Senyum dipasang dengan sempurna. Tangan bertaut di depan mata dunia. Kilatan kamera menyambut dengan gempita. Namun siapa yang tahu apa yang tersimpan di dalam dada?
Grand ballroom Atma Hotel telah disulap menjadi taman bunga yang megah. Ribuan mawar putih dan anggrek bulan menghiasi setiap sudut ruangan. Lampu-lampu kristal raksasa menggantung dari langit-langit tinggi, memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Pelaminan di ujung ruangan berdiri megah dengan latar belakang ukiran kayu jati bermotif Jawa klasik.
Ini jauh dari garden wedding di tepi danau yang Shana impikan. Namun dia harus mengakui, ini indah.
Shana berdiri di balik tirai tebal yang memisahkan ruang tunggu pengantin dengan ballroom. Dia sudah berganti pakaian. Kali ini kebaya beludru berwarna hijau zamrud dengan bordir emas di bagian dada dan lengan. Sanggulnya diganti dengan sanggul modern yang lebih tinggi, dihiasi cunduk mentul emas.
Dari celah tirai, dia bisa melihat ballroom yang sudah dipenuhi tamu. Ratusan orang berpakaian mewah. Pejabat, pengusaha, selebriti. Dan di sisi kiri ruangan, area khusus media dengan puluhan kamera yang sudah siap.
"Gugup?"
Shana menoleh. Ndaru berdiri di belakangnya. Pria itu juga sudah berganti pakaian. Beskap beludru hijau zamrud senada dengannya. Dia terlihat... Shana tidak mau mengakuinya, tetapi pria itu terlihat sangat tampan.
"Sedikit, Pak," jawab Shana jujur.
"Kamu sudah bicara dengan wartawan berkali-kali."
"Itu beda. Waktu itu saya cuma sendiri." Shana kembali mengintip dari celah tirai. "Sekarang ada seribu orang yang nonton."
"Seribu dua ratus," koreksi Gilang yang tiba-tiba muncul dengan iPad-nya. "Dan sekitar lima puluh media."
Shana menatap Gilang dengan wajah ngeri. "Mas, itu nggak membantu."
"Maaf, Bu."
Ndaru melirik jam tangannya. "Lima menit lagi kita masuk."
Shana menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya pelan. Dia melakukannya berkali-kali. Persis seperti di bandara malam itu.
"Shana."
"Ya, Pak?"
Ndaru terdiam sebentar. Wajahnya terlihat ragu. Ekspresi yang jarang Shana lihat dari pria itu.
"Poin tujuh," ucapnya pelan. "Tidak ada kontak fisik. Kecuali untuk keperluan publik."
Shana mengangguk pelan. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Di dalam sana, ada lima puluh media. Mereka akan memperhatikan bagaimana kita berjalan, bagaimana kita berdiri, bagaimana kita saling menatap." Ndaru menatapnya lurus. "Pasangan yang baru menikah biasanya bergandengan tangan."
"Saya ngerti, Pak."
"Boleh saya pegang tangan kamu?"
Shana menatap pria itu. Ini ketiga kalinya hari ini Ndaru bertanya hal yang sama. Boleh. Satu kata yang sederhana. Namun entah kenapa, setiap kali pria itu mengucapkannya, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Shana.
Handaru Atmadjiwo bisa saja langsung meraih tangannya. Mereka sudah menikah. Ada kontrak yang mengizinkan. Ada seribu dua ratus orang yang menunggu. Namun pria itu tetap bertanya. Tetap menunggu jawabannya.
"Boleh, Pak," jawab Shana pelan.
Ndaru mengulurkan tangannya. Shana meletakkan tangannya di atas telapak tangan pria itu. Lalu jari-jari mereka bertaut. Pelan. Hati-hati. Seperti dua orang asing yang sedang belajar sesuatu yang baru.
Tangan Ndaru hangat. Dan sedikit berkeringat.
Shana mengangkat wajahnya. Dia menatap pria itu dengan alis terangkat. "Bapak gugup juga?"
Ndaru tidak menjawab. Namun telinganya sedikit memerah.
Shana menahan senyumnya. Ternyata Handaru Atmadjiwo juga manusia.
"Saatnya, Pak, Bu," ucap Gilang.
