Kebenaran mungkin datang terlambat. Namun ia selalu datang dengan tepat. Membalik cerita yang sempat tersesat. Membuat pembohong tak lagi bisa berkelit dengan cepat.
Video itu diunggah pukul tujuh malam. Durasinya hanya empat menit dua puluh detik. Tidak ada musik latar, tidak ada efek, tidak ada naskah. Hanya seorang pria jangkung yang duduk di depan dinding putih dengan wajah pucat dan mata sembab.
"Nama saya Wawan. Saya yang menyebarkan foto Pak Handaru Atmadjiwo dan Mbak Shana Arkadewi di Atma Hotel."
Begitu kalimat pembukanya. Lalu Wawan bercerita. Tentang pesta lajangnya. Tentang Dito Alamsyah yang masuk ke kamar sebelah bersama seorang perempuan. Tentang keributan yang ia dengar. Tentang teriakan Dito di koridor. Tentang foto yang ia ambil karena ingin viral dan bagaimana keputusan bodoh itu menghancurkan hidup banyak orang.
"Saya minta maaf. Kepada Pak Handaru, Mbak Shana, dan keluarga Atmadjiwo. Saya juga minta maaf karena diam waktu Mas Dito bilang di televisi kalau Mbak Shana selingkuh. Saya tahu itu tidak benar. Malam itu, yang saya lihat masuk ke kamar hotel dengan perempuan lain bukan Mbak Shana."
Di akhir video, Wawan menunduk dalam-dalam. Lama sekali. Lalu layar menjadi hitam.
Dalam satu jam, video itu sudah ditonton ratusan ribu kali. Dalam tiga jam, tagar #DitoSelingkuh menduduki peringkat pertama di X. Dalam lima jam, semua portal berita besar sudah memuatnya.
Narasi yang selama dua minggu Dito bangun runtuh dalam satu malam.
***
Shana menonton video itu di ruang kerjanya di kafe. Sendirian. Dia sengaja menutup pintu dan mematikan lampu. Hanya cahaya laptop yang menerangi wajahnya.
Dia memutar video itu tiga kali. Pada kali ketiga, dia menekan tombol jeda tepat saat Wawan berkata, "yang saya lihat masuk ke kamar hotel dengan perempuan lain bukan Mbak Shana."
Shana menatap layar itu lama. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Bukan marah. Bukan juga lega. Lebih seperti rasa sakit lama yang dibuka kembali.
Selama ini dia berusaha untuk tidak memikirkan malam itu. Tidak memikirkan perempuan setengah telanjang di atas ranjang hotel. Tidak memikirkan wajah panik Dito. Tidak memikirkan berapa kali pria itu berbohong padanya sebelumnya.
Namun sekarang, semua orang tahu. Seluruh Indonesia tahu kalau dia diselingkuhi.
Anehnya, itu tidak membuatnya malu. Justru ada beban yang terangkat dari pundaknya.
Pintu ruangan diketuk pelan. Ayu melongok ke dalam dengan wajah khawatir.
"Mbak? Boleh masuk?"
"Masuk, Yu."
Ayu masuk sambil membawa secangkir cokelat panas. Dia meletakkannya di meja dan duduk di kursi di depan Shana. Matanya melirik layar laptop yang masih menampilkan wajah Wawan.
"Mbak Shana udah liat komennya?"
Shana menggeleng. "Belum berani."
"Bagus semua, Mbak." Ayu tersenyum lebar. Dia mengeluarkan ponselnya dan membacakan beberapa komentar. 'Ini, nih. "Shana nggak pantas dituduh selingkuh cuma dari potongan foto." Terus ini. "Dito Alamsyah ngaca dulu sebelum nuduh orang selingkuh." Terus ini lagi, 'Mbak Shana, sini peluk.''
Shana mengangguk kecil. Matanya basah. "Soal Dito perlu diluruskan, tapi itu nggak membuat tindakanku mencium Pak Ndaru tanpa izin menjadi benar, Yu."
"Ada lagi, Mbak. Yang ini lucu." Ayu menggulir layar. ''Plot twist. Ternyata Handaru bukan pebinor, tapi penyelamat.''
"Penyelamat apaan," gumam Shana. "Dia aja nggak tahu apa-apa malam itu."
"Tapi kan sekarang dia jadi calon suami Mbak Shana."
Shana tidak menjawab. Dia meraih cangkir cokelat panas itu dan meminumnya pelan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak ia minta tapi ia butuhkan.
