Meja makan panjang dari kayu jati. Kursi-kursi tertata rapi menanti. Pagi pertama dengan peran yang baru sekali. Namun lidah kelu tak tahu harus memulai dari sisi mana lagi.
Pukul tujuh kurang sepuluh menit, Shana sudah duduk di meja makan. Terlalu cepat. Dia tahu itu. Namun dia tidak bisa tidur lagi setelah terbangun pukul dua dini hari. Jadi dia memutuskan untuk mandi, berpakaian, dan turun lebih awal.
Meja makan itu panjang. Cukup untuk delapan orang. Namun hanya ada tiga piring yang tertata di ujungnya. Satu di kepala meja. Satu di sisi kanan. Satu lagi kursi tinggi untuk anak kecil di sisi kiri.
Shana tidak tahu harus duduk di mana. Dia akhirnya memilih kursi di sisi kanan. Berhadapan dengan kursi tinggi Juna.
Dua asisten rumah tangga sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Mereka datang setiap pagi dan pulang sore hari. Shana sudah berkenalan dengan mereka kemarin. Keduanya ramah, tetapi juga terlihat canggung. Mungkin karena mereka juga belum tahu bagaimana harus memperlakukan nyonya baru di rumah ini.
"Ibu mau kopi atau teh?" tanya salah satu dari mereka.
"Teh aja, Mbak. Makasih."
Teh hangat diletakkan di depannya. Shana menyesapnya pelan. Matanya melirik ke arah tangga. Belum ada tanda-tanda Ndaru akan turun.
Pukul tujuh tepat, suara langkah kaki terdengar dari tangga. Shana langsung menegakkan duduknya. Dia tidak tahu kenapa dia gugup. Ini hanya sarapan. Hanya makan pagi biasa.
Namun ini juga sarapan pertama mereka sebagai suami istri. Meski hanya di atas kertas.
Ndaru turun dengan kemeja putih dan dasi biru tua yang belum dikencangkan. Jasnya tersampir di lengan. Rambutnya basah. Dia berhenti sebentar di anak tangga terakhir saat melihat Shana sudah duduk di meja makan.
"Pagi," sapanya.
"Pagi, Pak."
Ndaru berjalan menuju kursi di kepala meja. Dia meletakkan jasnya di sandaran kursi dan duduk. Salah satu asisten rumah tangga langsung meletakkan secangkir kopi hitam di depannya.
Keheningan.
Shana menyesap tehnya. Ndaru menyesap kopinya. Suara denting cangkir yang diletakkan di atas piring kecil terdengar sangat keras di ruangan yang sunyi itu.
"Tidur nyenyak?" tanya Ndaru pada akhirnya.
"Lumayan, Pak."
"Kamar kamu nyaman?"
"Nyaman, Pak. Makasih."
Keheningan lagi.
Shana menatap cangkir tehnya. Dia mencoba memikirkan topik pembicaraan. Cuaca? Terlalu klise. Pekerjaan? Terlalu pribadi. Poin lima. Juna? Anak itu belum turun.
"Mas Juna kemarin tidur di pangkuan saya," ucap Shana tiba-tiba.
Ndaru mengangkat wajahnya. "Suster Nur cerita."
"Oh."
"Dia bilang kamu cerita tentang naga."
"Iya. Naga putih namanya Holly."
Ndaru terdiam. Lalu alisnya terangkat. "Holly?"
"Mas Juna yang kasih nama. Katanya kuda Bapak."
Untuk sesaat, Ndaru hanya menatapnya. Lalu dia menunduk ke cangkir kopinya. Shana bersumpah dia melihat bahu pria itu sedikit berguncang. Seperti menahan tawa.
"Bapak ketawa?"
"Tidak."
"Bapak ketawa."
"Saya tidak ketawa, Shana."
Shana menyipitkan matanya. Namun sebelum dia bisa membalas, suara langkah kaki kecil terdengar dari tangga. Juna turun sambil memegang tangan Suster Nur. Rambutnya sudah disisir rapi dan wajahnya sudah bersih.
"Papa! Tante Cana!"
Juna melepaskan tangan Suster Nur dan berlari kecil menuju meja makan. Namun alih-alih menuju kursi tingginya, anak itu malah berlari ke arah Shana. Dia menarik-narik ujung baju Shana.
