Mobil melaju di jalanan Jakarta yang mulai lengang. Lampu-lampu jalan berlalu satu per satu di balik jendela. Bayangan-bayangan kuning menyapu wajah dua orang yang duduk di kursi belakang dalam diam.
Sudah dua puluh menit sejak mereka meninggalkan studio. Dan selama dua puluh menit itu, tidak ada satu kata pun yang terucap.
Shana menatap ke luar jendela. Tangannya terlipat di pangkuan. Tangan yang tadi digenggam Ndaru di depan kamera. Masih terasa hangat. Atau mungkin hanya perasaannya saja.
Ndaru duduk di sisi lain. Dia tidak membuka iPad-nya seperti biasa. Hanya duduk diam, menatap ke luar jendela di sisinya.
Gilang duduk di kursi depan bersama sopir. Pria itu sesekali melirik ke kaca spion. Lalu kembali menatap ke depan dengan wajah yang terlalu serius. Seperti sedang menahan sesuatu.
Ponsel Gilang bergetar berkali-kali. Dia membukanya dan matanya membulat.
"Pak," ucapnya pelan. "Wawancara tadi trending nomor satu."
Ndaru tidak menjawab.
"Potongan video saat Bapak bilang 'karena dia tidak takut pada saya' sudah ditonton lebih dari dua juta kali dalam satu jam."
Masih tidak ada jawaban.
"Dan potongan jawaban Bu Shana tentang almarhumah Bu Farah juga viral. Banyak yang memuji Bu Shana." Gilang melirik ke belakang. "Tagar #ShanaUntukJuna ada di peringkat tiga."
Shana menunduk. Dia tidak tahu harus merasa apa. Senang karena wawancaranya berhasil? Atau takut karena semua yang ia katakan tentang Farah dan Juna terasa terlalu nyata untuk sebuah sandiwara?
"Terima kasih, Lang," ucap Ndaru pada akhirnya. Suaranya datar.
Gilang mengangguk dan kembali menatap ke depan. Dia mematikan layar ponselnya. Rupanya pria itu cukup peka untuk tidak melanjutkan laporannya.
Keheningan kembali menyelimuti mobil.
Shana menggigit bibirnya. Dia tidak tahan lagi. Keheningan ini membunuhnya.
"Pak," panggilnya pelan.
"Hm."
"Tadi Bapak improvisasi bagus juga."
Ndaru menoleh. Dia menatap Shana dengan dahi sedikit berkerut. "Improvisasi?"
"Yang soal... saya nggak takut sama Bapak." Shana tersenyum canggung. "Bagus. Penonton suka."
Ndaru menatapnya lama. Lalu kembali menatap ke luar jendela.
"Saya tidak improvisasi."
Shana membeku. "Maksudnya?"
"Itu bukan improvisasi." Suara Ndaru pelan. Hampir tenggelam oleh suara mesin mobil. "Kamu memang tidak takut pada saya."
Shana tidak tahu harus menjawab apa. Dia menatap profil wajah Ndaru yang diterangi cahaya lampu jalan. Rahangnya tegas. Bulu matanya panjang. Ada kerutan halus di sudut matanya yang tidak pernah Shana perhatikan sebelumnya.
"Oh," hanya itu yang keluar dari mulutnya.
"Dan yang soal Juna," lanjut Ndaru. "Itu juga bukan improvisasi."
Shana menunduk. Jari-jarinya meremas ujung blusnya.
"Tapi yang soal bakpia," tambah Ndaru. Kali ini dia menoleh menatap Shana. "Itu improvisasi kamu."
Shana mengangkat wajahnya. Dia melihat sudut bibir Ndaru yang sedikit terangkat. Sangat sedikit. Namun ada di sana.
"Maaf, Pak. Saya kebawa suasana."
"Bakpia kacang hijau."
"Iya."
"Terlalu manis."
"Itu kata Bapak."
"Saya tidak pernah makan bakpia kacang hijau."
Shana tertawa. Dia tidak bisa menahannya. Tawa yang lepas dan keras, memecah keheningan di dalam mobil. Gilang di kursi depan menunduk dalam-dalam. Bahunya berguncang.
"Bapak harus coba," ucap Shana di sela tawanya. "Biar nggak bohong lagi kalau ditanya wartawan."
Ndaru tidak menjawab. Namun saat Shana melirik, dia melihat pria itu menoleh ke jendela. Dan di pantulan kaca, dia melihat Ndaru tersenyum.
Senyum yang tidak sempurna. Senyum yang sedikit miring. Namun senyum sungguhan.
Shana memalingkan wajahnya. Dia menatap ke luar jendela di sisinya sendiri. Jantungnya berdetak terlalu cepat.
Jangan jatuh cinta sama dia.
Suara Erina kembali terngiang. Shana memejamkan matanya erat.
