Setelah dua hari mengurung diri di rumah baru, Shana akhirnya kembali ke kafe. Dia butuh udara. Butuh suasana yang familiar. Butuh tempat di mana dia bisa menulis tanpa memikirkan pria berwajah datar yang tinggal di ujung lorong.
Sopir yang Ndaru siapkan mengantarnya. Dua pengawal mengikuti dengan mobil terpisah. Shana sempat protes soal pengawal itu tadi pagi. Namun Gilang dengan sopan menjelaskan bahwa itu sudah prosedur standar untuk anggota keluarga Atmadjiwo.
"Bu Shana sekarang istri Pak Ndaru. Keamanan Ibu prioritas," katanya.
Shana tidak bisa membantah. Namun dia meminta para pengawal itu menunggu di mobil, bukan di dalam kafe. Gilang menyetujuinya dengan syarat mereka boleh berjaga di depan pintu.
Begitu Shana masuk ke kafe, Bagas dan Ayu langsung menyerbunya. Seperti dua anak ayam yang melihat induknya pulang setelah berhari-hari menghilang.
"Mbak Shana!"
"Mbak! Akhirnya dateng juga!"
Shana tertawa dan membiarkan mereka memeluknya. Ayu memeluknya erat. Bagas menepuk-nepuk bahunya dengan semangat berlebihan.
"Gimana, Mbak? Gimana rasanya jadi Nyonya Atmadjiwo?" tanya Bagas dengan mata berbinar.
"Biasa aja."
"Biasa aja gimana? Rumahnya gede nggak, Mbak? Ada kolam renangnya? Ada helipad-nya?"
"Ada kolam renang. Nggak ada helipad."
"Yah." Bagas terlihat kecewa.
Ayu menarik Shana menuju meja di sudut. Meja favorit Shana yang menghadap jendela. Kafe masih sepi karena baru buka. Hanya ada dua pengunjung yang sibuk dengan laptop masing-masing.
"Duduk, Mbak. Aku bikinin kopi."
"Makasih, Yu."
Ayu pergi ke balik meja bar. Bagas langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Shana. Matanya menatap Shana dengan penuh rasa ingin tahu.
"Jadi, Mbak," ucapnya sambil mencondongkan tubuh. "Gimana malam pertamanya?"
Shana menurunkan laptopnya ke meja dengan bunyi cukup keras. Bagas langsung merapatkan bibirnya.
"Waduh. Saya salah nanya, ya, Mbak?"
"Pertanyaan lo nggak sopan, Gas."
"Saya kan cuma nanya!"
"Itu bukan urusan lo."
Ayu kembali dengan secangkir kopi dan sepiring croissant. Dia meletakkannya di depan Shana, lalu ikut duduk di samping Bagas.
"Bagas nanya apa, Mbak?"
"Malam pertama," jawab Bagas cepat sebelum Shana sempat menjawab.
Ayu memukul lengan Bagas. "Kamu ini!"
"Kenapa sih semua orang mukul saya hari ini?"
Shana menyesap kopinya sambil menahan tawa. Dia rindu ini. Rindu keributan kecil di kafe. Rindu Bagas yang bodoh dan Ayu yang galak.
"Tapi beneran, Mbak," ucap Ayu dengan suara lebih pelan. "Mbak Shana baik-baik aja, kan? Pak Handaru baik sama Mbak?"
Shana terdiam sebentar. Dia memikirkan pertanyaan itu. Baik? Pria itu memberinya kamar dengan meja kerja menghadap jendela. Pria itu bertanya boleh sebelum menyentuhnya. Pria itu membawakan sepatunya saat kakinya lecet. Pria itu menghabiskan sambal yang terlalu pedas tanpa mengeluh.
Dia tahu Ndaru menghabiskannya. Pagi tadi, dia melihat piring kosong di wastafel. Dan dua gelas bekas air minum.
"Baik, Yu," jawabnya pelan. "Dia baik."
Ayu dan Bagas saling bertukar pandang. Ada sesuatu dalam nada suara Shana yang membuat mereka penasaran.
"Mbak," ucap Ayu hati-hati. "Mbak Shana senyum."
"Hah?"
