Pukul sepuluh malam, tamu terakhir akhirnya pulang. Ballroom yang tadinya riuh kini mulai sepi. Petugas hotel mulai membereskan meja-meja dan kursi. Bunga-bunga yang tadinya segar kini mulai layu di bawah lampu kristal yang mulai diredupkan.
Shana duduk di kursi pelaminan dengan kaki terjulur. Sepatu hak tingginya sudah ia lepas sejak setengah jam yang lalu, disembunyikan di balik kain kebaya. Tidak ada yang tahu kecuali Ndaru. Pria itu sempat melirik ke bawah saat Shana diam-diam melepasnya, tetapi dia tidak berkomentar apa-apa.
Suster Nur sudah membawa Juna pulang lebih awal bersama sopir dan pengawal. Anak itu terlalu lelah untuk bertahan sampai resepsi berakhir; esok pagi mereka akan bertemu lagi di rumah.
"Capek?" tanya Ndaru yang berdiri di samping pelaminan, berbicara dengan Gilang.
"Banget, Pak."
"Lima belas menit lagi kita naik ke kamar."
Shana mengangguk lemah. Kamar. Benar juga. Malam ini mereka akan menginap di Atma Hotel. Gilang sudah memesan suite presidensial di lantai paling atas. Katanya, ada dua kamar tidur terpisah di dalamnya. Lengkap dengan ruang tamu di tengah.
Shana bersyukur. Setidaknya dia tidak perlu tidur di sofa.
"Shana."
Erina datang menghampiri. Dia sudah membawa tasnya, siap untuk pulang. Fathur menunggu di dekat pintu ballroom sambil berbicara dengan seseorang di telepon.
"Mbak mau pulang?"
"Iya. Mas Fathur besok ada rapat pagi." Erina duduk di samping adiknya di kursi pelaminan. Kursi yang seharusnya hanya untuk pengantin. Namun siapa yang peduli? Ballroom sudah hampir kosong.
Untuk beberapa saat, dua kakak beradik itu hanya duduk diam. Menatap ballroom yang mulai gelap. Menatap petugas yang menggulung karpet merah.
"Hari ini lo cantik banget," ucap Erina pelan.
"Lo udah bilang lima kali."
"Gue mau bilang lagi." Erina menatap adiknya. "Ibu pasti bangga liat lo hari ini."
Shana tidak menjawab. Dia menyandarkan kepalanya di bahu kakaknya. Sanggulnya yang sudah mulai longgar menusuk pipi Erina, tetapi Erina tidak mengeluh.
"Shan."
"Hm?"
"Gue mau ngomong sesuatu. Dengerin baik-baik."
Shana menegakkan kepalanya. Nada suara Erina berubah serius.
"Mulai besok lo bakal tinggal di rumah dia. Lo bakal ketemu keluarganya lebih sering. Lo bakal ketemu bapaknya, kakaknya, iparnya, semuanya." Erina menatap adiknya lurus. 'Mereka bukan keluarga biasa, Shan. Lo liat sendiri tadi. Bapaknya bilang "jaga nama keluarga" bahkan sebelum bilang selamat.'
"Gue tahu, Mbak."
"Gue belum selesai." Erina meraih tangan adiknya. Matanya melirik cincin emas putih di jari manis Shana sebentar. "Jangan mau ditindas. Jangan biarin mereka bikin lo merasa kecil. Lo bukan barang. Lo bukan pelengkap. Lo Shana Arkadewi. Penulis yang bukunya dibaca jutaan orang. Lo punya nama sendiri, lo punya harga diri sendiri."
Shana menatap kakaknya. Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
"Kalau mereka ngomongin Ayah," lanjut Erina, suaranya mulai bergetar. "Jangan diem. Lo tahu yang sebenarnya. Kita tahu yang sebenarnya."
"Iya, Mbak."
"Dan satu lagi." Erina terdiam sebentar. Dia melirik Ndaru yang masih berbicara dengan Gilang di kejauhan. "Jangan jatuh cinta sama dia."
Shana mengerjap. "Hah?"
"Gue serius. Jangan jatuh cinta sama dia. Ini cuma setahun. Kalau lo jatuh cinta, lo yang bakal sakit."
Shana tertawa kecil. Namun tawanya terdengar sedikit dipaksakan. "Mbak, gue nggak bakal jatuh cinta sama Pak Ndaru. Dia dingin kayak kulkas."
"Tadi dia pegang tangan lo terus sepanjang resepsi."
"Itu buat kamera."
"Dia juga kasih lo sapu tangan pas akad."
Shana terdiam. Dia tidak tahu Erina melihatnya.
"Gue liat, Shan. Gue duduk di belakang lo." Erina menghela napas. "Gue cuma bilang. Hati-hati. Dia mungkin dingin, tapi dia bukan orang jahat. Dan orang yang bukan orang jahat itu yang paling bahaya. Karena lo nggak siap buat ngelawan."
Shana tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengangguk pelan.
Erina berdiri. Dia merapikan gaunnya dan membungkuk untuk mencium kening adiknya. Lama.
