Pagi itu Shana datang lebih awal dari biasanya. Jam baru menunjukkan pukul tujuh. Kafe belum buka. Hanya ada Ayu yang sedang menyapu teras dan Bagas yang menata kursi di dalam.
Shana sengaja datang pagi. Selain karena tidak bisa tidur, dia juga ingin menghindari wartawan yang pasti akan datang setelah video Wawan viral semalam. Dia berencana menulis seharian di ruang kerjanya. Mengunci pintu dan pura-pura dunia luar tidak ada.
"Pagi, Mbak," sapa Ayu. "Tumben."
"Nggak bisa tidur, Yu."
"Mau dibikinin kopi?"
"Boleh. Yang kental."
Shana berjalan menuju pintu kafe sambil memeluk laptopnya. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara pintu mobil yang ditutup keras di belakangnya.
"Shana."
Suara itu. Shana mengenalnya terlalu baik. Tubuhnya langsung menegang. Pelukannya pada laptop mengerat.
Dia berbalik pelan. Dito berdiri di sana, di samping mobil hitamnya yang terparkir sembarangan di pinggir jalan. Pria itu terlihat berantakan. Kemejanya kusut, rambutnya tidak disisir, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Bau alkohol samar tercium bahkan dari jarak beberapa meter.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya Shana datar.
"Aku mau ngomong sama kamu."
"Aku nggak mau ngomong sama kamu."
"Lima menit, Shan. Lima menit aja." Dito melangkah mendekat. "Aku mohon."
Shana mundur satu langkah. "Pergi, Dito."
"Kamu nggak bisa gini terus! Kamu blokir semua nomorku, kamu nggak mau ketemu aku, terus tiba-tiba kamu mau nikah sama Handaru?" Suara Dito mulai meninggi. "Kamu pikir aku nggak tahu? Kamu nggak kenal dia, Shan! Kamu cuma pakai dia buat balas dendam ke aku!"
Jantung Shana berdetak kencang. Bukan karena tuduhan itu salah. Justru karena sebagian dari tuduhan itu benar. Dan Dito, dengan segala kebodohannya, ternyata masih cukup mengenalnya untuk menebak.
Namun Shana tidak akan memberinya kepuasan itu.
"Kamu salah," jawabnya tenang. "Aku nikah sama dia karena aku mau."
"Bohong!"
"Terserah kamu mau percaya atau nggak."
Dito melangkah lagi. Kali ini lebih cepat. Tangannya terulur hendak meraih lengan Shana. "Shan, dengerin aku dulu—"
"Woy!"
Teriakan itu datang dari belakang Shana. Bagas berlari keluar dari kafe dengan sapu di tangannya. Entah dari mana dia mendapatkan sapu itu. Mungkin merebutnya dari Ayu yang kini berlari menyusul di belakangnya dengan pengki.
"Mundur, Mas! Mundur!" Bagas langsung berdiri di depan Shana dengan sapu teracung seperti tombak. "Jangan sentuh Mbak Shana!"
Dito menatap Bagas dengan wajah memerah. "Minggir lo, Gas. Ini urusan gue sama Shana."
"Urusan Mas Dito sama Mbak Shana udah selesai sejak malam itu! Saya saksinya!"
"Lo yang manggil Shana ke hotel, kan?" Dito menunjuk Bagas dengan geram. "Lo yang bikin semua ini kacau!"
"Yang bikin kacau itu Mas Dito sendiri! Siapa suruh selingkuh?"
Ayu berdiri di samping Bagas dengan pengki teracung. Wajahnya yang biasanya ramah kini terlihat galak. "Mas Dito pergi sekarang, atau saya teriak maling!"
Dito tertawa sinis. "Teriak aja. Siapa yang mau percaya?"
"Saya panggil petugas keamanan," jawab Ayu. "Mbak Shana sudah meminta Mas pergi. Jangan mendekat lagi."
Wajah Dito memucat. Rupanya kalimat itu mengenai sasaran.
Shana menyentuh bahu Bagas pelan. "Gas, udah."
"Nggak, Mbak. Dia harus pergi dulu."
Dari kejauhan, terdengar suara motor yang mendekat. Ayu menoleh dan matanya membulat. "Mbak, itu kayaknya wartawan. Bawa kamera di tas."
Shana ikut menoleh. Benar saja, sebuah motor berhenti di ujung jalan. Pengendaranya mulai membuka tas di punggungnya.
"Mas Dito, pergi sekarang," desis Bagas. "Kalau wartawan liat Mas di sini, nama Mas makin ancur. Mau masuk berita lagi?"
