Malam terakhir sebagai gadis lajang. Hati berdebar tak bisa tenang. Esok pagi semua akan berubah haluan. Namun malam ini, biarlah ia pulang ke pelukan.
Shana kembali menginap di rumah Erina. Kakaknya yang memaksa. Katanya, tidak ada pengantin yang berangkat dari apartemen kosong penuh kardus. Apa lagi pengantin keluarga Atmadjiwo. Bisa-bisa netizen mengira Shana diusir dari rumahnya sendiri.
Jadi di sinilah Shana sekarang. Duduk di kursi meja makan rumah Erina sambil menatap kakaknya yang sibuk memasak. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Mbak, udah. Gue udah kenyang."
"Diem. Lo harus makan yang banyak malam ini. Besok lo nggak bakal sempet makan." Erina mengaduk sup di atas kompor. "Pengantin itu kerjaannya senyum sama salaman doang. Perut kosong, nanti lo pingsan di pelaminan."
"Akadnya cuma sebentar, Mbak."
"Resepsinya?"
Shana terdiam. Benar juga. Resepsi akan berlangsung dari sore sampai malam. Gilang bilang tamunya lebih dari seribu orang. Rekan bisnis keluarga Atmadjiwo, pejabat, politisi, selebriti. Shana bahkan tidak kenal setengah dari daftar nama yang Gilang tunjukkan.
Erina meletakkan semangkuk sup ayam di hadapannya. Masih mengepul. Aromanya membuat perut Shana yang katanya kenyang mendadak keroncongan.
"Sup ayam?" Shana mengangkat wajahnya.
"Kenapa? Nggak suka?"
"Suka." Shana tersenyum kecil. "Kayak bikinan Ibu."
Erina tidak menjawab. Dia berbalik dan pura-pura sibuk mencuci panci. Namun Shana bisa melihat bahu kakaknya yang sedikit menegang.
Sup ayam dengan potongan wortel yang besar-besar dan taburan bawang goreng yang banyak. Ibu mereka selalu membuatnya saat salah satu dari mereka sakit. Atau saat ada hari penting. Atau saat Ayah pulang terlambat dan mereka butuh sesuatu yang hangat sambil menunggu.
Sampai suatu hari Ayah tidak pulang lagi. Dan Ibu tidak pernah lagi membuat sup ayam.
Shana menyendok supnya pelan. Rasanya hampir sama. Hampir. Erina memang koki yang hebat, tetapi ada sesuatu yang tidak bisa ditiru. Mungkin tangan Ibu. Mungkin juga kenangan.
"Enak, Mbak."
"Pasti enak. Gue koki."
Shana tertawa kecil. Lalu kembali menyendok supnya dalam diam. Erina selesai mencuci panci dan duduk di hadapannya. Dagu bertopang pada tangan. Matanya menatap adiknya yang makan dengan lahap.
"Shan."
"Hm?"
"Lo masih bisa mundur."
Shana menghentikan sendoknya. Dia mengangkat wajahnya dan menatap kakaknya. Tidak ada nada mengejek di sana. Tidak ada nada marah. Hanya kekhawatiran yang tulus.
"Sepuluh miliar, Mbak."
"Gue jual restoran."
"Mbak!"
"Gue serius." Erina menatapnya lurus. "Restoran bisa dibangun lagi. Lo nggak bisa."
Shana meletakkan sendoknya. Dia meraih tangan Erina di atas meja dan menggenggamnya erat. Tangan kakaknya kasar. Penuh bekas luka kecil dari pisau dan minyak panas. Tangan yang sudah bekerja sejak usia belasan tahun untuk menyekolahkannya.
"Gue nggak akan mundur, Mbak. Bukan karena denda." Shana tersenyum. "Gue mau buktiin ke diri gue sendiri kalau gue bisa nyelesaiin apa yang gue mulai."
Erina menghela napas panjang. "Lo keras kepala."
"Turunan dari lo."
"Dari Ayah," koreksi Erina pelan.
Keheningan menyelimuti mereka. Bukan keheningan yang canggung. Lebih seperti jeda yang dibutuhkan untuk menghormati seseorang yang tidak lagi di sini.
"Ayah bakal marah nggak, ya, Mbak?" tanya Shana pada akhirnya. "Kalau tahu gue nikah sama Atmadjiwo."
