Sore itu, setelah Juna bangun dari tidur siang, Suster Nur mengetuk pintu kamar Shana.
"Bu Shana, boleh saya masuk?"
"Masuk, Sus."
Suster Nur masuk sambil membawa sebuah buku catatan kecil bersampul biru. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah. Wajahnya yang bulat dan teduh mengingatkan Shana pada guru TK-nya dulu.
"Maaf mengganggu, Bu. Pak Ndaru minta saya untuk menunjukkan rutinitas rumah sama Ibu. Biar Ibu nggak bingung."
"Oh, boleh, Sus. Duduk dulu."
Suster Nur duduk di tepi ranjang. Dia membuka buku catatannya. Di dalamnya, ada tulisan tangan yang rapi dan teratur. Jadwal harian Juna dari jam ke jam.
"Mas Juna biasanya bangun jam enam pagi, Bu. Langsung minum susu hangat satu botol. Habis itu mandi, terus sarapan jam tujuh. Pak Ndaru biasanya ikut sarapan kalau nggak ada rapat pagi."
Shana mendengarkan dengan serius. Dia bahkan mengambil ponselnya dan mulai mencatat.
"Jam delapan sampai jam sebelas, Mas Juna main. Kadang di ruang bermain, kadang di taman. Kalau cuaca bagus, saya ajak jalan-jalan keliling komplek. Jam sebelas makan siang, terus tidur siang dari jam dua belas sampai jam dua."
"Tidur siangnya harus tepat waktu, Sus?"
"Harus, Bu. Kalau nggak, Mas Juna rewel sorenya." Suster Nur tersenyum. "Persis kayak Bapaknya. Kalau kurang tidur, galak."
Shana tertawa. Dia tidak bisa membayangkan Ndaru rewel. Namun dia bisa membayangkan Ndaru galak.
"Jam dua sampai jam lima main lagi. Jam lima mandi sore. Jam enam makan malam. Jam tujuh main sebentar sama Pak Ndaru kalau Bapak sudah pulang. Jam delapan tidur."
"Kalau Pak Ndaru belum pulang?"
Suster Nur terdiam sebentar. Senyumnya sedikit memudar. "Ya, Mas Juna nunggu, Bu. Kadang sampai ketiduran di sofa."
Shana tidak bertanya lagi. Dia bisa membayangkan pemandangan itu. Anak kecil yang tertidur di sofa ruang tengah, menunggu ayahnya yang tidak kunjung pulang.
"Ada yang nggak boleh dimakan, Sus?"
"Mas Juna alergi udang, Bu. Kalau makan udang, langsung bentol-bentol. Terus nggak suka wortel. Tapi kalau wortelnya dipotong bentuk bintang, mau."
"Bintang?"
"Iya, Bu. Bentuk bintang. Kalau kotak nggak mau. Kalau bulat juga nggak mau."
Shana mencatat itu dengan senyum lebar. Anak ini benar-benar menggemaskan.
"Ada lagi, Sus?"
Suster Nur menutup buku catatannya. Dia menatap Shana dengan tatapan ragu. Seperti menimbang apakah dia harus mengatakan sesuatu atau tidak.
"Ada satu, Bu."
"Apa?"
"Mas Juna sering kebangun tengah malam. Biasanya karena mimpi buruk. Kalau sudah gitu, dia nangis cari Papanya." Suster Nur menunduk. "Tapi Bapak kadang nggak dengar. Kamar Bapak kedap suara. Jadi biasanya saya yang tenangin."
"Oh."
"Saya cuma kasih tahu, Bu. Kalau Ibu dengar suara nangis malam-malam, jangan kaget."
Shana mengangguk pelan. Dia teringat kebiasaannya sendiri. Terbangun pukul dua dini hari. Mungkin dia akan mendengar tangisan itu.
"Makasih, Sus. Saya catat semua."
Suster Nur tersenyum dan berdiri. Namun sebelum keluar, dia berbalik lagi.
"Bu Shana."
"Ya, Sus?"
"Mas Juna dari tadi nunggu di depan pintu. Katanya Ibu janji cerita naga."
Shana langsung berdiri. Dia membuka pintu kamarnya dan benar saja. Juna duduk di lantai lorong, bersandar pada dinding, dengan boneka dinosaurus hijau di pelukannya. Matanya langsung berbinar begitu melihat Shana.
