Setelah doa selesai, Haji Sholeh meminta Shana untuk mencium tangan suaminya. Tradisi yang biasa dilakukan setelah ijab kabul.
Shana menatap tangan Ndaru yang terulur. Tangan besar dengan jari-jari panjang. Ada urat-urat yang samar di punggungnya.
Poin tujuh. Tidak ada kontak fisik. Bisa dipertimbangkan jika untuk keperluan publik.
Apakah ini termasuk keperluan publik? Ada fotografer keluarga di sudut ruangan. Ada keluarga Atmadjiwo yang menatap mereka. Ada penghulu yang menunggu.
Ndaru sepertinya menyadari keraguan Shana. Dia menunduk sedikit dan berbisik. Cukup pelan agar hanya Shana yang mendengar.
"Boleh?"
Shana mengangkat wajahnya. Pria itu menatapnya. Bertanya. Benar-benar bertanya. Bukan sekadar formalitas.
Shana mengangguk pelan. "Boleh, Pak."
Dia meraih tangan Ndaru dengan kedua tangannya dan menciumnya. Tangan itu hangat. Lebih hangat dari yang ia kira. Shana melepasnya dengan cepat, wajahnya terasa panas.
"Sekarang tukar cincin," ucap Haji Sholeh.
Shana mengerjap. Cincin? Tidak ada cincin di rundown yang Gilang tunjukkan. Dia menoleh bingung pada Ndaru.
Ndaru mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna hitam dari saku beskapnya. Dia membukanya. Di dalamnya ada dua cincin emas putih polos. Sederhana. Tanpa berlian, tanpa ukiran rumit. Hanya garis tipis yang melingkar di tengahnya.
"Pak," bisik Shana. "Ini apa?"
"Cincin."
"Saya tahu ini cincin. Maksud saya—"
"Orang menikah pakai cincin, Shana." Ndaru mengambil cincin yang lebih kecil. "Boleh?"
Lagi-lagi pertanyaan itu. Shana menatap cincin itu, lalu menatap Ndaru. Pria itu menunggu dengan sabar. Tidak memaksa.
Shana mengulurkan tangan kirinya. Ndaru memasangkan cincin itu di jari manisnya dengan hati-hati. Pas. Sangat pas. Shana tidak tahu bagaimana pria itu bisa tahu ukuran jarinya. Mungkin Gilang. Gilang selalu tahu segalanya.
Lalu giliran Shana. Dia mengambil cincin yang lebih besar dan menatap Ndaru. Pria itu mengulurkan tangan kirinya tanpa ragu. Shana memasangkan cincin itu dengan jari gemetar. Sedikit sulit melewati buku jarinya, tetapi akhirnya berhasil.
Fotografer keluarga mengabadikan momen itu. Kilatan kamera membuat Shana sedikit silau.
"Alhamdulillah. Selamat, Pak Handaru, Bu Shana. Semoga sakinah, mawaddah, warahmah," ucap Haji Sholeh sambil tersenyum lebar.
"Aamiin."
Setelah itu, prosesi sungkeman dimulai. Shana dan Ndaru berlutut di hadapan Harris lebih dulu. Ndaru mencium tangan ayahnya. Harris menepuk kepala putranya pelan. Lalu giliran Shana.
Shana mencium tangan Harris dengan sopan. Tangan pria tua itu kering dan dingin.
"Jaga nama keluarga ini," ucap Harris datar. Tanpa senyum. "Sekarang kamu membawa nama Atmadjiwo."
Shana menegakkan tubuhnya. Dia menatap Harris lurus. "Saya akan jaga, Pak."
"Papa."
Shana mengerjap. "Maaf?"
"Panggil saya Papa. Di depan orang lain." Harris memalingkan wajahnya. "Kamu sudah jadi menantu saya."
Hanya itu. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan selamat. Namun Shana bisa merasakan sesuatu. Bukan kehangatan, tentu saja. Lebih seperti pengakuan yang diberikan dengan sangat terpaksa.
"Baik, Pa."
Lalu mereka beralih pada Erina. Karena tidak ada orang tua dari pihak Shana, Erina duduk di kursi yang disiapkan khusus. Begitu Shana berlutut di hadapannya, pertahanan Erina runtuh. Dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk adiknya erat.
"Jangan mau ditindas," bisiknya di telinga Shana. "Inget itu."
"Iya, Mbak."
"Kalau dia jahat, telepon gue."
"Iya, Mbak."
"Kalau bapaknya kembali merendahkan lo, bilang. Jangan hadapi sendiri."
Shana tertawa di tengah tangisnya. "Iya, Mbak."
