Rumah baru dengan dinding yang tinggi. Menyimpan tenang yang dijaga sepenuh hati. Pintu terbuka untuk penghuni yang asing sekali. Entah akan menjadi sangkar atau tempat kembali.
Pukul sembilan tepat, Gilang sudah berdiri di depan pintu suite. Tidak terlambat satu menit pun. Shana bahkan curiga pria itu sudah berdiri di sana sejak pukul setengah sembilan, menunggu jarum jam bergeser ke angka yang tepat sebelum mengetuk.
"Selamat pagi, Bu. Tidurnya nyenyak?"
"Lumayan, Mas," jawab Shana sambil menenteng tas ranselnya. Matanya masih sedikit bengkak. Semalam dia memang tidur, tetapi tetap terbangun pukul dua dini hari seperti biasa. Bedanya, semalam dia terbangun di ranjang hotel yang terlalu besar dan terlalu sunyi.
Ndaru keluar dari kamarnya tidak lama kemudian. Pria itu sudah rapi dengan kemeja biru muda dan celana bahan abu-abu. Rambutnya masih sedikit basah. Shana menduga dia sudah berenang di kolam hotel sejak subuh.
"Pagi," sapa Ndaru singkat.
"Pagi, Pak."
Hanya itu. Lalu mereka berjalan bersama menuju lift. Kali ini tidak ada yang bergandengan tangan. Tidak ada kamera. Tidak ada yang perlu dibuktikan.
Perjalanan menuju rumah Ndaru memakan waktu sekitar empat puluh menit. Shana menatap ke luar jendela sepanjang jalan. Dia memperhatikan bagaimana jalanan berubah. Dari gedung-gedung tinggi di pusat kota, menjadi jalan-jalan yang lebih lebar dan sepi, lalu menjadi kawasan perumahan dengan pepohonan rindang di sepanjang jalan.
Mobil berhenti di depan pos keamanan komplek. Petugas keamanan memeriksa sebentar, lalu membuka palang dengan hormat. Shana melirik ke belakang. Ada dua mobil wartawan yang mengikuti mereka sejak dari hotel. Keduanya dihentikan di pos itu dan tidak diizinkan masuk.
"Mereka nggak bisa masuk, Mas?"
"Tidak bisa, Bu. Komplek ini hanya bisa dimasuki penghuni dan tamu yang sudah terdaftar."
Shana mengangguk. Dia tidak tahu harus merasa lega atau terkurung.
Mobil berbelok ke sebuah jalan buntu. Di ujungnya, berdiri sebuah pagar tinggi berwarna cokelat tua. Tinggi sekali. Shana harus mendongak untuk melihat ujungnya. Tidak ada celah. Tidak ada ornamen. Hanya dinding kokoh yang menyembunyikan apa pun yang ada di baliknya.
"Ini rumahnya?" tanya Shana pelan.
"Ini rumahnya," jawab Ndaru.
Pagar terbuka perlahan. Dan di baliknya, Shana melihat sesuatu yang sama sekali tidak ia duga.
Sebuah rumah minimalis modern berwarna putih dan cokelat kayu. Tidak terlalu besar untuk ukuran keluarga Atmadjiwo, tetapi juga tidak kecil. Jendela-jendela kaca besar membuat rumah itu terlihat terang dan terbuka. Di halaman depan, ada taman kecil dengan rumput hijau yang terawat dan beberapa pohon kamboja. Di sudut taman, ada ayunan kayu kecil yang terlihat masih baru.
Tidak ada lukisan orang tua yang matanya mengikuti. Tidak ada kesan menyeramkan seperti yang Erina bayangkan.
Rumah itu terlihat... hangat.
"Bagus, Pak," gumam Shana tanpa sadar.
Ndaru meliriknya sebentar. Dia tidak menjawab, tetapi Shana bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.
Mobil berhenti di depan pintu utama. Belum sempat Shana membuka pintu mobil, pintu rumah sudah terbuka lebih dulu. Seorang anak kecil berlari keluar dengan langkah yang tidak stabil. Rambutnya berantakan, piyamanya bergambar dinosaurus, dan kakinya telanjang.
"Papa! Tante Cana!"