"Tante Cana. Holly mana?"
Shana tertawa. "Holly lagi tidur, Mas. Nanti malam kita lanjutin ceritanya."
"Sekarang!"
"Mas Juna," tegur Ndaru. "Sarapan dulu."
Juna cemberut. Namun dia menurut saat Suster Nur mengangkatnya ke kursi tinggi. Bibirnya masih maju. Matanya masih menatap Shana dengan penuh harap.
Sarapan dihidangkan. Nasi goreng dengan telur mata sapi untuk orang dewasa. Bubur ayam lembut dengan potongan wortel berbentuk bintang untuk Juna.
Shana tersenyum melihat wortel-wortel bintang itu. Rupanya Suster Nur tidak bercanda.
Mereka makan dalam diam. Hanya suara Juna yang sesekali mengoceh tentang naga, kuda, dan dinosaurus. Suster Nur menyuapinya dengan sabar. Ndaru makan dengan cepat sambil sesekali melirik iPad-nya. Shana makan pelan sambil sesekali melirik Ndaru.
"Shana," panggil Ndaru tiba-tiba.
Shana hampir tersedak. "Ya, Pak?"
Ndaru meletakkan sendoknya. Dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah dompet kulit hitam. Dari dalamnya, dia mengambil sebuah kartu berwarna hitam dan menyodorkannya ke arah Shana.
"Ini untuk kamu."
Shana menatap kartu itu. Kartu kredit. Warna hitam. Dia tahu jenis kartu ini. Kartu yang hanya dimiliki oleh orang-orang dengan saldo yang tidak masuk akal.
"Buat apa, Pak?"
"Poin tiga. Pihak pertama menanggung segala kebutuhan pihak kedua."
"Saya punya uang sendiri, Pak."
"Saya tahu."
"Jadi saya nggak butuh ini."
"Aku ingin menyediakan biaya yang sudah kita bicarakan," kata Ndaru. "Tapi kamu tidak harus memakai kartu ini. Kita bisa sepakati cara lain yang lebih nyaman, dan kamu tetap mengatur penghasilanmu sendiri."
Shana menatap kartu itu lama. Ia meminta penjelasan tentang tagihan dan siapa yang dapat melihat penggunaannya. Ia tidak mau kebutuhannya menjadi alasan untuk mengawasi seluruh hidupnya.
"Saya nggak akan pakai banyak."
"Kita sepakati kebutuhan dan keterbukaan tagihannya dulu. Jangan merasa ini utang yang harus kamu bayar dengan menuruti saya."
"Saya nggak akan pakai banyak," ulang Shana keras kepala.
Ndaru menatapnya. Lalu, dengan gerakan yang sangat pelan, dia meletakkan kartu itu di atas meja. Tepat di samping piring Shana.
"Terserah kamu," ucapnya. Lalu dia berdiri dan meraih jasnya. "Saya pulang malam. Ada rapat sampai jam sembilan."
"Oke, Pak."
Ndaru berjalan menuju Juna. Dia berjongkok di samping kursi tinggi anaknya dan mencium kepalanya. "Papa kerja dulu, ya, Mas."
"Papa pulang?"
"Pulang. Tapi malam."
Juna cemberut lagi. "Jangan malam-malam."
Ndaru terdiam sebentar. Lalu dia mengusap kepala anaknya. "Papa usahain."
Shana memperhatikan interaksi itu dalam diam. Dia melihat bagaimana mata Ndaru melembut setiap kali menatap Juna. Bagaimana suaranya berubah lebih hangat. Bagaimana tangannya mengusap kepala anak itu dengan penuh sayang.
Ndaru berdiri dan berjalan menuju pintu. Namun di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.
"Shana."
"Ya, Pak?"
"Kalau Juna minta cerita lagi malam ini..." Ndaru terdiam sebentar. "Holly boleh punya teman kuda."
Lalu dia pergi.
Shana menatap pintu yang tertutup itu dengan mulut sedikit terbuka. Lalu dia menoleh pada Suster Nur yang sedang menyuapi Juna. Wanita itu menunduk dalam-dalam, bahunya berguncang.
"Sus ketawa?"
"Nggak, Bu," jawab Suster Nur dengan suara tertahan.
Shana menatap kartu hitam di samping piringnya. Lalu dia memasukkannya ke dalam saku tanpa melihat.