Erina terdiam lama. Matanya menerawang ke luar jendela dapur. Ke arah langit malam yang gelap tanpa bintang.
"Ayah nggak pernah marah sama kita, Shan. Bahkan waktu dia di dalam sana pun dia nggak pernah marah." Erina tersenyum tipis. "Yang dia bilang cuma satu. Jangan sampai kalian jadi orang yang membenci."
Shana menunduk. Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira. Karena dia sudah gagal. Dia sudah membenci. Bahkan dia merayakan kematian orang yang ia benci.
"Udah, habisin supnya." Erina menarik tangannya dan berdiri. "Abis itu mandi, terus tidur. Besok subuh MUA dateng."
"Mbak."
"Apa lagi?"
"Tidur bareng, ya? Kayak dulu."
Erina menatap adiknya. Lalu memutar bola matanya. "Lo udah dua puluh enam tahun, Shana."
"Please?"
"Ranjang gue sempit."
"Kita dulu tidur berdua di kasur busa tipis. Lebih sempit dari ranjang lo."
Erina menghela napas. Namun bibirnya berkedut menahan senyum. "Jangan nendang."
"Janji."
***
Malam itu, dua kakak beradik itu berbaring berdampingan di ranjang Erina. Lampu sudah dimatikan. Hanya cahaya lampu jalan yang menyusup dari celah tirai.
"Mbak."
"Tidur, Shan."
"Gue takut."
Erina membuka matanya. Dia menoleh ke samping. Dalam gelap, dia bisa melihat siluet wajah adiknya yang menatap langit-langit.
"Takut apa?"
"Takut nggak bisa jadi orang yang baik di sana. Takut bikin malu lo. Takut..." Shana terdiam. "Takut sama Juna."
"Kenapa sama Juna?"
"Dia masih kecil, Mbak. Dia nggak tahu apa-apa. Gimana kalau dia sayang sama gue, terus setahun lagi gue pergi?"
Erina tidak langsung menjawab. Dia bergeser lebih dekat dan menarik selimut sampai menutupi bahu adiknya.
"Kalau gitu jangan bikin dia sayang sama lo."
"Gimana caranya?"
"Gue juga nggak tahu." Erina memejamkan matanya. "Lo emang gampang disayang. Itu masalahnya."
Shana terdiam. Lalu dia tersenyum dalam gelap.
"Mbak sayang gue?"
"Tidur, Shana."
"Jawab dulu."
"Tidur atau gue tendang ke lantai."
Shana tertawa kecil dan memejamkan mata. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tidak terbangun pukul dua dini hari.
Dia tidur nyenyak sampai pagi. Di samping satu-satunya keluarga yang ia punya.
* * *
Ballroom kecil di lantai tiga Atma Hotel disulap menjadi ruangan yang hangat dan sederhana. Tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya rangkaian melati dan mawar putih yang menghiasi meja akad. Kain putih menjuntai dari langit-langit, membingkai ruangan dengan lembut. Lampu-lampu kristal diredupkan, digantikan oleh cahaya pagi yang masuk dari jendela-jendela tinggi.
Gilang yang mengaturnya. Atas permintaan Ndaru.
"Sederhana," kata atasannya itu seminggu yang lalu. "Tapi jangan terlihat murah."
Gilang butuh tiga hari untuk memahami maksud kalimat itu. Dan hasilnya, menurutnya sendiri, cukup sempurna.
Ndaru berdiri di dekat jendela. Beskap putih gading membalut tubuhnya dengan pas. Blangkon cokelat bertengger di kepalanya. Kain batik bermotif sidomukti melilit pinggangnya. Dia terlihat tenang, seperti biasa. Namun Gilang tahu atasannya itu sudah merapikan lengan beskapnya tujuh kali dalam lima menit terakhir.
"Pak," panggil Gilang pelan. "Penghulu sudah datang."
Ndaru mengangguk. Dia berbalik dan melihat seorang pria paruh baya berkopiah hitam yang baru saja masuk. Wajahnya teduh dengan janggut tipis yang sudah memutih. Pria itu tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Pak Handaru. Saya Haji Sholeh, dari KUA."
"Terima kasih sudah datang, Pak Haji."