Dito menatap motor itu. Lalu menatap Shana. Ada sesuatu di matanya yang membuat Shana tidak nyaman. Bukan marah, bukan juga sedih. Lebih seperti tekad yang keras kepala.
"Ini belum selesai, Shan," ucapnya pelan. "Aku nggak akan lepasin kamu."
Setelah itu Dito berbalik dan masuk ke mobilnya. Dia menyalakan mesin dan melaju pergi dengan kecepatan tinggi. Tepat saat wartawan di ujung jalan itu mengangkat kameranya.
Bagas menurunkan sapunya dengan napas terengah. Ayu menurunkan pengkinya. Keduanya berbalik menatap Shana dengan wajah khawatir.
"Mbak nggak apa-apa?"
Shana mengangguk. Dia baru sadar tangannya gemetar. Laptopnya hampir terlepas dari pelukannya.
"Masuk, Mbak. Cepet," ucap Ayu sambil menarik lengan Shana. "Sebelum wartawan itu sampe sini."
Mereka bertiga masuk ke dalam kafe. Bagas langsung mengunci pintu dan menurunkan tirai. Ayu menuntun Shana duduk di salah satu kursi.
"Kopi, Yu," bisik Shana.
"Iya, Mbak. Sebentar."
Bagas mengintip dari celah tirai. "Wartawannya celingak-celinguk, Mbak. Kayaknya dia nggak liat apa-apa."
Shana menghela napas lega. Dia meletakkan laptopnya di meja dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tubuhnya masih gemetar.
Aku nggak akan lepasin kamu.
Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Shana tahu Dito keras kepala. Dia juga tahu Dito bisa nekat jika sudah merasa terpojok. Dan sekarang, setelah video Wawan, pria itu benar-benar terpojok.
"Mbak," panggil Bagas pelan. "Kita lapor ke Pak Handaru?"
Shana menurunkan tangannya. Dia menatap Bagas lama. Lalu menggeleng.
"Jangan, Gas."
"Tapi Mbak—"
"Ini urusan gue. Bukan urusan dia."
Poin lima. Tidak boleh mencampuri urusan pribadi masing-masing. Shana tidak mau menjadi beban. Tidak mau menjadi alasan Ndaru harus repot lagi. Pria itu sudah cukup sibuk dengan perusahaan, keluarga, dan anaknya. Dia tidak perlu ditambah dengan mantan pacar gila calon istri kontraknya.
Ayu datang membawa kopi. Shana meraihnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pahitnya kopi itu membantunya kembali fokus.
"Kalian berdua," ucap Shana sambil menatap Bagas dan Ayu bergantian. "Makasih."
Bagas tersenyum lebar. "Sama-sama, Mbak."
"Tapi lain kali jangan pakai sapu sama pengki. Malu-maluin."
"Itu senjata terdekat, Mbak!" protes Ayu.
Shana tertawa. Untuk pertama kalinya pagi itu, tawanya terdengar lepas.
* * *
Dua hari berlalu tanpa kabar dari Dito. Namun Shana tidak bisa sepenuhnya tenang. Setiap kali ada mobil hitam yang berhenti di depan kafe, jantungnya langsung berdebar. Setiap kali ada nomor asing yang masuk ke ponselnya, tangannya langsung dingin.
Bagas dan Ayu bergantian berjaga di depan. Tanpa diminta. Bagas bahkan menyimpan sapu di dekat pintu masuk, siap digunakan kapan saja.
Siang itu, kafe cukup ramai. Video Wawan masih menjadi pembicaraan. Banyak pengunjung datang hanya untuk melihat apakah Shana Arkadewi ada di sana. Beberapa bahkan membawa buku-buku Shana untuk ditandatangani.
Shana tidak keberatan. Justru dia senang. Ini pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir orang-orang datang padanya dengan senyuman, bukan dengan kamera dan pertanyaan menyudutkan.
"Mbak Shana, ada tamu," ucap Ayu sambil melongok ke ruang kerjanya.
"Siapa, Yu? Wartawan?"
"Bukan, Mbak. Mas Gilang."
Shana mengernyit. Dia tidak membuat janji dengan Gilang hari ini. Namun dia tetap keluar dan menemukan asisten pribadi Ndaru itu berdiri di dekat meja kasir. Masih dengan setelan rapi dan iPad di tangan. Di tangan satunya, dia membawa sebuah tas kertas berwarna biru muda.
"Siang, Bu Shana."
"Siang, Mas. Ada apa? Pak Ndaru nyuruh sesuatu?"