"Gue pulang. Telepon gue besok."
"Iya, Mbak."
Erina berjalan menuju pintu. Namun sebelum sampai, langkahnya berhenti di depan Ndaru. Shana tidak bisa mendengar apa yang kakaknya katakan. Namun dia bisa melihat Erina menunjuk dada Ndaru dengan jari telunjuknya. Lalu menunjuk ke arah Shana. Lalu menunjuk dada Ndaru lagi.
Ndaru hanya mengangguk. Wajahnya tetap tenang.
Setelah Erina pergi, Ndaru berjalan menghampiri Shana. Dia berdiri di depan pelaminan dan menatap istrinya.
"Kakak kamu bilang apa?" tanya Shana penasaran.
"Dia bilang kalau kamu pulang dengan satu helai rambut yang hilang, dia akan masukkan saya ke dalam panci presto."
Shana tertawa keras. Suaranya menggema di ballroom yang sepi. "Itu Mbak Erina banget."
Ndaru tidak tertawa. Namun ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
"Ayo, naik. Kamu perlu istirahat."
Shana mengangguk. Dia meraba-raba ke bawah kain kebayanya, mencari sepatu yang ia sembunyikan. Namun sebelum dia menemukannya, Ndaru sudah berjongkok dan mengambil sepasang sepatu itu.
"Biar saya bawa," ucapnya sambil berdiri. "Kaki kamu lecet."
Shana menunduk menatap kakinya. Benar. Ada bekas merah di tumit dan jari kelingkingnya. Dia bahkan tidak menyadarinya.
"Bapak tahu dari mana?"
"Kamu jalan pincang sejak jam delapan."
Shana menatap pria itu. Dia tidak tahu harus merasa apa. Pria ini memperhatikan terlalu banyak hal. Remasan ujung kebaya. Air mata saat akad. Kaki yang lecet. Semua hal kecil yang bahkan Shana sendiri tidak sadari.
Jangan jatuh cinta sama dia.
Suara Erina terngiang di kepalanya.
Shana berdiri dengan kaki telanjang. Lantai marmer terasa dingin di telapak kakinya. Dia berjalan di samping Ndaru menuju lift. Pria itu menenteng sepasang sepatu hak tinggi berwarna emas di satu tangan. Pemandangan yang sangat aneh untuk seorang Handaru Atmadjiwo.
Mereka masuk ke dalam lift. Pintu tertutup. Ndaru menekan tombol lantai paling atas.
Shana menatap angka-angka yang menyala di atas pintu. Lantai lima. Lantai sepuluh. Lantai lima belas.
Lantai sembilan belas.
Shana menahan napasnya tanpa sadar. Lift itu terus naik, tidak berhenti. Namun ingatannya berhenti di sana. Di lantai sembilan belas. Di depan pintu lift yang terbuka, dengan seorang pria asing yang keluar dari dalamnya.
Pria yang sekarang berdiri di sampingnya. Menenteng sepatunya. Mengenakan cincin yang sama dengannya.
"Shana," panggil Ndaru pelan.
"Ya, Pak?"
"Lantai sembilan belas sudah lewat."
Shana menoleh. Ndaru menatap lurus ke depan, ke arah pintu lift. Wajahnya tenang. Namun Shana tahu pria itu juga mengingatnya.
"Iya," jawab Shana pelan. "Udah lewat."
Lift berhenti di lantai paling atas. Pintu terbuka. Lorong panjang dengan karpet tebal menyambut mereka. Di ujungnya, ada pintu ganda berwarna cokelat tua.
Gilang sudah menunggu di sana. Dia menyerahkan kartu akses pada Ndaru, lalu membungkuk sopan. "Selamat beristirahat, Pak, Bu. Besok pagi pukul sembilan saya jemput untuk pindahan."
"Terima kasih, Lang."
Gilang pergi. Ndaru membuka pintu suite dan mempersilakan Shana masuk lebih dulu.
Suite itu luas. Sangat luas. Ruang tamu di tengah dengan sofa-sofa besar dan jendela kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan Jakarta di malam hari. Di sisi kiri dan kanan, ada dua pintu yang menuju kamar tidur masing-masing.
"Kamar kamu yang kiri," ucap Ndaru sambil meletakkan sepatu Shana di dekat pintu. "Barang-barang kamu sudah di sana."
"Makasih, Pak."
Mereka berdiri di tengah ruang tamu. Canggung. Tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Selamat malam," ucap Ndaru pada akhirnya.
"Selamat malam, Pak."
Ndaru berjalan menuju kamar kanan. Namun sebelum masuk, dia berhenti dan menoleh.
"Shana."
"Ya?"
"Kakimu. Ada kotak P3K di kamar mandi."
Lalu dia masuk dan menutup pintu. Meninggalkan Shana yang berdiri sendirian di tengah ruang tamu dengan jantung yang berdetak terlalu cepat.
Shana menatap pintu kamar yang tertutup itu lama. Lalu dia menunduk menatap cincin di jari manisnya.
"Mampus gue," gumamnya pelan.