Keheningan kembali datang. Namun kali ini berbeda. Bukan keheningan yang canggung. Lebih seperti dua orang yang sama-sama tidak tahu harus berkata apa, tetapi juga tidak ingin pergi.
Mobil memasuki komplek perumahan. Pagar tinggi berwarna cokelat tua terbuka perlahan. Lampu taman menyala temaram.
Sebelum turun dari mobil, Ndaru berbicara lagi.
"Shana."
"Ya, Pak?"
"Yang kamu bilang tentang Farah." Ndaru terdiam sebentar. "Terima kasih."
Shana menatapnya. Pria itu tidak menoleh. Dia membuka pintu mobil dan turun lebih dulu. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu.
Shana masih duduk di dalam mobil. Menatap punggung pria itu yang menghilang di balik pintu.
"Bu Shana," panggil Gilang pelan dari kursi depan. "Sudah sampai."
"Iya, Mas. Saya tahu."
Namun Shana tidak bergerak. Dia masih duduk di sana. Menatap tangannya sendiri. Tangan yang tadi digenggam di depan jutaan penonton.
Gilang menatapnya dari kaca spion. Lalu tersenyum tipis. Dia tidak berkata apa-apa lagi.
* * *
Malam merangkak menuju pagi. Sunyi menyelimuti setiap sisi. Dua jiwa yang terjaga sendiri-sendiri. Tanpa sadar berbagi ruang yang sama dalam sepi.
Ndaru tidak bisa tidur.
Dia sudah mencoba. Berbaring di ranjangnya selama dua jam, menatap langit-langit kamar yang gelap. Namun matanya tidak mau terpejam. Kepalanya terlalu penuh.
Wajah Shana di studio tadi. Suaranya saat berbicara tentang Farah. Tangannya yang dingin saat diletakkan di atas telapak tangannya. Dan kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Kalimat yang tidak pernah ia latih.
Karena dia tidak takut pada saya.
Ndaru mengusap wajahnya kasar. Dia melirik jam di nakas. Pukul dua lewat sepuluh menit.
Dia menyerah. Dia bangun dan berjalan keluar kamar. Mungkin segelas air hangat akan membantunya.
Lorong lantai dua gelap. Hanya lampu tidur kecil yang menyala di dekat tangga. Ndaru berjalan pelan, melewati ruang bermain Juna, melewati kamar anaknya yang tertutup rapat. Lalu melewati pintu kamar Shana.
Pintu itu sedikit terbuka. Kamar di dalamnya gelap. Kosong.
Ndaru mengernyit. Ke mana gadis itu?
Dia turun ke bawah. Dan di anak tangga terakhir, langkahnya terhenti.
Ruang tengah tidak gelap. Ada cahaya kecil dari lampu meja di samping sofa. Dan di sofa itu, Shana duduk bersila dengan laptop di pangkuannya. Rambutnya diikat asal ke atas. Kacamatanya bertengger di hidung. Dia mengenakan piyama bergambar bulan yang sama seperti malam itu, dengan cardigan rajut abu-abu yang kebesaran.
Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Matanya fokus pada layar. Sesekali bibirnya bergerak, seperti sedang membaca apa yang ia tulis dengan suara tanpa bunyi.
Ndaru berdiri diam di anak tangga. Memperhatikan.
Shana tidak menyadari kehadirannya. Gadis itu terlalu tenggelam dalam dunianya sendiri. Dunia yang Ndaru tidak tahu seperti apa. Dunia dengan naga putih dan kuda bersayap, mungkin.
Ada secangkir teh di meja depan sofa. Sudah tidak mengepul. Di sampingnya, ada buku catatan kecil yang terbuka dengan coretan-coretan tidak terbaca.
Ndaru tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana. Mungkin lima menit. Mungkin lebih.
Sampai Shana tiba-tiba berhenti mengetik dan meregangkan tubuhnya. Kepalanya mendongak ke belakang. Dan matanya bertemu dengan mata Ndaru yang masih berdiri di tangga.
"Astaga!" Shana terlonjak. Laptopnya hampir jatuh dari pangkuannya. "Pak! Bapak ngagetin!"
"Maaf."
Shana memegang dadanya. Napasnya terengah. "Bapak ngapain berdiri di situ kayak hantu?"
"Saya mau ambil air."
"Terus kenapa diem aja?"
Ndaru tidak menjawab. Dia tidak tahu jawabannya.
Dia turun dari tangga dan berjalan ke dapur. Mengambil gelas, mengisinya dengan air hangat dari dispenser. Lalu dia berhenti sebentar. Dan mengambil satu gelas lagi.
Dia kembali ke ruang tengah dengan dua gelas di tangan. Satu dia letakkan di meja depan Shana, menggantikan cangkir teh yang sudah dingin.
Shana menatap gelas itu. Lalu menatap Ndaru. "Makasih, Pak."
Ndaru duduk di sofa tunggal di seberang Shana. Dia menyesap airnya pelan.