"Ada beberapa hal yang perlu Ibu tahu soal persiapan akad." Gilang melirik sekeliling. Beberapa pengunjung sudah mulai melirik ke arah mereka dengan penasaran. "Mungkin kita bisa bicara di tempat yang lebih privat?"
Shana mengangguk dan membawa Gilang ke ruang kerjanya. Dia menutup pintu dan mempersilakan Gilang duduk.
"Mau minum apa, Mas?"
"Tidak perlu, Bu. Saya tidak lama."
Gilang meletakkan iPad-nya di meja dan menunjukkan beberapa dokumen. Rundown acara akad. Daftar tamu keluarga inti. Contoh desain undangan resepsi.
"Akad akan dilaksanakan hari Sabtu pukul sembilan pagi di ballroom kecil lantai tiga Atma Hotel. Hanya keluarga inti yang hadir. Untuk pihak Ibu, saya mencatat Bu Erina dan Pak Fathur. Apa ada yang ingin Ibu tambahkan?"
Shana menggeleng. "Itu aja, Mas."
"Untuk wali nikah," Gilang berhenti sebentar. Dia menatap Shana dengan hati-hati. "Karena almarhum ayah Ibu sudah tidak ada, apa Ibu memiliki saudara laki-laki dari pihak ayah? Kakek, paman, atau sepupu?"
Shana terdiam. Dia menunduk menatap jari-jarinya.
"Nggak ada, Mas. Keluarga ayah saya... udah nggak ada yang mau berhubungan sama kami."
Gilang tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya mengangguk dan mencatat sesuatu di iPad-nya. Shana bersyukur pria itu cukup peka untuk tidak menggali lebih dalam.
"Kalau begitu kita jelaskan keadaan sebenarnya kepada petugas KUA, Bu. Mereka perlu memeriksa siapa yang berwenang menjadi wali dan langkah apa yang diperlukan. Saya bantu menyiapkan dokumen, tetapi tidak bisa menentukannya sendiri."
"Makasih, Mas."
"Untuk mahar," lanjut Gilang. "Pak Ndaru menanyakan apa yang Ibu inginkan."
Shana mengangkat wajahnya. "Saya boleh pilih?"
"Tentu, Bu."
Shana berpikir sebentar. Dia bisa saja meminta sesuatu yang mahal. Emas berkilo-kilo. Rumah. Mobil. Pria itu pasti akan memberikannya tanpa berkedip. Namun entah kenapa, itu terasa salah.
"Seperangkat alat salat aja, Mas," jawabnya pada akhirnya. "Sama Al-Qur'an."
Gilang menatapnya sebentar. Ada sedikit keterkejutan di wajahnya. "Hanya itu, Bu?"
"Hanya itu."
"Pak Ndaru mungkin akan bertanya kenapa."
"Bilang aja saya nggak mau pernikahan ini punya harga." Shana tersenyum tipis. "Kontraknya udah cukup mahal."
Gilang tidak bisa menahan senyumnya. Dia mencatat permintaan itu dengan hati-hati.
"Satu lagi, Bu." Gilang mengangkat tas kertas biru muda yang ia bawa. "Ini titipan."
"Dari Pak Ndaru?"
"Bukan, Bu. Dari Mbak Mala. Keponakan Pak Ndaru."
Shana menerima tas itu dengan bingung. Di dalamnya ada tiga buku. Semuanya novel karyanya. Sampulnya sudah sedikit lusuh, tanda sering dibaca. Di atas buku-buku itu, ada sebuah amplop kecil berwarna merah muda dengan stiker bunga.
Shana membuka amplop itu. Di dalamnya ada selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan penuh semangat.
Halo Mbak Shana!
Ini Mala. Yang minta foto waktu makan malam kemarin. Maaf ya, Om Ndaru sama Opa emang suka nyebelin. Tapi mereka sebenarnya baik kok. Cuma nggak bisa nunjukin aja. Kata Mama, keluarga kita emang kebanyakan gengsinya.
Aku nitip buku ke Om Gilang. Boleh minta tanda tangan lagi nggak, Mbak? Yang ini buat temen-temenku di sekolah. Mereka nggak percaya kalau Mbak Shana mau jadi tanteku. Hehe.
Oh iya, aku seneng banget Mbak Shana mau nikah sama Om Ndaru. Om Ndaru udah lama banget nggak senyum. Semoga Mbak Shana bisa bikin dia senyum lagi ya!
Salam,
Mala (calon keponakan Mbak Shana)
P.S. Nanti kalau udah nikah aku panggil Tante Shana ya? Atau tetap Mbak? Aku bingung.
