Studio Ranjana TV terang benderang. Lampu-lampu sorot raksasa menggantung di langit-langit. Kamera-kamera besar bergerak di atas rel. Kru-kru berlalu lalang dengan headset di telinga, berbicara dengan bahasa yang hanya mereka mengerti.
Shana duduk di sofa panggung dengan punggung tegak. Dia mengenakan blus sutra berwarna krem dan rok midi berwarna cokelat muda. Rambutnya digerai dengan gelombang lembut. Kacamatanya terpaksa diganti dengan lensa kontak. Penata rias bilang kacamatanya akan memantulkan cahaya lampu.
Di sampingnya, Ndaru duduk dengan jas abu-abu gelap dan kemeja putih tanpa dasi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Shana curiga pria itu sebenarnya sama gugupnya dengan dirinya.
"Sepuluh detik lagi siaran," ucap seorang kru.
Shana melirik Ndaru. Pria itu menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Jari-jarinya saling mengetuk pelan. Kebiasaan yang Shana mulai kenali.
"Pak," bisik Shana.
"Hm?"
"Napas."
Ndaru meliriknya. "Saya bernapas."
"Bapak nahan napas dari tadi."
Ndaru tidak menjawab. Namun Shana melihat dadanya bergerak. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
"Lima, empat, tiga..."
Lampu merah di atas kamera utama menyala. Musik pembuka acara mengalun. Pembawa acara, seorang wanita berambut pendek dengan senyum yang sangat cerah, menghadap kamera dengan percaya diri.
"Selamat malam, pemirsa! Malam ini kita kedatangan tamu yang sangat spesial. Pasangan yang sedang menjadi perbincangan hangat di seluruh Indonesia. Mari kita sambut, Bapak Handaru Atmadjiwo dan Ibu Shana Arkadewi!"
Tepuk tangan dari penonton di studio. Shana tersenyum lebar ke arah kamera. Ndaru mengangguk sopan.
"Terima kasih sudah datang, Pak Handaru, Mbak Shana. Saya tahu kalian sangat sibuk, apa lagi pengantin baru."
"Terima kasih sudah mengundang kami, Mbak," jawab Shana dengan senyum manis.
"Langsung saja, ya. Pertanyaan pertama yang pasti ditunggu semua orang. Bagaimana kalian pertama kali bertemu?"
Shana melirik Ndaru. Pria itu meliriknya balik. Mereka sudah sepakat Shana yang akan menceritakan bagian ini.
"Bandara Juanda, dua tahun lalu," mulai Shana. Dia menceritakan semuanya dengan lancar. Tentang pesawat yang delay. Tentang ponselnya yang mati. Tentang pria berwajah datar yang duduk di sebelahnya dan meminjamkan charger tanpa berkata apa-apa.
"Terus saya tanya, 'Mas kerja apa?' Dia jawab, 'Kerja.' Udah, gitu aja."
Penonton di studio tertawa.
"Terus saya bilang saya penulis. Dia bilang, 'Saya tidak pernah baca novel.' Dengan muka kayak gini." Shana menirukan wajah datar Ndaru dengan sangat mirip.
Penonton tertawa lebih keras. Bahkan pembawa acara harus menutup mulutnya.
Ndaru menatap Shana dengan alis terangkat. Namun dia tidak membantah.
"Terus siapa yang minta nomor duluan?" tanya pembawa acara dengan mata berbinar.
"Saya," jawab Shana tanpa malu. "Saya bilang charger-nya masih mau saya pinjem, nanti saya balikin lewat kurir. Padahal saya cuma mau nomornya."
"Ya ampun, Mbak Shana modus!"
"Banget, Mbak." Shana tertawa. "Tapi charger-nya beneran saya balikin. Sama sekotak bakpia."
"Bakpia?" Ndaru menoleh. Itu tidak ada di naskah.
"Iya. Bapak lupa?" Shana menatapnya dengan senyum polos. "Bakpia kacang hijau. Bapak bilang terlalu manis."
Ndaru menatapnya. Shana bisa melihat otak pria itu bekerja keras. Mencari cara untuk mengikuti improvisasi istrinya.
"Saya ingat," jawab Ndaru pada akhirnya. "Terlalu manis."
"Tapi habis juga," tambah Shana.
