Pukul delapan malam, Juna menolak tidur.
"Papa belum pulang," rengeknya sambil memeluk boneka dinosaurusnya di sofa ruang tengah. Matanya sudah merah dan sayu, tetapi dia keras kepala.
Suster Nur sudah mencoba segala cara. Membacakan cerita, menyanyikan lagu, mengajaknya ke kamar. Namun Juna tetap bersikeras menunggu ayahnya di sofa.
"Papa pulangnya malam, Mas. Mas Juna tidur dulu, nanti Papa cium Mas Juna pas pulang," bujuk Suster Nur untuk kesekian kalinya.
"Nggak mau!"
Shana yang baru selesai mandi turun ke bawah. Dia melihat pemandangan itu dari tangga. Juna yang memeluk bonekanya erat-erat dengan mata berkaca-kaca. Suster Nur yang terlihat lelah dan tidak tahu harus berbuat apa lagi.
Shana berjalan mendekat dan duduk di samping Juna di sofa.
"Mas Juna nunggu Papa?"
Juna mengangguk tanpa melihatnya.
"Tante juga nunggu Papa."
Juna menoleh. Matanya yang merah menatap Shana dengan bingung. "Tante Cana nunggu Papa?"
"Iya. Gimana kalau kita nunggu bareng? Sambil Tante lanjutin cerita Holly."
Juna berpikir sebentar. Lalu dia mengangguk. Dia merangkak ke pangkuan Shana dan menyandarkan kepalanya di dada Shana. Persis seperti kemarin.
Suster Nur menatap Shana dengan tatapan terima kasih. Shana mengangguk kecil. Memberi isyarat bahwa dia akan mengurus ini.
"Nah, kemarin sampai mana, ya?"
"Holly sama Juna temenan."
"Oh iya. Holly sama Juna temenan." Shana mulai bercerita lagi. 'Suatu hari, Juna bilang ke Holly. "Holly, aku mau ngenalin kamu sama temanku." Holly bingung. "Teman siapa?" Juna bilang, 'Kuda putih yang bisa terbang.''
Juna mengangkat kepalanya. "Kuda terbang?"
"Iya. Kuda putih yang punya sayap. Namanya..." Shana berpikir sebentar. Lalu tersenyum. "Namanya Yono."
Juna tertawa. Dia mungkin tidak tahu Yono adalah nama kuda kesayangan kakeknya. Namun dia tetap tertawa karena nama itu terdengar lucu.
Shana terus bercerita. Tentang Holly dan Yono yang awalnya tidak akur. Tentang Yono yang sombong karena bisa terbang lebih cepat. Tentang Holly yang marah dan bersin mengeluarkan api. Tentang Juna yang mendamaikan mereka berdua.
Suara Shana semakin lama semakin pelan. Napas Juna semakin teratur. Dan sebelum Shana menyelesaikan ceritanya, anak itu sudah tertidur pulas di pelukannya.
Suster Nur mendekat untuk mengangkat Juna. Namun Shana menggeleng pelan.
"Biar di sini dulu, Sus. Nanti kebangun."
"Tapi Ibu capek."
"Nggak apa-apa. Sus istirahat aja. Nanti kalau Pak Ndaru pulang, biar dia yang pindahin."
Suster Nur terlihat ragu. Namun akhirnya dia mengangguk dan naik ke atas.
Shana duduk di sofa dengan Juna di pelukannya. Dia menarik selimut kecil dari sandaran sofa dan menutupi tubuh anak itu. Lalu dia meraih remote televisi dan menyalakannya dengan suara sangat pelan.
Jam sembilan. Ndaru belum pulang.
Jam sepuluh. Belum juga.
Shana mulai mengantuk. Kepalanya terkulai beberapa kali. Namun setiap kali Juna bergerak di pelukannya, dia langsung terjaga.
Jam sebelas.
Suara mobil terdengar dari halaman depan. Shana langsung membuka matanya. Tidak lama kemudian, pintu depan terbuka pelan. Langkah kaki yang berat dan lelah terdengar di lorong.