"Bagas mana?"
"Masih di dapur, Mbak. Nangis lagi."
"Kenapa lagi?"
"Katanya terharu Wawan berani ngaku." Ayu memutar bola matanya. "Padahal tadi pagi dia yang paling kenceng ngatain Wawan bego."
Shana tertawa. Kali ini lebih lepas. "Suruh dia ke sini. Gue mau ngomong."
Tidak lama kemudian, Bagas masuk dengan mata merah dan hidung yang juga merah. Dia berdiri di depan meja Shana dengan kepala tertunduk.
"Mbak," ucapnya serak. "Makasih, ya. Saya nggak tahu Mbak Shana ngomong apa ke Pak Handaru, tapi—"
"Gue nggak ngomong apa-apa, Gas."
Bagas mengangkat wajahnya. "Hah?"
"Gue nggak minta apa-apa ke dia. Dia yang mutusin sendiri."
Bagas terdiam. Mulutnya terbuka, lalu tertutup lagi. "Serius, Mbak?"
Shana mengangguk. Dia sendiri juga baru menyadarinya. Ndaru tidak pernah bertanya padanya soal Wawan. Tidak pernah meminta pendapatnya. Pria itu hanya memutuskan, melakukannya, lalu memberitahunya setelah semuanya hampir selesai.
Menyebalkan. Namun juga... entahlah.
"Bilang ke Wawan," ucap Shana. "Jangan bikin ulah lagi. Nikah yang bener."
"Siap, Mbak!" Bagas mengusap hidungnya dengan lengan baju. "Mbak Shana diundang, loh. Sama Pak Handaru juga."
"Gue nggak janji dateng."
"Nggak apa-apa, Mbak. Diundang aja udah bikin dia seneng."
***
Di apartemennya, Dito melempar ponselnya ke dinding. Benda itu memantul dan jatuh ke lantai dengan layar retak.
"Sialan! Sialan! Sialan!"
Kiki berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada. Dia tidak terkejut. Sudah tiga jam bosnya mengamuk seperti ini.
"Udah gue bilang dari awal, Dit. Jangan ngomong macem-macem ke media."
"Lo diem!"
"Gue nggak bisa diem. Produser telepon gue lima kali. Mereka mau ketemu besok pagi." Kiki menghela napas. "Film kedua lo terancam, Dit. Sponsor udah mulai mundur."
Dito menjambak rambutnya sendiri. Dia berjalan mondar-mandir di ruang tengah yang berantakan. Botol-botol minuman kosong berserakan di atas meja.
"Ini semua gara-gara Handaru," desisnya. "Dia yang bayar si Wawan buat ngomong gitu."
"Wawan ngomong yang bener, Dit. Lo emang selingkuh."
Dito menatap Kiki tajam. Namun asistennya itu tidak gentar. Kiki sudah bekerja dengannya selama lima tahun. Dia sudah melihat Dito di titik terbaiknya, dan juga titik terburuknya. Dan malam ini jelas termasuk yang terburuk.
"Gue harus ketemu Shana," ucap Dito tiba-tiba.
"Jangan gila."
"Gue harus ketemu dia, Ki! Gue harus jelasin semuanya. Dia pasti dengerin gue kalau gue ngomong langsung."
"Dia udah blokir semua nomor lo. Dia udah mau nikah sama orang lain. Dia udah nggak peduli sama lo, Dit."
"Bohong!" Dito menunjuk Kiki dengan tangan gemetar. "Shana cinta sama gue. Tiga tahun kita pacaran. Tiga tahun! Nggak mungkin dia lupain gue cuma dalam dua minggu."
Kiki menatap bosnya dengan tatapan kasihan. Dia ingin berkata bahwa tiga tahun itu juga yang membuat Shana lelah. Tiga tahun penuh maaf yang terus diulang. Tiga tahun penuh kebohongan kecil yang menumpuk menjadi gunung.
Namun Kiki tahu, Dito tidak akan mendengarnya malam ini.
"Terserah lo," ucapnya pada akhirnya. "Tapi kalau lo bikin masalah lagi, gue resign."
Kiki berbalik pergi. Meninggalkan Dito sendirian di tengah kekacauan yang ia buat sendiri.
Dito memungut ponselnya yang retak. Layarnya masih menyala. Menampilkan foto Shana yang sedang tersenyum di depan kafe. Foto dari berita sore tadi.
"Kamu masih punya aku, Shan," bisiknya. "Kamu cuma lupa."