Penonton bersorak. Pembawa acara tertawa sambil bertepuk tangan.
Wawancara berjalan lancar. Shana menjawab hampir semua pertanyaan dengan luwes. Dia bercerita tentang hubungan jarak jauh mereka, tentang betapa sibuknya Ndaru, tentang bagaimana mereka berkomunikasi lewat pesan singkat yang selalu dibalas dengan satu kata.
Ndaru lebih banyak diam. Saat ditanya, dia menjawab singkat. Kalimat-kalimatnya terdengar kaku dan formal. Seperti sedang presentasi di depan dewan direksi.
Lalu tibalah pertanyaan yang Shana takutkan.
"Mbak Shana, maaf kalau pertanyaan ini sedikit sensitif." Pembawa acara memasang wajah serius. "Pak Handaru pernah menikah sebelumnya. Almarhumah istri beliau, Ibu Farah Marissa, sangat dikenal publik. Bagaimana Mbak Shana menghadapi bayang-bayang almarhumah?"
Studio mendadak hening. Shana bisa merasakan tubuh Ndaru menegang di sampingnya.
Shana menarik napas. Dia sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. Jawaban yang aman dan diplomatis. Namun saat dia membuka mulut, kalimat yang keluar berbeda.
"Saya nggak menganggap Mbak Farah sebagai bayang-bayang," jawabnya pelan. "Mbak Farah adalah ibunya Juna. Dia bagian dari hidup Mas Ndaru yang nggak akan pernah hilang. Dan saya nggak mau dia hilang."
Pembawa acara menatapnya dengan serius.
"Saya nggak datang untuk menggantikan siapa-siapa," lanjut Shana. "Saya cuma datang untuk... ada. Untuk Mas Ndaru, dan untuk Juna. Kalau suatu hari Juna mau tahu tentang mamanya, saya mau jadi orang yang bantu dia mengingat. Bukan orang yang bikin dia lupa."
Hening.
Lalu tepuk tangan pelan mulai terdengar dari penonton. Semakin lama semakin keras.
Shana menunduk. Dia tidak berani menatap Ndaru. Dia tidak tahu apakah dia sudah melewati batas. Apakah pria itu marah karena dia membicarakan Farah tanpa izin.
"Pak Handaru," ucap pembawa acara. "Pertanyaan terakhir untuk Bapak. Apa yang membuat Bapak jatuh cinta pada Mbak Shana?"
Pertanyaan yang Ndaru belum punya jawabannya.
Shana melirik pria itu. Ndaru terdiam. Lama. Terlalu lama untuk siaran langsung. Kru di belakang kamera mulai saling melirik.
Shana panik. Dia harus menyelamatkan situasi. Dia membuka mulutnya untuk bercanda, untuk mengalihkan perhatian.
Namun sebelum dia sempat berbicara, dia merasakan sesuatu.
Di atas sofa, di antara mereka berdua, tangan Ndaru bergerak pelan. Telapak tangannya terbuka menghadap ke atas. Diletakkan di samping tangan Shana. Tidak menyentuh. Hanya menunggu.
Shana menunduk menatap tangan itu. Lalu menatap Ndaru. Pria itu masih menatap lurus ke kamera. Namun telapak tangannya tetap terbuka di sana.
Bertanya. Tanpa kata.
Shana meletakkan tangannya di atas telapak tangan Ndaru. Jari-jari mereka bertaut.
Kamera langsung menyorot tangan mereka. Penonton di studio bersorak pelan.
Lalu Ndaru berbicara.
"Karena dia tidak takut pada saya."
Hening.
"Semua orang takut pada saya," lanjut Ndaru pelan. "Karyawan saya, rekan bisnis saya, bahkan kadang keluarga saya. Mereka bicara hati-hati, memilih kata-kata, menunggu saya selesai bicara." Dia menoleh menatap Shana. "Dia tidak. Dia bilang apa yang dia pikirkan. Dia tertawa saat saya tidak lucu. Dia bilang muka saya kayak orang sakit gigi."
Penonton tertawa.
"Dan dia membuat anak saya tertawa," tambah Ndaru. Suaranya sedikit lebih pelan. "Itu sudah cukup."
Shana menatap pria itu. Dia tidak bisa bernapas. Matanya terasa panas.
Itu tidak ada di naskah. Tidak satu kata pun.