"Tante Cana! Naga!"
***
Ruang bermain Juna adalah surga kecil untuk anak-anak. Dinding-dindingnya dicat warna biru langit dengan gambar awan-awan putih. Ada rak buku rendah yang penuh dengan buku cerita bergambar. Ada tenda kecil di sudut ruangan. Ada karpet bergambar jalan raya di tengah ruangan, lengkap dengan mobil-mobilan yang berserakan.
Shana duduk bersila di atas karpet. Juna duduk di pangkuannya tanpa diminta. Anak itu langsung menyandarkan punggungnya di dada Shana dengan nyaman. Seolah sudah melakukannya ratusan kali.
Shana sedikit terkejut. Dia tidak menyangka Juna akan secepat ini menempel padanya. Namun dia tidak menolak.
"Oke. Mas Juna mau dengar cerita naga apa?"
"Naga putih!"
"Naga putih, ya?" Shana berpikir sebentar. Lalu dia mulai bercerita. "Di sebuah kerajaan di atas awan, ada seekor naga putih yang sangat besar. Namanya... Mas Juna mau kasih nama apa?"
Juna berpikir keras. Dahinya berkerut. "Holly!"
"Holly?"
"Kuda Papa. Putih."
Shana tertawa. Kuda putih bernama Holly. Dia ingat Gilang pernah menyebutkan soal tempat berkuda milik keluarga Atmadjiwo.
"Oke. Naga putih namanya Holly. Holly tinggal di kerajaan di atas awan. Dia sangat kuat dan sangat besar. Tapi Holly punya satu masalah."
"Apa?"
"Holly nggak punya teman."
Juna menoleh ke atas, menatap wajah Shana dengan mata bulat. "Kenapa?"
"Karena semua orang takut sama Holly. Holly besar, giginya tajam, dan kalau bersin, keluar api." Shana membuat suara bersin yang lucu. "Hachiii! Wussss!"
Juna tertawa terbahak-bahak. Tubuhnya berguncang di pangkuan Shana.
"Lagi! Lagi!"
"Hachiii! Wussss!"
Juna tertawa semakin keras. Suster Nur yang berdiri di ambang pintu ikut tersenyum.
Suster Nur ikut duduk sebentar di dekat pintu. Ketika Juna menunjuk gambar kuda di bukunya, ia menyebut dua nama kuda keluarga yang paling sering diceritakan: Holly milik Papa dan Yono kesayangan Opa. Shana menyimpan nama-nama itu untuk cerita berikutnya.
Shana melanjutkan ceritanya. Tentang Holly yang kesepian. Tentang seorang anak kecil dari desa di bawah awan yang tidak takut pada Holly. Tentang bagaimana anak kecil itu dan Holly akhirnya menjadi sahabat.
"Anak kecilnya namanya siapa?" tanya Juna.
"Mas Juna mau kasih nama apa?"
"Juna!"
Shana tersenyum. "Oke. Namanya Juna."
Juna tersenyum lebar. Dia memeluk boneka dinosaurusnya erat-erat. Matanya mulai sayu. Rupanya tertawa terlalu banyak membuatnya lelah.
Shana terus bercerita dengan suara yang semakin pelan. Tangannya mengusap-usap rambut Juna dengan lembut. Sampai akhirnya dia merasakan napas anak itu mulai teratur.
Juna tertidur. Di pangkuannya. Masih memeluk boneka dinosaurus.
"Sus," bisik Shana. "Dia tidur."
Suster Nur mendekat dengan wajah terkejut. "Ya ampun, Bu. Mas Juna jarang tidur sore. Apa lagi sama orang baru."
"Saya pindahin ke kamarnya?"
"Biar saya aja, Bu."
Suster Nur mengangkat Juna dengan hati-hati. Anak itu sedikit menggeliat, tetapi tidak terbangun. Tangannya masih mencengkeram ujung kaos Shana. Shana harus melepaskan jari-jari kecil itu satu per satu.
Setelah Suster Nur membawa Juna pergi, Shana masih duduk di atas karpet. Dia menatap boneka dinosaurus hijau yang tertinggal di sampingnya. Lalu dia memeluk lututnya.
Jangan bikin dia sayang sama lo.
Kalimat Erina kembali terngiang. Shana menghela napas panjang.
Terlambat, Mbak. Sepertinya sudah terlambat.