"Sudah tugas saya, Pak." Penghulu itu menepuk tangan Ndaru pelan. "Tenang saja. Saya sudah menikahkan ribuan pasangan. Belum ada yang pingsan."
Ndaru tersenyum tipis. Dia tidak merasa akan pingsan. Namun tangannya memang sedikit dingin.
Satu per satu keluarga mulai berdatangan. Harris masuk dengan tongkatnya, didampingi Iqbal. Pria tua itu mengenakan beskap hitam dan wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia langsung duduk di kursi barisan depan tanpa menyapa siapa pun.
Guna dan Yanti datang tidak lama kemudian. Guna langsung menghampiri Ndaru dan menepuk bahunya. "Siap, Ru?"
"Siap, Mas."
"Jangan salah sebut nama."
"Nggak akan."
Yanti tersenyum dan merapikan blangkon Ndaru yang sedikit miring. "Ganteng. Kayak nikahan pertama."
Ndaru tidak menjawab. Yanti langsung menyadari kesalahannya dan menepuk lengan adik iparnya pelan sebagai permintaan maaf.
Lalu Mala masuk. Gadis remaja itu mengenakan kebaya kutubaru berwarna merah muda. Rambutnya disanggul sederhana. Matanya langsung mencari-cari ke seluruh ruangan.
"Om! Tante Shana mana?"
"Belum turun, Mbak."
"Yah." Mala cemberut. Lalu dia melihat sesuatu di belakang Ndaru dan matanya berbinar. "Ih, Juna lucu banget!"
Juna berjalan sambil menggenggam tangan Suster Nur. Anak itu mengenakan beskap mini berwarna putih gading, sama persis dengan ayahnya. Blangkon kecil bertengger di kepalanya, sedikit kebesaran sampai menutupi alisnya. Setiap beberapa langkah, Juna harus mendorongnya ke atas dengan tangan kecilnya.
"Papa!" seru Juna begitu melihat ayahnya. "Juna kayak Papa!"
Semua orang di ruangan tertawa. Bahkan Harris yang sedari tadi kaku terlihat menahan senyum.
Ndaru berjongkok dan membenarkan blangkon anaknya. "Iya. Mas Juna kayak Papa."
"Tante Cana mana?"
"Sebentar lagi."
Putri datang bersama Satria. Wanita itu mengenakan kebaya hitam sederhana. Wajahnya masih menyimpan duka, tetapi dia tersenyum saat Ndaru menyambutnya.
"Selamat, Ru," ucapnya pelan.
"Terima kasih sudah datang, Mbak."
"Arya pasti mau aku datang." Putri tersenyum tipis. "Dia selalu bilang kamu butuh seseorang."
Ndaru tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya mengangguk dan membiarkan Putri berlalu menuju kursinya.
Erina dan Fathur masuk tidak lama kemudian. Erina mengenakan kebaya berwarna biru tua yang elegan. Wajahnya serius, matanya menyapu seluruh ruangan seperti sedang memeriksa keamanan. Fathur berjalan di sampingnya dengan tenang.
"Shana mana?" tanya Ndaru.
"Masih di atas. Lagi dibenerin sanggulnya," jawab Erina singkat. Lalu dia menatap Ndaru dari atas sampai bawah. "Lumayan."
Ndaru menaikkan alisnya. Dia tidak tahu apakah itu pujian atau hinaan. Namun sebelum dia sempat bertanya, Erina sudah berbalik dan kembali keluar. Untuk menjemput adiknya.
Waktu menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit. Semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ndaru duduk di depan meja akad, berhadapan dengan Haji Sholeh. Dua saksi dari pihak keluarga Atmadjiwo, Guna dan Iqbal, duduk di sisi kanan dan kiri.
Lalu pintu terbuka.
Semua kepala menoleh. Termasuk Ndaru.
Shana berdiri di ambang pintu dengan Erina di sampingnya. Kebaya putih yang ia pilih di Butik Amora membalut tubuhnya dengan sempurna. Payet-payetnya berkilauan tertimpa cahaya pagi. Sanggulnya dihiasi untaian melati yang menjuntai hingga ke bahu. Tidak ada kacamata. Matanya yang dibingkai riasan tipis terlihat lebih besar dari biasanya.
Dan dia gugup. Ndaru bisa melihatnya. Jari-jari Shana meremas ujung kebayanya. Persis seperti di butik waktu itu.