"Mbak senyum pas bilang dia baik."
Shana langsung menghapus senyumnya. "Nggak."
"Iya, Mbak. Senyum. Kayak orang lagi kasmaran."
"Ngawur!"
Bagas mencondongkan tubuhnya lagi. "Mbak, jangan-jangan Mbak Shana beneran suka sama Pak Handaru?"
"Gas, pertanyaan tadi sudah gue bilang bukan urusan lo."
"Tapi kan Mbak udah nikah sama dia. Wajar kalau suka."
Shana terdiam. Benar juga. Dari sudut pandang Bagas dan Ayu, dia dan Ndaru adalah pasangan yang sudah lama menjalin hubungan diam-diam lalu menikah. Mereka tidak tahu soal kontrak. Tidak boleh tahu. Poin delapan.
"Ya... wajar," jawab Shana kikuk. "Gue kan istrinya."
"Terus kenapa tadi Mbak bilang ngawur?"
"Karena... karena lo nanyanya kayak gue anak SMA!"
Ayu dan Bagas tertawa. Shana mendengkus dan membuka laptopnya. Dia butuh pengalih perhatian.
"Udah, sana kerja. Gue mau nulis."
"Siap, Bos!"
Bagas dan Ayu pergi sambil terus terkikik. Shana menatap layar laptopnya yang menampilkan naskah terakhirnya. Kursor berkedip-kedip di akhir paragraf.
Dia mulai mengetik. Pelan pada awalnya. Lalu semakin cepat. Kata-kata mengalir dari jari-jarinya seperti air yang menemukan jalan keluar setelah lama tersumbat.
Seorang raja dari kerajaan es. Dingin, tidak pernah tersenyum, dan dijauhi semua orang. Lalu datang seorang gadis dari negeri jauh yang tidak takut padanya. Yang selalu mengganggunya. Yang membuatnya menghabiskan sambal pedas meski lidahnya terbakar.
Shana berhenti mengetik. Dia membaca ulang apa yang baru saja ia tulis.
Lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Mampus," gumamnya.
Di meja bar, Ayu dan Bagas saling menyikut sambil menahan tawa.
***
Menjelang sore, ponsel Shana bergetar di atas meja. Dia meliriknya dan melihat nama yang tertera di layar.
Pak Ndaru.
Shana membuka pesan itu dengan cepat. Terlalu cepat. Dia bahkan tidak sadar jarinya sudah bergerak sebelum otaknya memutuskan.
Juna tanya kamu pulang jam berapa.
Shana menatap pesan itu. Lalu tersenyum.
Jam lima, Pak. Bilang ke Mas Juna, nanti malam Holly ketemu Yono lagi.
Balasan datang tidak lama kemudian.
Yono kuda Papa saya.
Shana tertawa. Dia tidak bisa menahannya. Beberapa pengunjung kafe menoleh ke arahnya.
Saya tahu, Pak. Makanya saya pakai.
Kali ini balasannya lebih lama. Shana menunggu dengan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya.
Lalu pesan itu masuk.
Sambalnya terlalu pedas.
Shana menatap layar ponselnya. Lalu tersenyum lebar.
Tapi Bapak habisin.
Sudah dibaca. Tidak dibalas.
Namun kali ini, Shana tidak merasa kesal. Dia tahu jawaban dari pesan itu. Piring kosong di wastafel sudah menjawabnya.
* * *
Kebohongan yang baik butuh persiapan. Kata demi kata harus disusun dengan perhitungan. Namun hati punya caranya sendiri untuk melawan. Kadang yang dilatih justru berubah menjadi kejujuran.
"Wawancara?" Shana menatap Gilang dengan mata membulat. "Di televisi?"
"Betul, Bu. Acara bincang malam di Ranjana TV. Siaran langsung, durasi tiga puluh menit."
Shana menelan ludahnya. Dia menatap iPad yang Gilang sodorkan. Di layarnya, ada daftar pertanyaan yang sudah disusun rapi. Dua puluh tiga pertanyaan. Mulai dari yang ringan sampai yang membuat perut Shana mulas hanya dengan membacanya.
Bagaimana kalian pertama kali bertemu?