Suster Nur berlari di belakangnya dengan wajah panik. "Mas Juna! Sandalnya, Mas!"
Shana keluar dari mobil dan berjongkok tepat saat Juna sampai di depannya. Anak itu berhenti mendadak. Wajahnya yang tadi bersemangat langsung berubah malu. Dia melirik ayahnya yang baru turun dari sisi lain mobil, lalu kembali menatap Shana.
"Halo, Mas Juna," sapa Shana dengan senyum lebar.
Juna menunduk. Jari-jarinya memilin ujung piyamanya. "Halo."
"Mas Juna nunggu Tante?"
Juna mengangguk pelan. Lalu dia mengangkat wajahnya dengan mata bulat yang penuh harap. "Naganya mana?"
Shana mengerjap. Lalu tertawa. Rupanya anak ini masih ingat soal naga putih.
"Naganya ada di dalam buku Tante. Nanti Tante ceritain, ya?"
"Sekarang?"
"Mas Juna," tegur Ndaru pelan. "Tante Shana baru sampai. Biarkan Tante Shana istirahat dulu."
Juna cemberut. Bibirnya maju beberapa senti. Shana harus menahan diri untuk tidak mencubit pipi gembul itu.
"Nanti sore, ya?" tawar Shana. "Setelah Mas Juna tidur siang."
Juna berpikir sebentar. Lalu mengangguk. "Janji?"
"Janji."
Juna mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil. Shana menatap jari itu, lalu menautkan jari kelingkingnya sendiri. Juna tersenyum puas.
Dari samping, Ndaru menatap pemandangan itu dalam diam. Ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan.
***
Barang-barang Shana sudah tiba sejak kemarin. Kardus-kardus yang ia kemas bersama Erina dan Fathur sudah tertata rapi di kamar barunya. Gilang yang mengurus semuanya.
Kamar itu berada di lantai dua. Ndaru sendiri yang mengantarnya ke sana.
"Kamar saya di ujung sana," ucap Ndaru sambil menunjuk pintu di ujung lorong. "Di sebelahnya ruang bermain Juna. Lalu kamar Juna. Kamar kamu di sebelah ruang bermain, sisi yang lain."
Shana memperhatikan tata letak itu. Jadi ruang bermain Juna berada di tengah. Diapit oleh kamar Ndaru di satu sisi dan kamarnya di sisi lain. Seperti garis pemisah yang tidak terucapkan.
"Suster Nur tidur di kamar Juna," lanjut Ndaru. "Kalau kamu butuh sesuatu, ada interkom di setiap kamar."
Ndaru membuka pintu kamar Shana. Shana melangkah masuk dan langsung terdiam.
Kamar itu luas dan terang. Dindingnya berwarna putih gading. Ada ranjang besar dengan seprai abu-abu muda di tengah ruangan. Lemari pakaian built-in di satu sisi. Dan di sisi lain, menghadap jendela besar yang memperlihatkan taman belakang, ada sebuah meja kerja kayu dengan kursi yang terlihat empuk.
Meja kerja. Dengan rak buku kosong di atasnya.
"Ini..." Shana menoleh pada Ndaru.
"Gilang bilang kamu menulis setiap hari."
Shana menatap meja itu. Lalu menatap jendela di depannya. Dari sana, dia bisa melihat kolam renang dan taman belakang yang hijau. Cahaya pagi menyinari meja itu dengan lembut.
Tempat yang sempurna untuk menulis.
"Makasih, Pak," ucap Shana pelan. Kali ini tanpa senyum yang dibuat-buat.
Ndaru mengangguk. Dia berdiri di ambang pintu sebentar. Seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun pada akhirnya, dia hanya berkata, "Makan siang jam dua belas. Di bawah."
Lalu dia pergi. Meninggalkan Shana sendirian di kamar barunya.
Shana duduk di kursi meja kerja itu. Empuk, seperti dugaannya. Dia mengeluarkan bingkai foto ayahnya dari tas ransel dan meletakkannya di sudut meja. Lalu dia menatap ke luar jendela.
Rumah ini tidak seperti yang ia bayangkan. Pria itu tidak seperti yang ia bayangkan.
Dan entah kenapa, itu membuatnya takut.