang yang penuh kisah. Namun di rumah, sorotan telah berpindah. Ke adik bungsu yang dulu memilih menyerah.
Adhiguna Amir Atmadjiwo mendarat di Halim Perdanakusuma pukul empat sore. Setelah sempat pulang untuk menghadiri akad Ndaru, Guna kembali melakukan kunjungan ke Kalimantan Timur. Beberapa hari di lapangan membuat kulitnya sedikit lebih gelap. Kemejanya kusut. Matanya lelah. Namun senyum khas politisinya tetap terpasang saat dia melambai pada beberapa wartawan yang menunggu di area kedatangan.
"Pak Guna, bagaimana kunjungan ke dapil, Pak?"
"Lancar. Masyarakat di sana sangat antusias."
"Pak Guna, bagaimana tanggapan Bapak tentang pernikahan adik Bapak?"
Senyum Guna sedikit menegang. Hanya sedikit. Tidak cukup untuk ditangkap kamera, tetapi cukup untuk dirasakan oleh Yanti yang berjalan di sampingnya.
"Saya sangat bahagia untuk Ndaru. Semoga mereka langgeng."
"Pak, apa benar pernikahan Pak Handaru menaikkan elektabilitas Bapak?"
Guna tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dan melambai, lalu masuk ke dalam mobil yang sudah menunggu. Rahmat menutup pintu dan duduk di kursi depan.
Begitu pintu tertutup, senyum Guna langsung hilang.
"Mereka nggak nanya soal program kerjaku sama sekali," gerutunya sambil melonggarkan dasi.
"Mas, sabar," ucap Yanti pelan.
"Beberapa hari aku keliling Kalimantan lagi, Yan. Masuk desa, keluar desa. Ketemu nelayan, ketemu petani, ketemu ibu-ibu PKK. Dan yang mereka tanya cuma soal Ndaru."
Rahmat menoleh dari kursi depan. "Tapi berita pernikahan Pak Handaru memang berdampak positif, Pak. Elektabilitas Bapak naik tiga persen minggu ini. Survei terakhir menunjukkan responden menganggap keluarga Atmadjiwo lebih membumi setelah wawancara Pak Handaru dan Bu Shana."
Guna menatap Rahmat. Lalu mendengkus. "Jadi sekarang elektabilitasku tergantung sama adikku?"
"Bukan begitu, Pak—"
"Udah, Mat. Saya ngerti."
Guna bersandar di kursinya dan memejamkan mata. Yanti menatap suaminya dengan khawatir. Dia meraih tangan Guna dan menggenggamnya.
"Mas, ini bagus buat kita. Buat keluarga."
"Aku tahu."
"Terus kenapa mukanya ditekuk?"
Guna membuka matanya. Dia menatap istrinya lama. Lalu menghela napas panjang.
"Aku cuma ngerasa aneh, Yan. Dulu Ndaru yang paling nggak mau muncul di depan kamera. Yang paling nggak peduli sama nama keluarga. Yang pergi ke Surabaya dan ninggalin semuanya." Guna tersenyum miring. "Sekarang dia yang paling disukai publik. Dalam satu bulan."
Yanti tidak menjawab. Dia hanya mengusap punggung tangan suaminya dengan ibu jarinya.
"Aku nggak iri," lanjut Guna. Lebih pada dirinya sendiri. "Aku cuma... kaget."
"Iya, Mas. Aku tahu."
***
Makan malam keluarga diadakan di rumah Harris malam itu. Rumah besar bergaya kolonial di kawasan Menteng yang sudah berdiri sejak zaman kakek Harris. Pilar-pilar putih menjulang di teras depan. Lampu gantung kristal antik menerangi ruang makan yang luas.
Shana duduk di samping Ndaru dengan punggung tegak. Ini pertama kalinya dia makan malam di rumah mertuanya. Dan dia merasa seperti sedang diuji.
Juna duduk di kursi tinggi di antara Ndaru dan Harris. Anak itu sibuk dengan potongan ayam goreng di piringnya. Sesekali dia menyodorkan potongan ayam pada kakeknya, dan Harris menerimanya dengan senyum yang jarang Shana lihat.
"Opa, ayam," ucap Juna.
"Terima kasih, Mas Juna." Harris memakan potongan ayam itu dengan khidmat. "Enak."
Shana menatap pemandangan itu dengan heran. Pria tua yang dingin dan sombong itu ternyata bisa tersenyum. Bisa berbicara dengan lembut. Asalkan yang di hadapannya adalah cucunya.
"Gimana Kalimantan, Mas?" tanya Ndaru pada Guna.
"Panas," jawab Guna singkat. Lalu dia menatap Ndaru dengan senyum tipis. "Tapi nggak sepanas berita kamu."
Ndaru tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Om Ndaru sama Tante Shana keren banget pas wawancara!" seru Mala yang duduk di seberang. 'Temen-temenku sampai nangis pas Tante Shana ngomongin Juna. Terus pas Om Ndaru bilang "karena dia tidak takut pada saya", satu kelas teriak!'
Shana tersenyum canggung. Ndaru menatap keponakannya dengan alis terangkat.
"Mbak," tegur Yanti pelan.
"Apa, Ma? Aku cuma cerita."
"Kamu juga harus liat berita Papa kamu di Kalimantan," ucap Guna sambil tersenyum pada anaknya. Namun Shana bisa mendengar sesuatu yang lain dalam nada suaranya. "Papa ketemu nelayan di Balikpapan. Mereka kasih Papa ikan bandeng sebesar ini."
Guna membentangkan tangannya. Mala tertawa.
"Iya, Pa. Aku udah liat. Tapi yang like cuma dikit."
Hening.
Yanti menatap anaknya dengan tajam. Mala langsung menyadari kesalahannya dan menunduk. Guna masih tersenyum, tetapi senyumnya tidak sampai ke mata.
Shana melirik Ndaru. Pria itu juga menatap kakaknya. Ada sesuatu di wajahnya. Seperti rasa bersalah.
"Videonya Mas Guna bagus," ucap Shana tiba-tiba. Semua kepala menoleh padanya. "Saya liat kemarin. Yang Mas Guna bantuin ibu-ibu angkat jaring ikan. Natural banget. Nggak kelihatan dibuat-buat."
Guna menatap Shana. Dia terlihat terkejut. "Kamu nonton?"
"Nonton, Mas. Saya follow akun Mas Guna dari minggu lalu." Shana tersenyum. "Tapi menurut saya, captionnya terlalu formal. Kalau boleh saran, coba pakai bahasa yang lebih santai. Orang-orang lebih suka yang kayak ngobrol."
Guna masih menatapnya. Lalu dia melirik Rahmat yang berdiri di sudut ruangan. Rahmat mengangguk pelan, seolah setuju.
"Nanti saya coba," ucap Guna pada akhirnya. Nadanya lebih lunak.
Harris yang sedari tadi diam mengangkat wajahnya. Dia menatap Shana dengan tatapan menilai. Lama. Lalu dia kembali fokus pada cucunya tanpa berkata apa-apa.
Di bawah meja, Shana merasakan sesuatu menyentuh kakinya. Dia melirik ke bawah. Ujung sepatu Ndaru mengetuk ujung sepatunya. Sekali. Pelan.
Shana menoleh. Ndaru tidak menatapnya. Pria itu sedang memotong daging di piringnya dengan tenang.
Namun Shana tahu. Itu adalah ucapan terima kasih.