Lalu giliran Ndaru. Pria itu berlutut di hadapan Erina dengan tenang. Erina menatapnya lama. Matanya yang masih basah terlihat tajam.
"Saya titip adik saya," ucap Erina. Suaranya bergetar, tetapi tegas. "Satu tahun. Kembalikan dia dalam keadaan utuh."
Ndaru menatap Erina. Lalu mengangguk pelan. "Saya janji."
Erina mengulurkan tangannya. Ndaru menciumnya dengan hormat. Gerakan sederhana yang membuat Erina sedikit terkejut. Dia tidak menyangka pria seperti Handaru Atmadjiwo akan mencium tangannya.
***
Setelah prosesi selesai, suasana menjadi lebih santai. Keluarga mulai berbaur. Pelayan hotel membawakan teh dan kue-kue kecil.
"Tante Shana!"
Mala berlari kecil menghampiri Shana dan langsung memeluknya. Shana sedikit terhuyung karena tidak siap.
"Mala!"
"Akhirnya! Akhirnya Tante Shana resmi jadi tanteku!" Mala melepas pelukannya dan menatap Shana dengan mata berbinar. "Aku putusin panggil Tante aja. Biar beda sama Mbak-Mbak yang lain."
"Boleh, boleh."
"Temen-temenku heboh banget dapet tanda tangan. Mereka bilang aku beruntung." Mala terkikik. "Aku juga bilang gitu."
Shana tersenyum lebar. Dia tidak bisa tidak menyukai gadis ini. Keceriaannya menular.
"Selamat, Shana."
Suara lembut itu membuat Shana menoleh. Putri berdiri di sana dengan senyum tipis. Satria berdiri di sampingnya, memegang tangan ibunya dengan malu-malu.
Shana membeku sebentar. Lalu dia memaksakan senyumnya. "Terima kasih, Mbak Putri."
"Kebayanya cantik sekali." Putri menyentuh lengan kebaya Shana dengan lembut. "Dulu aku juga pakai kebaya putih waktu menikah dengan Mas Arya. Tapi nggak secantik ini."
Mas Arya. Haryadi.
Shana merasakan dadanya sesak. Senyumnya tetap di tempat, tetapi tangannya mulai dingin. Dia tidak tahu harus berkata apa pada wanita ini. Wanita yang kehilangan suaminya. Suami yang kematiannya Shana rayakan bersama kakaknya dengan makan malam dan tawa.
"Mbak Putri juga pasti cantik waktu itu," jawab Shana pelan.
Putri tersenyum. Lalu tanpa diduga, dia memeluk Shana. Pelukan singkat yang hangat.
"Selamat datang di keluarga," bisiknya. "Kalau butuh teman ngobrol, cari aku. Keluarga ini kadang bikin sesak."
Shana mengangguk kaku dalam pelukan itu. Matanya menatap kosong ke arah jendela. Dia tidak pantas mendapatkan kebaikan ini. Tidak dari Putri. Tidak dari istri Haryadi.
Putri melepas pelukannya dan menuntun Satria pergi. Shana masih berdiri di tempatnya. Membeku.
"Kamu nggak apa-apa?"
Shana tersentak. Ndaru sudah berdiri di sampingnya entah sejak kapan. Pria itu menatapnya dengan dahi sedikit berkerut.
"Nggak apa-apa, Pak. Cuma capek."
Ndaru menatapnya lebih lama. Seperti sedang membaca sesuatu. Namun dia tidak bertanya lebih lanjut.
"Papa!" Juna berlari menghampiri mereka. Blangkonnya sudah miring lagi. "Tante La pulang!"
Ndaru langsung menoleh ke arah pintu. Pintu itu sedikit terbuka. Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Tante La tadi di situ," tunjuk Juna. "Terus pergi."
Shana mengikuti arah pandangan Ndaru. Dia tidak melihat siapa pun. Namun dari wajah Ndaru yang mendadak muram, dia tahu ada sesuatu yang terjadi.
"Siapa Tante La?" tanya Shana pelan.
"Shella. Adik Farah."
Shana teringat. Gadis yang pernah ikut casting untuk filmnya dulu. Shana tidak terlalu mengingat wajahnya, tetapi dia ingat namanya.
"Dia datang?"
"Sepertinya begitu." Ndaru menggendong Juna. "Dan sepertinya dia sudah pergi."
Shana tidak bertanya lagi. Namun dia menyimpan nama itu di dalam kepalanya. Shella. Adik almarhum istri Ndaru. Yang datang ke pernikahan mereka diam-diam, lalu pergi sebelum ada yang menyapanya.
Shana tidak perlu menjadi penulis untuk tahu bahwa itu bukan pertanda baik.