Ndaru masuk ke ruang tengah sambil melonggarkan dasinya. Wajahnya terlihat sangat lelah. Namun langkahnya langsung terhenti saat melihat pemandangan di sofa.
Shana dengan rambut yang masih sedikit basah, mengenakan piyama bergambar bulan. Dan Juna yang tertidur pulas di pelukannya, diselimuti selimut kecil bergambar dinosaurus.
Untuk beberapa saat, Ndaru hanya berdiri di sana. Diam.
"Dia nungguin Bapak," bisik Shana. "Nggak mau tidur di kamar."
Ndaru masih tidak bergerak. Matanya menatap mereka berdua dengan tatapan yang tidak bisa Shana baca.
"Pak?"
Ndaru tersadar. Dia berjalan mendekat dan berjongkok di depan sofa. Tangannya terulur mengusap pipi Juna yang tertidur.
"Sejak jam berapa?"
"Jam delapan, Pak. Suster Nur udah coba bujuk, tapi dia nggak mau."
Ndaru menghela napas panjang. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya.
"Kamu juga nungguin?"
Shana mengerjap. "Saya cuma nemenin Juna, Pak."
Ndaru menatapnya. Lalu dia mengangguk pelan. Dia mengulurkan tangannya ke arah Juna. "Biar saya bawa ke kamar."
Shana mengangkat Juna dengan hati-hati dan menyerahkannya pada Ndaru. Dalam prosesnya, tangan mereka bersentuhan sebentar. Hanya sekilas. Namun Shana merasakan sesuatu yang aneh menjalar di lengannya.
Ndaru menggendong Juna dan berjalan menuju tangga. Namun di anak tangga pertama, dia berhenti dan menoleh.
"Kamu sudah makan?"
"Sudah, Pak. Tadi sama Juna."
"Oh."
Ndaru naik ke atas. Shana mematikan televisi dan membereskan selimut kecil di sofa. Lalu dia berjalan ke dapur. Dia membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sepiring makanan yang sudah ia siapkan sejak tadi. Nasi, ayam goreng, sayur bening, dan sambal. Dia menghangatkannya di microwave, lalu meletakkannya di atas meja makan dan menutupnya dengan tudung saji.
Dia menyobek selembar kertas dari buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Menulis sesuatu dengan cepat. Lalu menyelipkannya di bawah tudung saji.
Setelah itu dia naik ke atas. Kamarnya berada di sisi lain ruang bermain. Dia bisa mendengar suara pelan dari kamar Juna. Suara Ndaru yang berbisik pada anaknya. Mungkin meminta maaf. Mungkin bercerita. Shana tidak tahu.
Dia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.
***
Setengah jam kemudian, Ndaru turun ke bawah untuk mengambil air minum. Langkahnya terhenti saat melihat tudung saji di atas meja makan. Dia tidak ingat ada makanan yang disisakan untuknya. Biasanya, kalau dia pulang larut, dia hanya minum kopi atau langsung tidur.
Dia membuka tudung saji itu. Nasi, ayam goreng, sayur bening, dan sambal. Masih hangat. Di samping piring, ada selembar kertas kecil yang terlipat.
Ndaru membukanya.
Kalau lapar. Sambalnya bikinan saya, bukan Mbak di dapur. Kalau kepedesan, maaf. —S
Ndaru membaca tulisan itu dua kali. Tulisan tangan Shana kecil dan miring. Sedikit berantakan di bagian akhir. Seperti ditulis dengan terburu-buru.
Dia menarik kursi dan duduk. Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Handaru Atmadjiwo makan malam di rumah. Sendirian, pukul setengah dua belas malam, di meja makan yang terlalu besar.
Sambalnya pedas. Sangat pedas. Ndaru menghabiskan dua gelas air.
Namun dia menghabiskan semuanya.
Kertas kecil itu ia lipat kembali dan ia selipkan di saku kemejanya.