Erina menuntun adiknya berjalan pelan menuju meja akad. Langkah mereka hati-hati, menghindari ekor kebaya yang menjuntai. Shana tidak menatap siapa pun. Pandangannya tertuju pada lantai.
Sampai dia duduk di samping Ndaru, barulah dia mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu sebentar.
"Sudah?" bisik Ndaru. Kata yang sama seperti di butik.
Shana mengerjap. Lalu, tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. "Sudah, Pak."
Sejak beberapa hari sebelumnya, Shana sudah berbicara langsung dengan petugas mengenai keluarganya. Ia membawa dokumen yang diminta dan menjelaskan keadaan kerabat dari pihak ayah tanpa diwakili oleh dugaan Gilang. Urusan wali yang akan dipakai hari itu telah diperiksa dan diselesaikan melalui langkah yang diarahkan petugas. Ia juga diminta menyampaikan pilihannya sendiri, tanpa orang lain menjawab atas namanya.
Malam sebelumnya, ia sempat meminta Erina menyimpan salinan berkas dan nomor orang yang dapat ia hubungi jika perlu bantuan. Ia tidak ingin lagi menghadapi halaman kontrak yang tidak ia pahami sendirian.
Haji Sholeh berdeham pelan. "Bisa kita mulai?"
Ndaru mengangguk.
Prosesi dimulai dengan pembacaan ayat suci. Lalu khutbah nikah singkat yang disampaikan Haji Sholeh dengan suara teduh. Tentang pernikahan sebagai ibadah. Tentang suami dan istri yang saling menjadi pakaian. Tentang sabar dan syukur yang harus berjalan berdampingan.
Shana mendengarkan semua itu dengan kepala tertunduk. Kalimat-kalimat itu terasa terlalu suci untuk pernikahan yang dibangun di atas kertas kontrak. Ada rasa bersalah yang perlahan menyusup ke dadanya.
Lalu tiba saatnya.
Haji Sholeh mengulurkan tangannya. Ndaru menyambutnya. Genggaman mereka erat.
"Bismillahirrahmanirrahim." Suara Haji Sholeh menggema di ruangan yang mendadak hening. "Saudara Handaru Gama Atmadjiwo bin Harris Putra Atmadjiwo. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Shana Arkadewi binti Bambang Sudarsono, dengan wali hakim, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan mushaf Al-Qur'an, dibayar tunai."
Ndaru menarik napas. Satu tarikan napas. Lalu menjawab tanpa jeda.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shana Arkadewi binti Bambang Sudarsono dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."
Hening.
Haji Sholeh menoleh pada para saksi. "Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
Doa dipanjatkan. Semua orang menengadahkan tangan. Namun Shana tidak bisa mendengar apa-apa. Telinganya berdengung. Matanya terasa panas.
Binti Bambang Sudarsono.
Sudah berapa lama dia tidak mendengar nama itu diucapkan dengan lantang? Dengan hormat? Tanpa embel-embel narapidana di belakangnya?
Di ruangan ini, di hadapan keluarga Atmadjiwo, nama ayahnya disebut sebagai bagian dari sebuah ikatan suci. Bukan sebagai aib. Bukan sebagai catatan kriminal.
Air mata Shana jatuh. Dia buru-buru mengusapnya dengan ujung jari. Namun air mata itu terus mengalir.
Ndaru meliriknya. Dia tidak berkata apa-apa. Namun di bawah meja, tanpa ada yang melihat, dia menggeser sapu tangan putih dari saku beskapnya ke pangkuan Shana.
Shana menatap sapu tangan itu. Lalu menatap Ndaru. Pria itu masih menatap lurus ke depan, ke arah Haji Sholeh yang masih memimpin doa.
Shana meraih sapu tangan itu dan mengusap air matanya pelan. Ada aroma kayu manis yang samar dari kain itu. Aroma Ndaru.
Di barisan belakang, Erina juga menangis. Fathur menggenggam tangannya erat. Dan di sudut ruangan, di dekat pintu yang sedikit terbuka, seorang wanita berdiri dengan kacamata hitam besar. Menatap pasangan yang baru saja sah itu dengan rahang mengeras.
Shella datang. Meski dia sudah bersumpah tidak akan datang.