Shana membaca surat itu dua kali. Lalu dia tertawa. Tawanya tidak bisa ditahan. Dia menutup mulutnya dengan tangan, tetapi bahunya tetap berguncang.
"Ada yang lucu, Bu?" tanya Gilang.
"Mala lucu banget, Mas." Shana mengusap sudut matanya. "Dia nanya mau panggil saya Tante atau Mbak."
Gilang tersenyum. "Mbak Mala memang sangat bersemangat, Bu. Dia sudah bertanya pada saya tiga kali apakah titipannya sudah sampai."
Shana mengeluarkan pulpen dari laci mejanya. Dia membuka buku pertama dan mulai menandatanganinya. Lalu buku kedua dan ketiga. Di setiap halaman, dia menambahkan pesan singkat untuk teman-teman Mala.
Setelah selesai, dia menyobek selembar kertas dari buku catatannya dan menulis balasan untuk Mala.
Halo Mala!
Makasih udah suka sama buku-buku Mbak. Tanda tangannya udah, ya. Bilang ke temen-temenmu, Mbak titip salam.
Soal panggilan, terserah Mala aja. Mau Tante juga boleh, mau Mbak juga boleh. Yang penting jangan panggil Nenek.
Salam,
Shana
Dia melipat kertas itu dan memasukkannya ke dalam amplop merah muda yang sama. Lalu menyerahkan tas itu kembali pada Gilang.
"Titip ya, Mas."
"Baik, Bu." Gilang menerima tas itu dengan hati-hati. Lalu dia terlihat ragu sebentar. "Bu Shana, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Apa, Mas?"
"Saya mendengar ada keributan di depan kafe dua hari lalu."
Shana membeku. Dia menatap Gilang dengan waspada. "Mas tahu dari mana?"
"Saya punya beberapa kenalan di sekitar sini, Bu. Salah satunya penjual nasi uduk di ujung jalan. Dia melihat semuanya."
Shana menghela napas. Rupanya tidak ada yang bisa disembunyikan dari Gilang.
"Pak Ndaru tahu?"
"Belum, Bu. Saya ingin memastikan dulu dengan Ibu."
Shana terdiam sebentar. "Jangan kasih tahu, Mas."
"Bu—"
"Saya bisa urus sendiri. Ini urusan pribadi saya. Pak Ndaru sendiri yang bilang, poin lima. Nggak boleh ikut campur urusan pribadi masing-masing."
Gilang menatap Shana lama. Pria itu terlihat menimbang-nimbang. Kesetiaannya pada atasannya bertabrakan dengan rasa hormatnya pada calon istri atasannya.
"Saya tidak akan memberitahu Pak Ndaru," ucapnya pada akhirnya. "Untuk sekarang. Tapi kalau terjadi lagi, saya tidak punya pilihan, Bu. Keselamatan Ibu juga tanggung jawab saya sekarang."
Shana tersenyum tipis. "Makasih, Mas."
Gilang berdiri dan merapikan jasnya. Dia berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan berbalik.
"Bu Shana."
"Ya?"
"Tentang mahar tadi." Gilang tersenyum. "Saya rasa Pak Ndaru akan menyukainya."
Setelah itu dia pergi. Meninggalkan Shana yang termenung di kursinya. Menatap pintu yang tertutup dengan pikiran yang berkecamuk.
Tiga hari lagi. Tiga hari lagi dia akan menjadi istri Handaru Atmadjiwo.
***
Malam itu, di ruang kerjanya, Ndaru membaca laporan harian yang Gilang kirimkan. Di bagian paling bawah, ada catatan tambahan.
Mahar: seperangkat alat salat dan Al-Qur'an. Permintaan Bu Shana. Alasan: "Saya nggak mau pernikahan ini punya harga. Kontraknya udah cukup mahal."
Ndaru membaca kalimat itu berulang kali. Lalu dia bersandar di kursinya. Menatap langit-langit ruangan dengan tatapan menerawang.
Dia ingat pernikahannya dengan Farah. Maharnya satu set perhiasan berlian dan sebidang tanah di Bali. Permintaan keluarga Farah, tentu saja. Semua orang memujinya. Pernikahan yang mewah dan berkelas, kata mereka.
Namun sekarang, seorang gadis yang menikahinya karena skandal justru meminta mahar paling sederhana.
Ndaru meraih ponselnya. Dia membuka percakapan dengan Gilang.
Siapkan maharnya. Pilih yang terbaik. Al-Qur'annya yang bisa dibawa ke mana-mana.
Lalu dia terdiam sebentar. Jarinya bergerak lagi.
Dan tambahkan cincin. Yang sederhana. Jangan bilang ke dia.