Apa yang membuat Anda jatuh cinta pada pasangan Anda?
Bagaimana tanggapan Anda tentang tuduhan Dito Alamsyah?
Bagaimana Anda menghadapi bayang-bayang almarhumah istri pertama Pak Handaru?
Shana mendongak. "Mas, ini beneran pertanyaannya?"
"Ini daftar yang dikirim tim produksi, Bu. Pak Fathur sudah menyaringnya. Pertanyaan-pertanyaan yang terlalu sensitif sudah dihapus."
"Yang ini nggak sensitif?" Shana menunjuk pertanyaan tentang almarhumah istri Ndaru.
Gilang meringis. "Pak Fathur bilang pertanyaan itu pasti akan ditanyakan publik, Bu. Lebih baik dijawab di acara yang bisa dikontrol, daripada nanti ditanyakan wartawan di jalan."
Shana menghela napas. Fathur benar. Kakak iparnya itu memang selalu benar soal media.
"Pak Ndaru udah liat?"
"Sudah, Bu. Bapak minta Ibu dan Bapak latihan bersama malam ini. Di ruang kerja Bapak."
Ruang kerja. Shana belum pernah masuk ke sana. Ruangan di lantai bawah itu selalu tertutup. Satu-satunya ruangan di rumah ini yang terasa seperti wilayah terlarang.
***
Pukul delapan malam, setelah Juna tertidur, Shana mengetuk pintu ruang kerja Ndaru.
"Masuk."
Shana membuka pintu dan melangkah masuk. Ruangan itu persis seperti yang ia bayangkan. Rak buku tinggi yang dipenuhi buku-buku tebal tentang bisnis dan ekonomi. Meja kerja besar dari kayu gelap. Sofa kulit berwarna cokelat tua di sudut ruangan. Semua tertata rapi. Terlalu rapi. Tidak ada satu pun benda yang terlihat tidak pada tempatnya.
Kecuali satu. Sebuah boneka dinosaurus kecil berwarna biru yang duduk di sudut meja kerja. Di antara tumpukan berkas dan laptop.
Shana menatap boneka itu. Lalu menatap Ndaru yang duduk di balik meja. Pria itu mengikuti arah pandangannya dan berdeham pelan.
"Juna yang taruh di situ. Katanya biar Papa nggak sendirian."
Shana menahan senyumnya. "Lucu."
"Duduk." Ndaru menunjuk sofa di sudut ruangan. Dia sendiri berdiri dan pindah ke kursi berlengan di seberang sofa. Di tangannya, ada iPad dengan daftar pertanyaan yang sama.
Shana duduk. Sofa kulit itu dingin dan sedikit licin.
"Kita mulai dari pertanyaan pertama," ucap Ndaru tanpa basa-basi. "Bagaimana kita pertama kali bertemu."
"Di depan lift Atma Hotel," jawab Shana spontan.
Ndaru menatapnya datar.
"Bercanda, Pak."
"Kita butuh cerita yang masuk akal. Publik tahu kita sudah berhubungan lama sebelum foto itu tersebar. Kita bilang LDR, Jakarta-Surabaya."
"Oke. Jadi kita ketemu di mana?"
"Kamu yang penulis. Kamu yang karang."
Shana mengerutkan dahi. Dia berpikir sebentar. Lalu matanya berbinar.
"Bandara Juanda. Dua tahun lalu. Pesawat saya delay empat jam. Saya baru pulang dari kegiatan sosial di Nusa Tenggara Timur, transit di Surabaya. Saya kecapekan, ketiduran di ruang tunggu. Terus pas bangun, ada jas yang nutupin badan saya."
"Jas siapa?"
"Jas Bapak, lah."
Ndaru mengangkat alisnya. "Saya meninggalkan jas saya pada perempuan asing yang tertidur di bandara?"
"Iya. Romantis, kan?"
"Tidak masuk akal."
"Kenapa nggak masuk akal?"
"Saya tidak pernah meninggalkan barang pribadi saya pada orang asing."
Shana mendengkus. "Oke. Bukan jas. Gimana kalau charger?"
"Charger?"