Tirai terbuka. Musik gamelan mengalun lembut. Dan cahaya kamera langsung menyambut mereka seperti hujan meteor.
Shana tersenyum. Senyum yang sudah ia latih berkali-kali. Ndaru di sampingnya berjalan dengan tenang, tangannya menggenggam tangan Shana dengan erat namun tidak menyakitkan.
Mereka berjalan melewati lorong panjang yang diapit tamu-tamu. Orang-orang bertepuk tangan. Beberapa berbisik-bisik. Shana bisa menangkap potongan-potongan kalimat mereka.
"Cantik banget, ya."
"Itu yang penulis, kan?"
"Handaru kelihatan bahagia."
"Pegangan tangan terus dari tadi."
Shana hampir tertawa. Bahagia? Pria itu sedang gugup setengah mati. Namun dia tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengeratkan genggamannya sedikit. Lalu merasakan Ndaru membalasnya.
Mereka sampai di pelaminan. Berdiri berdampingan di depan kursi pengantin yang megah. Para fotografer berebut mengambil gambar dari berbagai sudut.
"Mbak Shana! Pak Handaru! Lihat ke sini!"
"Senyum, Pak!"
"Bisa saling tatap, Mbak?"
Shana melirik Ndaru. Pria itu juga meliriknya. Mata mereka bertemu. Dan untuk satu detik yang terasa sangat panjang, mereka hanya saling menatap.
Kilatan kamera meledak dari segala arah.
"Pak," bisik Shana tanpa melepas senyumnya. "Bapak harus senyum."
"Saya sudah senyum."
"Itu bukan senyum. Itu muka orang nahan sakit gigi."
Sudut bibir Ndaru berkedut. Lalu, perlahan, senyum sungguhan muncul di wajahnya. Senyum kecil yang tidak sempurna, tetapi tulus.
Kilatan kamera kembali meledak. Lebih banyak dari sebelumnya.
***
Antrean tamu yang ingin bersalaman mengular panjang. Shana tidak tahu sudah berapa ratus tangan yang ia jabat. Kakinya mulai pegal. Pipinya mulai kaku karena terus tersenyum.
Namun ada beberapa wajah yang membuatnya bersemangat kembali.
"Mbak Shana!"
Bagas dan Ayu muncul di antrean dengan wajah berseri-seri. Bagas mengenakan kemeja batik yang terlihat baru dibeli. Ayu mengenakan gaun merah marun yang manis.
"Kalian dateng!" Shana memeluk Ayu erat. Lalu menatap Bagas. "Gas, lo ganteng juga kalau rapi."
"Saya emang ganteng dari dulu, Mbak. Mbak aja yang nggak sadar." Bagas lalu menoleh pada Ndaru dan membungkuk dalam-dalam. "Pak Handaru. Terima kasih banyak, Pak. Soal Wawan."
Ndaru menjabat tangan Bagas. "Kamu teman yang baik."
Bagas terlihat terharu. Matanya mulai berkaca-kaca lagi. Ayu buru-buru menariknya pergi sebelum dia menangis di pelaminan.
Lalu datang Erina dan Fathur. Erina sudah berganti pakaian. Kali ini gaun hitam elegan yang membuatnya terlihat seperti bintang film. Matanya masih sedikit sembab, tetapi riasannya sudah diperbaiki.
"Kaki lo pegel?" tanya Erina langsung.
"Banget."
"Nanti gue pijitin." Erina menatap Ndaru. "Kalau dia nggak mau pijitin."
Ndaru menatap Erina dengan wajah datar. Shana menahan tawa.
"Selamat, Shan." Fathur memeluk adik iparnya sebentar. "Kamu cantik banget hari ini."
"Makasih, Mas."
Fathur beralih pada Ndaru. Dua pria itu berjabat tangan cukup lama. Ada sesuatu yang tidak terucapkan di antara mereka. Seperti pesan dari satu pria ke pria lain.
"Jaga dia," ucap Fathur pelan.
"Pasti," jawab Ndaru.
Erina dan Fathur berlalu. Antrean tamu kembali berjalan. Shana menghela napas dan kembali memasang senyumnya.
Masih ada ratusan tangan lagi yang harus ia jabat.