"Kamu sering begadang?"
"Saya nggak begadang, Pak. Saya kebangun."
"Kebangun?"
Shana menutup laptopnya sedikit. Dia memeluk lututnya. "Saya selalu kebangun jam dua. Udah kebiasaan dari dulu. Daripada bengong di kamar, mending nulis."
"Sejak kapan?"
Shana terdiam. Matanya menatap gelas air di meja. Ada sesuatu yang berubah di wajahnya. Seperti pintu yang tiba-tiba tertutup.
"Udah lama, Pak," jawabnya pada akhirnya. "Nggak inget."
Ndaru tahu itu bohong. Dia tidak perlu menjadi detektif untuk mengetahuinya. Namun dia tidak bertanya lagi. Poin lima. Dan entah kenapa, dia juga tidak ingin memaksa.
"Kenapa di sini? Bukan di kamar?"
"Kamar saya terlalu sepi, Pak." Shana tersenyum kecil. "Di sini ada suara jam. Ada suara kulkas. Kadang ada suara cicak. Lebih rame."
Ndaru melirik jam dinding besar di sudut ruangan. Detaknya memang terdengar jelas di malam yang sunyi.
"Bapak sendiri kenapa nggak tidur?"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
Ndaru terdiam. Dia menatap Shana. Gadis itu menatapnya balik dengan rasa ingin tahu yang tulus.
"Banyak pikiran," jawabnya pada akhirnya. Juga bukan sepenuhnya jujur.
Shana mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lebih lanjut. Seolah dia mengerti, bahwa beberapa hal memang tidak perlu dijelaskan.
Mereka duduk dalam diam. Ndaru dengan gelas airnya. Shana dengan laptopnya. Jam dinding terus berdetak.
"Bapak mau balik ke kamar?" tanya Shana.
Ndaru menatap gelas di tangannya. Lalu dia berdiri. Shana mengira pria itu akan naik ke atas. Namun Ndaru justru berjalan ke ruang kerjanya. Tidak lama kemudian, dia kembali dengan iPad dan setumpuk berkas di tangannya.
Dia duduk lagi di sofa tunggal yang sama.
Shana menatapnya bingung. "Bapak mau kerja?"
"Saya tidak bisa tidur. Lebih baik kerja."
"Di sini?"
"Kamar saya terlalu sepi," ucap Ndaru tanpa mengangkat wajah dari iPad-nya.
Shana menatapnya. Lalu tersenyum. Dia membuka laptopnya kembali dan mulai mengetik.
Dan begitulah mereka menghabiskan sisa malam itu. Dua orang yang duduk di ruangan yang sama, mengerjakan hal yang berbeda, tanpa banyak bicara. Hanya suara ketikan keyboard, suara kertas yang dibalik, dan detak jam dinding yang setia.
Sesekali Shana melirik ke arah Ndaru. Sesekali Ndaru melirik ke arah Shana. Namun mereka tidak pernah melirik di saat yang sama.
Pukul empat lewat tiga puluh menit, suara azan Subuh terdengar sayup-sayup dari masjid komplek. Ndaru mengangkat wajahnya. Dia menatap ke arah sofa di seberangnya.
Shana tertidur. Kepalanya terkulai di sandaran sofa. Kacamatanya miring di hidungnya. Laptopnya masih terbuka di pangkuan, layarnya sudah menggelap.
Ndaru berdiri pelan. Dia mengambil laptop itu dengan hati-hati dan menutupnya, lalu meletakkannya di atas meja. Dia ragu sejenak menatap kacamata yang miring itu. Poin tujuh. Tidak ada kamera di sini.
Dia tidak menyentuhnya.
Ndaru berjalan ke lemari di dekat tangga dan mengambil selimut tebal berwarna krem. Dia membentangkannya pelan, lalu meletakkannya di atas tubuh Shana. Tanpa menyentuh gadis itu sedikit pun.
Shana bergerak sedikit. Dia menarik selimut itu sampai ke dagu dan bergumam sesuatu yang tidak jelas. Kacamatanya jatuh ke pangkuannya. Lalu napasnya kembali teratur.
Ndaru menatapnya sebentar. Lalu dia memungut kacamata itu dari atas selimut, melipatnya, dan meletakkannya di samping laptop.
Dia mematikan lampu meja. Lalu berjalan ke luar menuju kolam renang.
Air kolam terasa dingin saat ia menceburkan diri. Ndaru berenang dari ujung ke ujung. Berkali-kali. Berusaha menjernihkan pikirannya yang sejak semalam terlalu berisik.
Namun setiap kali dia muncul ke permukaan untuk mengambil napas, yang terbayang di kepalanya hanya satu.
Seorang gadis berpiyama bulan yang tertidur di sofa ruang tengahnya. Di rumahnya. Di bawah selimut yang ia bentangkan.