"Ponsel saya mati. Saya panik karena harus hubungin kakak saya. Bapak duduk di sebelah saya dan pinjemin charger." Shana tersenyum puas. "Terus kita ngobrol. Terus Bapak tanya saya kerja apa. Saya bilang penulis. Bapak bilang nggak pernah baca novel."
"Itu benar. Saya tidak pernah baca novel."
"Nah! Bagus, kan? Ada unsur kejujurannya."
Ndaru menatapnya lama. Lalu, dengan sangat pelan, dia mengetik sesuatu di iPad-nya. "Bandara Juanda. Charger. Tidak pernah baca novel."
"Terus setelah itu?"
"Setelah itu Bapak minta nomor saya."
"Saya tidak pernah minta nomor perempuan."
"Pak, ini cerita. Nggak harus sesuai sama kenyataan."
"Cerita yang baik harus sesuai dengan karakter," balas Ndaru. "Kalau saya tiba-tiba minta nomor perempuan, orang yang mengenal saya tidak akan percaya."
Shana terdiam. Pria itu benar. Lagi. Dia mulai kesal dengan betapa seringnya pria itu benar.
"Oke. Jadi siapa yang minta nomor?"
"Kamu."
"Saya?"
"Kamu yang minta. Kamu bilang mau mengembalikan charger."
"Tapi charger-nya kan bisa dibalikin langsung."
"Kamu bilang charger-nya masih mau dipakai. Kamu akan mengembalikannya lewat kurir."
Shana menatap Ndaru. Lalu dia tertawa. "Jadi saya modus?"
"Kamu yang bilang ini cerita."
"Pak, itu bikin saya kelihatan agresif!"
"Kamu memang agresif." Ndaru menatapnya datar. "Kamu mencium orang asing di depan lift."
Shana membuka mulutnya untuk membantah. Lalu menutupnya lagi. Wajahnya memerah. Dia tidak bisa membantah itu.
"Oke," gumamnya kesal. "Saya yang minta nomor."
Ndaru mengetik lagi. Shana bersumpah dia melihat sudut bibir pria itu terangkat.
Mereka melanjutkan latihan. Pertanyaan demi pertanyaan. Ndaru menjawab dengan kalimat-kalimat pendek yang terdengar seperti laporan keuangan. Shana menjawab dengan cerita panjang yang penuh bumbu.
"Apa yang membuat Anda jatuh cinta pada pasangan Anda?" baca Ndaru.
Shana berpikir sebentar. "Bapak dulu. Bapak yang jawab."
Ndaru terdiam. Dia menatap iPad-nya lama.
"Pak?"
"Saya tidak tahu harus jawab apa."
"Karang aja, Pak. Sama kayak tadi."
Ndaru masih diam. Dia menatap Shana. Tatapan yang membuat Shana tidak nyaman. Seperti pria itu sedang mencari jawaban di wajahnya.
"Saya akan pikirkan," ucapnya pada akhirnya.
"Pak, wawancaranya lusa."
"Saya tahu."
"Kalau Bapak nggak punya jawaban, nanti kita kelihatan aneh."
"Saya akan pikirkan, Shana."
Shana menghela napas. Dia tahu tidak ada gunanya memaksa pria ini. "Oke. Pertanyaan selanjutnya."
Pukul sebelas malam, mereka selesai. Shana meregangkan tubuhnya yang kaku. Dia berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Shana."
"Ya, Pak?"
"Kamu belum jawab."
Shana menoleh bingung. "Jawab apa?"
"Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada saya."
Shana membeku. Dia menatap Ndaru yang masih duduk di kursi berlengan. Wajah pria itu datar seperti biasa. Namun matanya menatapnya dengan intens.
"Nanti juga saya karang, Pak," jawab Shana cepat. Terlalu cepat. "Selamat malam."
Dia keluar dan menutup pintu. Lalu bersandar di pintu itu dengan jantung yang berdetak terlalu kencang.
Kenapa dia tidak bisa menjawab? Dia penulis. Dia bisa mengarang ribuan cerita cinta. Namun saat pria itu bertanya langsung, otaknya mendadak kosong.
Atau mungkin bukan kosong. Mungkin justru terlalu penuh.